FilmCinema

Pertemuan Julio Rionaldo dan Alyssa Lozovskaya Hadirkan Karya Sinematik Bertaraf Internasional

333
×

Pertemuan Julio Rionaldo dan Alyssa Lozovskaya Hadirkan Karya Sinematik Bertaraf Internasional

Share this article

Julio Rionaldo sosok film maker lokal yang namanya sudah mendunia di industri film melalui karyanya yang penuh filosofi dan puitis.

LASAK.iDJulio Rionaldo, seorang yang dikenal sebagai pembuat film independen berkewarganegaraan Indonesia. Ia juga dikenal melalui karyanya yang bergaya eksperimental yang menggabungkan realisme magis dengan pengalaman manusia. Begitu pun dengan teknik pengambilan gambarnya yang seringnya pada konsep long takes.

Tutur cerita dalam setiap karyanya pun tersaji secara puitis dan filosofis. Gaya yang dipengaruhi kuat pembuat film dunia, seperti Giuseppe Tornatore, Vittorio De Sica, Andrei Tarkovsky, Guillermo del Toro, Terrence Malick, Wim Wenders, Spike Jonze, dan Hirokazu Kore-eda.

Hal ini yang mungkin menjadi pertimbangan untuk Julio Rionaldo mengekspresikan kebanyakan karyanya dalam bentuk film pendek (short movie). Ruang yang menjadi wadahnya bebas untuk berekspresi dan bereksperimen untuk setiap karyanya. Ini tertuang dalam puluhan karya yang telah dibuat sejak awal karirnya 2016 hingga saat ini.

Tak hanya dalam karya, label unik dari Julio Rionaldo pun terlihat dari cara pandang dalam menafsirkan banyak hal yang dekat dengannya. Misalnya, tentang cara pandangnya pada bioskop, yang menurutnya bukan sekadar ruang tontonan tetapi ruang pertemuan dan tempat cerita menemukan tubuhnya. 

Kadang kita pikir kita yang mencari pemain. Padahal sebenarnya cerita itu yang sedang mencari jiwanya sendiri. Dan ketika ia menemukannya, semuanya terasa sangat natural,” ujar Julio dalam percakapan santai selepas sesi screening kecil di Bali. 

Filosofi dan cara pandang dari Julio Rionaldo pada setiap karyanya yang akhirnya mempertemukannya dengan Alyssa Lozovskaya. Seorang aktris asal Rusia yang menurutnya cocok untuk menjadi bagian dari karya terbarunya berjudul In the Blink of Forever. Sebuah proyek panjang yang ia bangun dengan kesabaran khasnya. 

Saya sudah menulis karakter itu cukup lama. Dan ketika saya bertemu Alyssa, saya langsung tahu. Ini dia, sosok yang layak untuk karakter ini, karena ia sudah membawa estetika serta  dunia batin yang tepat. Karakter itu seperti menemukan rumahnya,” tambahnya.

Julio bahkan melakukan tanpa rencana besar, tanpa proses casting konvensional, dan tanpa audisi panjang. Pertemuannya bukan juga sebuah kebetulan, di mana sang aktris diketahui kerap datang ke Bali untuk berlibur sekaligus mengunjungi sahabatnya yang telah menetap di Pulau Dewata.

Perjalanan rutin yang mengubah cara pandangnya yang menyebut Pulau Bali sebagai ruang bernapas. Tempat untuk Alyssa Lozovskaya menjauh sejenak dari rutinitas industri dan menemukan kembali dirinya.

Saya selalu bermimpi membuat film di Bali. Ada sesuatu tentang pulau ini yang terasa seperti rumah, namun saya tidak pernah menyangka akan bertemu seorang sutradara yang visinya begitu dekat dengan sensibilitas sinema Eropa, tapi berasal dari Indonesia,” kata Alyssa.

Julio Rionaldo (Kiri) dan Alyssa Lozovskaya (Kanan)

Pertemuan dan kebetulan yang ternyata tidak berhenti di Bali. Pada Agustus 2025 Julio mendapat undangan untuk menghadiri pemutaran perdana salah satu filmnya di Moskow. Kota tempat Alyssa berkarya dan membangun reputasinya sebagai aktris. Sebuah kebetulan yang terlalu presisi untuk diabaikan.

Di Moskow itulah, dalam suasana yang sama-sama asing sekaligus akrab, Julio secara resmi mengundang Alyssa untuk masuk ke dalam dunianya yang ia bangun melalui In the Blink of Forever

Rasanya seperti lingkaran yang menutup sendiri. Kami bertemu di Bali. Lalu saya datang ke kotanya. Di situ saya sadar, kalau ini memang harus terjadi, jalannya akan selalu ada,” kata Julio.

Momen yang ternyata cukup membekas untuk Alyssa, yang menjadikan momen itu sebagai titik balik untuknya.

