CinemaFilmReview

Review: Master of The Universe, Perpaduan Premis Gaya Klasik dengan Penceritaan Gaya Baru

119
×

Review: Master of The Universe, Perpaduan Premis Gaya Klasik dengan Penceritaan Gaya Baru

Share this article

Master of The Universe 2026 menjadi produksi live-action yang dilakukan perusahaan hiburan Mattel sebagai pemilik hak cipta.

LASAK.iD – Travis Knight (sutradara) dan Jason Blumenthal (produser) hanya segelintir orang untuk posisi mereka saat ini sebagai sutradara dan produser yang berhasil mewujudkan mimpi dari masa kecil. Mimpi anak-anak dengan imajinasi besar untuk masa depan bisa memproduksi film dari sesuatu atau figur yang mereka gemari dan kagumi semasa kecil dengan sudut pandang masing-masing.

Usia keduanya yang hanya terpaut 5 tahun tentu memiliki kenangan masa kecil yang hampir serupa tentang banyak hal, misalnya sesuatu yang berhubungan dengan film, animasi, mainan, video gim, hingga komik. Knight dan Blumenthal ternyata besar dengan menggemari dan mengagumi sosok He-Man dari universe Master of the Universe yang dibangun oleh perusahaan hiburan bernama Mattel.

Kekaguman akan sosok yang mereka lihat dan mainkan semasa kecil kemudian menemani perjalanan hingga usia dewasa membawa keinginan besar untuk turut menjadi bagian akan hal tersebut. Keinginan yang perlahan menemui titik terang ketika keduanya benar-benar terjun di industri film.

Jason Blumenthal yang memulai karirnya sejak era 90-an langsung sebagai eksekutif produser sekaligus penulis. Sedangkan, Travis Knight baru memulai karirnya di era 2000-an sebagai animator. Kesempatan sebagai sutradara baru didapatkannya melalui produksi animasi di tahun 2016 sekaligus menempatkannya di kursi produser.

Baca juga: Review: The Sheep Detectives, Live-Action Yang Kental Dengan Sentuhan Dunia Novel

Pengalaman panjang yang kemudian menyatukan keduanya dalam sebuah produksi reboot dari sosok He-Man dalam universe cerita yang mereka kagumi dalam Master of the Universe. Untuk Jason Blumenthal sendiri dalam mewujudkan proyek reboot ini ternyata berproses cukup panjang selama 17 tahun.

Akhirnya terlaksana berkat kolaborasi yang dikatakannya cukup unik, termasuk menggandeng Travis Knight sebagai sutradara yang memiliki kekaguman yang sama dengany akan universe dari Master of the Universe. Pengetahuan dari keduanya mewujudkan sesuatu yang sudah lama ada di kepala menciptakan sesuatu yang baru bersama orang lainnya yang terlibat.

Menilik soal produksi, Master of the Universe seperti juga banyak film lain yang hadir sebagai reboot atau membuat ulang yang telah memiliki basis penggemar yang cukup masif secara global. Kelompok yang memiliki memori kolektif untuk setiap inci dari film, serial, video gim, maupun bentuk media lainnya.

Mereka juga memiliki pakem dan ekspektasi tersendiri ketika sesuatu yang mereka gemari sejak lama dihadirkan sebagai wajah baru. Untuk kolaborasi kali ini terutama untuk Travis Knight dan Jason Blumenthal yang memang tumbuh bersama berbagai bentuk media dari Master of the Universe tentu memiliki sense untuk memuaskan penggemar lama dengan penggemar baru.

Travis Knight bersama dengan penulis Chris Butler, Aaron Nee, Adam Nee dan David Callaham tak mengadaptasi salah satu tetapi keseluruhan media, mulai dari mainan, video gim, komik, dan beberapa judul serial animasi yang menjadi perilisan pertama. Tentu yang tidak boleh terlewat adalah film live-action pertama yang dirilis pada 1985.

