ReviewCinemaFilm

Review: Fuze, Film Perampokan Yang Kurang Greget dan Kompleks

27
×

Review: Fuze, Film Perampokan Yang Kurang Greget dan Kompleks

Share this article

Fuze film action-heist yang menyatukan tiga aktor kenamaan Aaron Taylor-Johnson, Theo James, hingga Sam Worthington.

LASAK.iD – Genre film seperti aksi memang menjadi genre yang secara total menghadirkan ketegangan hampir di setiap bagian film. Hal yang sama pun berlaku untuk sub-genre atau turunan dari genre aksi. Di antaranya, film yang mengusung sub-genre seperti heist atau perampokan/ pencurian walau dalam hitungan skala yang sedikit berbeda.

Film bergenre heist yang masih menjadi pembicaraan penikmat film hingga hari ini, sebut saja judul Ocean’s Eleven (2001), The Italian Job (2003), Now You See Me (2013), Heat (1995), dan beberapa judul lainnya. Hal yang juga menjadi kekhasan dari genre satu ini tentang minimnya adegan berdarah.

Kehadiran adegan berdarah pun tidak pula yang sadis seperti biasa disajikan film murni aksi. Pada film heist, adegan berdarah lebih disajikan sedikit lebih ringan dan lebih merujuk pada bumbu ceritanya. Ketegangan khas dan lebih intens yang diberikan dalam film heist lebih kepada aksi kejar-kejaran.

Kekhasan dari film heist yang juga diperlihatkan dalam film Fuze produksi  terbaru Anton dan Sigma Films dari sutradara David Mackenzie serta penulis Ben Hopkins. Film berlatar di kota London, Inggris tersebut bercerita tentang perampokan besar yang dilakukan sekelompok orang di sebuah bank.

Kejahatan yang ternyata sudah dipersiapkan secara matang oleh Karalis, seorang yang diketahui sebagai penambang, penadah, dan penjual batu mulia seperti berlian secara ilegal. Untuk pekerjaan perampokan bank kali ini, Karalis bekerja sama dengan beberapa orang ahli, yaitu X, Y, dan Z.

Pekerjaan yang sangat pas dengan momen ditemukannya sebuah bom yang diperkirakan berasal dari Perang Dunia II. Radius ledakan yang bisa mencapai ratusan meter memaksa kepolisian kota London mengevakuasi warga dan memberikan garis barikade agar tidak sembarangan dimasuki warga.

Kekosongan area kembali menjadi kebetulan dalam memudahkan pekerjaan Karalis dan rekan-rekannya. Pekerjaan pun dimulai dengan membobol setiap lapisan tembok bahkan yang berlapis baja tebal. Saat menemukan barang yang diinginkan, pekerjaan pun segera diselesaikan karena bersamaan dengan kepolisian London yang mulai mencurigai aktivitas ilegal mereka.

Setelah mengetahui adanya perampokan, barikade pemeriksaan pun dilakukan di setiap sudut yang kemungkinan menjadi akses pelarian kelompok Karalis. Setelah diketahui identitas para pelaku dan mobil yang dikenakan, polisi mulai melacak dengan seksama. Sempat tejadi momen kejar-kejaran antara kepolisian dengan tim Karalis. 

Persiapan yang matang membuat keempatnya berhasil lolos dan pergi ke rumah persembunyian di sebuah pedesaan. Selain mempersiapkan pelarian, di tempat itu pula transaksi dengan gangster untuk menjual berlian mentah dilakukan. Di sini, rencana sebenarnya terungkap, ia sepanjang waktu hanya memanfaatkan tenaga dan keahlian dari X, Y, dan Z.

Tanpa rasa bersalah dan kasihan, Karalis membiarkan mantan rekannya untuk disekap di gudang di antara bangunan rumah tersebut. Saat negosiasi terjadi, tanpa terduga berlian mentah yang Karalis curi dari mantan bosnya ternyata sudah ditukar dengan yang palsu. Sontak saja hal itu membuat gangster merasa dikhianati juga oleh Karalis.

