ReviewAsian ShowbizKoreanMovie

Review: Hope, Film Sci-Fic Yang Kurang Memberikan Kesan Impresif Untuk Karakter Alien

64
×

Review: Hope, Film Sci-Fic Yang Kurang Memberikan Kesan Impresif Untuk Karakter Alien

Share this article

Hope merupakan karya keempat dari sutradara dan penulis Na Hong-jin yang menjadi produksi yang memecahkan rekor dengan budget fantastik di Korea Selatan.

LASAK.iD – Korea Selatan beberapa waktu lalu sempat menghebohkan publik dengan munculnya para mayat hidup yang diciptakan seorang profesor gila. Kini, kehebohan baru terjadi di sebuah desa bernama Hope yang letaknya berada di antara laut dan pegunungan dengan hamparan hutan yang lebat mendapat serangan sekelompok makhluk luar angkasa.

Kehebohan yang membuat porak-porandanya seluruh Desa Hope karena sesosok alien yang ternyata memiliki kemiripan dengan manusia. Hanya saja, wujudnya yang lebih menyerupai monster dengan tubuh besar berwarna hijau dan ekspresi wajah serta tatapan tajam menyeramkan seakan menyimpan sebuah amarah besar ke penduduk desa.

Hope begitu judulnya untuk sebuah film karya sutradara Na Hong-jin yang juga bertindak sebagai penulis dan ko-produser. Ini merupakan film panjangnya yang keempat setelah The Chaser (2008), The Yellow Sea (2010), dan The Willing (2016). Sekaligus menjadi momen comeback Na Hong-jin yang memproduksi film panjang setelah hampir satu dekade.

Latar Pedesaan

Film Hope bahkan disebutkan berbagai pemberitaan sebagai film Korea Selatan yang sejauh ini dengan biaya produksi termahal. Klaim yang sebenarnya pun masuk akal jika melihat cukup kompleksnya film Hope yang dilihat dari berbagai sudut. Di antaranya, terlihat dari set yang dibangun dalam memvisualisasikan satu desa yang porak-poranda.

Dibandingkan berlatarkan perkotaan yang terlalu sering, Na Hong-jin yang juga menulis cerita filmnya justru memilih latar sebuah desa. Set yang dilakukan tanpa menggunakan banyak teknologi komputerisasi justru terasa lebih realistik. Sekaligus melawan kebiasaan yang lebih sering berlatarkan perkotaan dengan gedung bertingkatnya.

Di sisi lain, terkait dengan set pedesaan yang penduduknya mayoritas adalah lansia seolah ingin menyindir halus untuk keadaan dari Korea Selatan itu sendiri. Diketahui, banyak pemberitaan yang membeberkan fakta bahwa sebagian besar wilayah pedesaan di negeri ginseng ditinggal penduduknya terutama para kaum muda yang memilih mengadu nasib ke kota besar dan meninggalkan orang tua, nenek, atau kakek untuk tetap tinggal di pedesaan.

Hope yang mengambil latar kehidupan di desa dan para lansia menjadi sebuah gambaran realitas yang relate dengan banyak penikmat film. Sekaligus sebuah sindiran untuk para pemuda tentang akibat meninggalkan lansia sendiri tanpa orang muda yang mengawal kehidupan keseharian mereka.

Teknologi Komputerisasi

Hope yang bergenre epic science fiction action thriller dengan tema makhluk luar angkasa a.k.a alien, tentu penggunaan teknologi, seperti CGI, after effect, visual effect, dan juga pratical effect sangat penting untuk menyempurnakan di hampir setiap adegan yang cukup intens sepanjang film. Terutama deretan adegan yang menampilkan para alien.

Korea Selatan untuk film yang menggunakan teknologi komputerisasi belakang memang memiliki hasil yang memuaskan maupun sebaliknya. Untuk film Hope sendiri yang juga menggunakan teknologi komputerisasi seperti CGI ternyata memiliki hasil akhir yang kurang memuaskan.

