AnimeAsian ShowbizCinemaJapaneseReview

Review: 5 Centimeters per Second, Film Sederhana Yang Menyentuh Bagai Rangkaian Alunan Puisi

316
×

Review: 5 Centimeters per Second, Film Sederhana Yang Menyentuh Bagai Rangkaian Alunan Puisi

Share this article

Film 5 Centimeters per Second hadir dari representatif dan sudut pandang Makoto Shinkai sebagai penulis dan sutradara dari filmnya di era 1990an.

coMIX Wave Inc

LASAK.iD – Makoto Shinkai yang dikenal sebagai pembuat manga, penulis hingga sutradara, merilis kembali karyanya dari 18 tahun lalu. Sebuah film panjang anime dengan judul Byōsoku Go Senchimētoru atau 5 Centimeters per Second untuk judul global. Penayangan kali ini menjadi jawaban atas penantian panjang penggemar karya Makoto Shinkai di tanah air terutama untuk film tersebut.

Hadir kembali setelah 18 tahun, cerita maupun visual yang disajikan nyatanya tidak lekang termakan waktu dan masih cukup relatable dengan kehidupan di masa sekarang. Hal ini tidak terlepas dengan gaya khas dari Makoto Shinkai yang dikenal dengan penyajian cerita yang realistis.

Di mana memadukan romansa yang melankolis dan juga emosional. Seringnya pun tergambarkan tentang hubungan jarak jauh atau takdir, yang memberikan kesan kuat bahwa filmnya memadukan antara genre romansa, fantasi, dan fiksi ilmiah. Untuk kali ini, Makoto tidak membawa cerita pada fantasi atau fiksi ilmiah, karena semua hal yang tersaji merupakan gambaran real life dalam bentuk animasi.

Makoto pun cukup distingtif dengan konsep ceritanya yang selalu mengusung coming-of-age. Sebuah cerita yang mengajak penikmat film untuk mengikuti perjalanan pendewasaan karakter tidak hanya secara emosional tetapi fisik juga usia. Perjalanan pendewasaan yang sekaligus menyajikan tentang kehidupan karakternya yang mengalami momen-momen pahit-manis.

Perjalanan waktu yang dimulai dari masa kanak-kanak hingga dewasa, remaja hingga dewasa atau usia senja, atau kanak-kanak hingga usia senja. 5 Centimeters per Second yang menjadi salah satu karya awal dari Makoto Shinkai tentu lekat dengan konsep coming-of-age, di dalam cerita tergambarkan melalui karakter Takaki Tōno dan Akari Shinohara.

Tak sebatas pada cerita, Makoto Shinkai juga cukup kuat dan distingtif pada visual filmnya yang realistik. Untuk film 5 Centimeters per Second, Makoto mengadaptasi langsung tempat-tempat yang ada di Jepang. Makoto Shinkai menerjemahkan visual yang berada di beberapa wilayah, seperti Kota Tokyo (Shibuya & Shinjuku), Prefektur Tochigi, Kepulauan Tanegashima, dan beberapa lokasi lainnya.

Perpaduan antara cerita realistis dan visual realistik inilah yang menjadikan setiap karya dari sang maestro mampu menyentuh hati penikmat film, meski hadir dalam bentuk animasi (anime). Bahkan setiap adegan dari karakter Takaki Tōno merupakan representatif dari dirinya sendiri.

Secara langsungnya, Makoto Shinkai memotret dirinya sendiri untuk kemudian diaplikasikan para kreator ke dalam visual animasi. Misalnya, adegan ketika Takaki Tōno berjalan menelusuri sepanjang koridor stasiun, bersandar di salah satu tiang, berdiri di dalam gerbong kereta, dan banyak adegan lainnya.

Keaslian atau realita yang digambarkan oleh Makoto Shinkai dalam setiap detik adegan dari film 5 Centimeters per Second semakin diperkuat pada gaya berceritanya yang naratif. Setiap kata, frasa, dan kalimat dalam narasi yang disampaikan sangat menyentuh layaknya lantunan dari bait-bait puisi.

Gaya naratif dari Makoto Shinkai dituangkan dengan menempatkan para karakternya, yaitu Takaki Tōno, Akari Shinohara, dan Kanae Sumida sebagai narator. Di mana, narasi dari para karakter terbagi menjadi tiga bagian atau tiga episode, yang mewakili perjalanan dari pendewasaan yang dimaksudkan dari konsep coming-of-age.

