Review

Review: Bangku Kosong: Ujian Terakhir, Reboot yang Buat Bingung

394
×

Review: Bangku Kosong: Ujian Terakhir, Reboot yang Buat Bingung

Share this article

LASAK.iD – Pada 2006 silam, StarVision memproduksi sebuah film horror berjudul Hantu Bangku Kosong. Film yang dibintangi Cathy Sharon itu cukup mencuri perhatian publik tanah air. Setelah 17 tahun, film yang sama kembali diproduksi.

Film yang kini disutradarai Lakonte dan ditulis oleh Alim Sudio dan Monty Tiwa berjudul Bangku Kosong: Ujian Terakhir yang tayang pada 5 Oktober 2023. Produksi kali ini bukanlah sekual atau remake melainkan sebuah reboot dari 17 tahun lalu.

Alim Sudio dan Monty Tiwa membawa wajah baru untuk Bangku Kosong: Ujian Terakhir. Meski begitu, beberapa hal tidak bisa dihilangkan. Bahwasanya film ini memang lebih pas dengan latar sekolah dan para karakternya mereka para siswa.

Pada film pertamanya, misteri bangku kosong yang kemudian menjadi horor dan kutukan untuk sekolah karena peristiwa tragis dari siswa yang duduk dibangku itu di masa lalu. Menjadikannya arwah penasaran penuh dendam yang menuntut balas kepada mereka yang terkait.

Penulisnya terdahulu, Helfi Kardit, Daniel Tito dan Aris Munandar membuat filmnya memiliki intrinsik yang cukup jelas untuk dimengerti penonton. Pada filmnya kini yang berjudul Bangku Kosong: Ujian Terakhir akan sedikit kita bedah.

Penokohan yang mengambang

Jika pada film 2006 untuk intrinsik (tema, penokohan, alur cerita, latar, gaya bahasa, sudut pandang dan amanat) cukup terlihat jelas. Alim Sudio dan Monty Tiwa yang menulis untuk versi reboot justru menjadi sebaliknya.

Terasa bahwa keduanya ingin membuat intrinsik filmnya menjadi film yang kompleks. Namun, banyak yang menjadi bagian dari intrinsik justru terasa samar, misalnya pada penokohan. Ini menjadi sesuatu yang wajib ada untuk penonton tahu grafik cerita dan konflik dalam filmnya, melalui tokoh protagonis dan antagonis.

Film Bangku Kosong: Ujian Terakhir justru untuk hal itu menimbulkan pertanyaan di sebagian penonton. Karakter antagonis pada karakter bernama Ujang Pegat (Andy /rif) cukup terjelaskan. Psikopat yang menumbalkan banyak remaja perempuan hanya demi ilmu kebal.

Karakter yang kemudian memiliki keterkaitan dengan peristiwa dan kepada Kepala Sekolah Amanda (Karina Suwandi) dan Abah Ayub (Teddy Syah) di masa depan. Saat banyak siswa sebuah sekolah mengalami kerasukan massal hingga mencelakai dirinya sendiri dan siswa lainnya hingga tewas.

Saat Amanda remaja selamat dari kekejaman Ujang Pegat, salah satunya berkat bantuan Abah Ayub. Namun, Ujang Pegat yang di eksekusi dengan cara dibakar membawa dendam mendalam kepada Amanda dan Abah Ayub di kemudian waktu.

Secara kebetulan, seorang siswi bernama Karina (Barbie Arzetta) ditemukan meninggal gantung diri di uks karena tertekan dengan hukuman dari Kepala Sekolah Amanda ketika menyontek saat ujian. Dengan membuat setiap siswa kesurupan lalu membunuh satu sama lain.

Sedangkan, untuk protagonis justru tidak jelas pada karakter mana yang lebih menonjol sebagai pemeran utama. Hal itu justru terlihat samar karena masing-masing dari mereka memiliki porsi yang sama.

Intrinsik yang kontras

Film terdahulu intrinsik pada tema dan alur ceritanya cukup jelas untuk keterkaitannya dengan premis akan bangku kosong. Kini, pada versi reboot berjudul Bangku Kosong: Ujian Terakhir, Alim Sudio dan Monty Tiwa membuat keterkaitannya menjadi lebih luas.

Alim Sudio dan Monty Tiwa menjadikannya kontras dengan premis filmnya yang erat kaitannya dengan bangku kosong. Bangku kosong pada film kali ini hanya dijadikan sebagai trigger. Bahkan ada atau tidak adanya bangku kosong, penonton lebih teralihkan pada masa lalu antara Amanda, Abah Ayub dengan Ujang Pegat. Akhirnya, seakan memaksa tetap membuat bangku kosong menjadi bagian dari premis filmnya.

Tone color yang membingungkan

Bicara warna dalam sebuah film bisa menentukan akan latar yang dibangun pada filmnya. Lebih dari itu, warna film mampu membangun mood pada penontonnya. Pada film Bangku Kosong: Ujian Terakhir warna filmnya justru membuat bingung sejak awal film.

Di awal penonton sudah diperlihatkan dua warna berbeda. Pertama adalah warna tungsten (kuning) dan kedua lebih gelap (mendekati hitam). Dua warna yang sepertinya digunakan untuk membangun mood dalam memberikan kesan creepy. Walau tak berpengaruh secara signifikan.

Untuk memberikan kesan latar waktu era 80-an pun masih dirasa kurang, karena tergambar dalam filmnya adalah masa sekarang. Bahkan continuity antara kedua warna sempat terlewat di beberapa adegan. Tone color yang seharusnya gelap masih terlihat kuning.

Akting yang kurang

Melihat deretan pemain, nama Karina Suwandi dan Teddy Syah merupakan senior yang berpengalaman. Namun, akting keduanya dalam film Bangku Kosong: Ujian Terakhir kurang memberikan sesuatu yang “wah” pada filmnya. Keduanya terlihat tidak ada maksimal dan seakan ruang berekspresi sangat sempit.

Begitu pun dengan akting pemain muda yang mungkin menjadi bagian dari karakter protagonis. Sutradara kembali tidak memberikan ruang kebebasan untuk memberikan akting terbaiknya. Justru kesan kaku dan kurang meyakinkan dalam aktingnya menjadi sangat terlihat.

Inspirasi ide yang agak berlebihan

Penulis dan sutradara memang mempunyai ruang yang luas untuk seperti apa menyajikan cerita filmnya. Kali ini, Lakonte terlalu membawa kesan kuat dari sebuah serial asal Korea Selatan berjudul All of Us Are Dead (2022). Pembantaian siswa sebuah sekolah karena virus zombie yang dibawa salah satu siswa.

Pada film Bangku Kosong: Ujian Terakhir terlihat jelas pada adegan di awal film. Adegan yang memperlihatkan kesurupan yang dialami satu per satu siswa sesaat setelah ujian selesai. Kesurupan yang berujung pada pembantaian massal karena pengaruh jahat dari roh pendendam, Ujang Pegat. Kesan yang lebih besar sebagai sebuah film thriller zombie dibandingkan horror-thriller.

Detail yang menarik

Pada bagian akhir film banyak hal menjelaskan gesture dan mimik dari para karakter para siswa di awal film ketika mereka kesurupan. Gerakannya yang dilakukan ternyata merujuk pada kebiasaan ngibing (menari) dari karakter Ujang Pegat. Begitu pun adegan dan teriakan yang mengindikasikan rasa “panas” karena di masa lalu tewasnya Ujang Pegat karena dibakar hidup-hidup.