ReviewAsian ShowbizKoreanMovie

Review: Colony, Film Zombie Yang Mengadaptasi Kehidupan Koloni Semut

362
×

Review: Colony, Film Zombie Yang Mengadaptasi Kehidupan Koloni Semut

Share this article

Colony menjadi produksi film zombie terbaru dari negeri ginseng yang telah meraih jutaan penonton di pekan pertama penayangan di Korea Selatan.

LASAK.iD – Film berjudul White Zombie yang dirilis pada 1932 dan Night of the Living Dead pada 1968 memang menjadi dua tonggak sejarah penting film zombie. Film yang membuka ide besar film yang mengangkat tema tentang mayat hidup. Industri film seperti juga industri lainnya yang terus berkembang seiring perubahan waktu dan minat pasar pun turut berubah.

Terlihat dari film zombie yang dirilis se-dekade berikutnya tepat di tahun 1978. Film karya sutradara George A. Romero berjudul Dawn of the Dead menurut berbagai sumber sebagai cikal bakal dari film zombie modern. George A. Romero yang juga menulis cerita filmnya dengan jelas mendefinisikan ulang sub-genre dari genre utamanya, yaitu horor.

Di mana, Dawn of the Dead memulai tentang skala baru dari kiamat manusia yang lebih masif. Mayat hidup yang menjadi sentral cerita pun berevolusi dalam tampilan yang condong ke arah lebih menyeramkan yang juga diperkuat dengan adegan yang jauh lebih gore. Bahkan dikatakan menjadi standar baru untuk visual horor sinematik.

Baca juga: Review: Salmokji: Whispering Water, Saat Air Jadi Tempat Untuk Entitas Paling Berbahaya

Era modern film zombie kemudian disebut juga sebagai era zombie cepat yang secara masif menjelma sebagai fenomena budaya pop global. Era yang sekaligus memberikan ruang lebih luas untuk pengembangan tema cerita yang tak hanya tentang kiamat manusia dan bertahan hidup tetapi juga menghadirkan sisi lain dari cerita, seperti drama, komedi, bahkan kritik sosial.

Tak heran ide liar dari penulis yang hadir di era modern memberikan standar tersendiri. Memaksa secara langsung film maker global untuk terus menciptakan tema baru dan berbeda tanpa kehilangan marwah dari film zombie itu sendiri. Ini yang juga dilakukan Yeon Sang-ho dan Choi Gyu-seok untuk karya terbarunya berjudul Colony.

Selain tuntutan tak tertulis dari publik global, film pendahulunya dalam tema zombie telah menetapkan sebuah parameter baru di industri film Korea Selatan. Sehingga keduanya mencoba menciptakan formula baru dan berbeda dari tema, plot, dan alur cerita filmnya. Keduanya, memperlihatkan sisi baru dari evolusi mayat hidup atau zombie dengan mengadaptasi sebuah koloni, yaitu semut.

Sebuah hal menarik ketika kehidupan koloni semut diadaptasi untuk kemudian dipindahkan pada sebuah cerita yang digambarkan melalui koloni berbeda, yaitu zombie. Marwah dari zombie tetap dipertahankan tentang setiap manusia akan kehilangan kendali tubuhnya akibat infeksi.

Yeon Sang-ho dan Choi Gyu-seok kemudian mencoba memadupadankan dengan mencari titik kesamaan dari gambaran kehidupan dari semut formicine saat jamur parasitik menginfeksi, memanipulasi sistem saraf atau otot, hingga membunuh inangnya, yang dikenal luas sebagai semut zombie. Perilaku yang cukup banyak kesamaan tentang infeksi akut dari sesuatu yang mampu mengendalikan otak, pusat dari berpikir dan bertindak.

Hal yang jelas diadaptasi penulis dari koloni semut tentang hubungan antara sang ratu dengan semut pekerja. Penulis menggambarkan dengan jelas satu karakter yang merupakan antagonis utama filmnya menjadi representatif dari sang ratu atau pengendali koloni. Sedangkan, karakter zombie lainnya yang tak terhitung jumlah digambarkan sebagai semut pekerja.

