Review

Review: The Ambush, Kisah Nyata Tentara UEA di Konflik Yaman

49
×

Review: The Ambush, Kisah Nyata Tentara UEA di Konflik Yaman

Share this article

LASAK.iD – Film berjudul Jarhead, Lone Survivor, 13 Hours: The Secret Soldiers of Benghazi juga American Sniper. Hanya sebagian judul film dengan latar peristiwa perang yang terjadi di Timur Tengah. Deretan film tersebut memiliki respon positif dari penonton juga sebagian banyak kritikus film.

Latar filmnya memang berdasarkan perang Timur Tengah namun rumah produksi yang membuatnya berasal dari hollywood, tentu ceritanya akan mengambil sudut pandang orang-orang barat. Kebanyakan diambil dari sudut pandang tentara dan beberapa berdasarkan jurnal seorang wartawan perang.

Kali ini dari sutradara Pierre Morel juga Birtell bersaudara sebagai penulis melakukan dengan sudut pandang berbeda. Pada film berjudul The Ambush mengambil cerita berdasarkan kejadian asli yang terjadi di 2018 di negara Yaman.

Saat itu, negara Yaman tengah menghadapi konflik saudara antara kelompok pemberontak Houthis dengan pasukan pro-pemerintah. Di dalam negeri, Yaman tidak mampu menyelesaikan konflik 2 kelompok ini sendiri. Kemudian meminta perbantuan dari luar, salah satunya melalui perserikatan sesama negara Arab.

Pemerintah dari Uni Emirat Arab (UEA) kemudian menempatkan militernya untuk membantu meredam konflik di Yaman sekaligus melindungi warga sipil di sana. Pada suatu hari di tahun 2018 yang berdasarkan kejadian nyata. Pasukan UEA yang bermarkas di daerah Mocha beberapa di antaranya tengah bersiap untuk melakukan patroli rutinnya.

Pada hari itu juga ada laporan yang militer UEA terima dari warga sipil sering terdengar beberapa kali suara tembakan dari balik ngarai. Pasukan Yaman yang mereka temui di tengah perjalanan pun mengatakan ada sesuatu di balik ngarai tersebut.

Akhirnya satu kendaraan infanteri dengan anggota di dalamnya Ali Al-mismari (Marwan Abdulla Saleh), Bilal Al Saadi (Khalifa Al Jassem) dan Al Hindasi (Mohammed Ahmed) mencoba menelusuri ngarai tersebut. Tak terduga, ternyata itu adalah sebuah penyergapan dari kelompok yang diketahui adalah pemberontak Houthis.

Benar saja, ratusan pemberontak Houthis yang sembunyi di celah bebatuan ngarai membombardir kendaraan patroli UEA dengan persenjataan lengkap dari senapan api, bazooka hingga terparah menggunakan ranjau darat.

Dalam posisi terpojok Ali, Bilal dan Hindasi hanya bisa menunggu hingga rekannya yang lain datang menolong. Selain ratusan orang menunggu dengan senjata, ternyata di balik bebatuan bersembunyi penembak jitu yang bersiaga.

Menunggu sangat lama rasa optimis untuk selamat kembali bergejolak. Harapan buyar seketika saat kendaraan lain pun bernasib hampir sama. Sebelumnya Hindasi dan Bilal mengalami luka cukup parah akibat serangan bazooka.

Ali yang kemudian menjadi tumpuan harapan untuk mereka minimal bersembunyi, karena kendaraan mereka dengan sengaja dimasukan asap hitam pekat yang mengganggu ketiganya bernafas. Sayang, Ali tidak selamat dari penembak jitu yang membuatnya tertembak dan tak selamat.

Markas militer UEA di bawah kepimpinan Colonel Jamal Al Khatri (Mansoor Al feeli) memerintahkan misi penyelamatan dengan mengerahkan pasukan di bawak komando Colonel Almazroui (Abdullah Bin Heider). Jumlah yang banyak dan persenjataan yang lengkap membuat pasukan dari Colonel Almazroui harus mencari peluang.

Mendapatkan bantuan dari udara dan instingnya sebagai pemimpin, Colonel Almazroui bersama regu penyelamat berhasil menyelamatkan rekannya yang sebelumnya terjebak. Membalikan keadaan dengan bantuan pasukan udara kelompok pemberontak berhasil dipukul mundur.