Ini terlihat dari looks seperti dari sisi karakter, kostum yang dikenakan, hingga latar tempat (Kerajaan Eternia) yang sepenuhnya mencoba menjaga keaslian agar sisi klasik masih bisa dirasakan penikmat film. Perbedaan yang paling terlihat jelas sebagai film reboot pada eksekusi ceritanya.

Versi terbaru yang dibangun Travis Knight dengan menggabungkan premis klasik namun dengan penceritaan gaya baru. Hal ini tentu untuk menyesuaikan selera dari penikmat lama dan penikmat baru. Premis klasik dengan nuansa campy (konyol tapi menghibur) yang tetap dipertahankan terkait komedi absurd dan nama-nama nyeleneh untuk para karakter.

Komedi absurd yang secara dominan hadir dari karakter protagonis dan antagonis utama filmnya, yaitu He-Man (Pangeran Adam) dan Skeletor. Karakter He-Man atau Pangeran Adam menunjukkan melalui tingkahnya yang hampir selalu terlihat konyol bahkan setelah dirinya mendapatkan kekuatan dari Kastil Grayskull melalui media Pedang Kekuatan.

Aktor Nicholas Galitzine cukup berhasil melakukannya pada karakter He-Man. Sesuatu yang memang kontras jika melihat bentuk tubuhnya yang atletis dengan postur tinggi juga berotot besar. Secara kontur wajah pun sang aktor memiliki struktur yang tegas dan klasik. Di sisi lain, wajahnya yang memancarkan pesona aristokrat memang cocok untuk peran seperti pangeran.

Sedangkan, karakter Skeletor yang memiliki looks menyeramkan dengan tubuh manusia berotot berwarna biru dan kepala tengkorak berwarna kuning/putih justru di banyak adegan menunjukkan sisi absurd yang tidak terduga. Digambarkan sebagai karakter yang sering mengeluh, bertengkar dengan anak buahnya sendiri, atau melontarkan hinaan sarkastis kepada He-Man.

Terkesan sebagai penjahat yang superior tetapi di momen adegan tersebut justru menghadirkan komedi absurd yang sering hadirkan tawa di penikmat film. Begitu pun yang hadir dari beberapa ekspresi yang ditunjukkan karena terasa tak masuk akal mengingat karakter Skeletor berwajah tengkorak. Hal ini pun berlaku untuk banyak karakter di filmnya, terutama untuk para karakter pahlawan.

Terkait ini dalam penceritaan gaya baru, komedi absurd yang ditambahkan pada keduanya pun terlihat jelas. Karakter He-Man atau Pangeran Adam tidak sepenuhnya berada di Kerajaan Eternia. Ia diselamatkan ke Planet Bumi dan menjalani kehidupan seperti penghuni Bumi dengan segala problematikanya.

Kebiasaan ini yang dibawa Pangeran Adam ketika kembali ke Kerajaan Eternia setelah 15 tahun. Ia bekerja sebagai bagian dari staf Sumber Daya Manusia (HRD) terbiasa menyelesaikan konflik dengan berbicara satu sama lain. Hal yang sempat dilakukannya ketika ingin menyelesaikan konflik kerajaannya.

Hal yang lagi-lagi tidak masuk akal ketika dunia Kerajaan Eternia menghadirkan penjahat dan orang baik yang sesungguhnya. Bahkan memberikan ide dan semangat pun masih membawa kebiasaan manusia yang ia dapatkan selama 15 tahun. Gaya dan tata bahasa yang membuat rekan-rekannya menunjukkan reaksi aneh, bingung, juga kaget. Pada karakter Skeletor lebih merujuk pada beberapa ekspresi dari tawa, mata belalak dan ekspresi sederhana lainnya.

Untuk nama nyeleneh dari karakter-karakternya secara logika sebenarnya masuk akal, namun lagi-lagi sesuatu yang kontras dan terkesan menjadi sebuah pelesetan konyol mengingat kebanyakan dari mereka merupakan pahlawan maupun karakter beast yang sangar dan menyeramkan.