Ketika Julio datang ke Moskow, saya merasa semuanya menjadi nyata. Ini bukan lagi percakapan kebetulan di Bali. Ini adalah keputusan kreatif. Dan saya tahu saya ingin menjadi bagian dari perjalanan itu,” ujar Alyssa.

Pertemuan yang membawa garis linear yang sama untuk keduanya untuk melahirkan keputusan yang hampir terdengar nekat. Mereka bekerja sama membuat film pendek dalam waktu kurang dari satu minggu persiapan dengan judul This Didn’t HappenTak ada produksi besar maupun sistem yang rumit. Hanya sebuah keyakinan yang mengiringi keduanya.

This Didn’t Happen menjadi ruang eksplorasi dan perpanjangan emosi dari semesta In the Blink of Forever, namun berdiri sendiri sebagai karya yang intim dan spontan. Bagi Julio, proyek singkat ini justru membuktikan satu hal yang selalu ia yakini.

Kalau kita sudah benar-benar percaya pada ceritanya, orang-orang yang dibutuhkan akan muncul. Saya tidak pernah memaksa proses. Saya hanya menjaga visinya tetap jernih. Sisanya seperti mengalir,” tegasnya.

Tak hanya dengan sang aktris, Julio menyebut bahwa dalam perjalanannya membangun proyek ini bertemu dengan banyak kolaborator, yang hadir melalui percakapan, pertemanan, rekomendasi, dan momen yang tampak acak. Namun ketika dirangkai, semuanya terasa masuk akal.

Untuk Alyssa yang baru pertama kali bekerja sama dengan Julio merasakan energi yang sama di lokasi syuting. Tak ada tekanan untuk membuatnya keluar dari pribadi aslinya, justru memberikan ruang dan kebebasan yang jarang sekali ia temui selama karirnya di industri.

Rasanya seperti tidak sedang bekerja dalam arti konvensional. Ada kepercayaan. Tidak ada tekanan untuk menjadi sesuatu yang bukan diri saya. Julio memberi ruang untuk bernapas, dan itu sangat jarang,” katanya.

Alyssa menyebut pengalaman ini lebih dari sekadar proyek internasional. Ini menjadi momen ketika impian untuk berakting di Bali menjadi nyata melalui pertemuannya dengan Julio yang memiliki visi seorang sutradara yang memahami bahasa emosinya.

Kami datang dari latar belakang berbeda. Tapi di set, itu tidak terasa. Yang terasa hanya cerita,” jelasnya.

Pendekatan yang dilakukan Julio memang cenderung minimalis, tetapi bukan juga sebuah hal sederhana. Ia percaya pada kekuatan diam, gestur kecil, dan cahaya yang dibiarkan berbicara tanpa harus selalu diberi penjelasan. Pengaruh sinema Eropa terasa pada setiap karyanya, tetapi ia mengimplementasi dengan gayanya untuk tidak memberi kesan sebuah tiruan.

Ia membangun bahasa visual yang bersih, reflektif, dan mengundang penonton untuk ikut hadir, bukan sekadar mengamati. Ini mungkin yang tergambarkan pada This Didn’t Happen, keduanya menemukan irama kerja yang selaras. Sementara, In the Blink of Forever berkembang sebagai proyek yang lebih matang dan terstruktur, namun tetap membawa semangat awal yang sama.

Kepercayaan utuh pada proses dan pada pertemuan keduanya. Pendekatan yang mungkin terasa hampir radikal di dalam industri yang sering bergerak cepat dan penuh kalkulasi ini.

Banyak orang bertanya bagaimana cara membuat sesuatu terjadi. Bagi saya, yang lebih penting adalah bagaimana kita membuat ruang agar sesuatu bisa terjadi. Jangan terlalu memaksa. Cerita punya jalannya sendiri,” ujar Julio.

Pada akhirnya, mungkin itulah inti dari sinema yang mereka bangun. Bukan tentang skala produksi atau jarak geografis, melainkan tentang keyakinan bahwa ketika cerita dirawat dengan tulus, ia akan menemukan jalannya sendiri.

Julio Rionaldo dan Alyssa Lozovskaya percaya pada satu hal sederhana, yaitu “sinema masih memiliki kemampuan untuk mempertemukan orang, menginspirasi, merefleksikan, dan bahkan menyembuhkan“. Terkadang, semuanya memang jatuh pada tempatnya. Dimulai dari sebuah pertemuan yang tampak biasa saja, di tempat yang paling tidak terduga.

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

3 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
fahzaenterprise
1 month ago

I appreciate you sharing this blog post. Thanks Again. Cool.

eiffeltower paris
1 month ago

i really enjoy reading such a greate article, keep up the wonderful work, check out my site at eiffeltower-ticketparis.com

3
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x