Teori tentang para semut pekerja yang tidak bisa bertindak tanpa perintah dari sang ratu diperlihatkan pula dengan gamblang. Para zombie pekerja kadang terdiam dan sebaliknya bisa sangat agresif. Komunikasi feromon yang sangat identikal dari koloni semut pun tak luput dari penulis.

Pada koloni semut, feromon merupakan cairan kimiawi untuk menandai beberapa hal, seperti jalur (feromon jejak), peringatan (feromon alarm), dan identitas (feromon pengenal koloni). Untuk filmnya sendiri digambarkan dengan cairan putih yang dimuntahkan oleh mereka saat pertama kali terinfeksi.

Jejak penanda ketika para zombie pekerja merasa ada aroma lain yang bukan dari koloni mereka akan menyerang secara brutal. Ini yang dilakukan semut pekerja ketika merasakan ada benda asing (serangga lain) yang coba mengusik sarang atau koloni. Begitu pun prinsip komunikasi dari semut pun diterapkan dalam cerita, ketika semut dari arah hulu bisa mengetahui kejadian yang ada di hilir.

Adegan yang digambarkan melalui adegan para zombie pekerja memberitahukan zombie pekerja lainnya maupun kepada sang ratu tentang titik lokasi, warna baju, dan bentuk benda-benda tertentu sebagai petunjuk. Jika di koloni semut ditandai dengan antena di kepala yang berdiri tegak atau menegang.

Sedangkan, para zombie ditandai dengan tubuh mereka yang menegang dan kaku dengan posisi kepala menengadahkan ke atas. Keadaan kembali normal ketika informasi tersampaikan ke setiap zombie. Gongnya dari adaptasi kebiasaan dari koloni semut disajikan di bagian akhir cerita tentang hal yang disebut dengan pusaran semut (ant mill).

Tindakan dari semut yang mengelilingi sebuah objek yang berada di tengah untuk mengindetifikasi sebuah bahaya atau justru sebuah makanan. Berbeda jika para semut pekerja berputar-putar tanpa henti mengelilingi objek tersebut, ini dikenal sebagai spiral kematian. Biasanya terjadi karena semut-semut tersebut kehilangan jejak feromon utama, sehingga mereka hanya membabi buta mengikuti semut di depannya hingga kelelahan bahkan mati.

Koloni semut yang dijadikan sebagai objek adaptasi menjadi sesuatu yang menarik dan berbeda. Jika menilik film zombie lebih sering menghadirkan benang merah melalui proses atau tragedi biotek secara utuh dengan sifat impulsif zombie yang liar, tanpa arah, dan brutal.

Penulis tetap pada marwah zombie yang brutal tetapi cukup impresif dalam membuat karakter antagonis tersebut berkembang. Para zombie di awal terinfeksi bergerak masih dalam sifat liarnya yang kuat untuk berburu, berlari dan mengejar manusia sehat dengan kedua tangan dan kedua kakinya.

Sejak awal virus yang disebarkan merupakan biotek dengan proses penelitian yang panjang, Seo Young-cheol sebagai sosok ilmuwan di baliknya membuat tetap mempertahankan beberapa sifat manusiawi yang berkembang dengan mempelajari sesuatu tetapi dipaksa untuk mencapai satu koneksi lurus layaknya koloni semut.

Itulah alasan para zombie mampu mempelajari lingkungan sekitar melalui manusia sehat yang mereka buru termasuk poster dan manekin yang ada. Untuk beberapa gesture dan gerakan yang mungkin terbatas atau sedikit justru membuat impresif penikmat film karena tidak terduga dengan ide dari penulis dan sutradara yang juga tidak ada di film zombie lain. Penikmat film yang menyadari sifat dan gerakan yang dilakukan para zombie sangat mengadaptasi dari semut baik secara individu maupun koloni.