Sebut saja, Ram-Man (pria yang menabrakkan kepalanya seperti domba), Fisto (pria dengan kepalan tangan logam besar), Man-E-Faces (pria dengan banyak wajah), Stratos (manusia bersayap), hingga Goat Man (manusia kambing). Termasuk karakter utama He-Man yang terlalu narsis menunjukkan dirinya sebagai sosok pria yang kuat, maskulin, dan jantan.

Menilik hal lainnya sebagai film reboot, judul Master of the Universe yang hadir di tahun 2026 atau era industri modern, tema filmnya yang kental akan kerajaan fantasi dengan kostum khas, pahlawan super, serta sci-fi memberikan kesan kuat akan kesamaan looks, vibes, dan ambience filmnya.

Film yang dimaksud merujuk pada judul Thor dan Guardians of the Galaxy. Dua film yang sering kali menjadi standar dan perbandingan untuk film dengan tema yang serupa di era industri modern ini. Perbandingan ini ada kemungkinan besar memang menghadirkan dua persepsi berbeda untuk film Master of the Universe.

Baca juga: Review: Mortal Kombat II, Cerita Yang Mencoba Kembali Ke Nadi Gimnya

Secara umum mungkin sebagian penikmat film akan tetap membandingkan setiap aspek dari filmnya. Secara looks untuk sinematografi yang tentu berkaitan dengan warna, special effect, visual effect, hingga CGI dari filmnya dengan sense yang terkadang sama. Sebagiannya lagi yang memang sekedar menikmati sajian filmnya tanpa terpengaruh filmnya memiliki kesamaan dengan judulnya lain, Master of the Universe cukup untuk menjadi tontonan yang menghibur.

Hampir setiap sekuens yang dihadirkan bahkan di momen yang membutuhkan waktu lebih lama dalam berdialog atau dari segi petarungan masih cukup menghibur, meski hadir dengan durasi yang cukup panjang. Kadang ada alasan tertentu dari penikmat film dalam menikmati setiap detik filmnya.

Film seperti Master of the Universe yang memiliki banyak media (mainan, video gim, komik, serial animasi) sebagai referensi selalu memberikan kejutan terkait potongan atau plot hole yang menjadi kisi akan filmnya sebagai sebuah universe. Ini pula yang dilakukan untuk live-action kedua dari Master of the Universe.

Sebuah post-credit scene yang dengan jelas mengindikasikan filmnya akan memiliki kelanjutan. Berkaca dari serial animasi yang memiliki beberapa produksi seperti spin-off, reboot, sekuel, maupun bentuk produksi lainnya tetapi masih dalam nadi universe yang sama.

Production company: Mattel Films, Escape Artists
Distributor: Amazon MGM Studios, Sony Pictures Releasing
Cast: Nicholas Galitzine (Adam Glenn/He-Man), Camila Mendes (Teela), Jared Leto (Skeletor), Alison Brie (Evil-Lyn), James Purefoy (King Randor), Charlotte Riley (Queen Marlena), Morena Baccarin (Sorceress), Idris Elba (Duncan/Man-At-Arms), Jóhannes Haukur Jóhannesson (Malcolm/Fisto), Kristen Wiig (Roboto), Sasheer Zamata (Suzie), Gary Martin (the voice of Beast Man), Christian Vunipola (Hussein), James Wilkinson (Mekaneck), Hafþór Júlíus Björnsson (Goat Man), Kojo Attah (Tri-Klops), Jon Xue Zhang (Ram Man), Sam C. Wilson (Kronis/Trap Jaw), Hung Dante Dong (Karg), James Apps (Spikor), etc
Director: Travis Knight
Screenplay: Chris Butler, Aaron Nee, Adam Nee, David Callaham
Producers: Todd Black, Jason Blumenthal, Robbie Brenner, DeVon Franklin
Duration: 2 hours 21 minutes

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x