Asian ShowbizKoreanMovieReview

Review: Salmokji: Whispering Water, Saat Air Jadi Tempat Untuk Entitas Paling Berbahaya

48
×

Review: Salmokji: Whispering Water, Saat Air Jadi Tempat Untuk Entitas Paling Berbahaya

Share this article

Salmokji: Whispering Water sebuah urban legend yang beredar di Korea Selatan tentang tempat yang menjadi "titik pertemuan" antara dunia nyata dan roh.

LASAK.iD – Korea Selatan seperti kebanyakan negara di dunia terutama kawasan Asia yang memiliki satu sisi budaya yang terbentuk karena kedekatannya dengan hal-hal supranatural. Biasanya pun merujuk pada wilayah, daerah, atau tempat-tempat tertentu. Secara spesifik merujuk pada daerah-daerah terpencil yang dekat dengan hutan atau dekat dengan daerah perairan (laut, danau, waduk, sungai).

Negara berjuluk negeri ginseng tersebut memiliki beberapa wilayah dan tempat yang dikenal angker. Sebuah cerita yang terbentuk sejak lama yang kemudian menjelma sebagai urban legend untuk warga lokal. Sebut saja, lokasi seperti Pulau Jeju, Rumah Berhantu Yeongdeok (Gyeongsang), Neulbom Garden (Jecheon, Chungcheong Utara), Pulau Ulleungdo, dan Rumah Sakit Jiwa Gonjiam.

Ada banyak lagi lokasi yang memiliki keangkeran serupa, bahkan menjadi perbincangan nasional saking viralnya. Di antaranya, Waduk Salmokji yang berlokasi di wilayah Yesan-gun, Chungcheong Selatan. Lokasi yang sering dikaitkan dengan banyaknya kecelakaan dan ritual perdukunan. Diperkuat dengan permukaannya yang sering tertutup kabut tebal semakin mempertegas aura misterius.

Sebuah urban legend yang kemudian menggelitik rumah produksi The Lamp bersama Showbox untuk menghadirkannya ke layar besar bioskop. Digambarkan melalui cerita yang dibangun melalui sekelompok orang yang merupakan bekerja di sebuah perusahaan yang merekam dan mengelola street view seluruh negeri.

Suatu ketika muncul banyak keluhan dari publik terkait sebuah lokasi yang berada cukup jauh yang memiliki perairan berupa waduk dan dikelilingi hutan. Rekaman dari tim sebelumnya ternyata belum sepenuhnya selesai, ditambah dengan tangkapan foto yang memperlihatkan sosok yang muncul di permukaan waduk.

Sontak hal tersebut memunculkan kehebohan dan berbagai spekulasi di publik. Ada yang mengatakan hanya editan, sedangkan yang lain menyebut sosok hantu air yang menghuni waduk yang telah dipercaya warga lokal sejak lama. Tak ingin menimbulkan banyak keresahan publik, perusahaan mengirim tim lainnya untuk merekam ulang.

Tim yang dipimpin produser Han Su-in bergegas menuju lokasi yang diketahui bernama Salmokji. Sejak melihat sosok yang tertangkap kamera, ada perasaan aneh yang dirasakan Han Su-in. Hal yang sama pun semenjak pertama kali menginjakkan kaki di lokasi tersebut. Meski selama perjalanan tidak ada hal yang aneh atau mencurigakan.

Perasaan aneh yang dirasakan Han Su-in semakin diperkuat saat mobil yang mereka coba parkirkan justru menabrak sebuah tumpukan batu yang tersusun rapi dengan beberapa benda-benda yang biasa digunakan dalam sebuah ritual. Awalnya, pekerjaan merekam ulang kawasan tersebut berjalan semestinya, namun beberapa waktu setelahnya kejadian demi kejadian aneh pun mulai terjadi.

Di mulai dengan Song Gyeong-tae yang ditampakkan sebuah kepala yang jatuh dari sela dahan pohon, yang membuatnya terjatuh ke dalam air. Peralatan yang turut jatuh bersamanya ke dalam air membuat kerusakan parah, yang akhirnya proses pengambilan gambar harus tertunda karena menunggu peralatan yang baru.

Selama menunggu, Han Su-in dan yang lainnya dikejutkan dengan kemunculan tiba-tiba dari Woo Gyo-sil. Ia merupakan tim sebelumnya yang mendapat tugas merekam jalanan yang berada di kawasan Salmokji. Penampakan dan kemunculan rekan mereka inilah yang menjadi titik awal ketegangan yang dialami Han Su-in dan kolega mendapatkan teror dari entitas yang ada di lokasi tersebut.

