ReviewCinema

Review: Challengers, Tenis dan Asmara Terjebak di Satu Lingkaran

138
×

Review: Challengers, Tenis dan Asmara Terjebak di Satu Lingkaran

Share this article

Challengers yang terinspirasi langsung dengan kehidupan nyata dunia olahraga tenis dengan mengambil dua sudut cerita yang berbeda, yaitu olahraga dan asmara.

LASAK.iD – Film bertemakan olahraga mulai dari sepak bola, basket, baseball hingga tenis tentu sering dinikmati penikmat film di laya bioskop. Seringnya, film bertemakan olahraga akan merujuk pada pencapaian prestasi seseorang atau kelompok yang lebih besar (klub). Konflik dihadirkan pun yang memang mengiringi perjalanan kesuksesan itu sendiri.

Sedikit berbeda dari kebiasaan, penulis Justin Kuritzkes untuk film Challengers mengambil sudut berbeda dalam menulis cerita filmnya. Kuritzkes yang besar dalam lingkungan dunia tenis menjadikan pengalaman itu ke dalam sebuah cerita. Tetap erat kaitannya dengan pencapaian prestasi dan proses yang mengikutinya.

Namun, tidak juga yang membuat orang mengeluarkan rasa simpati dan empati yang membuat haru juga salut melainkan rasa emosi yang membuat gregetan akan perjuangan seorang atlet. Justin Kuritzkes mengambil sisi gelap dari perjuangan seorang atlet namun kaitannya dengan asmara dalam cinta segitiga.

Ini yang di-bold oleh Justin Kuritzkes, tentang seorang atlet muda profesional Tashi Duncan (Zendaya) yang memiliki magis mampu memikat banyak hati terutama para pria. Terjebak dalam obsesi dari calon atlet tenis profesional yang dijuluki ‘ice & hot‘, Patrick Zweig (Josh O’Connor) dan Art Donaldson (Mike Faist). 

Di mana, keduanya sangat mengagumi tidak hanya permainan tetapi pribadi dari Tashi sebagai seorang wanita. Untuk mendapatkan nomor pribadi Tashi, keduanya bertaruh melalui kemenangan ketika keduanya bersua dalam final pertandingan tenis. Hanya ada satu pemenang dan itu adalah Patrick Zweig.

Hubungan mereka sebenarnya berjalan baik-baik saja, namun satu momen membuat semuanya berantakan. Emosi sebelum pertandingan cukup mempengaruhi mood dari Tashi yang membuatnya tidak hati-hati dan menyebabkan cidera serius di bagian lutut kanannya. Cidera berkepanjangan yang membuatnya pensiun lebih awal dari dunia tenis.

Tashi yang terlampau marah memutuskan hubungan asmaranya dengan Patrick dan melanjutkan menjadi pelatih untuk Art hingga menjadikannya pemain dunia sekaligus suami dan ayah dari putrinya. Saat Art mulai mengalami kemerosotan membuat banyak hal tidak berjalan baik-baik saja.

Tashi yang juga pelatih dari Art menyarankan untuk bertanding di level kompetisi lebih rendah untuk mengembalikan kepercayaan diri sebelum memulai pertandingan besarnya, yaitu US Open. Tashi yang memiliki power sepertinya mengetahui siapa pemain yang terlibat dalam kompetisi bernama Challengers.

Tak disangka, Tashi dan Art bertemu kembali dengan Patrick Zweig setelah sekian lama. Art yang dijagokan untuk meraih gelar juara pun sampai ke babak final, namun Art kembali bertemu dengan Patrick Zweig sebagai lawannya. Ternyata, banyak drama tercipta selama perjalanan Tashi, Art dan Patrick sampai ke kompetisi Challengers, baik dari kompetisi maupun cinta segitiga di antara mereka.

Sudut pandang yang tidak tertebak penonton untuk diambil oleh Justin Kuritzkes sebagai penulis. Saat berpikir akan melihat sepenuhnya tentang tenis itu sendiri, justru penonton dibuat terkejut ketika tenis hanya menjadi bagian dari sisi drama ceritanya. Tidak juga saling berdiri sendiri, baik tenis dan drama di dalamnya memang menjadi satu paket.

