FilmCinemaEntertainment

Juminten Edan Sebuah Adaptasi Bebas Dari Cerita Legenda Jawa Timur

47
×

Juminten Edan Sebuah Adaptasi Bebas Dari Cerita Legenda Jawa Timur

Share this article

LASAK.iD – Publik tanah air terutama yang berasal dari Timur pulau Jawa, tepatnya daerah seperti Ponorogo dan Trenggalek pasti mengenal legenda rakyat tentang Suminten. Sosok di cerita yang beredar di masyarakat Jawa Timur sebagai sosok Putri yang kehilangan akal sehatnya karena sebuah pengkhianatan dari laki-laki.

Saking melegenda, kisah Suminten banyak menjadi referensi untuk banyak adaptasi ke dalam berbagai format seni pertunjukan dan sastra modern. Terbaru di tahun 2026, adaptasi dalam media audio visual (film) dilakukan rumah produksi Mercusuar Films dan Digital Frame Production.

Film berjudul Juminten Edan sebenarnya tidak secara gamblang mengadaptasi keutuhan dari cerita yang beredar di masyarakat Jawa Timur terutama daerah Ponorogo dan Trenggalek. Di bawah arahan sutradara Dedy Mercy dan Jonathan Ozoh, film Juminten Edan sebenarnya tidak secara gamblang mengadaptasi cerita rakyat tersebut.

Juminten Edan bisa dikatakan sebagai adaptasi bebas atau interpretasi ulang dari kisah yang sangat melegenda dari daerah Ponorogo dan Trenggalek. Penulis Alim Sudio lebih mengambil rasa, tema, dan esensi untuk mengembangkan cerita dan karakter untuk filmnya. Terlihat dari karakter Juminten yang diperankan Meisya Amira digambarkan sebagai seorang yang memiliki keterbatasan dalam berbicara dan mendengar. Sehingga komunikasi yang dilakukan menggunakan bahasa isyarat.

Alim Sudio pun lebih membawa pendekatan cerita dengan hal yang juga dekat dengan masyarakat tanah air, yaitu mistis. Tak sepenuhnya menjadi film yang menakutkan dengan hantu yang meneror dan jump scare yang intens, tetapi ada pendekatannya pada sisi psikologis. Itulah juga yang kemudian untuk film Juminten Edan pada genre lebih mengusung pada horror-thriller-psychology.

Secara psikologis, pendekatan cerita filmnya juga mengambil suatu fenomena yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Tentang cara masyarakat yang masih menggunakan cara lama atau tradisi dengan memasung seseorang yang dianggap memiliki gangguan secara kejiwaan.

Sebuah kebiasaan yang kemudian dianggap sebagai aturan dan adat suatu daerah, yang bahkan masih terjadi hingga saat ini di banyak daerah. Perlakuan yang ekstrim justru memungkinkan pada dampak psikologis yang lebih mengkhawatirkan. Secara langsung mengunci sisi kewarasan yang mungkin masih bisa disembuhkan.

Pendekatan melalui fenomena yang terjadi di masyarakat untuk kemudian menjadi layer dari cerita filmnya. Namun, merujuk kepada genre yang diusung, sisi mistis tetap menjadi bagian dari sajian cerita. Kombinasi yang menarik tetapi tidak sepenuhnya membuat kesan ceritanya menjadi sajian yang kompleks. Penulis dan sutradara belum sepenuhnya membuat greget tetapi masih menjadi sajian yang bisa dinikmati.

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x