LASAK.iD – Supergirl menjadi salah satu karakter superhero atau pahlawan super wanita yang menjadi bagian dari universe DC Comics yang diciptakan oleh penulis Otto Binder dan ilustrator Al Plastino. Pahlawan super satu ini pertama kali muncul dalam komik Action Comics #252.
Secara konsep karakter pertama kali muncul sebagai Super-Girl dilakukan setahun sebelumnya di komik Superman #123 pada Agustus 1958, tetapi versi Kara Zor-El yang kita kenal sekarang hadir dari karakter yang debut pada tahun 1959. Kehadiran Supergirl kemudian menjelma menjadi idola baru sebagai pahlawan super wanita yang ikonik dari dunia DC Comics.
Hal tersebut pun semakin diperkuat dengan keberhasilan dari serial Supergirl yang tayang selama rentang tahun 2015 hingga 2021. Keberhasilan live-action dalam format serial coba diperluas oleh DC Comics melalui format film layar lebar. Mengingat kesuksesan besar yang diraih Superman untuk total 10 film live-action hingga yang terakhir kali pada tahun 2025 lalu.
Baca juga: Review: Superman, Superhero Yang Akhirnya Terlihat Lebih Humanis
Timeline yang hanya berjarak satu tahun antara perilisan Superman (2025) dan Supergirl (2026) seakan mengisyaratkan era, wajah, dan cerita baru dari penduduk dari Planet Krypton tersebut. Menilik keduanya memang hadir dengan wajah barunya, Superman dengan David Corenswet serta Supergirl bersama aktris muda Milly Alcock.
Kedua film tersebut lahir pada era kepemimpinan bersama James Gunn dan Peter Safran untuk Warner Bros. Discovery melalui DC Studios sejak 2022. Tak heran konsep visual artistik kedua film, Superman (2025) dan Supergirl (2026) memiliki kesamaan yang kental satu sama lainnya.
Untuk Supergirl yang hadir pertama kali dalam film layar lebar, Ana Nogueira yang ditunjuk sebagai penulis cerita mengadaptasi sepenuhnya pada edisi komik dengan judul Supergirl: Woman of Tomorrow yang terbit pada 2021-2022. Sebuah kisah balas dendam seorang remaja bernama Ruthye Marye Knoll setelah keluarganya dibunuh oleh Krem of the Yellow Hills di hadapannya.
Sadar dirinya tidak bisa melakukannya seorang diri, ia berkeliling antargalaksi untuk menjadi sekutu dengan imbalan barang berharga milik keluarganya sebagai hadiah. Penghuni setiap galaksi tahu persis sosok Krem of the Yellow Hills, dikenal kejam dan tidak pandang bulu membuat setiap orang bertindak sebagai lawan untuk Ruthye.
Sebuah momen yang sudah menjadi takdir baginya yang kemudian dipertemukan oleh Kara Zor-El atau Supergirl. Pencarian yang sama namun dengan niat yang berbeda menyatukan keduanya dalam jalan yang sama. Petualangan selama 3 hari mencari Krem of the Yellow Hills perlahan berubah menjadi sebuah perjalanan yang membawa perubahan kepada keduanya yang pernah menghadapi ketakutan sebagai seorang anak, yaitu kehilangan kedua orang tua.
Ana Nogueira bersama sutradara Craig Gillespie ternyata memiliki pemahaman yang sama untuk proyek film layar lebar pertama dari Supergirl. Keduanya ingin membuat pemahaman awal tentang sang karakter untuk memiliki kedekatan emosional dengan penikmat film dengan menampilkan karakteristik Kara Zor-El dalam kisah-kisah manusia yang sederhana dan dekat dengan keseharian.
Baik Ana Nogueira maupun Craig Gillespie tak ingin terjebak dalam keinginan konstan dari banyaknya penikmat film unuk sebuah film bertemakan pahlawan super. Di mana, karakternya hampir selalu digambarkan sebagai sosok yang superior dengan minimnya kedekatan akan kisah keseharian yang lekat dengan publik.
Konsep baru dan beda yang coba keduanya implementasikan pada karakter Kara Zor-El dalam debutnya untuk sajian layar lebar. Sosok karakter yang berprogres dari awalnya karakter yang cuek, rebel, dan minim rasa tanggung jawab sebagai gambaran perempuan usia 23 tahun yang sedang mencari jati diri dengan mencoba berbagai hal dalam kehidupan keseharian.
