LASAK.iD – Film bergenre action thriller selalu memberikan adrenaline tersendiri untuk penikmat film. Tak heran genre satu ini tidak pernah absen di daftar film yang akan dirilis setiap tahun. Beragam tema pun coba diusung para pembuat film, dari tema yang cukup familiar sampai tema baru sebagai pembaharuna dan penarik atensi penikmat film.
Seringnya, tema akan berjalan searah dengan skala produksi itu sendiri, baik terlihat fantastis, menengah, atau justru biasa. Misalnya, pada film berjudul Turbulence dengan temanya tentang perselingkuhan dan balas dendam. Penulis Andy Mayson menggunakan latar balon udara dalam menciptakan ketegangan cerita filmnya.
Sebuah tema dan konsep yang menarik, ketika memanfaatkan keterbatasan ruang dalam keranjang balon udara dalam menciptakan ketegangan. Namun, secara pengemasan masih ada beberapa hal dari filmnya yang kurang membuat greget di penikmat film. Berikut beberapa ulasan mengenai film Turbulence.
Ekspektasi vs Realitas dan Kegagalan Atmosfer Ketegangan
Turbulence (2026) hadir dengan premis yang seharusnya mampu memacu adrenalin, mengingatkan pada intensitas film Fall (2022). Sayangnya, ekspektasi untuk merasakan ketegangan yang klaustrofobik justru berujung pada kekecewaan yang mendalam.
Alih-alih merasa terancam oleh ketinggian, penonton justru dibuat jengah karena eksekusi film yang terasa ceroboh. Alurnya tidak hanya gagal memberikan rasa bahaya yang nyata, tetapi juga meninggalkan kesan yang cukup memalukan bagi genre thriller bertahan hidup.
Kegagalan Visual Serta Dominasi CGI yang Tidak Estetik
Dari segi visual, film ini tampil sangat buruk dan jauh dari estetika sinematik yang diharapkan. Hampir tidak ada satu pun gambar yang terasa nyata karena didominasi oleh penggunaan CGI berkualitas rendah yang sangat mencolok.
Efek spesial yang kasar ini bekerja melawan imersi cerita, sehingga sulit untuk mempercayai lingkungan tempat para karakter berada. Visual yang tampak buatan ini menjadi hambatan utama bagi siapa pun yang mencoba menikmati keindahan atau kengerian dari latar balon udara tersebut.
Narasi Lemah dengan Plot Prediktabil dan Tidak Logis
Narasi yang disuguhkan pun melampaui batas kewajaran dalam hal prediktabilitas. Plot-nya tidak hanya mudah ditebak, tetapi juga penuh dengan kemustahilan yang tidak logis.
Salah satu momen yang paling tidak masuk akal adalah saat karakter Emmy mampu menguasai segala aspek teknis menerbangkan balon udara hanya melalui pengarahan keselamatan singkat selama empat menit.
Selain itu, kehadiran sub-plot pemerasan terasa seperti bumbu yang dipaksakan, yang bukannya memperkuat cerita, malah merusak struktur utama yang sebenarnya sudah cukup menantang.
Kedalaman Karakter dan Kontras Performa Antar Pemain
Penulisan karakter dalam Turbulence tergolong cukup dangkal, namun performa Olga Kurylenko menjadi salah satu aspek yang patut diapresiasi. Di tengah naskah yang terbatas, ia berhasil membawakan peran femme fatale dengan karisma yang kuat dan kehadiran yang meyakinkan.
Sayangnya, potensi ini tidak didukung oleh penulisan tokoh lain, karakter Julia misalnya, akan jauh lebih menarik jika diposisikan sebagai penyusun rencana dari darat, sementara Jeremy Irvine tampil sangat kaku sehingga gagal mengimbangi energi yang dibawa oleh Kurylenko.
Kesalahan Teknis Serta Pengabaian Logika Fisika Dasar
Kesalahan teknis dan pengabaian logika fisika menjadi poin yang paling menggelikan sekaligus mengganggu dalam film ini. Ukuran keranjang balon udara tampak berubah-ubah secara ajaib dari satu adegan ke adegan lainnya, menunjukkan kurangnya ketelitian dalam proses produksi.
Lebih parah lagi, film ini mengabaikan hukum fisika dasar, balon digambarkan melaju kencang melawan arah angin dengan rambut karakter yang berkibar hebat. Padahal, secara faktual, balon udara bergerak searah dengan angin sehingga kondisi di dalam keranjang seharusnya tenang, sebuah detail krusial yang diabaikan demi aksi semata.
Babak Ketiga dengan Klimaks yang Kacau dan Berlebihan
Memasuki babak ketiga, film ini terjun bebas ke dalam drama konyol demi mengejar kesan thriller yang berlebihan. Meskipun penulisan skenarionya terasa kacau dan membingungkan, profesionalisme Olga Kurylenko tetap terlihat saat ia mencoba memberikan bobot pada adegan-adegannya sebelum alur cerita benar-benar menjadi tidak terkendali.
Perubahan drastis dari sosok tangguh menjadi tidak berdaya, ditambah kekuatan fisik karakter lain yang muncul tiba-tiba, membuat keseluruhan klimaks film ini terasa sangat liar namun tanpa arah pengembangan yang jelas.
Premis Menarik Tapi Mengecewakan
Pada akhirnya, rasa penasaran terhadap hasil karya sutradara Fäh tidak terbayar dengan kepuasan menonton yang utuh. Turbulence memang memberikan apa yang dijanjikan dalam premisnya, tetapi dieksekusi dengan kualitas yang sangat meragukan di berbagai lini.
Film ini menjadi bukti nyata bahwa ketika logika fisika dan penulisan skenario yang solid dikorbankan demi drama yang dipaksakan, hasil akhirnya hanyalah sebuah tontonan yang membingungkan, meski ada usaha keras dari jajaran pemain untuk menyelamatkannya.
Written by Hadi Hutama
Production company: Altitude Film Entertainment, Enderby Entertainment, Head Gear Films, Metrol Technology, Phiphen Pictures
Distributor: Lionsgate, Grindstone Entertainment Group
Cast: Hera Hilmar (Emmy), Jeremy Irvine (Zach), Kelsey Grammer (Harry), Olga Kurylenko (Julia), etc
Director: Claudio Fäh
Screenplay: Andy Mayson
Producers: Amanda Bowers, Molly Conners, Andy Mayson
Duration: 1 hours 36 minutes






