LASAK.iD – Produksi film animasi secara sajian cerita sebenarnya tidak jauh berbeda dengan film live-action. Pembuat (film making) memiliki keleluasaan penuh mengusung genre yang diinginkan untuk sajian tontonan, mulai dari drama, action, hingga thriller. Klasifikasi usianya pun terkadang ikut menyesuaikan dengan genre yang diusung.
Meski begitu, film animasi masih sangat kuat sebagai film yang diproduksi khusus usia anak-anak hingga remaja. Hadir dengan tema ceritanya pun yang lebih ringan untuk bisa dipahami dan dekat dengan kehidupan keseharian mereka. Hal-hal yang biasanya berkaitan dengan keluarga, persahabatan, maupun hubungannya dengan lingkungan sosial.
Klasifikasi yang bisa dilihat dari film terbaru Universal Pictures melalui rumah produksi DreamWorks Animation berjudul Forgotten Island. Tema dan konsep sering kita temui dalam film produksi DreamWorks Animation mengambil latar dari negara tertentu, dengan tujuan lebih dekat dengan publik karena sesuatu yang memang familiar.
Kali ini, melalui duo sutradara dan penulis Joel Crawford dan Januel Mercado, film Forgotten Island mengambil satu sudut kehidupan sosial dari masyarakat di negara Filipina. Digambarkan melalui dua karakter sentralnya, Josephine C. “Jo” Yuson dan Raissa Molina.
Dua karakteristik masyarakat Filipina dengan pendekatan cerita yang juga relatable dengan masyarakat secara global. Hal yang berkaitan dengan keluarga, pertemanan, maupun lingkungan sosial. Pendekatan yang disajikan dengan petualangan di sebuah pulau yang bernama Pulau Nakali atau Pulau Terlupakan.
Memasukkan unsur Pulau Nakali sebagai latar set dalam ceritanya pun bukan sesuatu yang dibuat secara imajinatif, tetapi mengambil inspirasi langsung dari legenda urban asli Filipina tentang Kota Biringan (Biringan City) yang dihuni makhluk supernatural. Sedangkan, nama Nakali sendiri mengutip kosakata bahasa Tagalog, yaitu “Nakalimutan“, yang memiliki arti “terlupakan“.
Penggambaran imajinatif Pulau Nakali yang secara harfiah betul membuat manusia yang terdampar di pulau tersebut kehilangan ingatan tertentu atau seluruhnya di masa lalu. Penggabungan cerita sederhana tentang webuah persahabatan antara karakter Jo dan Raissa dengan Pulau Nakali menjadi tontonan menarik.
Ini karena penyajian yang terkait dengan konflik dan penyelesaiannya melalui petualangan yang mengundang gelak tawa di penikmat film. Gambaran tentang petualangan dan bersenang-senang dari seseorang di ujung umurnya sebagai anak-anak. Untuk menemukan dirinya yang sama tetapi dengan perubahan sikap dan pemikiran sebagai orang yang lebih dewasa.
Konflik dengan grafik yang bergerak ke atas terkait dengan gambaran perubahan seseorang dari anak-anak ke tahap pendewasaan. Ini sebenarnya sesuatu yang cukup complicated tetapi filmnya yang menyasar usia penonton mulai dari 13 tahun tetap dengan pendekatan dari pola pikir anak-anak dan remaja.
Itu juga yang mungkin menjadi pertimbangan dalam cerita yang berlatar negara Filipina menjadikan Pulau Nakali atau di masyarakat Filipina adalah Kota Biringan (Biringan City) sebagai bagian penting dari konflik ceritanya. Sekaligus sesuatu yang sudah menjadi legenda urban dan budaya di Filipina.
Termasuk makhluk yang digambarkan dalam filmnya yang menghuni Pulau Nakali. Secara visual mencoba mengambil sebagian inspirasi untuk menggambar visual dari setiap makhluk, mulai dari manusia serigala yang mengambil inspirasi dari satu ras anjing yang terkenal di Filipina.
Lalu ada bayi setan Taiyanak, makhluk pohon berbahaya yang berkaitan dengan ingatan bernama Batiba, makhluk seperti vampir yang bisa melepaskan bagian tubuh yang disebut sebagai Manananggal, raksasa pohon yang diketahui dengan Kapre, kurcaci Duwende, hingga makhluk laut seperti mermaid Kataw.
Selain, gambaran melalui looks para karakternya, terutama yang tergambarkan oleh Jo dan Raissa. Begitu pun dengan visual dari latar tempat untuk daerah yang menjadi tempat tinggal kedua karakter. Setiap sudut kota, bangunan, rumah, serta visual artistik digambarkan semirip mungkin dengan kehidupan asli masyarakatnya.
Selain dari karakteristik masyarakat Filipina secara umum tentang keinginan besar untuk migrasi ke negara Amerika Serikat. Digambarkan karakter Jo dan Lola (nenek) Fatima Yunson yang bersemangat untuk hijrah ke Amerika, yang menjadi tempat tinggal sang ayah. Migrasi warga ke Filipina sebagai Amerika ternyata memiliki ikatan kuat dengan sejarah di masa lampau.
Pada sekitar tahun 1898 hingga 1946, Filipina berada di bawah kolonisasi Amerika Serikat. Tak heran, di kehidupan nyata banyak bagian dari kehidupan sosial warga Filipina memiliki pengaruh besar dengan Amerika Serikat. Hal yang sudah mengakar sehingga menyatu dengan masyarakat Filipina dan menjadi budaya.
Visualisasi, karakter, dan setiap sudut penyajian menjadi relatable untuk menjadi tontonan tidak hanya golongan usia tertentu tetapi seluruhnya terutama lingkup kecil bernama keluarga. Ini karena benang merah filmnya menyentuh setiap kelompok.
Production company: DreamWorks Animation
Distributor: Universal Pictures
Voice Cast: H.E.R. (Josephine C. “Jo” Yuson), Liza Soberano (Raissa Molina), Dave Franco (Raww), Manny Jacinto (Bungi), Jenny Slate (Batiba), Lea Salonga (Manang), Dolly de Leon (Lola Fatima Yunson), Jo Koy (Datu), Ronny Chieng (Truffle Wuffle), Kevin McCann (Mermahn), etc
Director: Joel Crawford, Januel Mercado
Screenwriter: Joel Crawford, Januel Mercado
Producers: Mark Swift
Duration: 1 hours 49 minutes







x