LASAK.iD – Resident Evil menjadi satu dari banyaknya universe yang memiliki kesuksesan besar secara global. Tak hanya pada satu sisi bisnis tetapi hampir mencakup semua aspek bisnis yang berakar dari satu nama, yaitu Resident Evil. Pada awal kemunculannya, Resident Evil merupakan sebuah permainan video bernama Biohazard yang dibuat perusahaan game Jepang bernama Capcorn.
Biohazard dikembangkan oleh dua kreator bernama Shinji Mikami dan Tokuro Fujiwara pada 1993. Nama Biohazard ternyata sempat mengalami permasalahan terkait hak cipta yang memaksa untuk berganti nama menjadi Resident Evil melalui sebuah sayembara. Nama yang dikenal hingga hari ini oleh pecinta gim maupun karya audio-visual lainnya, seperti film, serial televisi, dan animasi.
Kepopuleran dunia gim membawa pengembangan secara bisnis yang lebih luas. Untuk format bacaan (visual), seperti novel dan komik memang lebih dulu hadir, bahkan hampir bersamaan dengan gim pertamanya di tahun 1996. Format audio-visual yang mengarah pada produksi film dan serial televisi baru dilakukan pada awal 2000-an.
Di mulai dari era pasangan Paul W. S. Anderson sebagai penulis dan produser dengan Milla Jovovich sebagai pemeran Alice. Keduanya menciptakan sebuah Saga Live-Action atau universe yang menuai sukses besar sebagai film adaptasi. Setelahnya, hadir karya lainnya mulai dari Saga Animasi CGI hingga film reboot terpisah yang langsung mengadaptasi versi gim-nya.
Untuk format live-action yang dibangun pasangan Paul W. S. Anderson dan Milla Jovovich memang menciptakan standar tersendiri untuk film adaptasi berikutnya dengan embel-embel nama Resident Evil. Kritik pedas yang didapatkan film berjudul Resident Evil: Welcome to Raccoon City yang dirilis pada 2021 lalu mungkin bisa menjadi bukti.
Meski film dari sutradara dan penulis Johannes Roberts mengadaptasi langsung plot dari gim-nya untuk seri Resident Evil 1 dan Resident Evil 2. Di tahun 2026 ini, Sony Pictures kembali mencoba peruntungan dengan beberapa rumah produksi untuk menghadirkan kembali versi baru dari Resident Evil.
Resident Evil (2026) sebenarnya masih mengambil latar waktu yang sejajar dengan peristiwa dalam permainan Resident Evil 2 (1998). Namun, filmnya yang hadir di tahun 2026, Zach Cregger sebagai penulis dan sutradara mencoba menyesuaikan masa sekarang atau hadir dalam paralel waktu modern.
Tak ingin dikatakan sebagai produksi minor seperti karya reboot terdahulu, Zach Cregger bekerja dan berpikir ekstra untuk menghadirkan sesuatu yang baru dan berbeda, tetapi disukai penikmat film global. Sebuah tontonan yang mungkin sekaligus melepas secara perlahan bayang-bayang dari universe Alice yang sudah melekat dengan penggemar dan penikmat film.
Zach Cregger melalui karyanya Resident Evil (2026) sebenarnya secara perlahan menunjukkan hal tersebut. Resident Evil (2026) cukup menjanjikan sebagai sebuah tontonan. Bahkan di masa depan bisa mencapai titik sebagai sebuah universe baru. Meski menelaah karakter maupun ceritanya memang belum menjadi satu line utuh untuk menjadi satu kesatuan universe.
Hal ini menjadi wajar karena Resident Evil (2026) hadir sebagai sajian perkenalan untuk sebuah identitas baru tanpa harus dibayangi universe sebelumnya. Salah satu yang bisa di highlight mungkin dari sisi pengarakteran atau karakterisasi untuk karakter utamanya bernama Bryan. Pada produksi terdahulu, baik universe Alice maupun produksi reboot pertamanya, karakter yang dihadirkan sejak awal selalu dibuat dan terlihat superior.
Secara gamblangnya sudah berbekal kemampuan dalam pertarungan tangan kosong maupun dengan senjata. Kini, untuk era Zach Cregger, karakter utama yang bernama Bryan justru dibuat lebih manusiawi. Hadir sebagai orang biasa dengan pekerjaannya sebagai seorang kurir medis yang terjebak dalam ketidaktahuan bahwa dirinya mendatangi sebuah kota bernama Raccoon City yang menjadi awal dari apokaliptik manusia.
Pendekatan ini yang justru membentuk ikatan dan kedekatan dengan penikmat film. Tergambarkan dalam setiap bentuk ekspresi yang berkaitan dengan rasa takut, marah, kesal, sedih, dan puas. Tak hanya dari mimik wajah tetapi suara khas untuk mendeskripsikan setiap rasa yang dirasakan karakter Bryan.
Sisi lainnya dari karakterisasi karakter Bryan ternyata juga cukup menarik. Selama perjuangannya dalam bertahan hidup dari kejaran zombie, karakter Bryan ternyata mampu menciptakan sisi lucu untuk menghadirkan tawa di penikmat film. Tak sekedar senyum simpul tetapi juga tawa lepas yang terkadang pun terasa getir. Kehadiran ekspresi tawa di penikmat film pun tidak hanya sekedarnya, Zach Cregger tentu menyiapkan untuk menjadi kekuatan dari karakter juga cerita filmnya.
