ReviewCinemaFilm

Review: Evil Dead Burn, Kesadisan Yang Sama Melalui Teror Iblis Deadite

20
×

Review: Evil Dead Burn, Kesadisan Yang Sama Melalui Teror Iblis Deadite

Share this article

Evil Dead Burn hadir sebagai produksi film keenam dari waralaba Evil Dead yang masuk dalam kategori tandalone films.

LASAK.iD – Pada tahun 2023, penikmat film global sudah dibuat berteriak, menutup mata, dan merinding karena sensasi ketakutan yang diciptakan film supranatural horror berjudul  Evil Dead Rise. Kini, sensasi yang sama dihadirkan melalui produksi baru yang menjadi kelanjutan dari waralaba Evil Dead yang diciptakan Sam Raimi.

Film berjudul Evil Dead Burn nerupakan film keenam yang kembali hadir dengan sutradara baru, yaitu Sébastien Vaniček. Ia juga menulis cerita filmnya bersama Florent Bernard. Evil Dead Burn yang menjadi bagian dari waralaba Evil Dead tentu masih membawa nadi yang sama.

Ini berkaitan dengan sajian untuk adegan berdarah (gore atau splatter) yang memperlihatkan mutilasi dan pemenggalan (pemotongan bagian tubuh secara langsung), penyiksaan dan luka ekstrem (tusukan, mata tertusuk, atau kulit terkelupas), dan juga penyemburan darah secara berlebihan dari korban.

Baca juga: Review: Evil Dead Rise, Bangkitnya Kembali Iblis Book of the Dead

Tentu yang wajib ada karena memang menjadi nadi dari cerita untuk saling terhubungnya film pada sebuah buku keramat yang disebut dengan Naturom Demonto atau Book of the Dead. Buku berisikan mantra yang ternyata jalan untuk membangkitkan iblis jahat yang bisa merasuki dan mengendalikan manusia.

Detail untuk sebagian penikmat film saat menonton filmnya mungkin akan terlihat sama satu sama lain. Padahal cukup terlihat akan perbedaan gaya dan selera dalam penyajian dari kedua sosok sutradara dan penulis tersebut. Hal yang terlihat jelas dari pemilihan warna filmnya.

Sutradara Lee Cronin dikenal dengan gaya khasnya yang bermain pada warna, seperti palet tone tanah (earth tones) dan pencahayaan rendah (low-key lighting). Itulah kenapa sajian film Evil Dead Rise (2023) membawa kesan warna yang lebih gelap. Sedangkan, sutradara Sébastien Vaniček lebih bermain dengan warna lebih gelap yang cenderung pada abu-abu atau hitam.

Disela warna tersebut, Sébastien Vaniček sering memberikan akses warna lebih hangat, seperti rona warna kekuningan. Ini diperlihatkan dalam Evil Dead Burn untuk beberapa bagian adegan. Misalnya, adegan awal yang empat karakter melakoni adegan di luar ruangan dalam susana malam.

Warna kekuningan didapatkan melalui pencahayaan yang minim dari sisi foreground beberapa karakternya. Ini dilakukan biasanya meminimalkan kesan suram atau menyeramkan. Sehingga memberikan sebuah tangkapan yang kontras di penikmat film. Apalagi jika adegannya sendiri cukup suram atau menegangkan.

Masih di ranah sinematografi pun keduanya memiliki pendekatan berbeda dalam mendramatisasikan sebuah adegan untuk menunjukkan sebuah reaksi di penikmat film. Lee Cronin cukup sering bermain pada sudut close-up objek dan kadang menggunakan split diopter yang menempatkan dua objek bahkan lebih dalam satu bingkai dengan tangkapan yang tetap tajam.

Untuk Sébastien Vaniček terlihat lebih mendetailkan objek lain untuk memberikan kesan bahwa karakter akan melakukan sesuatu dengan objek tersebut. Misalnya, tangkapan kamera selalu mengarah pada benda-benda tajam, dari pisan, pembuka botol, hingga garpu yang biasanya digunakan untuk makan.

Sehingga penciptaan ketegangan sudah dilakukan sejak awal. Menariknya, penikmat film tetap tidak bisa mengantisipasi kejutan adegan dari karakter yang terhubung dengan benda tajam tersebut. Seolah petunjuk tersebut hanya sebagai pengalihan untuk sebuah adegan yang tak terduga dan mengejutkan. Secara teknikal ini yang menjadi pembeda untuk gaya dan selera dalam penyajian filmnya untuk masing-masing.

Pada sisi cerita, waralaba Evil Dead yang memiliki nadi yang sama melalui keterhubungan dengan sebuah buku, akhirnya menciptakan sebuah pola yang berulang. Jika dipersempit pada sub-topik akan ada hal yang sama, di antaranya keluarga dan danau. Meski secara ceritanya sendiri hadir dari chapter yang berbeda dari bukunya.

Sebelumnya di Evil Dead Rise, iblis yang dikenal sebagai Deadite berfokus pada perusakan konsep keibuan (maternal horror). Deadite yang merasuki Ellie memutarbalikkan naluri pelindung sebagai seorang ibu menjadi sosok predator sadis yang kemudian menyiksa anak-anak secara verbal dan fisik.

Untuk kali ini, gambaran iblis atau Deadite berfokus dengan trauma emosional, kedukaan, dan rahasia keluarga. Deadite menekan pada rasa bersalah Alice atas kematian suaminya (Will), serta konflik internal antar anggota keluarga yang terpendam. Secara teror seakan lebih terasa seperti penindasan psikologis yang intim.

Secara sajian yang menggambarkan iblis atau Deadite pun sesuai dengan judul. Setalah sebelumnya sebuah kebangkitan dan kini iblis sangat dekat dengan api. Ini justru memunculkan spekulasi bahwa Naturom Demonto atau Book of the Dead sebenarnya bukan hanya ada satu buku saja.

Terlihat dari bagian cover Naturom Demonto atau Book of the Dead yang berbeda antara Evil Dead Rise dan Evil Dead Burn. Bahkan untuk mengalahkan sosok iblisnya pun memiliki cara yang berbeda. Sehingga spekulasi Naturom Demonto atau Book of the Dead akan muncul dengan look yang berbeda di produksi selanjutnya.

Ini semakin diperkuat dengan pengumuman yang sudah dilakukan rumah produksi atas kelanjutan dari waralaba Evil Dead yang akan hadir dalam bentuk produksi prekuel dengan judul Evil Dead Wrath. Sebuah konsep yang akan menyajikan cerita sebelum peristiwa yang terjadi di masa sekarang.

Entah menyajikan tentang sejarah munculnya Naturom Demonto atau Book of the Dead, munculnya kelompok Lingkaran Orang Bijak atau Circle of the Wise yang mencari berbagai macam artefak untuk mencegah iblis.

Production company: New Line Cinema, Screen Gems, Ghost House Pictures
Distributor: Warner Bros Pictures, Sony Pictures Releasing
Cast: Souheila Yacoub (Alice), Tandi Wright (Susan), Hunter Doohan (Joseph), Luciane Buchanan (Thya), Erroll Shand (Edgar), Maude Davey (Polly), George Pullar (William), Victory Ndukwe (Leo), Keanu Karim (Jared), Tapiwa Soropa (Mike), Alain Chabat (Alice’s Dad), Lara Macgregor (Crematorium Manager), Greta Van Den Brink (Jessica), Alyssa Sutherland (Ellie Bixler), etc
Director: Sébastien Vaniček
Screenwriter: Sébastien Vaniček, Florent Bernard
Producers: Rob Tapert, Sam Raimi
Duration: 1 hours 49 minutes

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x