LASAK.iD – Pada dekade 1940-an dan 1950-an, hal seperti Perang Dunia II, penjajahan, dan berbagai konflik mungkin menjadi hal yang dibicarakan di masa sekarang. Era yang dianggap sebagai masa yang memiliki sejuta cerita yang berasal tidak hanya dari sebuah negara tetapi mencakup seluruh dunia.
Cerita besar yang juga menjadi ide besar yang menarik untuk film maker dunia membawanya ke ranah hiburan. Menilik dari perilisan film selama ini, kebanyakan dari konsep dan genre yang diusung lebih menekankan dari sisi perang itu sendiri. Di mana, konflik ceritanya lebih condong menampilkan ketegangan adegan berdarah (baku hantam, baku tembak).
Meski begitu, ada juga segelintir film maker yang melihatnya dari sudut pandang berbeda. Ada sisi lain cerita dari kejamnya perang yang juga bisa menyentuh empati dan simpati penikmat film dengan tetap mangacu sejarah yang valid sesuai catatan sejarah. Ini yang dilakukan oleh beberapa rumah produksi Tiongkok untuk film drama keluarga berjudul Dear You.
Film dari sutradara Lan Hongchun yang turut menulis cerita filmnya mungkin menjadi salah satu representatif dari sebuah film drama tanpa kompleksitas konflik untuk menggugah sisi emosional dan empati dari penikmat film. Di awal bahkan sampai satu perempat cerita, penikmat film mungkin merasa filmnya tidak memiliki daya tarik yang kuat.
Hanya sajian yang menggambarkan keluarga di sebuah daerah di Tiongkok, dengan kehidupan dalam kesederhanaan dan segala problematika antar anggota keluarga. Sebuah gambaran yang sebenarnya cukup relatable dengan kehidupan nyata. Tentang hubungan antara Ibu dengan anak dan cucu yang dekat tetapi dengan sifat dan kelakuan yang cukup membuat jengkel.
Setelah satu seperempat cerita dan menonton filmnya secara utuh, Dear You ternyata memiliki sebuah pesan mendalam setiap jengkal cerita yang diwakili karakter di dalamnya, Zia Lamgi dan Den Bhagseng. Dua karakter yang terhubung bukan dalam ikatan cinta sebagai pasangan kekasih, tetapi hubungan erat yang bukan juga sekedar sesama perantau Tiongkok di negara Thailand. Begitu pun dengan objek lain berupa surat yang hampir selalu muncul dalam mengiringi perjalanan cerita dari kedua karakter.
Lan Hongchun sebagai sutradara dan penulis membangun emosi untuk pesan mendalam ceritanya dengan mengusung alurnya yang maju-mundur. Sebuah konsep untuk saling mengisi sisi kosong atau plot hole cerita dari masing-masing waktu. Di mana, adegan di masa sekarang menyajikan sebuah hasil akhir tapi belum memberikan detail jawaban yang pasti.
Untuk itu, alur mundur filmnya menampilkan adegan yang kembali ke beberapa dekade lalu tepatnya di tahun 1940-an hingga 1970-an. Awal mula dari perjalanan kisah kehidupan dari seorang Den Bhagseng yang jatuh cinta dengan kembang desa bernama Iap Sogriu. Hingga keberaniannya untuk menikahi sang pujaan hatinya tersebut.
Kehidupan awal yang menggambarkan sebuah kebahagiaan yang disempurnakan dengan keberadaan 3 anak hasil buah cinta keduanya. Demi menghindari wajib militer sekaligus ingin mengubah nasib keluarganya, Den Bhagseng memutuskan untuk pergi merantau ke negeri seberang di Asia Tenggara (Nanyang).
Adegan yang kembali ke masa lampau untuk memberikan jawaban tentang rasa benci yang tumbuh di hati Iap Sogriu selama 40 tahun kebelakang kepada Den Bhagseng. Di mulai dari sebuah qiaopi yang diterima Iap Sogriu pada tahun 1978. Insiden yang terjadi dalam proses pengiriman membuat Iap Sogriu hanya menerima selembar foto yang menampilkan Den Bhagseng bersama seorang wanita dan beberapa anak.
Potongan pertama tentang masa lalu yang mulai membuat rasa ketertarikan dari penikmat film sekaligus perasaan awal tentang karakter Den Bhagseng. Sutradara mulai mencampuraduk perasaan penikmat film yang semula tumbuh rasa sebal kepada karakter Den Bhagseng, namun berubah menjadi rasa heran ketika adegannya melompat kembali kembali ke masa sekarang.
Di mana, Hiou-ui memutuskan untuk mencari keberadaan sang kakek, Den Bhagseng bermodalkan surat yang disimpan sang nenek dengan terbang ke Thailand. Pencaharian yang cukup rumit dan melelahkan justru menimbulkan tanda tanya besar dari Hiou-ui, karena sosok sang kakek telah tiada sejak tahun 1960.
Pertemuan berikutnya dengan sosok sahabat sang kakek, Di Gong (Tek Kong) menjadi titik terang tentang kematian sang kakek terjadi di tahun 1960 dan alasan qiaopi masih terus diterima setelahnya sampai berakhir di tahun 1978. Penjelasan dan fakta yang kembali dijelaskan sutradara dengan kembali ke masa lampau sebagai potongan kedua.
Di potongan kedua inilah jawaban dari kebencian Iap Sogriu selama 40 tahun yang ternyata hanya sebuah kesalahpahaman. Rasa benci yang tumbuh dari sebuah insiden saat pengiriman. Foto yang seharusnya datang bersama beberapa lembar kertas surat yang menceritakan kisah Den Bhagseng selama hidup tidak pernah diterima oleh Iap Sogriu secara utuh.
