ReviewAsian ShowbizCinemaFilm

Review: Phi Phong: The Blood Demon, Folklore Asli Vietnam Tentang Sosok Legenda Penghisap Darah

28
×

Review: Phi Phong: The Blood Demon, Folklore Asli Vietnam Tentang Sosok Legenda Penghisap Darah

Share this article

Phi Phong: The Blood Demon berhasil meraih predikat sebagai salah satu film Vietnam tersukses dan terlaris sepanjang masa.

LASAK.iD – Vietnam memang sedikit tertinggal dari negara lainnya di Asia Tenggara, seperti Indonesia, Thailand, hingga Malaysia dalam hal produktivitasnya di industri film. Namun, belakangan Sinema Vietnam mulai menunjukkan progres yang cukup signifikan. Menurut beberapa sumber di tahun 2025 saja ada sekitar 50 lebih judul film berhasil diproduksi.

Angka ini bisa bertambah di tahun 2026 dengan potensi mencapai 70 lebih judul film. Karya lokal secara konsisten mulai menguasai pasar domestik dengan beberapa judul meraih title box office, bahkan beberapa judul sukses berekspansi secara global. Minat penonton lokal yang mulai beragam menjadi sinyal untuk sineas lokal mulai rajin memproduksi film.

Selama ini, genre komedi hampir selalu menjadi primadona untuk publik Vietnam. Kini, ketertarikan publik lokal mulai terbagi dengan genre film lainnya, seperti horor dan thriller. Ini dibuktikan dengan keberhasilan film lokal berjudul Bunny!! (Thơ Ơi) secara domestik dengan pendapatan lebih dari USD $1 juta di minggu-minggu awal penayangannya.

Perkembangan yang terus memicu Sinema Vietnam untuk bergerak secara aktif di ranah global, salah satunya dengan mencoba peruntungan di pasar Indonesia. Publik tanah air yang dikenal royal terhadap produksi lokal menjadi tantangan untuk Sinema Vietnam dalam memilih film yang akan di ekspor.

Film berjudul Phi Phong: The Blood Demon yang akhirnya menjadi pilihan utama. Tak sebatas akan statusnya sebagai film terlaris dan tersukses sepanjang sejarah Sinema Vietnam, Phi Phong: The Blood Demon yang mengusung genre horor menjadi strategi yang tepat. Sinema Vietnam dalam hal ini rumah produksi tentu mengacu pada data tentang penonton Indonesia yang memiliki minat besar pada film bergenre horor.

Selain itu, tema dan konsep dari cerita film Phi Phong: The Blood Demon yang berdasarkan cerita rakyat (folklore) dan urban legend masyarakat Vietnam secara tidak langsung memiliki kedekatan secara emosional, budaya, dan tradisi. Sehingga cerita yang disajikan terasa cukup relatable dengan penikmat film tanah air. Hal ini menjadi masuk akal jika film Phi Phong: The Blood Demon mendapat sambutan baik saat penayangannya.

Kini, menilik dari setiap elemen dalam filmnya, Phi Phong: The Blood Demon cukup mencerminkan gaya khas produksi film Sinema Vietnam. Hal yang paling terlihat pada gaya sinematografi, saat pembuat film dari negara lainnya di Asia Tenggara lebih terkesan tegas atau normal. Pembuat film di Vietnam justru melakukan sebaliknya.

Gaya sinematografi yang dibuat lebih melambat mengisyaratkan bahwa setiap detail kecil dalam tangkapan kamera memiliki sisi ceritanya tersendiri. Tak sekedar pemanis yang diperlihatkan tanpa ada tujuan karena ada beberapa hal sederhana justru menjadi uraian benang kecil dari benang merah yang lebih besar dari cerita filmnya.

Gaya sinematografi lambat ini yang dengan jelas bahwa film asal Vietnam membawa konsep film bercerita. Setiap uraian dari benang merah filmnya dijelaskan lebih panjang secara durasi, dengan adegan para karakter berdialog maupun hanya bermain dengan mimik dan gesture tubuh.