Justin Kuritzkes membuatnya cukup menarik dengan membawa ceritanya pada alur maju mundur. Ternyata sesuatu yang menjadi bagian dari plot twist filmnya untuk menegaskan momen penting yang melibatkan ketiga karakter utamanya, Tashi Duncan, Patrick Zweig dan Art Donaldson.

Gesture kecil yang mungkin penonton anggap receh ternyata menjadi boom dari filmnya. Hal ini tergambarkan dari kode yang dibuat oleh Patrick dan Art saat keduanya berlatih tenis. Gesture yang diambil dari kebiasaan Art yang meletakan bola pada leher raket sebelum melakukan service ball.

Ternyata ini menjadi kode rahasia yang masih digunakan keduanya di bagian akhir cerita filmnya. Kode yang kembali menjelaskan hal yang sama seperti saat keduanya remaja. Kejutan yang tak terduga tetapi penonton juga harus jeli melihat setiap gesture dari keduanya.

Selain itu, dalam sebuah cerita karakter tetap terbagi pada dua sisi, yaitu protagonis dan antagonis atau sisi baik dan sisi buruk. Justin Kuritzkes yang menulis cerita film Challengers, mampu menempatkan setiap karakter untuk berperan ganda. Untuk bisa bisa bermain 2 peran, satu sisi sebagai protagonis dan dikesempatan lainnya bisa menunjukkan sisi antagonis.

Tapi, antagonis di film ini bukan menjadi orang jahat dengan mencelakai dengan berdarah-darah atau membuat protagonis mati. Di film ini seringnya dijumpai mereka akan menunjukkan sisi antagonis dengan amarah yang didukung dengan kata-kata. Dengan kata lain, diperkuat pada dialog dari masing-masing karakternya.

Hanya saja, untuk menemukan apakah Challengers berakhir sad ending atau happy ending sepertinya penulis membuat sebuah bias untuk penonton menentukan dari sudut pandang mereka sendiri. Tentunya, untuk menentukan pula siapa yang sebenarnya menjadi pemenang antara ketiga karakter, yaitu Tashi, Patrick dan Art.

Challenger menjadi kejutan yang menyenangkan sebagai sebuah tontonan. Film dengan alur maju mundur yang sebenarnya tidak juga membuat penonton pusing dengan mengatakan, “kok seperti ini, kok waktunya kembali mundur“. Hanya butuh sedikit fokus untuk menelaah petunjuk akan alur maju mundur, seperti “13 tahun sebelumnya, 1 tahun sebelumnya” dan pertunjukan lainnya yang ditampilkan.

Tak hanya cerita, sinematografi dan music scoring tidak bisa dilewatkan. Beberapa sudut kamera yang dilakukan oleh Luca Guadagnino sebagai sutradara cukup memanjakan mata. Untuk musiknya sendiri beberapa bagian sebenarnya terdengar cukup keras tetapi hal itu juga pas dengan adegan yang ditampilkan. Bahkan ada adegan dengan tambahan musik latar membuat sebagian penonton memiliki kesan lucu.

Challengers bisa jadi pilihan tontonan untuk film bergenre drama olahraga. Di tanah air, film ini tayang mulai 26 April 2024.

Production company: Amazon MGM Studios, Metro-Goldwyn-Mayer Studios, Pascal Pictures
Distributor: Warner Bros. Pictures
Cast: Zendaya (Tashi Duncan), Josh O’Connor (Patrick Zweig), Mike Faist (Art Donaldson), Darnell Appling (New Rochelle Final Umpire), AJ Lister (Lily Donaldson), Nada Despotovich (Tashi’s Mother), Naheem Garcia (Tashi’s Father), Hailey Gates (Helen), Jake Jensen (Finn Larsen), etc
Director: Luca Guadagnino
Screenwriter: Justin Kuritzkes
Producers: Amy Pascal, Luca Guadagnino, Zendaya, Rachel O’Connor
Duration: 2 hours 11 minutes

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

1 Comment
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
acheteriptvabonnement
17 days ago

What i dont understood is in reality how youre now not really a lot more smartlyfavored than you might be now Youre very intelligent You understand therefore significantly in terms of this topic produced me personally believe it from a lot of numerous angles Its like women and men are not interested except it is one thing to accomplish with Woman gaga Your own stuffs outstanding Always care for it up

1
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x