Terlihat dari teknologi CGI yang menampilkan para alien, dengan budget yang fantastis namun hasil akhirnya penikmat film justru benar-benar melihat sebuah CGI kasar bukan looks yang realistik untuk para aliennya. Hasil yang cukup bertolak belakang dengan filmnya yang memiliki budget produksi yang lebih dari cukup.

Para alien justru terlihat seperti gambar 2G atau 3G yang kadang memiliki warna kontras dengan latar lingkungan sekitarnya. Salah satunya yang terlihat pada adegan hutan. Alien yang ditampilkan sepenuhnya merupakan CGI atau sebuah template yang tidak didukung dengan makeup karakter yang sering kita lihat di banyak produksi hollywood.

Di mana para aktor atau aktris yang memiliki peran tidak biasa, entah sebagai alien, monster, atau karakter serupa selalu dipadupadankan antara teknologi komputerisasi dengan realitas dengan bantuan makeup karakter hingga motion pictures untuk membuatnya lebih realistik.

Meski begitu, pratical effect yang digunakan di filmnya menjadi sisi penyeimbang untuk teknologi CGI. Adegan kejar-kejaran antara alien dan para karakter manusia menjadi yang paling tergambarkan jelas. Dilakukan dengan intens sehingga ketegangan sampai juga di penikmat film.

Peran Alien oleh Aktor dan Aktris Dunia

Faktor lain yang menyebutkan filmnya memiliki budget produksi fantastis dengan melibatkan aktor dan aktris di luar Korea Selatan. Tak tanggung-tanggung, Na Hong-jin cukup berani menggandeng tiga aktor dan aktris dari industri film global (hollywood) untuk terlibat dalam film Hope.

Mereka adalah aktris Alicia Vikander (Tomb Riders (2008)), Taylor Russell (Escape Room (2019)), Cameron Britton (Mickey 17 (2025)), dan Michael Fassbender (X-Men). Mendengar keempat nama besar mereka turut ambil bagian dalam film Hope, mungkin yang terlintas pertama dibenak penikmat film adalah karakter seorang peneliti, ilmuwan, atau pasukan khusus untuk menangani makhluk asing.

Menariknya, Na Hong-jin justru menjadikan mereka sebagai alien, dengan karakternya masing-masingnya bernama J’aur, Ai’dovor, Va’migere, dan Ma’veyyo. Sayangnya, penikmat film justru belum sepenuhnya melihat akting memukau yang biasanya ditunjukkan keempat aktor dan aktris dari produksi-produksi sebelumnya.

Setiap karakter alien masih sebatas sebuah ancaman dengan adegan aksi sejak awal hingga akhir film. Ditambah peran ketiganya sepertinya hanya sebatas dubber untuk setiap karakter, bukan terlibat dengan langsung berakting sebagai para alien dengan teknologi seperti motion pictures.

Namun, penikmat film sepertinya masih harus bersabar untuk melihat kontribusi besar dari Alicia Vikander, Taylor Russell, Cameron Britton, serta Michael Fassbender. Hal ini berkaitan dengan adegan di akhir filmnya, bukan sengaja membuatnya seakan-akan ada film sekuel-nya tetapi memang film yang sepenuhnya belum selesai.

Tak juga ditunjukkan dengan post-credit scene yang selalu menjadi kunci bahwa filmnya akan menjadi sebuah sekuel, trilogi, atau seterusnya, seperti yang dilakukan banyak industri film global. Pola dari film Hope mungkin lebih mirip dengan film Dune yang memang sebuah produksi panjang yang terbagi menjadi tiga bagian bukan sekedar hadir sebagai sebuah produksi trilogi.

Terkait kembali dengan nilai produksi filmnya, dengan status Alicia Vikander, Taylor Russell, Cameron Britton, dan Michael Fassbender sebagai aktor dan aktris dunia, yang terlibat di banyak film blockbuster, tentu mempengaruhi nilai kontrak dari ketiganya yang jauh lebih mahal. Hal yang tentu mempengaruhi nilai produksi filmnya yang kemudian dilabeli sebagai film dengan biaya produksi termahal.

