ReviewCinema

Review: The Bikeriders, Potret Kehidupan Klub Motor di Amerika Era 50’s

225
×

Review: The Bikeriders, Potret Kehidupan Klub Motor di Amerika Era 50’s

Share this article

The Bikeriders menjadi film adaptasi dari photobook yang ditulis Danny Lyon berkaitan dengan identitas maskulin Amerika melalui klub motor.

LASAK.iD – Film dengan benang merah tentang seorang karakter dengan motornya cukup sering dijumpai dari setiap generasi, yang kemungkinan dimulai sejak 1950-an. Berlanjut hingga saat ini, namun dengan fokusnya dalam skala besar, misalnya perjalanan dari sebuah klub motor mungkin sedikit dijumpai.

Beberapa judul film cukup dikenal, sebagian besar cerita filmnya pun berdasarkan kisah di dunia nyata, sebut saja film The Wild One (1953), Hells Angels on Wheels (1967), Quadrophenia (1979) dan judul lainnya hingga di masa sekarang. Di mana, deretan film tersebut dengan gamblang menceritakan kehidupan dari klub motor, secara kelompok atau individu tertentu yang menjadi tokoh utamanya.

Nuansa yang sama dihadirkan di tahun 2024 ini, melalui film berjudul The Bikeriders. Film keluaran terbaru dari Universal Pictures disutradarai dan ditulis oleh Jeff Nichols yang mengadaptasi dari kisah yang dituliskan seorang jurnalis foto bernama Danny Lyon dalam bukunya dengan judul yang sama.

Film ini mengeksplorasi 10 tahun perjalanan dari sebuah klub motor bernama The Vandals (aslinya Chicago Outlaws Motorcycle Club) di kawasan Midwest Amerika. Berawal dari sekelompok orang yang menyukai kecepatan berubah menjadi geng kriminal menakutkan yang mengkhianati etos hidup dan membiarkan hidup aslinya selama masa politik, ekonomi dan gejolak perubahan sosial di Amerika.

Cerita yang dihantarkan dari persepektif sudut pandang tokoh utama wanitanya bernama Kathy yang menjadi narator untuk filmnya. Sosok wanita yang akhirnya menjadi bagian dari The Vandals setelah dirinya jatuh cinta dan menikah dengan Benny, salah satu anggota klub motor tersebut yang penuh teka-teki, karismatik dan bernyali dibandingkan anggota lainnya.

Ini yang menjadikan karakter Kathy dan Benny sebagai tokoh utama pria dan wanita dari filmnya. Meski secara keseluruhan, filmnya menggambarkan kehidupan dari dua sisi yang berbeda, pada setiap individu maupun klub motornya itu sendiri, The Vandals.

Secara individu menggambarkan deretan karakter yang menjadi nyawa dari The Vandals, seperti Johnny, Benny, Brucie, Cal, Cockroach, Wahoo, Corky, Zipco, Funny Sonny, juga sosok muda bernama The Kid. Gambaran yang erat kaitannya akan sebuah keluarga, asmara dan cinta.

Sedangkan, dari sisi The Vandals tergambarkan solidnya ikatan persaudaraan satu sama lain, terutama pada anggota lamanya. Tentunya, perubahan yang terjadi dari klub motor The Vandals selama 10 tahun. Di masa kepemimpinan Johnny hingga peralihan ke tangan anak muda arogan bernama The Kid.

Autentik pada berbagai aspek filmnya

Autentik mungkin menjadi kata yang bisa mewakili keseluruhan yang disuguhkan filmnya untuk penikmat film, mulai dari set lokasi, nuansa filmnya, kostum hingga karakter.

Jeff Nichols sebagai sutradara bersama dengan direktur fotografi Adam Stone, desainer produksi Chad Keith dan desainer kostum Erin Benach menyulap The Bikeriders seperti dalam visualisasi yang diberikan oleh Danny Lyon dalam karya photobook-nya.

Untuk menyulap sebuah lokasi mirip dengan kota aslinya, pilihan jatuh pada Cincinnati, Ohio sebuah kota menengah di Midwestern yang menyediakan gambaran sebuah perkotaan maupun pedesaan untuk film tersebut, serta lingkungan yang mungkin mewakili Chicago tahun 1960-an.

Diperkuat dengan warna vintage (terkadang membawa suasana spektrum rodeo drive atau morning espresso) dalam filmnya. Tak boleh juga ketinggalan bagaimana desain kostum yang didominasi dengan warna-warna hangat yang mencakup spektrum antara ungu, merah dan hijau. Ditampilkan dalam balutan jaket wol, korduroi mustard hingga rok mini.

Unsur yang semakin membawa pada latar era 60-an hingga 70-an. Untuk para anggota The Vandals tentu dominasi pada nuansa gelap seperti hitam, dengan gaya khasnya pada jaket kulit atau pun nuansa denim untuk bagian atas hingga bawah, yang ditutup dengan sepatu boots.

Pemeran yang pas

Keautentik untuk film The Bikeriders pun terlihat pada deretan pemerannya, mungkin bukan pada kemiripan dari para aktor dan aktris dengan orang aslinya, namun beberapa wajah yang memang terlihat cocok sebagai seorang yang menjadi bagian dari klub atau genk motor.

Terutama yang ditampilkan Austin Butler sebagai Benny, walau sebenarnya rekaman yang dimiliki oleh Danny Lyon tentang sosok Benny tidak seluas dan detail seperti karakter lainnya. Namun, Austin Butler berhasil menampilkan esensi Benny sebagai sosok yang misterius dan tidak banyak berbicara yang bermain pada ranah gesture dan mimik.