Pada akhirnya, Han Su-in mendapat kebenaran bahwa rekan mereka yang bernama Woo Gyo-sil dinyatakanmeninggal dunia di rumah sakit. Sontak kabar tersebut membuat terkejut sekaligus kekhawatiran darinya karena sebelumnya Song Gyeong-tae hanya pergi berdua dengan Woo Gyo-sil.

Selama proses pencarian, mereka pun harus menerima kenyataan bahwa Song Gyeong-tae harus kehilangan nyawa dengan cara yang tidak wajar. Awalnya, Song Gyeong-tae tewas karena sempat terjebur ke dalam air. Tindakan yang paling dilarang keras di kawasan Salkmoji.

Seiring waktu, satu per satu mulai menyadari bahwa entitas apapun yang ada di kawasan Salkmoji tidak mengizinkan mereka untuk keluar. Mereka seakan terkurung di dalam dimensi yang telah diciptakan oleh entitas yang disebut hantu air. Teror pun didapatkan mereka meski tidak bersentuhan langsung dengan air.

Hantu air memanupulasi tempat dan waktu untuk menjebak yang masih hidup masuk ke dalam air. Untuk kemudian menenggelamkan mereka ke dasar waduk bersama dengan puluhan bahkan ratusan orang-orang sebelumnya yang turut terjebak. Pada akhirnya, tidak ada orang yang bisa keluar dengan selamat dari kawasan Salkmoji meski telah berusaha keras.

Review

Salmokji: Whispering Water sebenarnya secara sajian cerita, alur, maupun plot cukup mengidentikkan kekhasan produksi film dari kawasan Asia Timur, terutama dengan tema cerita yang mengangkat tentang urban legend. Negara seperti Jepang dan Tiongkok menjadi yang paling sering disebut dan identik akan tema tersebut.

Secara industri masing-masing negara tetap memiliki kekhasannya tersendiri, namun dalam filmnya hal yang berkaitan dengan pola, vibes, serta ambience membawa presentase yang identik. Itu juga yang dirasakan ketika menonton film horror-folklore berjudul Salmokji: Whispering Water.

Lee Sang-min sebagai sutradara tentu memberikan sentuhan berbeda secara implementasi untuk sajian filmnya. Terlihat pada setiap karakter, Lee Sang-min menempatkan setiap karakter memiliki kemungkinan pada dua sisi, yaitu antagonis dan protagonis. Antagonis pun bukan digambarkan pada karakter jahat atau sangat jahat, melainkan sisi gelap atau berseberangan yang dimiliki setiap manusia.

Lee Sang-min pun menampilkan sisi gelap dari setiap karakter dalam konteks sompral (bahasa Sunda). Jika secara harfiah sompral itu dalam ucapan, di sini lebih condong pada gesture dan tindakan dari karakter. Misalnya, tergambarkan pada karakter Moon Se-jeong dan Jang Seong-bin, dalam beberapa waktu keduanya tidak mengindahkan rasa takut juga sopan santunnya di tempat baru hanya karena kebutuhan sebuah konten.

Begitu pun dengan karakter Song Gyeong-jun, ia yang merupakan mantan tentara lebih percaya pada logika dibandingkan hal-hal supranatural sehingga tindakan dan ucapan banyak tidak dipertimbangkan. Begitu pun dengan karakter lainnya yang melakukan kesompralan sesuai dengan karakteristik masing-masing.

Selain karakter, secara sajian sutradara Lee Sang-min menyatukan beberapa hal dalam satu linier, seperti jump scare dan drama. Pada umumnya film horor, momen jump scare memiliki struktur yang ditempatkan di momen tertentu untuk memberikan sisi kejut dari filmnya. Polanya pun hampir selalu memiliki kesamaan ritme antara film yang satu dengan film lainnya.

Di sini, Lee Sang-min menempatkan unsur jump scare hampir sepanjang film. Ini bahkan dilakukan sejak momen perkenalan atau di awal film, meski dengan intensitas yang masih sedikit. Setelahnya, intensitasnya semakin tinggi hingga akir film yang membuat rasa deg-degan pun meningkat di penikmat film.

Rasa deg-degan dari jump scare pun dilakukan bukan sekedar dengan penampakan dari entitas di tempat tersebut, tetapi dari gesture kecil dari para karakter manusia, seperti menepuk punggung, muncul dan menyapa secara tiba-tiba, maupun menengok kanan dan kiri ketika mencari sesuatu.