Untuk juga menciptakan kedekatan dengan penggemar dan penikmat film yang baru, Resident Evil (2026) mengambil latar masa kini yang modern meski secara adaptasi lebih mengambil latar waktu yang sejajar dengan peristiwa dalam permainan Resident Evil 2 (1998).
Masih dari sisi cerita, Resident Evil (2026) oun mencoba mengambil sudut pandang dari sisi lain Raccoon City, yang mengikuti karakter utamanya, Bryan. Karakter Bryan tidak hadir langsung atau menjadi bagian dari tengah apokaliptik manusia. Karakter Bryan justru berproses dari ketidaktahuan menjadi sebuah ketakutan hingga akhirnya muncul keberanian besar dalam dirinya.
Penikmat film diajak untuk menikmati, melihat, dan mengikuti perkembangan yang terjadi pada karakter Bryan bersamaan dengan cerita yang mengiringi perjalanannya.
Sebuah sudut pandang baru yang juga diciptakan dari film Resident Evil (2026) terdapat pada unsur ketegangan yang diciptakan Zach Cregger sedari awal hingga akhir filmnya. Film dengan genre, konsep, dan tema seperti Resident Evil (2026) atau menilik dari film live-action terdahulu selalu memiliki momen-momen menegangkan dan keterkejutan yang terbilang dilakukan langsung atau istilah populernya merupakan kejutan instan (shock value).
Sedangkan, Zach Cregger lebih merujuk pada unsur kejut yang dilakukan melalui adegan senyap atau minim suara yang dibangun perlahan. Konsep yang justru lebih memacu adrenalin karena minimnya petunjuk tentang adegan yang disajikan berikut. Entah adegan biasa saja atau justru yang membuat kaget dan teriak untuk penikmat film. Ditambah dengan karakter Bryan yang penuh rasa penasaran dan terlalu polos dalam menanggapi bahaya di depan matanya.
Hal ini diperkuat dengan manusia yang terinfeksi T-virus dan kemudian berubah menjadi mayat hidup atau zombie. Menilik dari filmnya terdahulu, manusia yang terinfeksi selalu hadir dengan tubuh yang rusak seperti terkelupas dengan mata dan wajah pucat. Mulutnya pun selalu mengeluarkan cairan lendir akibat mutasi dalam dirinya karena virus. Pergerakannya pun lambat sebagai perwujudan dari zombie klasik.
Penulis dan sutradara Zach Cregger ternyata melakukan perubahan besar untuk karakter utamanya film, yaitu zombie. Dibandingkan menghadirkan dengan bentuk dan looks klasik. Zach Cregger menampilkannya layaknya manusia normal jika dilihat dengan seksama. Perubahan fisik tidak dilakukan secara mencolok.
Namun, pada kasus tertentu yang juga terlihat di filmnya, ada infeksi yang justru membuat tubuh korbannya seperti memiliki tentakel. Evolusi yang sekilas mengingatkan pada film alien daripada zombie, namun tetap masih masuk akal. Gerakannya memang tidak seperti manusia normal tetapi cukup cepat bahkan ada momen pergerakannya terasa senyap tetapi secara mengejutkan sudah berada di dekat karakter utamanya.
Evolusi bentuknya pun cukup mengejutkan, tidak lagi menggigit satu per satu untuk menjadikan sebagai koloni zombie. Melainkan memakan dan menyatukan para korbannya untuk membentuk satu kesatuan menjadi monster yang tahan banting. Selain itu, mutasi biologi dalam Resident Evil (2026) cukup membuat pusing, karena mereka yang terinfeksi tidak selalu mati setelah dipukul atau ditembak.
Beberapa gambaran dari manusia terinfeksi justru kembali hidup bahkan bisa menyatu dengan zombie lainnya. Sebenarnya, konsep ini bukan sesuatu yang baru. Hal serupa sempat diperlihatkan dalam film terdahulu, namun kali ini dimodifikasi jauh lebih menegangkan. Bahkan membuat gregetan karena tidak sepenuhnya mati.
Kejutan sekaligus pertanyaan untuk film Resident Evil (2026) tentang siapakah karakter utama yang menjadi fokus besar yang diciptakan Zach Cregger, seperti karakter Alice yang menjadi highlight dalam universe terdahulu. Mengingat karakter Bryan yang dikira akan menjelma sebagai pahlawan justru menjadi bagian dari para monster. Begitu pun anti-virus yang belum diketahui hasilnya jika disuntikkan pada para manusia terinfeksi, justru terjatuh ke dasar gedung.
Production company: Columbia Pictures, Constantin Film, Davis Films, Vertigo Entertainment, PlayStation Productions
Distributor: Sony Pictures Releasing
Cast: Austin Abrams (Bryan), Zach Cherry (Carl), Kali Reis (Maxine), Paul Walter Hauser (Paul), Johnno Wilson (Wilson), etc
Director: Zach Cregger
Screenwriter: Zach Cregger, Shay Hatten
Producers: Robert Kulzer, Zach Cregger, Roy Lee, Miri Yoon, Carter Swan, Asad Qizilbash
Duration: 1 hours 35 minutes






