ReviewAsian ShowbizCinemaFilm

Review: Ip Man: Kung Fu Legend, Cerita Berkelanjutan Yang Bukan Sekuel

84
×

Review: Ip Man: Kung Fu Legend, Cerita Berkelanjutan Yang Bukan Sekuel

Share this article

LASAK.iD – Perkembangan seni bela diri Tiongkok dimulai sejak tahun 221–207 SM hingga 8 M. Pada awalnya, seni bela diri tradisional Tiongkok lebih dikenal dengan nama Wushu. Istilah Kung Fu atau lebih tepatnya Cong Fou baru digunakan pada abad ke-18 oleh para misionaris Yesuit yang kembali dari Beijing untuk mempresentasikan karya mereka tentang budaya Tiongkok di istana Raja Prancis.

Istilah yang sampai hari ini oleh global untuk menyebut bela diri asal Negeri Tirai Bambu. Padahal secara spesifik bela diri Kung Fu memiliki 100 lebih aliran dan ribuan jurus serta berbagai jenis ilmu yang unik dan aneh, mulai dari yang paling keras dan ganas (external arts) hingga ilmu yang paling lembut dan ringan seperti kapas (internal arts).

Untuk publik global mungkin hanya beberapa yang cukup familiar didengar dan dipelajari meliputi Shaolin Kung Fu, Tai Chi, Hung Gar dan Choy Li Fut yang dikenal dari gaya tradisional selatan, serta Wing Chun. Masing-masing aliran Kung Fu tersebut tentu memiliki satu atau lebih sosok berpengaruh yang kemudian dikatakan sebagai pencipta atau pelopor.

Baca juga: IP Man: The Finale Menjadi Film Donnie Yen Terakhir Perankan Grand Master Wing Chun

Penyebarannya pun melalui berbagai cara dari masa ke masa. Pada awal keberadaannya, Kung Fu dilakukan dengan mengadaptasi kebutuhan latihan militer. Perubahan zaman turut membawa pengaruh hingga pada akhirnya Kung Fu diperkenalkan secara masif hingga terkenal secara global melalui industri hiburan berupa produksi audio-visual, yaitu film.

Film klasik tentang bela diri Kung Fu dengan gaya khas Tiongkok telah menampilkan secara spesifik tentang aliran dan gaya dari Shaolin Kung Fu, Tai Chi, Hung Gar, Choy Li Fut, hingga yang belakangan dikenal dan menyita perhatian publik global termasuk Indonesia adalah Wing Chun.

Aliran bela diri yang secara catatan sejarah diciptakan oleh seorang biarawati Shaolin bernama Ng Mui pada masa Dinasti Qing. Nama Wing Chun sendiri diambil oleh Ng Mui berdasarkan nama murid pertamanya Yim Wing Chun. Dikenalnya aliran Wing Chun secara global, nama guru besar Ip Man diketahui menjadi sosok yang berjasa.

Guru besar Ip Man melakukannya di era tahun 1990-an tepat dimulai pada 1949, ketika dirinya berpindah ke Hong Kong setelah meninggalkan Foshan, Tiongkok. Kepopuleran Wing Chun semakin mengglobal setelah Bruce Lee yang sempat menjadi muridnya mempopulerkan Wing Chun hingga ke Amerika Serikat.

Ip Man memang menjadi awal dari kepopuleran Wing Chun di era modern. Namun, secara skala global Bruce Lee menjadi salah satu yang cukup berpengaruh besar. Bruce Lee bahkan berhasil membawa Wing Chun ke ranah film melalui beberapa judul film, mulai dari skala produksi Hong Kong dan hollywood di era 1970-an.

Untuk film tentang Wing Chun yang menampilkan sosok Ip Man justru baru dilakukan pada era 2000-an. Ada sekitar 11 sampai 13 judul film yang terbagi dalam beberapa bagian berdasarkan pada kategori produksinya. Pelopor sekaligus yang mungkin paling berkesan untuk penggemar dan penikmat film adalah universe Ip Man dengan aktor Donnie Yen sebagai bintang.

Kemudian ada beberapa produksi yang hadir sebagai produksi film biografi dan proyek independen, serta produksi untuk pasar domestik dan platform digital. Film berjudul Ip Man: Kung Fu Legend menjadi yang paling baru yang menjadi rilisan tahun 2026 ini. Film produksi Kai Pictures kembali mempertemukan Liming Li sebagai sutradara serta aktor Yu-Hang To/Dennis To sebagai Ip Man.

Keduanya sempat bekerja sama sebagai sutradara dan pemain untuk film Ip Man: Kung Fu Master (2019). Dua film yang sama-sama membawa benang merang tentang Wing Chun dan juga sosok Ip Man. Kini, dalam Ip Man: Kung Fu Legend, Liming Li dan Dennis To membawa penikmat film ke masa Ip Man meninggalkan Foshan, Tiongkok untuk hijrah ke Hong Kong untuk mendirikan perguruan Wing Chun.

Jika menilik dari film dari keduanya di tahun 2019 yang ternyata berkisah pada kehidupan Ip Man sebelum hijrah ke Hong Kong. Meski dikatakan tidak memiliki keterkaitan secara langsung antara kedua film tetapi secara perjalanan waktu justru mengindikasikan sebagai produksi sekuel.