Yeon Sang-ho dan Choi Gyu-seok sebagai penulis pun tetap mempertahankan serangan biotek sebagai bagian dari plot cerita. Menarik ketika ilmu pengetahuan alam atau sains yang digunakan sebagai materi dasar dalam penulisan cerita coba diberikan ruang yang sama. Jika di banyak film zombie kita lebih melihat secara ilmu kimia karena fokus utamanya pada virus, tetapi berbeda untuk film Colony.

Kedua penulis ternyata memberikan sentuhan yang lebih besar dari ilmu sains yang berhubungan dengan Biologi, dengan bidang studinya yang lebih spesifik pada jamur (Mikologi) dan serangga (Entomologi) bersama ilmu lainnya, seperti interaksi antara parasit dan inang (Parasitologi), mutasi virus (Virologi dan Mikrobiologi), fungsi otak (Neurologi), dan pembusukan jaringan tubuh (Patologi dan Anatomi).

Yeon Sang-ho dan Choi Gyu-seok yang menjadikan koloni semut sebagai adaptasi seperti ingin memberikan media pembelajaran baru untuk penikmat film membuka kembali ilmu Biologi atau sekedar mencari tahu melalui jejaring internet. Meski tidak spesifik dalam film berada dalam ruang lab atau penelitian super canggih tetapi setiap jengkal dialog yang utarakan karakter Kwon Se-jeong yang diperankan aktris Jun Ji-hyun tentang semut cukup menarik perhatian untuk sebagian penikmat film mencari kebenaran.

Baca juga: Review: We, Everyday, Kolase Cerita Cinta Remaja di Masa Sekolah

Ini yang sepertinya menjadi alasan kuat untuk tim produksi terutama penulis membuat judul filmnya dengan Colony. Di mana tidak hanya sekedar gambaran tentang kumpulan para mayat hidup atau zombie tetapi gambaran langsung akan kehidupan koloni serangga bernama semut yang diterapkan dalam dunia zombie.

Penikmat film mungkin saja di awal membaca judulnya dan kemudian melihat video teaser dan trailer filmnya, bahwa Colony yang dimaksudkan pada para penyintas yang coba bertahan hidup dari serangan zombie. Persepsi berbeda tentang Colony yang sebenarnya cukup masuk akal.

Selain dari sisi cerita yang cukup menarik dengan menonjolkan ilmu sains, sajian yang diberikan pun cukup menarik perhatian. Penulis Yeon Sang-ho dan Choi Gyu-seok tahu cara memainkan suasana hati penikmat film. Ketegangan tentu menjadi tier teratas sebagai film zombie, tetapi ada sisi kesal melalui karakter yang menyebalkan dan haru melalui sisi drama.

Film yang patut mendapat apresiasi karena cukup berhasil memadukan marwah asli dari film zombie dengan pembaharuan dalam beberapa sisi cerita untuk memberikan sajian yang baru dan segar. Kekurangan dan minus masih ditemukan dalam beberapa sisi filmnya mengingat film zombie memiliki pakem kuat yang tidak mungkin diubah tetapi penulis dan sutradara cukup berhasil berikan hiburan.

Production company: Wow Point, Smilegate
Distributor: Showbox
Cast: Jun Ji-hyun (Kwon Se-jeong), Koo Kyo-hwan (Seo Young-cheol), Ji Chang-wook (Choi Hyun-seok), Kim Shin-rok (Choi Hyun-hee), Shin Hyun-been (Gong Seol-hee), Go Soo (Han Gyu-seong), etc
Director: Yeon Sang-ho
Screenplay: Yeon Sang-ho, Choi Gyu-seok
Producers: Yoomin Hailey Yang
Duration: 2 hours 2 minutes

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

4 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Theo2977
Theo2977
1 day ago
Hunter4095
Hunter4095
1 day ago
Elaine1055
Elaine1055
12 hours ago
Ivan4876
Ivan4876
3 hours ago
4
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x