ReviewAsian ShowbizJapanese

Review: Godzilla Minus Zero, Sensasi Menonton Produksi Seperti Real Time

53
×

Review: Godzilla Minus Zero, Sensasi Menonton Produksi Seperti Real Time

Share this article

Godzilla Minus Zero menjadi film pertama produksi Jepang yang dibuat secara keseluruhan untuk penayangan di IMAX.

LASAK.iD – Industri film setiap negara selalu memiliki ciri khasnya tersendiri yang menjadi pembeda sekaligus identitas untuk kemudian mudah dikenali. Publik global melihat Hollywod (Amerika Serikat), Bollywood (India), Nollywood (Nigeria), hingga yang datang dari Asia, yaitu Sinema Jepang menjadi yang cukup kuat dalam menciptakan identitas tersebut.

Identitas yang bahkan tetap terjaga baik sekali pun industri film setiap negara memproduksi film dengan tema, cerita, maupun genre yang serupa. Identitas yang bisa terlihat dari setiap inci produksi, mulai dari sinematografi (warna, sudut kamera), skenario dengan setiap dialognya, bahkan treatment sutradara kepada pemain untuk setiap lakon yang dilakukan.

Saking kuatnya, penggemar dengan sangat spesifik bisa memahami bahkan meniru setiap adegan dengan baik. Industri film untuk Sinema Jepang bisa dikatakan paling mampu melakukannya. Tak sekedar menampilkan sudut gambar yang diambil atau sekedar dialog antar pemain tetapi mampu memberikan sajian yang membuat penikmat film seakan berada dalam cerita.

Baca juga: Review: The Dangers in My Heart, Romantic Comedy Khas Anime Jepang Dengan Konsep Monolog Internal

Ini bisa dirasakan penikmat film ketika menonton film rilisan terbaru dari Sinema Jepang. Film berjudul Godzilla Minus Zero hadir sebagai lanjutan dari cerita di film pertamanya Godzilla Minus One yang dirilis pada 2023 lalu. Kali ini, dibandingkan menjadikan Godzilla sebagai musuh, para patriot Jepang justru bekerja sama untuk memanfaatkannya sebagai senjata.

Hal ini dilakukan karena kemunculan makhluk serupa dengan Godzilla yang diketahui bernama Ghidorah. Makhluk yang datang bersama dengan meteorit dalam wujud organisme seperti jeli yang memiliki tentakel. Seiring waktu pertumbuhan dari organisme seperti jeli tersebut membentuk makhluk seperti naga besar dengan kekuatan semburan layaknya petir listrik.

Warga Jepang yang belum sepenuhnya pulih dari serangan Godzilla, harus kembali berhadapan dengan musuh baru dengan kekuatan yang tidak kalah kuat dan besar. Kenji Noda sebagai Direktur Biro Penanggulangan Bencana Skala Besar menyusun berbagai rencana untuk melawan Ghidorah, meski tidak memiliki catatan tentang besarnya kekuatan dan yang bisa dilakukan makhluk tersebut.

Saat mencoba mengalahkan Ghidorah dengan memanfaatkan cuaca sesuai arahan dari Makoto Aoyama, seorang ahli meteorologi yang ditugaskan dari pusat untuk membantu Direktur Kenji Noda. Ide yang awalnya sempat meyakinkan justru berubah menjadi semakin memburuk.

Ghidorah justru semakin bertambah kuat setelah berevolusi, yang kini memiliki tiga kepala yang membuat kekuatannya berkali lipat. Berada di ambang kepasrahan, ide gila muncul dengan memanggil kembali Godzilla yang diketahui masih hidup. Keterbatasan teknologi, sempat membuat putus asa karena mustahil bisa menemukan keberadaan Godzilla.

