LASAK.iD – Ide cerita untuk memproduksi sebuah karya seperti film layar lebar memang bisa bersumber dari mana saja. Bahkan topiknya bisa berasal dari sisi religi manusia yang merujuk pada isi dari Kitab Suci, mulai dari Al-Qur’an, Alkitab, Weda, Tripitaka, hingga Sishu Wujing.
Wilayah barat yang meliputi amerika dan eropa mungkin lebih kental pada kisah yang tertulis pada Alkitab yang memang mayoritas pemeluk kristen dan katolik. Ada yang membuatnya dalam format dokumenter, live-action, hingga animasi. Seperti yang dilakukan rumah produksi Angel, 2521 Entertainment, Slingshot Productions, dan Sunrise Productions untuk film animasi berjudul David.
David pada dasarnya mengambil referensi akan kisah yang ada dalam Alkitab tentang kisah seorang raja bernama Raja Daud. Selain hadir dalam format animasi, penulis sekaligus sutradara Brent Dawes dan Phil Cunningham mengusung tema musikal untuk film David, yang mengikuti perjalanan David dari gembala muda hingga melawan Goliath.
Ekspektasi Visual vs. Realita Cerita
Meskipun secara visual menjanjikan sebuah petualangan yang inspiratif dan menggugah, film David (2026) pada akhirnya terasa mengecewakan saat dinikmati secara utuh. Sebagai sebuah adaptasi kisah Alkitab yang ditujukan bagi penonton anak-anak, film ini tampaknya terjebak dalam stigma bahwa film keluarga tidak memerlukan kedalaman cerita.
Hasilnya, pengalaman menonton yang seharusnya emosional justru terasa hambar dan gagal mencapai potensi maksimalnya jika dibandingkan dengan film animasi anak lainnya yang lebih kompleks.
Kelemahan Narasi dan Pengaturan Durasi
Salah satu hambatan utama dalam film ini adalah manajemen durasi dan penulisan naskah yang kurang matang. Dengan durasi 109 menit, alur cerita terasa sangat terburu-buru namun di saat yang sama terasa repetitif karena terus mengulang argumen yang sama.
Banyak waktu terbuang untuk elemen-elemen yang tidak esensial, sehingga pengembangan karakter dan dinamika cerita tidak mendapatkan ruang yang cukup untuk tumbuh secara organik dan meyakinkan.
Elemen Musikal yang Kurang Berjiwa
Sebagai sebuah karya yang mengusung elemen musikal, aspek audio dalam film ini justru menjadi poin yang sangat lemah. Aransemen instrumen yang ditampilkan terasa datar dan tidak memberikan kontribusi atmosferik terhadap adegan-adegannya.
Lagu-lagu yang ada seolah hanya sekadar “tempelan” yang mengulang apa yang sudah dijelaskan dalam dialog, bukannya berfungsi sebagai penggerak plot. Secara musikal, komposisinya terasa monoton dan kurang memberikan makna mendalam bagi perjalanan cerita.
Stagnasi Karakter dan Dinamika Hubungan
Dari sisi karakterisasi, sosok David pun tampak stagnan tanpa perkembangan yang berarti di sepanjang film. Konflik batinnya, terutama mengenai hubungannya dengan Saul yang tidak mengetahui identitas aslinya, hanya digambarkan di permukaan saja.
Padahal, jika hubungan kompleks antara David dan Saul dieksplorasi lebih dalam, film ini bisa memberikan pelajaran yang jauh lebih berharga bagi anak-anak mengenai pengampunan dan kasih sayang terhadap sesama.
Potret Keimanan dan Pelajaran Teologis
Meski demikian, terdapat satu aspek yang patut diapresiasi, yaitu bagaimana cara film ini memotret nilai keimanan. Kepercayaan mutlak David kepada Tuhan saat menghadapi berbagai rintangan digambarkan dengan cukup menyentuh.
Namun, narasi ini akan jauh lebih bermakna bagi penonton Kristiani jika ada adegan yang menunjukkan bahwa tidak semua keinginan manusia dikabulkan Tuhan, guna memberikan pemahaman yang lebih realistis bahwa Tuhan memberikan apa yang terbaik bagi umat-Nya, bukan sekadar pengabul keinginan.
Keunggulan Animasi di Tengah Keterbatasan
Satu-satunya elemen yang secara konsisten menunjukkan kualitas tinggi adalah gaya animasi dan desain karakternya. Visual yang disuguhkan sangat indah dan mendetail, membuktikan bahwa tim produksi memiliki kemampuan teknis yang luar biasa.
Sangat disayangkan keindahan visual tersebut tidak didukung oleh naskah dan produksi musik yang sepadan, sehingga potensi estetika yang besar ini terasa terbuang sia-sia pada cerita yang kurang berbobot.
Catatan Penutup: Antara Edukasi dan Kualitas Seni
Secara keseluruhan, David mungkin cukup untuk sekadar memperkenalkan kisah Alkitab kepada anak-anak, namun tetap menyisakan banyak ruang untuk perbaikan. Dengan eksekusi yang terasa tanggung, film ini hanya mampu memberikan kesan yang biasa saja di tengah persaingan film animasi modern.
Para produser seharusnya lebih serius dalam mengolah kedalaman materi agar pesan moral yang ingin disampaikan dapat menjangkau audiens secara lebih luas dan efektif.
Written by Hadi Hutama
Production company: 2521 Entertainment, Slingshot Productions, Sunrise Productions
Distributor: Angel
Cast: Phil Wickham (David), Miri Mesika (Nitzevet), Sloan Lucas Muldown (Zeruiah), Hector (Jesse), Jonathan Shaboo (Eliab), Jack Wagman (Abinadab), Brian Stivale (Samuel), Mark Jacobson (Jonathan), Adam Michael Gold (Saul), Asim Chaudhry (King Achish), Mick Wingert (Zaydel), Will de Renzy-Martin (Vaizatha), Lauren Daigle (Rebecca), Kamran Nikhad (Goliath), etc
Director: Brent Dawes, Phil Cunningham
Screenplay: Brent Dawes, Phil Cunningham
Producers: Steve Pegram, Tim Keller, Rita Mbanga
Duration: 1 hours 49 minutes






