LASAK.iD – Jepang tidak pernah kehabisan materi tayangan yang berhubungan dengan dunia hiburan. Tak hanya musik tetapi berbagai produk audio-visual lainnya, seperti serial drama, film, hingga anime. Di tanah air sendiri, produk anime menjadi primadona tayangan di ujung pekan sejak berdekade lalu.
Saat itu, judul-judul anime yang menjadi favorit tontonan termasuk dalam format manga kodomo yang berisikan potongan kehidupan sehari-hari (Slice of Life atau Iyashikei) yang memiliki fokus pada satu tokoh, misalnya Ninja Hatori, Dragon Ball, Crayon Shin-chan, dan banyak judul lainnya.
Memasuki era 2000-an lahirnya penggemar baru seiring kehadiran dari serial anime panjang dengan karakter-karakter ikonik, seperti Naruto dan One Piece. Deretan anime yang bertahan cukup lama untuk tayangan televisi konvensional. Kecintaan terhadap anime semakin masif seiring perkembangan teknologi dengan hadirnya platform penayangan OTT atau Over The Top.
Tak hanya akses yang lebih dipermudah tetapi juga hadirnya konten yang jauh lebih beragam. Jika sebelumnya hanya sebagian kecil saja, kini puluhan genre (termasuk pengaruh komik manga) bisa dinikmati dalam genggaman. Genre yang memang dikhususkan untuk anak-anak (kids) hingga untuk mereka yang sudah dewasa (ecchi).
Kecintaan yang membuat pertumbuhan penggemar semakin besar terhadap anime membuat rumah produksi asal Jepang terutama untuk karya film melihatnya sebagai peluang. Untuk tayangan di layar bioskop memang sudah dilakukan sejak dekade 2000-an. Kini dengan kemudahan mengakses berbagai hal yang berhubungan dengan anime termasuk manga melalui berbagai acara, Jepang semakin masif mengekspor film anime.
Untuk beberapa waktu belakangan Jepang bisa mengekspor sekitar 20 hingga 40 judul setiap tahunnya untuk tayang di layar bioskop Indonesia. Meski sudah puluhan judul sudah bisa hadir di bioskop, masih sedikit genre yang memiliki peminat cukup besar, di antaranya Action & Shonen, Adventure & Fantasy, dan Romance (Romansa) & Slice of Life.
Setiap genre memberikan keseruan, sensasi, dan rasa yang berbeda, seperti yang ditawarkan judul anime terbaru The Dangers in My Heart: The Movie. Film drama-comedy yang lahir dari manga karya Norio Sakurai, yang dirilis pertama kali pada 2018 silam. Sebelumnya, manga The Dangers in My Heart sudah memiliki total 13 tankōbon volume dan sebuah spin-off yang ditulis Haika Nanasaka.
Di tahun 2023, dimulainya era serial anime televisi untuk manga The Dangers in My Heart. Setelah berjalan selama 2 musim sekaligus mempersiapkan untuk musim ketiganya, tahun 2026 melalui rumah produksi Shin Ei Animation, The Dangers in My Heart hadir untuk layar bioskop secara global termasuk di Indonesia.
Hadirnya film bioskop untuk The Dangers in My Heart: The Movie mampu menjangkau penonton yang lebih luas dengan cerita yang lebih padat berupa rangkuman dari cerita panjang manga terutama dari penayangan untuk 2 musim serial anime televisinya. Tentu penggemar dari masing-masing versi dari The Dangers in My Heart tetap merasakan keautentikan satu sama lain, meski sudah dipindahwahanakan menjadi format lainnya.
Jika menilik dari sisi penikmat baru, hal yang bisa terlihay dari The Dangers in My Heart: The Movie mungkin sebagai jati diri anime Jepang. Hadir dengan kekhasannya dalam cerita, karakter, dan penyajian visual. Sebuah karya manga yang kemudian dipindahwahanakan menjadi anime (gambar bergerak), hampir selalu hadir dengan karakter khas yang memiliki visual unik.
Visualisasi yang selalu identik akan mata besar dengan warna pada iris mata yang selalu menjadi pembeda. Biasanya pun lebih condong pada karakter sentral (laki-laki atau perempuan). Hal yang sama pun berlaku untuk warna dan gaya rambut yang selalu menjadi identitas dari karakter tertentu terutama karakter utama.
Autentikasi dalam menggambarkan latar tempat pun selalu memukau karena selalu berhasil memindahkan visual asli (daerah atau tempat) di kehidupan nyata ke dalam dunia anime. Cerita turut menjadi daya tarik kuat dari produksi audio-visual asal Jepang. Penulis selalu membentuk sebuah cerita yang memiliki alur dan karakter yang mendalam yang membuat penontonnya selalu terbawa dalam cerita yang seakan terasa sangat relatable.
Penyajian ceritanya pun punya kekhasan yang hadir dengan gaya monolog internal yang mendengarkan isi pikiran atau proses berpikir karakter saat adegan berlangsung. Hal ini cukup efektif sebagai jembatan psikologis sekaligus menjadi kedekatan emosional untuk penikmat film terbawa dalam cerita.
Dengan mempertahankan identitas inilah yang menjadi daya tarik anime Jepang dicintai secara global. Walau cerita yang dihadirkan sekedar cerita cinta monyet seperti yang disajikan The Dangers in My Heart: The Movie. Sebuah cerita sederhana tentang remaja yang merasa insecure tetapi menjadi istimewa di mata orang yang disukai.
Tentang cinta yang bertahan di orang yang membuat nyaman bukan orang yang membuatnya menjadi pusat perhatian. Apalagi pengemasan khas anime Jepang yang menyisipkan komedi di antara cerita. Entah dari dialog, gesture, maupun mimik dari para karakter yang sebenarnya sederhana tetapi mampu membuat tawa kecil bahkan terbahak-bahak.
Sebuah kemasan yang membuat penonton terenyuh seakan menjadi bagian dari cerita. Bahkan setiap penikmat film menangkap hal berbeda ketika menonton filmnya. Bisa menggambarkan diri sendiri sebagai tokoh utama yang mengalami konflik atau sebagai sosok yang berada disekitar dari karakter utama melihat setiap jengkal perjalanannya.
Sebuah kisah cinta remaja yang tidak dipaksa untuk penonton menjadi dewasa tetapi merasakan seperti karakternya yang adalah remaja sekolah menengah pertama. Tetapi ada momen tertentu yang mampu memberi sebuah hentakan besar di penikmat film. Sehingga melihatnya sebagai sebuah pendewasaan.
Dengan kata lain, anime The Dangers in My Heart: The Movie sebuah tontonan yang membentuk persepektif berbeda di penikmat film. Ini berkaitan langsung dengan karakternya yang mengalami tahapan kedewasaan. Meski secara umum, hal yang sama hampir bisa ditemui di karya lainnya. Perbedaan yang bisa terlihat dari gaya penulis dan sutradara filmnya.
Production company: Shin Ei Animation
Distributor: PT. Prima Cinema Multimedia
Voice Cast: Shun Horie (Kyotaro Ichikawa), Hina Youmiya (Anna Yamada), Ayaka Asai (Chihiro Kobayashi), Megumi Han (Moeko Sekine), Yukari Tamura (Kana Ichikawa), Momoka Terasawa (Akira Momoyama), Nobunaga Shimazaki (Haruya Nanjo), Atsumi Tanezaki (Serina Yoshida), etc
Director: Hiroaki Akagi, Dali Chen
Screenplay: Jukki Hanada
Producers: Kazuki Endo, Yosuke Sakurai
Duration: 1 hours 41 minutes






