LASAK.iD – Pada 2022 lalu, Lionsgate merilis sebuah film bergenre survival psychological thriller berjudul Fall. Film yang menyajikan sebuah cerita tentang bertahan hidup bukan karena serangan alien, bencana alam, atau penjahat seperti gangster dan psikopat, tetapi karena aksi nekat dua orang sahabat yang ingin menaklukkan tempat-tempat tak biasa.
Film berjudul Fall (2022) membawa kisah dua sahabat Shiloh Hunter (Virginia Gardner) dan Becky Connor (Grace Caroline Currey) yang memiliki hobi yang sama, yaitu olahraga ekstrim. Keduanya, terutama Shiloh Hunter memiliki sebuah scrapbook yang memuat tempat-tempat tak biasa bahkan terbilang ekstrim di seluruh dunia yang ingin ditaklukkannya.
Salah satunya, tower radio setinggi kurang lebih 600 meter yang ternyata membawa malapetaka untuk keduanya. Tower yang sudah lama terbengkalai tanpa perawatan membuatnya berkarat dan mengalami kerusakan di banyak sisi bangunannya. Saat keduanya mulai melakukan pemanjatan semua sudah terlihat tidak baik-baik saja.
Baca juga: Review: Fall, Antara Trauma, Persahabatan dan Bertahan Hidup
Ditandai dengan mur pengait yang mulai goyah, suara berderit dari setiap bagian bangunan, hingga suara berderit dari kabel-kabel baja yang mengikat bangunan tersebut berdiri kokoh. Hal yang tidak diinginkan pun terjadi, Shiloh Hunter yang semula ingin membuat trauma sahabatnya hilang karena kajadian di masa lalu justru membawa trauma baru yang serupa.
Kesedihan bahkan trauma dari peristiwa tragis hingga menghilangkan nyawa sang kakak turut dirasakan adik perempuan yang bernama Jax Hunter. Bahkan untuk sekedar melihat barang-barang peninggalan Shiloh Hunter, mulai dari parasut, jurnal khusus, hingga mobil yang sebelumnya digunakan sang kakak bersama sahabatnya, Becky Connor.
Legacy dari sang kakak bukan hanya sebuah traumatis apa yang dialami sang kakak, tetapi yang sudah dimulai dari sejak keduanya masih anak-anak. Jax Hunter ternyata selalu menjadi orang yang tidak terlihat ketika sang kakak bersama sahabatnya. Ingatan yang perlahan tumbuh menjadi perasaan benci kepada Becky Connor.
Apalagi Becky Connor menjadi orang yang selamat dalam peristiwa di tower radio setinggi 610 meter dan bisa menjalani kehidupan seperti biasanya seperti sebelum peristiwa tersebut. Hal ini yang memicu rasa amarah dalam hati Jax Hunter untuk mengundang Becky Connor di peringatan kematian Shiloh Hunter. Di salah satu daftar tempat yang ingin ditaklukkan sang kakak.
Review
Fall 2: Deadpoint yang menjadi kelanjutan cerita dari film pertamanya di tahun 2022 membawa fakta baru yang berakar dari sebuah scrapbook milik Shiloh Hunter. Tak terduga, scrapbook yang di film pertamanya mungkin hanya dilihat sekedar diksi atau penunjang kecil dari cerita, justru kini hadir sebagai penggerak benang merah ceritanya.
Lebih dari itu, scrapbook milik Shiloh Hunter juga membuka tabir untuk setiap babak cerita dari universe Fall. Di film pertama, tergambarkan sebagai sajian perkenalan dengan konfliknya pada sebuah trauma berat di masa lalu dan hobi ekstrim dengan mendatangi sebuah bangunan atau tempat yang memiliki sensasi ketinggian.
Pengembangan cerita yang berakar dari scrapbook perlahan menunjukkan konflik yang lebih besar dan kompleks. Ini terjadi antara karakter dengan karakter, karakter dengan scrapbook, maupun karakter dengan cerita itu sendiri. Pembangunan cerita yang mulai menarik perhatian dan menumbuhkan rasa penasaran di penikmat film untuk film selanjutnya yang mungkin hadir sebagai klimaks.
Pernyataan sekaligus pertanyaan yang didukung adegan di bagian akhir filmnya, yang seakan hadir sebagai post credit-scene untuk mengisyaratkan sebuah kelanjutan dari cerita masa lalu dan saat ini yang belum selesai. Adegan yang memperlihatkan Becky Connor, sosok yang selamat dari peristiwa tragis di tower radio menerima sebuah undangan dari keluarga Hunter untuk datang ke momen peringatan kepergian dari Shiloh Hunter.