Untuk tema cerita tertentu termasuk horor kadang konsep sinematografi lambat sesuatu yang menarik. Hanya saja, yang dilakukan sutradara Quoc Trung Do untuk film Phi Phong: The Blood Demon terlalu gamblang memberikan transisi yang memiliki kesenjangan. Misalnya pada adegan tentang ritual pembersihan.

Pada film horor yang juga menyajikan adegan ritual pembersihan biasanya ada 1 hingga 3 adegan yang memperlihatkan detail pada persiapannya untuk menciptakan ambience ketegangan. Hal ini tidak dilakukan pada film Phi Phong: The Blood Demon, detail pendukung tidak menjadi prioritas tetapi lebih memilih untuk menyajikan secara gamblang.

Ini merujuk perpindahan yang langsung dari adegan ke adegan berikutnya tanpa ada jembatan untuk membentuk ketegangan di penikmat film. Sehingga kesan bahwa hasil dari proses syuting terutama adegan penjelasan tersebut sebenarnya sangat panjang. Hanya saja, terbentur dengan regulasi durasi dan pertimbangan untuk penikmat filmnya memaksa tim produksi memotong adegan tersebut.

Ini terjadi tidak hanya dalam satu momen tetapi momen yang serupa sepanjang filmnya. Jika dikatakan sebagai sebuah plot hole pun tidak memberikan kesan kuat akan hal tersebut. Sebuah hal kecil yang mungkin juga tidak disadari sebagian penikmat film tetapi sebenarnya sangat disayangkan karena secara sajian dan cerita dari film Phi Phong: The Blood Demon cukuplah menarik.

Begitu pun sajian adegan yang sebenarnya bisa dibuat jauh lebih padat. Film dengan cerita dan konflik yang kompleks pun sebenarnya bisa dengan durasi yang sedikit lebih padat, tanpa harus sepenuhnya selama 120 menit atau lebih. Namun, kembali lagi film Phi Phong: The Blood Demon bukan sepenuhnya film yang mengecewakan karena sajiannya pun cukup menarik.

Hal lain yang juga menjadi identitas Sinema Vietnam bisa terlihat dari komposisi gambar yang disajikan. Film-film produksi Vietnam hampir tidak ketinggalan untuk menampilkan lanskap lokal. Hal ini memang lebih merujuk pada film yang kental dengan genre klasik, biasanya dengan cerita yang mengangkat akan sejarah atau budaya pedesaan.

Salah satunya yang diperlihatkan film Phi Phong: The Blood Demon. Tak sedikit adegan yang memperlihatkan Còn dan Mon, mulai dari perjalanannya menuju ke sebuah desa yang berada di daerah pegunungan untuk menengok dan menjemput Sang Ibu. Termasuk adegan-adegan keduanya bersama karakter lainnya di sebuah pedesaan yang menjadi latar dari filmnya.

Identitas yang masih menjadi penyesuaian untuk penikmat film di tanah air yang baru pertama kali menikmati sajian film dari negara berjuluk Negeri Naga Biru tersebut. Namun, beberapa hal lainnya yang memiliki kemiripan dengan produksi film di Indonesia menjadi jembatan untuk penikmat baru bisa masuk dalam sajian cerita filmnya.

Production company: CJ HK Entertainment, Golden Screen Cinemas, Infinity Group, M Pictures, M Studio, MVP M-Pictures Film Distribution, Mockingbird Pictures, Movie Cloud, PT Omega Film, Sil-Metropole Organisation
Distributor: BlueBell Studios, Mockingbird Pictures
Cast: Kiều Minh Tuấn (Còn), Diệp Bảo Ngọc (Mon), Đoàn Minh Anh (Dương), Nina Nutthacha Jessica Padovan (Lua), etc
Director: Quoc Trung Do
Screenplay: –
Producers: Vo Nguyen Dan
Duration: 2 hours 1 minutes

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x