ReviewCinemaFilm

Review: The End of Oak Street, Film Dinosaurus Yang Hadir Dengan Konsep Klasik

179
×

Review: The End of Oak Street, Film Dinosaurus Yang Hadir Dengan Konsep Klasik

Share this article

LASAK.iDThe End of Oak Street ternyata film yang menjadi obsesi dari seorang David Robert Mitchell. Sejak kecil, ia sangat berkeinginan untuk membuat film tentang dinosaurus. Hal ini karena pengaruh besar dari Sang Ayah yang memiliki mimpi menjadi ahli paleontologi dan gemar membaca buku-buku tentang dinosaurus.

Kecintaan yang sama akhirnya menular juga kepada David Robert Mitchell kecil hingga dewasa. Tak hanya buku, beberapa karya bertemakan dinosaurus juga menjadi influence. Film karya Ray Harryhausen yang menawarkan animasi dengan konsep stop-motion menjadi favorit tontonannya bersama Sang Ayah. Salah satunya film dengan judul Valley of Gwangi, yang mengisahkan seorang koboi yang menemukan seekor Allosaurus.

Obsesi dan impian David Robert Mitchell kecil yang terwujud dalam karya terbarunya berjudul The End of Oak Street. Tak hanya pada dinosaurus, kecintaan David Robert Mitchell pada film-film dari era 70-an dan 80-an ternyata membawa pengaruh besar pada karya terbarunya. David Robert Mitchell yang juga menulis cerita filmnya ternyata mengambil latar waktu pada era 80-an.

Baca juga: Review: Evil Dead Burn, Kesadisan Yang Sama Melalui Teror Iblis Deadite

Jika menilik banyaknya film bertema dinosaurus di masa sekarang, banyak dari film-film tersebut menawarkan sebuah gaya modern dan dunia yang futuristik yang memang mengikuti perkembangan teknologi. Alasan yang masuk akal jika David Robert Mitchell tak ingin terjebak pada sajian yang serupa dengan membawa gaya klasik pada filmnya.

The End of Oak Street seolah mengingatkan bahwa sesuatu yang lampau tak selalu tertinggal dan membosankan. Meski dengan vibes yang kental dengan era 80-an melalui warna filmnya yang didominasi warna dengan nuansa hangat dan pudar seperti cokelat, kuning tua, hingga orange. 

Gaya klasik yang diusung tak hanya dari sisi latar waktu dan latar tempat, tetapi juga pada setiap visual dari dinosaurus, baik herbivora maupun predator karnivora. Vibes bahkan ambience dari film The End of Oak Street ini ternyata cukup me-recall kembali memori kolektif dari salah satu film ikonik bertema dinosaurus dengan judul Jurassic Park (1993).

Ini bukan sebagai perbandingan untuk menilai film yang lebih baik. Namun, sajian pada sinematografi yang membawa nuansa klasik melalui warna filmnya dan sensasi ketegangan ketika melihat para karakter berhadapan dengan para dinosaurus terutama dengan predator karnivora nyatanya memberikan sensasi yang berbeda. Jika mencoba membandingkan vibes yang ditawarkan film dinosaurus di era modern yang terlihat futuristik. Penyempurnaan melalui sentuhan modern tetap ada melalui teknologi seperi CGI, visual effect, dan juga special effect.

Hal yang juga menarik dari film dinosaurus karyanya, tentang bagaimana konflik yang dihadirkan. Latar waktu yang mengambil era 80-an ternyata punya alasannya yang kuat, David Robert Mitchell sangat mengagumi film yang hadir di era 70-an dan 80-an. Era yang menurutnya memiliki karakter kuat serta film yang membuat penonton merasa terhubung dan peduli terhadap tokoh-tokohnya.

Itulah yang menjadi alasan konflik dalam cerita filmnya bukan sekedar kembalinya para hewan purba, tetapi bagaimana sebuah keluarga tetap saling melindungi satu sama lain dibalik rahasia besar yang disembunyikan. Sebenarnya, konflik yang dihadirkan cukup kontras dengan kehadiran dan serangkaian serang brutal para dinosaurus.

Bukan juga tidak masuk akal, tetapi porsi untuk para karakter manusia benar-benar diberikan David Robert Mitchell sebagai spotlight. Tak sekedar bertahan hidup dan menjadi mangsa untuk para karnivora. The End of Oak Street hadir sebagai produksi idaman untuk seorang David Robert Mitchell.

Baca juga: Review: Supergirl, Debut Layar Lebar Hadir Dengan Kesederhanaan Cerita Sehari-Hari

Selain karakter, David Robert Mitchell juga menghadirkan konsep kosmik sebagai unsur pembeda. Sebuah konsep ruang waktu yang bisa memindahkan suatu objek dari satu tempat ke tempat lainnya. Ini yang terjadi dengan Oak Street yang secara misterius berada di tengah peradaban kuno para dinosaurus. Konsep yang tidak juga baru tetapi konsep kosmik yang dihadirkan dalam filmnya tetap konsisten pada gaya klasiknya.

Sebuah konsep yang jarang digunakan untuk film bertemakan dinosaurus. Film yang selama ini dirilis seringnya menghidupkan kembali mereka melalui teknologi. Atau sering juga para dinosaurus dibuat tetap hidup namun tertidur di sebuah tempat tersembunyi. Secara penjelasan tentang kosmik sebenarnya masih menjadi tanda tanya. Walau fenomena kosmik bisa dijelaskan secara ilmu fisika. Hanya saja sebab dari fenomena kosmik belum terjelaskan walau hanya sepenggal adegan.

Film yang menarik karena David Robert Mitchell hadirkan sesuatu yang beda dari sebuah kebiasaan yang dilakukan film maker. Dibandingkan mengikuti keinginan pasar dan teknologi untuk hadirkan sebuah sajian yang modern dan futuristik, David Robert Mitchell memilih konsep klasik yang sebenarnya cukup berhasil. Ia bahkan melakukan tak hanya pada satu bagian tetapi hampir setiap bagian filmnya.

Production company: Bad Robot, Jackson Pictures
Distributor: Warner Bros. Pictures
Cast: Anne Hathaway (Denise Platt), Ewan McGregor (Greg Platt), Maisy Stella (Audrey Platt), Christian Convery (Brian Platt), Jordan Alexa Davis (Jeannette Christiansen), P. J. Byrne (Mel Jacobs), Anne Gee Byrd (Mrs. Huddleston), Emily Kuroda (Mrs. Valcourt), Hudson Meek (Kaden Tucker), Simms May (Zachary), etc
Director: David Robert Mitchell
Screenwriter: David Robert Mitchell
Producers: J. J. Abrams, Hannah Minghella, Jon Cohen, David Robert Mitchell, Matt Jackson, Tommy Harper
Duration: 1 hours 39 minutes

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x