Dr. Kanji Murakami melalui temuannya mengenai Godzilla akhirnya menemukan cara yang lebih efektif untuk memanggil monster tersebut. Ia menyadari para penyintas serangan Godzilla mengalami keadaan tertentu. Sebagian besar mengalami perubahan yang berujung kematian, namun seorang Dokter mengatakan sesuatu yang berbeda untuk penyintas bernama Noriko Shikishima.

Keadaan berbeda untuk Noriko Shikishima yang ternyata mampu bertahan dari radiasi bahkan mengalami evolusi. Dr. Kanji Murakami menyadari bahwa Noriko Shikishima justru menjadi bagian dari Godzilla. Keadaan yang bisa dimanfaatkan untuk memanggil Godzilla dengan bantuan alat ciptaannya. Untuk akhirnya dipertemukan dengan Ghidorah di Tokyo untuk pertempuran mencari yang terkuat.

Kōichi Shikishima sebagai suami dari Noriko Shikishima, pada awalnya tidak menyetujui rencana tersebut karena tahu risiko besar yang menanti. Keduanya bersama dengan anak angkat mereka Akiko bahkan sempat melarikan diri ke sebuah kota. Namun, keadaan kota yang mereka tuju bahkan kota-kota yang dilewati mengalami keadaan yang menyedihkan.

Perasaan bersalah kemudian menyelimuti dan memutuskan menaggungnya bersama. Keduanya akhirnya berjuang bersama untuk memanggil Godzilla dan membantu para patriot untuk mengalahkan Ghidorah. Saat berhasil memanggil, pesawat khusus yang ditumpangi Kōichi, Noriko, serta Dr. Kanji Murakami mengarahkan Godzilla ke tempat pertempuran terakhir di Kota Tokyo.

Pertarungan yang seimbang terjadi di antara Godzilla dan Ghidorah, satu sama lain saling jual-beli serangan. Sempat terkapar karena kelebihan Ghidorah yang memiliki 3 kepada dan bisa terbang. Bahkan senjata yang dipersiapkan oleh tim dari Kenji Noda pun tidak banyak berpengaruh.

Saat pasrah karena melihat Godzilla terkapar dengan luka yang parah, harapan pun kembali karena Godzilla yang memiliki kemampuan menyembuhkan diri kembali bangkit dengan kekuatan yang juga berlipat ganda. Pada akhirnya Godzilla pun bisa mengalahkan Ghidorah dan kembali mengukuhkan sebagai pemenang tunggal.

Strategi yang sebelumnya harus menghancurkan pemenang dari petarungan kedua makhluk kemudian dibatalkan di bawah kepemimpinan Makoto Aoyama yang menggantikan Kenji Noda yang gugur. Ia memahami bahwa Godzilla tidak mudah untuk dihancurkan, selain berjasa untuk mengalahkan Ghidorah.

Di sisi lain, Godzilla tidak sepenuhnya ingin menghancurkan setiap kota yang disinggahi dibandingkan yang dilakukan Ghidorah. Hal-hal itu yang menjadi pertimbangan dan membiarkan Godzilla untuk hidup berdampingan dengan manusia. Setelahnya, Kōichi, Noriko, dan Akiko memutuskan hidup dalam pelarian untuk menghindari pihak Amerika yang ingin memanfaatkan kemampuan Noriko untuk kebutuhan perang dengan musuh mereka.

Takashi Yamazaki kembali menulis dan menyutradarai film sekuel untuk judul terbaru Godzilla Minus Zero. Kali ini, Takashi Yamazaki memberikan pengalaman berbeda untuk penggemar dan penikmat film. Di mana, Godzilla Minus Zero menjadi film produksi Jepang pertama sekaligus yang pertama dari franchise Godzilla untuk difilmkan secara penuh menggunakan format IMAX (filmed for IMAX).

Format berbeda ini yang kemudian memberikan pengalaman seolah penggemar dan penikmat film berada dalam cerita. Ikut dalam setiap adegan dalam filmnya. Momen yang paling terasa untuk hampir setiap tangkapan sudut kamera untuk karakter Ghidorah, terutama yang dilakukan secara close up.