Ip Man: Kung Fu Legend mengambil bagian kisah dari Ip Man dan keluarganya yang memulai kehidupan barunya di Hong Kong yang terjadi sekitar tahun 1950. Kehidupan dan tempat baru tentu memberikan tantangan yang baru untuk Ip Man maupun keluarganya. Tak hanya tantangan menghadapi sesamanya saat keinginannya mendirikan perguruan Wing Chun, tetapi juga pedagang asing dan kelompok gangster yang menindas para buruh pabrik dan warga lokal lainnya.

Adegan aksi yang ditampilkan Ip Man dalam film tentu menyajikan seni bela diri khasnya, yaitu Wing Chun yang berfokus pada pertarungan jarak dekat dan pukulan rantai. Hal yang memang selalu ditunggu penikmat film dalam setiap film dengan tokoh Ip Man sebagai sentral cerita.

Begitu pun dengan pribadi dari sosok Ip Man yang seakan sudah terpatri di penikmat film sebagai sosok yang bersahaja, sederhana, tetapi memiliki mimik dan tatapan mata yang tajam. Dua hal yang selalu menjadi highlight dalam setiap produksi. Hanya saja, universe yang dibangun pada era Donnie Yen terlalu kuat.

Sehingga, hal menyangkut sosok Ip Man maupun pada seni bela diri Wing Chun itu sendiri sudah terbentuk di memori banyak penikmat film. Jangan kaget, jika akan selalu ada perbandingan film Ip Man versi Donnie Yen dengan versi aktor lainnya seperti Dennis To. Untuk itu, Liming Li sebagai sutradara melakukan pendekatan yang berbeda untuk karakter Ip Man versi Dennis To.

Perbandingan ini pun untuk memperlihatkan mana yang lebih baik dan lebih bagus dalam penyajian dari Wing Chun dan Ip Man. Namun, lebih menunjukkan gaya khas dari sutradara untuk membentuk visual dari kedua hal tersebut untuk memberikan sudut pandang berbeda antara film yang satu dengan yang lainnya.

Hal yang pasti, karakter Ip Mandalam versi Donnie Yen dan Dennis To memperlihatkan sisi superiornya sebagai ahli bela diri. Untuk versi yang dibentuk Liming Li, ada sisi lembut yang diberikan. Ia melakukannya pada hampir setiap adegan perkelahian Ip Man dengan antagonis utama maupun dengan para gangster.

Eksekusi Liming Li tentang bagaimana Ip Man jatuh setelah menerima banyak pukulan. Ekspresi naluriah sebagai manusia dalam ketegangan, terdesak, bahkan mungkin rasa ketakutan. Ada mimik dan gesture yang lebih dibuat lebih oleh Liming Li. Bahkan bagaimana Ip Man bersikap dengan orang sekitarnya.

Penikmat film yang menonton versi Donnie Yen kemudian menonton Dennis To akan melihat perbedaan yang jelas tentang sudut pandang yang diberikan sutradara untuk karakter yang dibentuknya. Meski dalam lingkup benang merah yang sama akan cerita dari sang legenda.

Begitu pun pada sinematografi terutama pada adegan fight filmnya dengan detail yang lebih dramatic dengan detail dalam memainkan angle kamera, misalnya pemilihan angle close-up dibanyak adegan pukulan yang mengarah ke wajah. Liming Li sangat bermain dan memanfaatkan teknologi dan teknik kamera serta sentuhan final di editing pada adegan-adegan perkelahian, terutama ketika satu lawan satu.

Bahkan secara flow dalam penyajian cerita pun memiliki sudut pandang berbeda. Liming Li dalam merepresentasikan cerita yang ditulis ternyata disajikan seperti film bercerita, dengan setiap bagian penting digambarkan bagai sebuah chapter dalam novel. Tujuannya untuk memberikan sebuah label akan hal penting dalam adegan tersebut.

Konsep yang sepertinya ingin memberikan pengalaman untuk penikmat film lebih menikmati setiap perjalanan sang legenda. Secara flow pun bukan terkesan dibuat melambat, meski ada beberapa bagian memberikan tangkapan akan hal tersebut. Penulis dan sutradara seolah menyeimbangkan sisi drama dengan bagian fight dalam ceritanya.

Dengan kata lain, Ip Man dalam versi Donnie Yen itu lebih tegas dalam penceritaaan, sedangkan versi Dennis To lebih memberikan pengalaman keseimbangan antara drama dan fight sebagai bagian Wing Chun yang lekat dengan sang legenda.

Production company: Kai Pictures
Distributor: Well Go USA Entertainment
Cast: Yu-Hang To/Dennis To (Ip Man), Philip Condron (James), Steven Dasz (Parker), Addison Ford (Lei Yihu), Wang Wanzhong (), Zhang Tingfei (), Zhao Jingshuyu (), Zhang Jie (), Wu Xinzun (), Tong Xiaohu (), Zhou Xiofei (), Li Yaojing (), etc
Director: Liming Li
Screenwriter: 
Producers: Aymeric Contat-Desfontaines, Hugo Luquet, Doris Pfardrescher, Huidan Xu
Duration: 1 hours 38 minutes

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

1 Comment
Oldest
Newest Most Voted
Paisley2815
Paisley2815
1 hour ago
1
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x