Karakter yang secara perlahan mengalami peningkatan untuk mengetahui sepenuhnya tentang siapa dirinya dan alasan tetap hidup menikmati galaksi. Sosok karakter yang kuat baik secara pribadi maupun sebagai manusia super, percaya diri, bahkan menjadi panutan untuk perempuan lainnya, Ruthye yang kemudian menjadi sahabat barunya setelah Krypto.
Karakter Kara Zor-El ingin ditampilkan dengan dua sisinya yang seimbang dan karakter yang berkembang. Konsep yang sebenarnya hampir sama yang sebelumnya diimplementasikan pada film Superman, namun dalam hal menampilkan porsi sisi manusiawi. Kini, DC Studios untuk Supergirl seakan melakukannya secara terbalik dibandingkan Superman.
Penggemar dan penikmat film melalui film Superman telah melihat tentang bagaimana superiornya penduduk Planet Krypton. Setiap filmnya dengan gamblang menyajikan sisi tersebut. Dengan kata lain, menampilkan sejatinya sosok superhero yang memiliki kekuatan super.
Kini, DC Studios Supergirl ingin membangun mood penikmat film untuk karakter dan cerita dilakukan secara bertahap. Terlebih ini merupakan film pertama yang secara tidak tidak langsung sebagai film perkenalan. Meskipun secara karakter dan cerita sudah memiliki basis penggemar garis keras sejak lama. Hanya saja, bentuk live-action untuk layar lebar penikmat filmnya selalu memiliki perspektif berbeda dalam menilai karakter dan cerita.
Meski begitu, filmnya yang berdasarkan langsung seri komik berjudul Supergirl: Woman of Tomorrow (2021-2022) tidak kehilangan identitas tentang siapa sebenarnya sang karakter Kara Zor-El. Penulis bersama sutradara hanya ingin memberikan sudut pandang baru dalam penyajian film pahlawan super.
Sudut pandang baru ini sebenarnya secara tidak langsung sedikit menghilangkan sebuah rasa yang menjadi identitas DC Comics selama ini. Bukan sebuah perubahan yang fatal untuk mengubah sebuah tatanan yang utuh, tetapi sudut pandang baru yang memunculkan spekulasi DC Comics sedang melakukan suatu perubahan atas hierarki dari produksi DC Comics selama ini.
Termasuk untuk karakter antagonis, tetap pada keaslian komiknya, yaitu Krem of the Yellow Hills pemimpin dari kelompok penjahat bernama Brigands. Hanya saja, superior atau penjahat yang membuat kengerian besar tidak terasa 100 persen dalam film Supergirl kali ini. Ada rasa yang timbul untuk menilai karakter Krem of the Yellow Hills sekedar antagonis atau penjahat yang memang harus ada dalam cerita.
Baca juga: Review: Mortal Kombat II, Cerita Yang Mencoba Kembali Ke Nadi Gimnya
Sebagain hal tersebut sempat dibahas dalam artikel terkait Superman. Di mana, perubahan yang paling terlihat jelas pada tone colour atau warna film. Begitu pun dengan karakteristik karakter yang coba untuk memperlihatkan sisi manusiawi, dengan alasan untuk kedekatan emosional dengan penikmat film melalui kisah sederhana dan dekat dengan keseharian.
Perubahan dan pembaharuan memang kadang diperlukan mengingat juga perubahan selera market yang seiring berubah menyesuaikan masa. Untuk penggemar garis keras seperti pada Supergirl maupun Superman selama identitas atau kekhasan dari karakter tersebut tetap dipertahankan sebagian dari mereka pun akan mencoba memahami.
Sejauh ini tentang supernya penduduk asli Planet Krypton, kostum, hingga kelemahan pada paparan sinar matahari merah dan hijau yang memang identitas masih menjadi ikon dalam cerita yang berkaitan dengan penduduk Planet Krypton. Penggemar maupun penikmat film sepertinya harus mulai membiasakan pada perubahan tersebut.
Production company: DC Studios, Troll Court Entertainment, The Safran Company
Distributor: Warner Bros. Pictures
Cast: Milly Alcock (Kara Zor-El/ Supergirl), Matthias Schoenaerts (Krem of the Yellow Hills), Eve Ridley (Ruthye Marye Knoll), David Krumholtz (Zor-El), Emily Beecham (Alura In-Ze), David Corenswet (Kal-el/ Clark Kent/ Superman), Jason Momoa (Lobo), Ferdinand Kingsley (Elias Knoll), Diarmaid Murtagh (Drom Baxton), etc
Director: Craig Gillespie
Screenplay: Ana Nogueira
Producers: James Gunn, Peter Safran
Duration: 1 hours 48 minutes