Potongan yang menjelaskan dengan detail semua orang yang berada di sekitar Den Bhagseng selama di perantauan. Termasuk wanita yang ada dalam foto yang kemudian diketahui bernama Zia Lamgi dan beberapa anak yang merupakan anak-anak didiknya bersama sahabatnya Di Gong (Tek Kong).
Potongan yang juga menggambarkan rasa rindu yang dirasakan oleh Den Bhagseng kepada Iap Sogriu dan ketiga anaknya. Juga potongan yang menjelaskan dengan detail tentang qiaopi yang terus diterima Iap Sogriu bahkan setelah Den Bhagseng telah tiada. Tak hanya sekedar surat, Zia Lamgi mengirimi berbagai macam barang dan kebutuhan yang diperlukan untuk keluarga dari sahabatnya di Tiongkok.
Sebuah tanggung jawab yang tidak seharusnya diemban Zia Lamgi. Namun, pribadi yang ditunjukkan Den Bhagseng kepada orang disekitar serta ceritanya tentang sosok Iap Sogriu dan ketiga anaknya menjadi sebuah dorongan untuk Zia Lamgi tetap menghidupkan kembali sosok sahabatnya di mata keluarga yang menunggunya di kampung halaman.
Menarik ketika sutradara menggunakan teknik narasi subjektif atau teknik bertutur story within a story untuk menghantarkan cerita di potongan kedua melalui karakter Zia Zeghua melalui salinan manuskrip dari surat yang tidak pernah sampai kepada Iap Sogriu di tahun 1978. Zia Zeghua sendiri merupakan anak adopsi dari Zia Lamgi yang juga menjadi saksi dari setiap surat yang dikirim kepada Iap Sogriu dan yang diterima Sang Ibu dari Iap Sogriu.
Hingga pada sebuah kesimpulan melalui adegan akhir yang memperlihatkan kembali masa kini. Kebenaran yang akhirnya mempertemukan dua orang yang sebelumnya hanya terhubung melalui rangkaian kata dalam surat, yaitu Zia Lamgi dan Iap Sogriu. Pertemuan penuh haru untuk dua orang yang pernah merasakan kebaikan dari seorang laki-laki bernama Den Bhagseng.
Untuk penikmat film mungkin hanya melihat sebuah kisah yang menampilkan sebuah hubungan dan kesalahpahaman antara tiga tokoh utamanya, Den Bhagseng, Zia Lamgi dan Iap Sogriu. Ternyata, dibalik itu ada sebuah sejarah besar yang mengubah suatu kehidupan yang tak sekedar keluarga di kampung halaman tetapi di satu negara bernama Tiongkok.
Surat yang disebut dengan qiaopi ini tak sekedar sepucuk surat (pixin) ungkapan rasa rindu dengan keluarga dan kampung halaman. Tak juga sekedar uang (qiaohui) atau perak atau uang (pikuan) untuk membantu kehidupan sebuah keluarga. Nyatanya, kisah perantau Tiongkok yang mengirimkan uang (qiaohui) atau perak atau uang (pikuan) menjadi salah satu pilar ekonomi, penyelamatan darurat, bahkan membawa pengaruh besar dalam pembangunan modern untuk Tiongkok.
Fakta lainnya dari film Dear You ada pada karakter-karakter yang muncul dalam cerita. Lan Hongchun yang juga menulis cerita filmnya ternyata melakukan riset yang cukup lama di negara Thailand dan Malaysia. Untuk mendengar setiap cerita yang terjadi pada masa itu untuk kemudian diramu menjadi cerita utuh.
Karakter yang ditampilkan tidak sepenuhnya fiksi dan tidak juga fakta, karena setiap karakter dibentuk dari beberapa kisah yang kemudian dituangkan pada satu karakter. Begitu pun dengan cerita filmnya yang menggambarkan puluhan, belasan, bahkan ratusan cerita yang didengarnya selama berkunjung ke Thailand dan Malaysia.
Terkait karakter pun cukup menarik yang dilakukan Lan Hongchun sebagai sutradara. Ia nyatanya tidak menggandeng para pemainnya dari kalangan aktor dan aktris, tetapi orang biasa yang sesuai dengan karakteristik cerita yang didengarnya dari keluarga perantauan Tiongkok.
Tujuan Lan Hongchun tidak sekedar mencari visual yang memang autentik tetapi menyajikan sebuah sajian akting yang natural. Ini sebenarnya cukup dirasakan di banyak momen. Ada kalanya seperti menikmati sebuah sajian dokumenter yang menggambarkan sebuah daerah atau tempat dengan segala aktivitasnya. Bukan sebuah set produksi film dengan karakter yang memang dituntut untuk berakting.
Production company: Shenzhen King Ant Pictures, Damai Entertainment, Rongde Holdings, Shenzhen Lichun Pictures
Distributor: Damai Entertainment
Cast: Li Sitong (Zia Lamgi), Wang Yantong (Den Bhagseng), Wu Shaoqing (Iap Sogriu), Zheng Runqi (Hiou-ui), Fang Peisong (Zia Laisung), Zhao Shuguang (Zia Zeghua), Li Deru (Aunt Ru), Li Shuhao (Chuyuan’s Father), Zheng Pengsheng (Uncle Long), Chen Qinqin (Di Gong), Chen Haixin (Chinese Postman), Yao Yuan (Chen Chuyuan), Xu Peiyong (Thai Policeman), etc
Director: Lan Hongchun
Screenwriter: Lan Hongchun, Zheng Xuanxuan, Yang Leng, Zhu Liyun
Producers: Luo Zhanhong, Xie Ying, Zheng Xuanxuan, Lin Guoming
Duration: 1 hours 58 minutes