Perhatian utama dari narasinya terletak pada karakter Takaki Tōno, yang secara keseluruhan menjadi titik pusat dari variabel cerita. Secara utuhnya pada episode 1 (Ōukashō/ Cherry-Blossom Story/ Bunga Sakura Mekar) dan 3 (Byōsoku Go Senchimētoru/ 5 Centimeters per Second/ 5 Centimeter per Detik).

Dua episode yang menggambarkan perjalanan pendewasaan yang puitis dari Takaki Tōno. Episode pertama, perjalanan Akari Shinohara yang dimulai sejak keduanya duduk di bangku sekolah dasar. Tentang sebuah perjalanan panjangnya ditengah badai salju hanya untuk bertemu dengan Akari.

Pertemuan menyenangkan yang sekaligus menegaskan sebuah perpisahan tak terelakan untuk keduanya. Tak ada satu kata punang terucap, hanya sebuah tindakan sederhana di bawah pohon sakura besar ditengah hamparan salju yang menegaskan pada sebuah perpisahan.

Pada episode ketiga, Takaki Tōno berada di masa terendahnya dari merelakan cinta dihatinya dari masa kanak-kanak. Akari Shinohara pada akhirnya memilih untuk berdampingan dengan orang lain. Pertemuan kembali keduanya yang entah tidak disengaja atau justru bagian dari rencana takdir terjadi di tempat mereka memulai di masa kanak-kanak.

Bedanya, kali ini semakin mempertegas perpisahan dan memutus semua rajutan tali yang sudah terpatri di hati masing-masing dengan tidak saling menyapa, namun saling merasakan. Tatapan terakhir Takaki Tōno dari seberang perlintasan menjadi jawabannya dan hidup kembali kepada takdirnya.

Di tengah perjalanan Takaki Tōno itulah hadir warna berbeda dari Kanae Sumida. Karakter cewek sekolah menengah yang terpesona dengan anak laki-laki tetapi segan mengungkapkan. Bahagia sederhana hanya dengan bertegur sapa, melihatnya dari kejauhan dan mencoba mengikuti kebiasaannya.

Sayangnya, hati dari Takaki Tōno yang sudah terpatri dengan Akari Shinohara, cintanya dari masa kanak-kanak membuat cinta yang tak berbalas. Meski rasa itu sebenarnya tidak pernah terucapkan langsung dari mulut Kanae Sumida. Namun, sikap dan beberapa hal lainnya menegaskan hal tersebut dari Takaki Tōno.

Di sini, Makoto Shinkai melihat rasa sakit yang diberikan dari sudut pandang perempuan. Paket lengkap yang coba diberikan Makoto Shinkai pada karyanya Byōsoku Go Senchimētoru atau 5 Centimeters per Second dengan menempatkan dua sisi sudut pandang pada karakter laki-laki dan juga perempuan.

Paket dan variabel yang diberikan Makoto Shinkai menguatkan rasa yang membuat filmnya semakin mengena di banyak penikmat film. Apalagi cerita yang diangkat sebenarnya sederhana tentang jarak, kerinduan, penyesalan, dan melepaskan. Makoto Shinkai meramunya menjadi satu kesatuan yang kompleks.

Tak heran realistis dan realistik yang diberikan dan disajikan Makoto Shinkai menjadi sebuah poin besar untuk setiap karyanya dicintai oleh penikmat film dan penggemar karya asal negeri sakura (manga, anime, film). Bocorannya pun untuk film karya Makoto Shinkai satu ini akan hadir juga dalam live-action di tanah air. Jadi, wajib dinantikan seberapa menyentuhnya untuk versi live-action.

 

Production company: CoMix Wave Films, ADV Films
Distributor: Madman Entertainment, Anime Limited, GKIDS, CoMix Wave Films
Cast: Kenji Mizuhashi (Takaki Tōno), Yoshimi Kondō and Ayaka Onoue (Akari Shinohara), Satomi Hanamura (Kanae Sumida), etc
Director: Makoto Shinkai
Screenwriter: Makoto Shinkai
Producers: Makoto Shinkai
Duration1 hours 3 minutes

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x