ReviewAsian ShowbizCinemaFilm

Review: The Furious, Film Kolaborasi Yang Menampilkan Ciri Khas Setiap Pemain

61
×

Review: The Furious, Film Kolaborasi Yang Menampilkan Ciri Khas Setiap Pemain

Share this article

The Furious menjadi film berbahasa inggris produksi Hong Kong yang mempertemukan kembali Joe Taslim dan Yayan Ruhian.

LASAK.iD – Sejak lama industri film Hong Kong telah memberikan pengaruh besar pada industri film dunia, terutama untuk film bergenre aksi yang dimulai sejak 1970-an. Gaya, teknik koreografi, serta pendekatan dalam penyutradaraan yang menggabungkan tradisi melalui bela diri Kung-fu dengan teknik pembuatan film modern.

Mereka yang memberi pengaruh tak hanya datang dari balik layar tetapi juga di depan layar. Sederet nama sutradara yang berhasil melakukannya, seperti John Woo, Tsui Hark, Ringo Lam, hingga Stanley Tong. Untuk kalangan aktor sendiri, nama Bruce Lee, Jackie Chan, Donnie Yen, serta Chow Yun-fat yang cukup mencuri perhatian.

Nama yang disebutkan hanya sebagian kecil dari banyaknya pelaku industri film Hong Kong yang memiliki pengaruh. Bahkan sebagian besar dari mereka telah mencicipi persaingan ketat industri film hollywood yang juga menjadi kiblat di industri film dunia. Meski begitu, industri film Hong Kong dikenal cukup ketat untuk pelaku industri asing baik film maker maupun aktor.

Baca juga: Review: Colony, Film Zombie Yang Mengadaptasi Kehidupan Koloni Semut

Bahasa (Kantonis), pasar yang sempit, dan preferensi budaya cukup menjadi kendala untuk asing masuk di industri film Hong Kong. Keterlibatan asing dalam industri untuk kalangan aktor biasanya lebih kepada peran-peran pendukung seperti penjahat. Hal yang sama pun berlaku untuk peran di balik layar, sebagai asisten atau sekedar crew biasa.

Secara historical, kerja sama dengan pihak asing sudah ada sejak awal abad ke-20 yang dimulai sekitar tahun 1914. Setelahnya, sukses besar film-film laga dan drama Hong Kong membuat minat industri hollywood semakin besar. Terbukti dengan perekrutan beberapa aktor (Bruce Lee, Jackie Chan) serta sutradara Hong Kong untuk memproduksi film di Amerika Serikat.

Memasuki era 2000-an atau disebut sebagai era modern (abad 21) kolaborasi antara industri film Hong Kong dan pihak asing (Amerika, Eropa, Asia) semakin masif yang ditandai dengan semakin seringnya film atau sineas asal Hong Kong hadir di berbagai momen, salah satunya festival film internasional.

Kolaborasi internasional yang juga ditunjukkan di tahun 2026 melalui film berjudul The Furious, yang menjadi film aksi Hong Kong berbahasa inggris. Ini merupakan kolaborasi nano-nano, secara rumah produksi memang antara Hong Kong dengan hollywood, tetapi dari jajaran pemain yang terlibat hadir dua aktor asal tanah air, yaitu Joe Taslim dan Yayan Ruhian.

Keduanya kembali berhadapan sebagai karakter yang berseberangan bersama dengan aktor kenamaan Hong Kong, seperti Xie Miao, Brian Le, dan juga Joey Iwanaga. Film berbahasa inggris yang ditulis Mak Tin-shu, Lei Zhilong, Shum Kwan-sin, dan Frank Hui membawa kembali konsep dan tema klasik yang kerap kali ditemukan dalam produksi film aksi Hong Kong.

Gambaran kelompok elit yang merupakan kumpulan orang kaya berpengaruh yang menjadi dalang di balik jaringan kejahatan berskala internasional tentang perdagangan manusia (human trafficking). Kali ini berlatarkan sebuah kota yang berada di belahan Asia Tenggara tepatnya di Bangkok, Thailand.

Meski kental dengan konsep dan tema klasik, penulis mencoba membuat pembaharuan secara sajian terutama dalam konflik, emosi, bahkan koreografi fight yang dibangun dalam filmnya. Penulis melakukan pendekatan konflik dan emosi melalui hubungan keluarga antara ayah dengan anak dan suami dengan istri dari karakter protagonis dan juga antagonis.

Untuk membuat emosi lebih mendalam, karakteristik dari salah satu karakter utama yang bernama Wang Wei yang diperankan Xie Miao digambarkan sebagai sosok Ayah dengan keterbatasan yang tidak bisa berbicara. Itu kenapa dalam perilisan trailer filmnya yang memperlihatkan adegan Wang Wei tidak berteriak saat mengejar kendaraan yang menculik putrinya, Rainy (Yang Enyou).

Di sisi lain, keseimbangan karakteristik dari Wang Wei digambarkan melalui kemampuan bela dirinya yang di atas rata-rata. Sebuah keseimbangan yang terkesan kontras dari karakter Wang Wei tetapi cukup berhasil dalam menciptakan emosi yang beragam di penikmat film akan rasa iba, empati, sekaligus rasa kekaguman di saat yang bersamaan.

