ReviewCinemaEntertainmentFilm

Review: I Was A Stranger, Film Yang Menyentuh Empati Dengan Gaya Beda Tentang Konflik Timur Tengah

109
×

Review: I Was A Stranger, Film Yang Menyentuh Empati Dengan Gaya Beda Tentang Konflik Timur Tengah

Share this article

I Was A Stranger mengambil inspirasi dari kejadian nyata yang terjadi di era 2010-an tentang warga Suriah secara besar-besaran mencari suaka.

LASAK.iD – Film-film berlatarkan negara-negara di Timur Tengah yang banyak dirilis selalu mengambil fokus pada konflik atau peristiwa besar yang pernah atau sedang terjadi. Pendekatan yang dilakukan kebanyakan penulis pun seringnya dari satu sisi sudut pandang yang secara langsung menjadi tolak ukur kebenaran besar dari sisi yang sama pula.

Biasanya dari sisi tentara, politik, dan orang-orang asing (barat) yang kebetulan atau memang sudah lama tinggal, yang turut menjadi saksi langsung dari konflik atau peristiwa yang terjadi di wilayah atau negara tersebut. Saat capaian utama dari market filmnya adalah negara mereka sendiri, sebut saja Amerika Serikat atau negara-negara di Eropa, hal tersebut menjadi sebuah kewajaran.

Seakan menjadi sebuah tradisi berulang untuk setiap film dengan latar negara-negara Timur Tengah. Apalagi ceritanya berfokus pada konflik yang pernah dan masih terjadi. Jarang ditemukan penulis yang mencoba mendobrak kebiasaan, misalnya dengan mengambil sudut pandang berbeda pada banyak aspek dari filmnya, baik itu karakter maupun pada ceritanya itu sendiri.

Ini bisa menjadi tantangan untuk banyak pembuat film terutama penulis untuk tidak selalu terjebak pada stereotip atau kebiasaan meski secara garis besar membawa tema yang sama. Ini yang coba dilakukan Brandt Andersen untuk mendobrak hal yang sejak lama sudah terbangun rapi.

Pada karya terbarunya yang berjudul I Was A Stranger, Andersen yang bertindak tidak hanya sebagai sutradara tetapi juga penulis, membuka persepektif berbeda dalam membangun plot cerita. Secara linier gambaran gamblangnya tetap pada benang merah konflik yang melanda negara di Timur Tengah.

Kali ini, latar cerita yang dipilih pada konflik Perang Saudara Suriah yang terjadi pada era 2010-an. Peristiwa yang menjadi pembicaraan dan perhatian besar dunia bahkan sampai hari ini. Perang yang memaksa warga Suriah melarikan diri mencari suaka ke banyak negara-negara tetangga dengan Yunani yang menjadi fokus pilihan dari Andersen sebagai bagian dari cerita.

Andersen melakukannya dengan membagi benang merah dalam 5 sudut pandang cerita yang berbeda. Latar dan objek dari benang merah yang benar-benar menjadi tokoh utama dari ceritanya. Tak sekedar latar yang menyesuaikan dari kebanyakan film yang fokus utamanya pada militer, politik (kedutaan besar), dan warga negara asing.

Pendekatan yang dipakai Andersen dalam penjabaran dari karakter yang mewakili setiap sudut pandang dilakukannya melalui hal-hal yang umum diketahui publik dunia, yang didapatkan dari pemberitaan berbagai platform (tontonan atau bacaan). Hal-hal seperti tenaga medis, tentara, warga sipil maupun orang asing yang kebetulan tinggal di negara Suriah.

Di antaranya, tentang tenaga medis yang berada di persimpangan akan sumpahnya sebagai dokter yang menolong tanpa melihat status pasien sebagai bagian dari rasa kemanusiaan atau mengikuti sifat manusiawi yang penuh amarah dan dendam ketika melihat musuh dan pengkhianat di atas tempat tidur pasien.

Begitu pun dengan setiap individu tentara, yang hanya diklaim dari satu sudut sebagai keberpihakannya pada kekerasan. Padahal ada gejolak dalam dirinya sebagai manusia mengatakan bahwa cara yang dilakukan mungkin salah. Disinggung dalam adegan filmnya tentang tanggung jawab yang harus dijalani tetapi juga amarah ketika ada campur tangan pihak asing atas pecahnya Perang Saudara Suriah.

Penyusup pun menjadi bagian penting dalam peristiwa besar dari warga Suriah yang berhasil melarikan diri dari negaranya untuk mencari suaka. Di sini, orang asing yang digambarkan sebagai karakter bukan juga tanpa alasan. Faktanya, mulusnya operasi penyelundupan warga Suriah karena komunikatif dan koneksi luas yang dimiliki individu asing.

Pada roda peristiwa penyelundupan yang menjadi tokoh utama sebenarnya adalah warga sipil. Filmnya digambarkan melalui kelompok kecil pada keluarga dari sang penyair. Keberadaan dalam barak pengungsian bagai terkurung dalam tempurung yang selalu diawasi 24 jam. Meski harus membayar mahal, sang penyair berupaya untuk membawa kehidupan layar untuk keluarganya di luar Suriah.

Sorotan yang tidak bisa dilepaskan tentang perjuangan dari mereka yang membantu para pengungsi Suriah. I Was A Stranger memperlihatkan bagaimana para pihak berwenang Yunani bertaruh nyawa untuk membawa para pengungsi kedaratan. Rasa kemanusiaan menjadi pendorong besar tetapi trauma karena mereka yang tak selamat selalu mengikuti sebagai kegagalan.

Pendekatan yang dilakukan oleh Brandt Andersen mungkin tidak jadi yang pertama kali tetapi ada sisi yang lebih dibuat humanis dan mencoba serealistis dengan keadaan sebenarnya. Andersen melalui para karakter memberikan gambaran nyata tentang perjuangan, rasa takut, dan persimpangan dalam pilihan.

Brandt Andersen ingin memperlihatkan humanis dan realistis dalam menggambarkan tidak melulu harus dalam keadaan baku tembak atau pengeboman. Ada hal kecil dari raut wajah, dialog, dan keadaan di sisi lain kota yang kadang lebih memperlihatkan wajah dan keadaan yang sebenarnya.

Penulis dan sutradara ingin memperlihatkan korban dari segala macam konflik yang terjadi itu pun dirasakan warga sipil. Brandt Andersen tidak juga membuatnya terlalu kompleks dengan gambaran rumit. Ia membuatnya lebih sederhana tetapi dari dialog, ekspresi wajah, dan gesture tubuh setiap karakter dijadikan sisi kuat untuk memancing sisi empati dari penikmat film.

Ringkasnya, I Was A Stranger karya Brandt Andersen ingin memperkuat informasi yang beredar sekaligus meluruskan informasi yang mungkin simpang siur di publik dunia terkait konflik di Timur Tengah yang coba digambarkan melalui Perang Saudara Suriah. Terutama keberadaan para pengungsi Suriah yang kini tersebar di banyak negara Asia, Uni-Erora hingga benua Amerika.

Production company: Philistine Films
Distributor: Angel
Cast: Yasmine Al Massri (Amira), Yahya Mahayni (Mustafa), Omar Sy (Marwan), Ziad Bakri (Fathi), Constantine Markoulakis (Stavros), Jason Beghe (Dr. Kroft), Ayman Samman (Shaheen), Massa Daoud (Rasha), etc
Director: Brandt Andersen
Screenwriter: Brandt Andersen
Producers: Brandt Andersen, Ossama Bawardi, Ryan Busse, Charlie Endean
Duration1 hours 44 minutes

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x