Saya mendengarkan banyak rekaman berbeda dari orang-orang yang dibuat Danny dan itu sangat membantu. Tapi pada akhirnya, ini lebih tentang esensi Benny dan bagaimana hal itu muncul dalam suara saya”, ungkap Butler.

Bicara dari sisi sutradara dan penulis, totalitas yang diberikan aktor lainnya membuat kepuasaan tersendiri. Karakter Kathy misalnya, Jodie Comer yang notabennya berpaspor Inggris, selama beberapa bulan melatih dialek wanita khas Midwest. Ditambah dengan Kathy yang memiliki ciri khas dalam berbicara. Selain, secara terus menerus mendengarkan rekaman asli wawancara dari Kathy.

Anda hampir tidak pernah melihat mereka di momen pribadinya. Saya merasa cara untuk mendapatkan esensi dirinya adalah melalui suaranya. Saya ingin memastikan saya melakukan semua yang saya bisa untuk mendapatkan suara yang benar. Kathy memiliki irama yang unik dalam cara dia berbicara”, katanya.

Selain keduanya sebagai inti cerita, karakter lain seperti Johnny yang diperankan Tom Hardy, Brucie oleh Damon Herriman, Norman Reedus sebagai Funny Sonny, Boyd Holbrook sebagai Cal hingga The Kid yang diperankan Toby Wallace coba ditampilkan seakurat mungkin dari sosok aslinya. Gaya berpakaian, duduk, berdiri, berbicara hingga kebiasaan yang masing-masing lakukan.

Karakter yang menjadi legacy

Meski The Bikeriders merupakan film masa kini, namun kisah dan gambaran yang ditulis oleh penulis Jeff Nichols mengadaptasi dari photobook yang dipublikasikan pada 1967 silam. Secara gamblang menggambarkan beragam karakter dalam sebuah kelompok, yang dalam hal ini adalah klub atau genk motor.

Gambaran karakter yang tanpa disadari menjadi turun temurun ke klub motor hingga masa kini. Terutama berbagai karakter individu, seperti selalu saja ada karakter yang menjadi badut atau individu yang lucu, ada juga karakter yang menjadi tameng sebagai andalan dari klubnya, ada yang pengecut, ada juga yang selalu menjadi orang kedua disamping ketua dan tentu selalu ada yang memiliki jiwa leadership.

Gambaran ini yang akhirnya banyak diadaptasi di berbagai produksi di banyak negara untuk film dengan konsep cerita yang serupa. Mungkin juga terbawa dalam kehidupan klub atau genk motor setelahnya (mungkin kalian pernah mendengarnya). Di Indonesia sendiri pun melakukan yang sama di banyak produksi film, series atau sinetron dengan tema serupa.

Mengingat juga klub motor aslinya yang bernama Chicago Outlaws Motorcycle Club memang menjadi klub motor tertua di dunia dan cukup menjadi kiblat untuk banyak klub motor secara dunia nyata.

Cerita yang mengadaptasi

The Bikeriders yang mengadaptasi dari photobook hingga rekaman asli dari tahun 1960-an, pada akhirnya mempertahankan keauntetikan tersebut. Hal yang menjadi sebuah kewajaran. Hal ini terkadang hanya terpaku pada konflik yang asli yang mungkin kurang memberikan sebuah dramatisasi sebagai ciri khas sebuah tontonan.

The Bikeriders bukan juga menjadi film dengan grafik mood yang datar tetapi ada bagian ketika munculnya konflik yang kurang menaikan grafik tersebut. Hal ini dilihat dari konflik cinta segitiga antara Kathy, Benny dan Johnny.

Tunggu, untuk Johnny dan Benny bukan cinta-cintaan yang “berbelok” ya. Johnny yang terlalu percaya dengan Benny ingin sekali posisinya sebagai ketua klub nantinya digantikan oleh rekannya itu.

Di sisi lain, Kathy yang notabennya istri Benny, ingin sang suami lebih banyak waktu dan perhatian untuknya saja. Bahkan ingin suaminya tersebut keluar dari The Vandals.

Ada juga momen sebelum dan sesudah pergantian kepemimpinan dari Johnny ke The Kid. Sutradara Jeff Nichols mengaplikasikan wawancara yang sebenarnya ke dalam audio visual.

Di sini hanya kurang sedikit bumbu untuk membuat suasana perubahan yang ditekankan sejak awal oleh Jeff Nichols mengambil sebuah perkembangan atau transisi selama se-dekade masa klub motor tersebut.

Hal ini menjadi wajar ketika ingin mempertahankan keauntetikan kisah aslinya. Hal-hal ini pun bukan juga menjadikan film tidak bisa dinikmati ketika menonton.

Nyatanya, ada bagian-bagian yang menjadikan film punya daya tariknya tersendiri. Terutama chemistry antara Austin Butler dan Tom Hardy.

Production company: Regency Enterprises, New Regency, Tri-State Pictures
Distributor: Universal Pictures
Cast: Jodie Comer (Kathy), Austin Butler (Benny), Tom Hardy (Johnny), Michael Shannon (Zipco), Mike Faist (Danny Lyon), Norman Reedus (Funny Sonny), Boyd Holbrook (Cal), Damon Herriman (Brucie), Beau Knapp (Wahoo), Emory Cohen (Cockroach), Karl Glusman (Corky), Toby Wallace (The Kid), Happy Anderson (Big Jack), etc
Director: Jeff Nichols
Screenwriter: Jeff Nichols
Producers: Sarah Green, Brian Kavanaugh-Jones, Arnon Milchan
Duration: 1 hours 56 minutes

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x