Bersama karakter Navin yang dipernakan Joe Taslim, keduanya menjelma mencari duo mematikan dan penyelamat untuk anak-anak yang menjadi korban penculikan dan perdagangan manusia. Untuk karakter Navin sendiri dibuat tidak sepenuhnya superior, bisa dikatakan karakter yang lebih tergambar manusiawi dibandingkan karakter yang biasa dimainkan sang aktor.

The Furious yang bergenre action tentu melibatkan fight yang biasanya dekat suatu bela diri sebagai acuan dalam adegannya. Film yang disutradarai Kenji Tanigaki ternyata memiliki fakta menarik terkait hal tersebut. Joe Taslim dan Yayan Ruhian yang sempat menyapa media dan penikmat film di tanah air mengatakan bahwa setiap pemain mewakili bela diri yang dikuasai masing-masing.

The Furious yang merupakan produksi Hong Kong tentu pemainnya seperti Xie Miao menggunakan teknik bela diri Kung-fu. Joe Taslim sendiri yang dikenal sebagai atlit judo profesional menunjukkan keahliannya dalam Judo. Yayan Ruhian atau yang akrab disapa Kang Yayan tentu membawa bela diri khas tanah air, yaitu Pencak Silat meski fokus senjata yang digunakannya panah.

Bela diri lainnya seperti Taekwondo hingga Muay Thai juga terlihat tipis-tipis dalam berbagai adegan fight dari filmnya. Ternyata ini merupakan ide dari Kenji Tanigaki sebagai sutradara, yang mungkin ingin memperlihatkan bahwa filmnya merupakan kolaborasi internasional dan mungkin sekaligus memperlihatkan beragam bela diri.

Hal ini justru menjadi sajian tontonan menarik ketika deretan bela diri disatukan dalam satu frame yang diwakili masing-masing karakternya. Ini bisa dilihat dalam adegan klimaks dari film The Furious. Adegan yang menampilkan duel antara Xie Miao, Joe Taslim, Yayan Ruhian, Brian Le, dan Joey Iwanaga.

Terkait adegan pamungkas ternyata menjadi adegan yang mempertegas identitas filmnya yang memang produksi Hong Kong. Di mana, terlihat sekali adegan fight yang intens, koreo tak biasa bahkan terkesan ajaib, sampai dengan petarungan jarak dekat yang khas sangat mempertegas identitas film aksi Hong Kong.

Selain dari cerita filmnya yang merupakan tema dan konsep klasik khas Hong Kong tetapi juga latar filmnya yang berkaitan lingkungan tempat tinggal maupun gedung-gedung tua meski syutingnya sendiri dilakukan di negara Thailand. Kekhasan yang juga tergambar pada banyak karakter yang cukup mencerminkan film aksi Hong Kong.

Baca juga: Review: Gohan, Film Yang Menawarkan Emosional Persahabatan Anjing dan Manusia

Untuk penikmat film tanah air yang memang menyukai film aksi Hong Kong film ini cukup merepresentasikan sekaligus membuka memori kolektif tentang berbagai film aksi Hong Kong di era 80-an hingga 90-an yang sempat menguasai tayangan televisi di tanah air. Hanya saja, jika menilik masa sekarang yang selalu menantikan pembaharuan dan sesuatu yang fresh, The Furious tidak sepenuhnya melakukannya karena masih lekat dengan sisi klasiknya secara latar, karakter, cerita, dan fight yang intens.

Tidak pula dibilang berjalan di tempat tetapi secara industri film global banyak yang mulai mengkombinasikannya dengan berbagai hal, entah secara visual yang menggunakan teknik komputerisasi (CGI, special effect, visual effect) bahkan dari genre itu sendiri yang membawa unsur komedi, horor, dan lainnya.

Hal ini sebenarnya pun sudah dilakukan banyak rumah produksi dan sineas Hong Kong. Untuk kali ini, rumah produksi melalui penulis Mak Tin-shu, Lei Zhilong, Shum Kwan-sin, dan Frank Hui melalui sutradara Kenji Tanigaki ingin membawa sisi nostalgia untuk penikmat film Hong Kong dengan gaya klasik atau sekedar mempertahankan tradisi dan kekhasan dari film aksi asal Hong Kong.

Sebagai catatan, film The Furious karya sutradara Kenji Tanigaki bisa masuk daftar tontonan yang ingin nostalgia untuk menikmati pertarungan duo aktor laga asal Indonesia, Joe Taslim dan Yayan Ruhian setelah film The Raid. Apalagia untuk penikmat film penyuka film dengan intensitas adegan yang sejak awal film sudah disuguhkan adegan fight nan berdarah yang intens.

Production company: Edko Films, Zhejiang Hengdian Film, XYZ Films
Distributor: Edko Films, Lionsgate Films
Cast: Xie Miao (Wang Wei), Joe Taslim (Navin), Yang Enyou (Rainy), Brian Le (Ho), Joey Iwanaga (Paklung), Sahajak Boonthanakit (Mr. Song), Manatsanun Phanlerdwongsakul (Yadong), Guo Junqing (Marky), Winai Wiangyangkung (Donkey Head), Yayan Ruhian (Tak), Jija Yanin (Matia), etc
Director: Kenji Tanigaki
Screenplay: Mak Tin-shu, Lei Zhilong, Shum Kwan-sin, Frank Hui
Producers: Bill Kong, Frank Hui, Shan Tam
Duration: 21 hours 54 minutes

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x