LASAK.iD – Pengguna media sosial pasti cukup familiar dengan sosok Mark Zuckerberg. Ia merupakan pendiri Facebook dan banyak platform media sosial, seperti Instagram, WhatsApp, Messenger, dan Threads, yang tergabung sebagai Meta Platform. Jejaring media sosial yang membawa perubahan yang masif dalam komunikasi antara individu dengan individu lainnya.
Kehadiran Facebook hingga hari ini memang memberikan kemudahan dalam komunikasi jarak jauh dengan cara yang lebih modern dibandingkan sekedar sms atau telepon. Sukses besar yang didapatkan biasanya nyatanya selalu berjalan beriringan dengan hal-hal sebaliknya, mulai dari kontroversi hingga pelanggaran hukum.
Ini juga yang dirasakan Mark Zuckerberg dengan perusahaan miliknya bernama Facebook (Meta Platform). Sejak awal kemunculannya di tahun 2004 silam berbagai kontroversi satu per satu mulai bermunculan. Di antaranya bahkan membawa Mark Zuckerberg dipanggil ke persidangan kongres untuk dimintai keterangan.
Baca juga: Review: Verity, Film Penuh Kejutan dari Cerita dan Karakter
Mark Zuckerberg dan perusahaannya telah berulang kali diseret ke meja hijau (pengadilan resmi) dalam berbagai kasus perdata hingga pidana. Salah satu kasus yang cukup mencuri perhatian publik dunia terjadi di tahun 2021 yang melibatkan Mark Zuckerberg dan Facebook dengan mantan karyawannya Frances Haugen.
Kasus yang kemudian dikenal publik dunia sebagai “The Facebook Papers” atau “The Facebook Files”. Tak sekedar kebocoran data biasa, seperti kasus Cambridge Analytica, melainkan sebuah fakta besar yang membuat gonjang-ganjing internal dari perusahaan milik Mark Zuckerberg tersebut.
Frances Haugen pada 2021 membocorkan sebuah data dan dokumen mencengangkan tentang Facebook. Hal-hal terkait dampak negatif platform terhadap kesehatan mental remaja, algoritma yang memicu kemarahan, hingga pengabaian moderasi di negara berkembang. Hal yang tercatat sebagai dokumen yang sebenarnya sudah diketahui petinggi Facebook namun memilih menutup mata demi kepentingan bisnis.
Sikap ini yang menjadi kekhawatiran Frances Haugen melihat sikap petinggi Facebook yang tidak mengambil langkah bijak untuk menanggulanginya. Langkah ekstrim dan berani kemudian diambil Frances Haugen untuk bekerja sama dengan Jeff Horwitz, seorang reporter investigasi The Wall Street Journal (WSJ) untuk membongkar skandal yang sejak lama dilakukan Facebook.
Jika melihat waktu ke belakang, Frances Haugen sedari awal memutuskan bergabung dengan Facebook untuk menjadi whistleblower karena sebuah alasan kuat. Pengalaman Frances Haugen yang melihat dan merasakan langsung harus kehilangan sosok sahabat yang terjerat ke dalam radikalisasi secara daring.
Untuk itu, Frances Haugen meminta untuk ditempatkan dalam tim Civic Integrity (Integritas Sipil) Facebook. Sebuah tim khusus dan serangkaian kebijakan internal di Facebook (sekarang Meta) yang dibentuk untuk melindungi proses demokrasi dan pemilu, serta memerangi penyebaran disinformasi, ujaran kebencian, dan polarisasi politik di platform tersebut.
Selama bekerja hampir dua tahun sebagai Product Manager (Manajer Produk), Frances Haugen menemukan banyak kebijakan internal yang justru merugikan publik, baik yang menyangkut psikologis, sosial, dan fisik yang dialami penggunanya demi mempertahankan keterikatan. Bisa dikatakan bertolak belakang dengan fungsi sebenarnya dari keberadaan Facebook itu sendiri sebagai media sosial.
Pada ribuan salinan dokumen yang dimilikinya, Frances Haugen juga membongkar adanya program rahasia bernama Cross-Check (XCheck). Sebuah sistem internal yang memberikan hak istimewa atau pengecualian dari kebijakan dan aturan moderasi konten otomatis untuk pengguna (akun) tertentu yang dianggap penting dan terkenal, seperti selebriti, politisi, jurnalis, dan figur publik.
Temuan-temuan yang menggugah sisi diri Frances Haugen untuk membongkarnya ke publik. Dari sinilah Frances Haugen menjadi seorang whistleblower. Ia menyadari ada risiko besar menantinya di depan, namun Frances Haugen mengenyampingkan karena tekad untuk memberitahukan kepada publik dunia.
Untuk itu, Frances Haugen bekerja sama dengan reporter investigasi Jeff Horwitz untuk menerbitkan salinan dokumen internal Facebook di tempatnya bekerja, yaitu The Wall Street Journal (WSJ). Frances Haugen juga melakukan kesaksian di beberapa lembaga yang ada di amerika dan eropa, seperti Senat Amerika Serikat (Washington D.C.), Parlemen Inggris (London), Parlemen Eropa (Brussels), dan Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC).
Terbitan salinan dokumen milik Facebook yang dilakukan The Wall Street Journal (WSJ) dan kesaksian Frances Haugen membawa dampak besar untuk Facebook. Dampak nyata dengan krisis reputasi yang memaksa Mark Zuckerberg mengambil langkah ekstrem dengan mengubah nama perusahaan induk Facebook menjadi Meta Platforms.