Semua ketegangan dan keterkejutan yang diciptakan sutradara diperkuat dengan sinematografi, scoring, dan latar dari ceritanya. Misalnya, pada gerakan kamera (camera moving), sekedar menyorot kaki saat sedang berjalan atau mengarahkan kamera ke kanan, kiri, atas, bawah, depan, dan belakang sebagai pengganti point of view dari karakter cukup untuk memberikan ketegangan.

Scoring yang seolah hadir seperti grafik yang lambat laun semakin naik mempertegas rasa deg-degan dan ketegangan di penikmat film. Salah satunya terdapat di adegan Jang Seong-bin dan Moon Se-jeong yang mencoba mencari rekan mereka, Song Gyeong-tae dan Woo Gyo-sil yang sebelumnya pergi mencari peralatan yang terjebur ke dalam air.

Hingga suatu momen, keduanya bertemu dengan salah satunya, yaitu Woo Gyo-sil yang sedang menyusun tumpukkan batu. Saat coba untuk didekati, keduanya justru dikejutkan dengan Woo Gyo-sil yang berubah wujuh menjadi sosok wanita dengan rambut panjang dan wajah yang menyeramkan.

Di sini, music scoring yang dihadirkan seolah berjalan beriringan dengan denyut dari penikmat film. Pada awalnya dengan irama denyut yang normal, kemudian perlahan-lahan semakin cepat dan kencang dan akhirnya perlahan mengecil seiring intensitas yang juga perlahan diturunkan.

Disempurnakan dengan latar filmnya yang ternyata dilakukan langsung di lokasi aslinya di Waduk Salmokji yang berada di wilayah Yesan-gun, Chungcheong Selatan. Hal ini tentu semakin mempertegas keangkeran dari cerita yang selama ini beredar di publik Korea Selatan.

Daerah yang dikelilingi hutan dan perairan yang terkadang berselimutkan kabut putih pekat yang semakin menambah kesan horor dari filmnya. Ditambah dengan latar waktu yang dimulai dari matahari masih terang benderang hingga berganti dengan bulan di malam hari. Apalagi tidak adanya suara serangga, baik itu sengaja dimasukkan atau langsung dari alam memperkuat ketegangan di penikmat film.

Secara keseluruhan filmnya sangat menghibur dan berhasil menciptakan ketegangan dari jump scare yang dimulai sejak pertama kali filmnya diputar. Namun, di beberapa bagian dari cerita, penulis filmnya yang juga dilakukan Lee Sang-min seperti dengan sengaja membuat plot hole atau celah dari ceritanya.

Jika menilik hal yang sama di kehidupan nyata, segala hal yang terjadi di tempat angker seperti Waduk Salmokji memang selalu menjadi hal misterius. Entah tentang entitas yang selalu diceritakan sering menampakkan wujudnya, mungkin kecelakaan, orang-orang yang hilang atau meninggal, maupun hal lainnya yang terjadi. Sesuatu yang terjadi berulang-ulang dan seolah tidak pernah selesai.

Pemahaman yang sama yang digunakan Lee Sang-min dan juga banyak pembuat film di dunia, bahwa film yang mengangkat sebuah fenomena berulang atau urban legend seolah menjadi cerita yang tidak selesai dan akan berulang dengan orang dan kejadian yang akan sama pula di kemudian hari.

Selain mengikuti pola asli di kehidupan nyata, hal tersebut pun sebagai strategi bahwa filmnya pun bisa dibuat setelahnya, yang kemudian hadir sebagai jagat semesta atau universe. Bahkan bisa mengangkat sisi lainnya dari tempat dan peristiwa sama tetapi angle yang berbeda. Dengan kata lain, pembuat film menciptakan peluang filmnya akan berlanjut.

 

Production company: The Lamp
Distributor: Showbox
Cast: Kim Hye-yoon (Han Su-in), Lee Jong-won (Yoon Ki-tae), Kim Jun-han (Woo Gyo-sil), Kim Young-sung (Song Gyeong-tae), Oh Dong-min (Song Gyeong-jun), Yoon Jae-chan (Jang Seong-bin), Jang Da-ah (Moon Se-jeong), etc
Director: Lee Sang-min
Screenplay: Lee Sang-min
Producers: Park Eun-kyung
Duration: 1 hours 35 minutes

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x