Tanpa basa-basi, kelompok gangster membawa Karalis ke tempat mereka untuk kemudian akan dieksekusi. Kembali ke gudang, X, Y, dan Z mencoba segala cara untuk bebas dan mengejar kelompok gangster yang membawa Karalis dan hasil rampokan mereka. Setelah berhasil terbebas dengan segera mengejar dan berhasil.

Satu per satu para gangster dilumpuhkan hingga tersisa hanya Karalis. Sedangkan, X, Y, danyang terlanjut sakit hati tidak memberi ampun Karalis dengan menutupi kepalanya dengan kantong plastik untuk membuatnya mati secara perlahan. Di saat bersamaan dari kejauhan terdengar suara tembakan yang akhirnya melumpuhkan X.

Ternyata, rekan asli dari Karalis yang merupakan seorang tentara bernama Will Tranter telah menyelamatkannya dari kematian. Karalis dan Tranter segera melarikan diri secara terpisah termasuk Rahim untuk kemudian bertemu kembali di Istanbul. Kota yang dipilih ketiganya untuk melakukan transaksi jual-beli berlian mentah yang dicuri sebelumnya.

Ternyata, Karalis memang dengan sengaja menukar berlian yang asli dengan yang palsu untuk mengelabui gangster yang sebelumnya telah tewas ditangan manta rekannya. Penukaran yang dilakukan ketika momen sebelum hasil perampokan dikirimkan melalui udara menggunakan drone.

Rencana asli yang telah dipersiapkan sejak awal oleh Karalis dan rekan aslinya yang merupakan seorang tentara berpangkat mayor bernama Will Tranter. Tentu bukan sebuah kebetulan Will Tranter menjadi pasukan yang ditugaskan untuk menangani penjinakan bom. Rekan lainnya bernama Rahim yang merupakan seorang imigran asal Afganistan yang sebelumnya diketahui menjadi penerjemah Will Tranter selama misinya di negara tersebut.

Will Tranter juga yang mengurus segala perizinan untuk Rahim bisa tinggal di negara Inggris. Hubungan yang semula hanya sebagai penerjemah berkembang menjadi sosok rekan. Kerja sama solid dipertunjukkan ketiganya, dengan rancangan yang detail setiap incinya untuk memudahkan aksi mereka.

Termasuk penemuan bom yang diduga berasal dari Perang Dunia II yang dirancang sebagai pengalihan untuk mengelabui pihak berwenang. Demi menjaga keselamatan warga sipil tentu evakuasi besar-besaran menjadi solusi terbaik. Situasi yang sudah dirancang pula oleh ketiganya untuk memudahkan proses pembobolan brangkas bank.

Rencana matang yang membuat ketiganya bisa menikmati dan menjalani kehidupan sepuasnya karena telah mengantongi 30 juta dollar. Meski menjadi buronan teratas dari interpol, ketiganya masih licin untuk bisa ditangkap dan diadili atas kejahatan yang ketiganya telah lakukan dan menyebabkan kerugian besar.

Review

Menilik sajian utuh ceritanya, film berjudul Fuze karya penulis Ben Hopkins dan sutradara David Mackenzie mencoba tetap menjaga marwah dari film bergenre heist, yang kaitannya dengan unsur kejut dan hubungannya langsung pada alur, plot, maupun karakter. Sebenarnya, sajiannya cukup menarik meski dengan objek yang cukup general, seperti bank dan berlian.

Hanya disayangkan bayangan akan sajian yang mampu menarik antusiasme justru yang didapat sebaliknya. Materi cerita sebenarnya cukup menarik tetapi secara eksekusi terasa kurang greget. Unsur kejut yang adalah plot twist seharusnya menjadi modal utama untuk memberikan rasa ketertarikan pun terasa datar dan hambar.