Semua tentara berhasil keluar dari ngarai, walau disayangkan Ali Al-mismari, satu dari 3 tentara yang kendaraannya terjebak harus meregang nyawa. Sedangkan 2 tentara lainnya terluka parah karena ledakan.

Secara garis besar ini alur cerita dari film The Ambush atau dalam bahasa Arab dengan judul Al Kameen. Seperti biasanya, walau ini berdasarkan kejadian aslinya, untuk kebutuhan hiburan akan ada sedikit perubahan untuk membuatnya menjadi tontonan menarik.

Keterlibatan bersama Image Nation Abu Dhabi, AGC Studios sebagai rumah produksi asal Amerika tetap mempertahankan keaslian ceritanya dengan menghadirkan aktor pemeran dan bahasa aslinya, yaitu Arab. Itu membuat rasa yang diberikan sutradara dan penulis untuk filmnya mampu sampai ke penonton.

Bahkan sebagai film Arab, The Ambush mampu menjadi film dengan kejutan sebagai film perang menarik perhatian. Yang sudah menonton, sebenarnya film ini berfokus pada ruang lingkup konflik di satu titik, tentang penyergapan dan misi penyelamatan.

Pierre Morel memang kemudian tidak menjadikan The Ambush film yang ‘boom’, namun ia mencoba mengemasnya dengan kompleks, sehingga membuat film ini miliki ketertarikan yang cukup kuat.

Dengan mencoba menghilangkan gap yang menciptakan ruang datar dalam filmnya. Tetapi membuat ketertarikan atau magnet sejak dimulainya film.

Poin lain yang menjadi plus dari filmnya, karena berdasarkan kisah nyata. Namun informasi terkait itu didapatkan hanya sebatas siaran serta artikel pemberitaan membuat informasi tidak sepenuhnya tersampaikan. Tentang kronologi yang sebenarnya terjadi saat itu.

Hal yang pada akhirnya membuat penonton menunggu setelah scene ini akan seperti apa scene berikutnya. Ditambah akting deretan aktor yang mampu merepresentasikan keinginan Pierre sebagai sutradara. Meski banyak didapatkan dengan bermain pada mimik dan gestur.

Satu dari beberapa alasan The Ambush mampu hadirkan air mata di penonton. Scene yang paling mengena di penonton ketika perjalanan kembali ke kamp mereka di Mocha. Ada momen mereka berdoa untuk rekannya, Ali yang tidak selamat.

Saat itu, yang dibacakan adalah Surah Al-Fatihah seketika ada rasa yang mengena, yang mungkin juga dirasakan sebagian penonton walau bukan seorang Muslim.

Sinematografi dari filmnya pun jangan terlewatkan. Setiap scene cukup menarik perhatian karena lebih dilakukan secara nyata bukan dengan bantuan CGI atau visual effect. Sebagai penambah keaslian dari ceritanya.

Secara utuh, rasa yang disampaikan filmnya kemudian perasaan yang ditangkap di penonton mewakili seperti ketika melihat pemberitaan di televisi maupun dunia maya tentang pemberontakan atau peran yang terjadi di Timur Tengah maupun belahan dunia lainnya.

Production company: AGC Studios, Image Nation Abu Dhabi
Distributor: Vox Distribution
Cast: Marwan Abdulla Saleh (Sergeant Ali Al-mismari), Khalifa Al Jassem (Warrant Officer Bilal Al Saadi), Mohammed Ahmed (Sergeant Al Hindasi), Mansoor Alfeeli (Colonel Jamal Al Khatri), Khalifa Albahri (Al Sayari), Ibrahim Almusharaakh (Mansoor), Hassan Yousuf (Abdulla Alblooshi), Abdullah Bin Heider (Colonel Almazroui), Ghanim Nasser (Opposition Leader), Salem Altamimi (Sergeant Salem), Saeed AlHarsh (Captain Saeed Al Shehhi), etc
Director: Pierre Morel
Screenplay: Brandon Birtell, Kurtis Birtell
Producers: AGC Studios, Image Nation Abu Dhabi
Duration: 1 hours 42 minutes