Alih-alih menyadari bahwa karakter Ghidorah merupakan hasil editan komputerisasi, penggemar dan penikmat film justru melihat sebuah keaslian yang real time. Setiap detail lekukan, saat membuka mulut, kedipan mata, hingga tatapan mata dibuat sangat presisi dan akurat. Termasuk bayangan yang dibuat ketika Ghidorah beradegan terbang.

Perasaan yang sampai pun tak sekedar menikmati setiap adegan tetapi kengerian dan ketakutan seperti yang dirasakan para karakter manusia ketika berada dekat dengan Ghidorah. Hal yang sama pun berlaku pada karakter Godzilla, terutama sudut kamera yang mengarahkan langsung ke bagian wajah.

Produksi yang terbilang berhasil ditambah secara khusus dibuat untuk tayang di layar IMAX. Studio yang memiliki teknologi yang jauh canggih dari layar biasa untuk lebih memberikan pengalaman menonton yang menarik. Sehingga sensasi keaslian jauh lebih terasa di penggemar dan penikmat film.

Rasa yang juga diperkuat dengan pemilihan warna film yang mempertahankan dari dekade 1940-an. Di mana, ada bagian dengan kesan lebih gelap, redup, bahkan lebih terang (mencolok). Warna yang digunakan untuk menunjukkan rasa pasca Perang Dunia II yang dialami Jepang (terutama pasca pengeboman di tahun 1945).

Baca juga: Review: Chainsaw Man, Kembalinya Denji Sosok Manusia Gergaji di Layar Lebar

Identitas dari film Jepang yang juga sangat terlihat pada dialog dan akting para pemain. Jika menilik dengan industri film kebanyakan negara, penikmat film akan melihat sisi “normal” dalam berdialog, gerak tubuh, maupun mimik wajah dalam mengekspresikan sebuah emosi (sedih, bahagia).

Untuk Jepang mungkin lebih dari kata “normal” untuk mendeskripsikannya. Kekhasan Jepang dalam melakoni sebuah adegan setiap anggota tubuh memiliki peran masing-masing. Hampir setiap anggota tubuh bergerak untuk mengekspresikan dialog dan emosi. Bahkan selalu ada gerakan wajib untuk mengekspresikan sebuah emosi, bahkan berbeda untuk emosi sedih maupun emosi senang.

Untuk penikmat film yang terbiasa melihat adegan yang statis dan presisi akan menanggapi adegan dalam Sinema Jepang menjadi berlebihan. Namun, itu yang justru menjadi identitas dari produksi Sinema Jepang yang akan sangat mudah dikenali dan menjadi nilai jualnya secara global.

Untuk ceritanya sendiri, Takashi Yamazaki mampu menyeimbangkan egonya sebagai penulis dan sutradara. Ia cukup berhasil menyeimbangkan antara sisi drama dan ketegangan (petarungan Godzilla dan Ghidorah). Perjalanan selama lebih dari 135 menit bisa dinikmati setiap detik cerita dan adegan.

 

Production company: Toho Studios, Robot Communications
Distributor: Toho
Cast: Ryunosuke Kamiki (Kōichi Shikishima), Minami Hamabe (Noriko Shikishima), Min Tanaka (Kanji Murakami), Hidetaka Yoshioka (Kenji Noda), Masami Nagasawa (Makoto Aoyama), Yuki Yamada (Shirō Mizushima), Kuranosuke Sasaki (Seiji Akitsu), Jun Kunimura (Dr. Ogata), Sakura Ando (Sumiko Ōta), Miou Tanaka (Tatsuo Hotta), Sae Nagatani (Akiko), Wes Wing (Major Harlan Gilbert), etc
Director: Takashi Yamazaki
Screenplay: Takashi Yamazaki
Producers: Kazuaki Kishida, Gō Abe, Keiichirō Moriya
Duration: 2 hours, 15 minutes

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x