Akting dan Pengadeganan

Setelah membahas faktor yang mempengaruhi film Hope sebagai produksi dengan budget fantastis, kali ini mencoba melihat dari sisi lain filmnya. Aktor dan aktris asli dari Korea Selatan yang terlibat, seperti Hwang Jung-min, Zo In-sung, Jung Ho-yeon, hingga Eum Moon-suk tidak perlu diragukan untuk kualitas akting masing-masing.

Hanya saja, adegan yang menampilkan masing-masing dari mereka terutama karakter Ko Bum-seok yang diperankan Hwang Jung-min. Sutradara dan penulis Na Hong-jin mungkin ingin memberikan sensasi ketakutan dan ketegangan yang sama dengan karakter Ko Bum-seok ketika mengejar dan berhadapan dengan sosok aliennya.

Sayangnya, yang diberikan dan ditunjukkan karakter tersebut justru terlalu berlebihan. Tidak juga akting yang buruk tetapi justru agak menggangu karena ketakutan dan ketegangan bisa sampai ke penikmat film hanya dengan gesture, mimik, dan dialog dalam porsi yang cukup.

Ini dirasakan untuk seperempat di awal filmnya. Setelahnya, adegan-adegan yang menampilkan Ko Bum-seok terasa lebih normal dan cukup. Masih terkait dengan Ko Bum-seok, karakternya sering kali mengucapkan kata-kata umpatan yang biasa dilakukan publik Korea Selatan, seperti ssi-bal (sial), Gae-sae-kki (bajingan), hingga mi-chin-nyeon (orang gila).

Hal ini pun banyak dilakukan banyak film, seperti hollywood bahkan di tanah air. Kembali lagi, hal terkait porsi menjadi penentu hal tersebut dalam koridor biasa saja atau terlalu berlebihan yang kadang menjadi mengganggu. Untuk sebagian penikmat film mungkin sedikit mengganggu karena diucapkan terlalu intens, meski dengan tujuan mengekspresikan sesuatu.

Terkait dengan hal ini ada kesan bahwa film Hope termasuk dalam film berisik, tak hanya datang dari dialog antara karakter tetapi adegan dan elemen pendukung dalam film, seperti music scoring. Transformer dan banyak karya dari sutradara Christopher Nolan (The Odyssey, Oppenheimer) menjadi deretan film yang juga dilabeli hal serupa.

Di sisi lain, pengadegan yang dilakukan secara pratical effect yang terjadi melalui adegan kejar-kejaran antara karakter manusia dan alien menjadi yang paling berhasil membuat penikmat film merasakan ketegangan. Baik dengan properti mobil maupun kuda seperti yang dilakukan karakter Ko Sung-ki di hutan.

Begitu pun pengadeganan yang merujuk pada sinematografi untuk camera angle dan camera movement. Na Hong-jin terlihat sekali memadukan dua gaya berbeda dalam filmnya. Produksi film sebuah negara meski dilakukan oleh sutradara berbeda selalu meninggalkan kesan khas dari negaranya.

Begitu pun dengan Korea Selatan, ada kekhasan dari produksi yang biasa dilakukan meski dengan film maker dan genre yang berbeda. Kali ini, Na Hong-jin untuk film Hope memadukan kekhasan gaya sinematografi Korea Selatan dan beberapa terasa bergaya sinematografi hollywood. Tak terlihat di setiap bagian adegan namun cukup memberikan kesan ke penikmat film yang menyadarinya.

Production company: Plus M Entertainment, Forged Films
Distributor: Plus M Entertainment
Cast: Hwang Jung-min (Ko Bum-seok), Zo In-sung (Ko Sung-ki), Jung Ho-yeon (Im Sung-ae), Eum Moon-suk (Yang-bae), Alicia Vikander (J’aur), Taylor Russell (Ai’dovor), Cameron Britton (Va’migere), Michael Fassbender (Ma’veyyo), Lee Sang-hee (Ahn Nak-yeon), Im Hyun-sik (Mr. Hae-sul), etc
Director: Na Hong-jin
Screenplay: Na Hong-jin
Producers: Na Hong-jin, Kim Sae-mi, Kim Sae-rom
Duration: 2 hours 36 minutes

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x