Hal yang wajar untuk penikmat film memiliki ekspektasi tinggi dari film bergenre heist. Beberapa judul film dengan genre yang sama memberikan memori kolektif yang sudah sangat terpatri di ingatan dengan sajian yang memikat. Itu yang kemudian secara tidak langsung membentuk standar di penikmat film untuk produksi sejenis di kemudian hari.

Memori kolektif dan standar yang dibentuk melalui adegan-adegan dari filmnya, baik yang terlihat lebih sederhana hingga sangat kompleks. Sajiannya pun hampir selalu dibuat secara struktural bahkan kadang diluar logika. Pada akhirnya adegan dalam film heist memiliki ciri tersendiri meski secara teori sama dengan genre lainnya.

Keberhasilan film heist pun bisa terlihat dari ekspresi yang ditunjukkan penikmat film ketika menonton. Untuk film genre satu ini, cukup banyak ekspresi yang biasa ditunjukkan, tak sebatas ekspresi bahagia tetapi juga tidak percaya, terkesan, bahkan terkejut. Hal ini yang kurang dilakukan untuk film Fuze.

Penulis dan sutradara dalam mengeksekusi adegan yang seharusnya menjadi unsur kejut justru diperlihatkan nyata sejak awal. Misalnya, adegan saat karakter Karalis (Theo James) menyembunyikan kantong cokelat dalam tong sampah di bangunan apartemen yang tak jauh dari lokasi perampokan.

Hal ini tidak juga menjadi kejutan karena tidak sepenuhnya dijadikan adegan kejutan (plot twist) karena adegan di dalam brangkas bank sudah memperlihatkan kantong yang sama. Sehingga penonton sudah menebak bahwa ada unsur pengkhianatan dan kantong itu yang menjadi kunci.

Penulis dan sutradara bahkan melakukan yang sama di banyak adegan. Unsur kejutan (plot twist) justru disajikan sedikit lebih terang-terangan bukan memberi kesan tersembunyi atau samar-samar. Ini yang membuat penikmat film lebih menunjukkan ekspresi dengan mengerutkan dahi bukan akspresi keterkejutan karena tidak menduga ceritanya yang sangat plot twist.

Entah ingin sedikit mendobrak kebiasaan untuk menciptakan sesuatu yang berbeda atau mungkin ada sedikit perbedaan visi antara penulis dengan sutradara sehingga filmnya tidak memiliki sisi kuat yang biasa dirasakan pada film heist. Ketertarikan yang terasa datar dan hambar pun di antaranya datang dari jajaran pemain.

Penikmat film tentu tahu nama besar dari aktor Aaron Taylor-Johnson, Theo James, hingga Sam Worthington. Bicara soal akting tidak perlu diragukan, ketiganya sering terlibat dalam produksi film besar dengan akting yang maksimal. Jika dalam film Fuze hal yang sama dilakukan untuk ketiganya dengan bermain dalam ranah lebih kompleks, besar kemungkinan Fuze menjadi salah satu film yang diingat.

 

Production company: Anton, Sigma Films
Distributor: Sky Cinema
Cast: Aaron Taylor-Johnson (Major Will Tranter), Theo James (Karalis), Gugu Mbatha-Raw (Chief Superintendent Zuzana), Sam Worthington (“X”), Saffron Hocking (Sergeant Dootsie Keane), Elham Ehsas (Rahim), Shaun Mason (“Y”), Nabil Elouahabi (“Z”), Alexander Arnold (Corporal Martin), Honor Swinton Byrne (Clareese), Luke Mably (Lieutenant Colonel Headley), Iain Fletcher (General Milton), Samuel Oatley (Police Chief Newman), Dragoș Bucur (Ludo), etc
Director: David Mackenzie
Screenplay: Ben Hopkins
Producers: Sebastien Raybaud, Callum Christopher Grant, David Mackenzie, Gillian Berrie
Duration: 1 hours 36 minutes

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

1 Comment
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Edith3052
Edith3052
4 hours ago
1
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x