Kasus dari “The Facebook Papers” atau “The Facebook Files” sekaligus memaksa negara di dunia mengubah tatanan perundang-undangan terkait dengan ruang siber (cyberspace), yang mencakup komponen utama (infrastruktur fisik, perangkat keras, perangkat lunak, internet) dan terpenting pada aktivitas di dalamnya (media sosial, keuangan digital, dll).
Review
Kasus yang melibatkan Mark Zuckerberg dan Facebook dengan seorang whistleblower bernama Frances Haugen tersebut kemudian dihadirkan kembali dalam format audio-visual sebagai film bioskop dengan judul The Social Reckoning. Ini merupakan standalone sequel (sekuel mandiri) atau companion piece dari film pertamanya The Social Network yang dirilis pada 2010 silam.
Pada 2010 melalui film The Social Network, penikmat film melihat sebuah gambaran awal dari perjalanan Mark Zuckerberg dan Facebook. Proses lahirnya Facebook dari sebuah kamar asrama kampus Harvard menjelma menjadi raksasa baru dalam lingkup jejaring sosial.
Dengan bumbu konflik yang lebih menekankan pada konflik personal dari Mark Zuckerberg dan sebuah ambisi besar untuk membangun Facebook menjadi raksasa baru. Fokus konfliknya pun terbagi dalam beberapa ranting, mulai dari tudingan pencurian ide, pengkhianatan bisnis dengan sahabatnya Eduardo Saverin. Tentunya konflik pribadi Mark Zuckerberg yang dianggap menjadi pribadi baru yang arogan, kurang peka secara sosial, serta obsesif.
Baca juga: Review: Resident Evil, Evolusi Film Zombie Untuk Bentuk, Cerita, dan Karakter
The Social Reckoning yang ditulis kembali oleh Aaron Sorkin setelah lebih dari 15 tahun sekaligus sebagai sutradara tidak lagi menghadirkan sebuah cerita biografi yang tersaji secara dinamis. Aaron Sorkin mencoba menghadirkan drama yang lebih kelam melalui adaptasi langsung Seri Artikel Investigasi Jurnalistik (The Facebook Files) dari The Wall Street Journal yang ditulis Jeff Horwitz.
The Social Reckoning tak lagi menggambarkan sebuah ambisi besar dari seorang Mark Zuckerberg muda, melainkan tantangan, konsekuensi, dan tanggung jawab yang jauh lebih besar dan rumit dari sebuah produk yang menjelma menjadi raksasa dunia pada hukum dan publik dunia terutama pengguna aktif.
Dilihat dari sisi sinematografi tidak ada yang istimewa (sudut kamera, warna film). Hanya beberapa dari sudut kamera yang memberikan mendukung dalam dramatisasi cerita terutama kaitannya langsung dengan konflik. Misalnya, extreme zoom dalam penekanan pada sebuah kata, kalimat, atau angka tertentu pada sebuah dokumen atau artikel.
Selain itu, The Social Reckoning masih membawa kemiripan vibes yang hadir dari sosok Aaron Sorkin. Ini terkait dengan kekuatan dialog yang dibuat Aaron Sorkin sebagai penulis. Vibes yang sama meski sudah berjarak lebih dari 15 tahun dari film pertamanya. Dialog yang ditulisnya selalu hadir sebagai penggerak utama dari konflik ceritanya.
Itu juga yang menjadi alasan kuat bahwa filmnya minim dengan adegan yang rumit atau terlalu dramatis seperti genre lainnya. Sebuah keunggulan yang mungkin sedikit ditemui pada banyak penulis lain. Hanya saja dengan dialog yang panjang dan padat serta banyaknya istilah yang kurang familiar terkait dengan dunia siber dan teknologi membuat sebagian penikmat film mengalami sedikit kesulitan untuk memahami rangkaian cerita dan konflik filmnya.
Aaron Sorkin seolah mengajak penikmat film untuk berpikir, menangkap, dan mencerna dengan cepat untuk setiap dialog. Selain sebagai karakteristik Aaron Sorkin sebagai penulis, hal ini pun seakan menjadi strategi agar penikmat film tidak memalingkan setiap detik pandangan dari layar bioskop dalam menonton dan mencermati setiap adegan.
Tujuan yang masuk akal karena tertinggal untuk beberapa bagian adegan kemungkinan besar membuat penikmat film mengalami sedikit kebingungan dalam merangkai konflik ceritanya. Sajian menarik yang membuat pandangan dan pikiran fokus pada setiap adegan dan dialog filmnya.
Production company: Columbia Pictures, Alcon Entertainment, The Gotham Group, Escape Artists
Distributor: Sony Pictures Releasing
Cast: Mikey Madison (Frances Haugen), Jeremy Allen White (Jeff Horwitz), Jeremy Strong (Mark Zuckerberg), Bill Burr (Charlie Garrigan), Wunmi Mosaku (Raya), Billy Magnussen (Teddy Marks), Betty Gilpin (Kris), etc
Director: Aaron Sorkin
Screenplay: Aaron Sorkin
Producers: Todd Black, Peter Rice, Aaron Sorkin, Tony A. Grier, Stuart M. Besser
Duration: 1 hours 52 minutes