Undangannya pun sekedarnya sebuah ajakan untuk hadir tetapi lokasi yang dipilih sebagai tempat peringatan. Jika menilik adegan-adegan akhir film keduanya, Fall 2: Deadpoint semuanya akan saling terhubung. Ditambah pula dengan ekspresi yang ambigu ditunjukkan oleh Becky Connor setelah melihat undangan, entah sebuah keterkejutan atau justru sebuah kekhawatiran. Sekilas pun mengisyaratkan sebuah rahasia besar yang belum terungkap dari para karakter dan keterkaitan dengan scrapbook milik Shiloh Hunter.
Di sisi lain, Fall 2: Deadpoint yang memang berkaitan kuat dengan scrapbook milik Shiloh Hunter kembali membawa ketegangan yang hadir dari kegiatan ekstrim dari ketinggian. Film sebelumnya hadir dari ketinggian hanya sekitar 610 meter, kini Fall 2: Deadpoint memberikan ketakutan dan rasa gemetar yang semakin besar dari ketinggian lebih dari 3,000 meter dari permukaan laut.
Hal ini yang menggugah rasa penasaran penikmat film untuk melihat dan merasakan seberapa besar tingkat ketegangan yang dihadirkan Fall 2: Deadpoint dengan ketinggian yang berkali-kali lipat. Scott Mann dan Jonathan Frank yang kembali menulis cerita filmnya mencoba mempertahankan bahkan meningkatkan setiap vibes dan ambience ketegangan dari sebelumnya.
Peningkatan dengan memilih latar sebuah gunung, tetapi bukan sekedar gunung dengan bentuknya yang secara umum seperti kerucut (Strato) dengan tanah sebagai pijakan mendaki. Gunung Kwan yang digambarkan Scott Mann dan Jonathan Frank merupakan gunung batu vertikal. Ini pun turut menyesuaikan dengan hobi ekstrim dari Shiloh Hunter.
Penggambaran Gunung Kwan dalam film sepertinya terinspirasi desa-desa yang ada di negara Cina, seperti Desa Atule’er yang berada di Provinsi Sichuan dan Desa Hongni yang berada di Pegunungan Taihang. Di mana, penduduk kedua desa tinggal di daratan tinggi dengan jalur transportasi yang digunakan merupakan jalur ekstrim dengan tebing curam.
Sensasi menegangkan, jantung deg-degan, dan kaki gemetar karena berdiri di atas papan rapuh yang hanya tersanggah batangan besi yang mulai goyah inilah yang ingin dihadirkan untuk film Fall 2: Deadpoint untuk penikmat filmnya. Cukup berhasil namun jika sisi menegangkan diukur dari intensitas, film pertamanya masih lebih unggul.
Faktor ini yang mungkin membuat barometer di penikmat film untuk Fall 2: Deadpoint justru memiliki intensitas yang berada di bawah film pertamanya. Meski secara latar dan penggambaran adegan dari ketiga karakternya yang melewati jembatan kayu yang hanya disanggah besi yang goyah dan pegangan rantai besi di ketinggian yang berkali-kali lipat sekitar 3.000 meter.
Drama yang dihadirkan untuk Fall 2: Deadpoint pun lebih berkembang. Kini melibatkan beberapa hal yang hanya diperlihatkan sekilas di film pertamanya mulai muncul sebagai penunjang konflik filmnya. Misalnya, sosok penggemar Shiloh Hunter di media sosial bernama Billie dengan nekat menyamar menjadi teman semasa kuliah bernama Luce, hanya untuk mendapat barang-barang dan mobil peninggalan sang idola.
Kehadiran karakter lainnya yang ternyata bukan sekedar hadir sebagai sosok yang berpengalaman mendaki Gunung Kwan tetapi justru menyimpan rahasia besar untuk mendukung konflik yang hadir sebagai bagian dari plot twist ceritanya. Plot twist yang memang ditunggu penikmat film karena ingatan tentang film pertamanya yang cukup membekas.
Hasilnya tidak mengecewakan tetapi juga tidak sepenuhnya membuat puas. Secara keseluruhan cukup menarik seperti film pertamanya yang tetap menghadirkan premisnya dengan sederhana bukan sesuatu yang kompleks. Intensitas untuk menghadirkan berbagai rasa ternyata masih berada satu tingkat dibanding film pertamanya.
Namun, kelanjutan dari universe yang dibangun judul Fall masih sepadan untuk ditunggu karena rasa penasaran dengan cerita yang akan dibangun oleh penulis nantinya. Akankan menjadi sebuah cerita balas dendam atau sebuah keikhlasan yang justru menjadi cerita yang lebih dramatic.
Production company: Tea Shop Production, Capstones Studios, Flawless Productions
Distributor: Lionsgate
Cast: Harriet Slater (Jax Hunter), Arsema Thomas (Luce / Billie), Tom Brittney (Jon Platt), Grace Caroline Currey (Becky Connor), Virginia Gardner (Shiloh Hunter), etc
Director: The Spierig Brothers
Screenplay: Scott Mann, Jonathan Frank
Producers: James Harris, Mark Lane, David Haring, Scott Mann, Christian Mercuri
Duration: 1 hours 47 minutes






