ReviewCinemaFilm

Review: Lee Cronin’s The Mummy, Saat Entitas Kuno Bangkit Dari Seorang Anak Perempuan

81
×

Review: Lee Cronin’s The Mummy, Saat Entitas Kuno Bangkit Dari Seorang Anak Perempuan

Share this article

Lee Cronin's The Mummy menjadi film supranatural horror lainnya dari penulis dan sutradara Lee Cronin setelah kesuksesan Evil Dead Rise (2023)

LASAK.iD – Film dengan genre supranatural horror hampir selalu hadir dengan tema besar yang dekat dengan okultisme yang mengacu pada beberapa hal, misalnya keimanan (Agama) atau kepercayaan (mitologi, klenik). Garis besar yang digambarkan pun selalu berhubungan dengan entitas jahat bernama iblis.

Penjabaran sederhananya, tema keimanan (Agama) yang dituangkan dalam konsep cerita seringnya lebih condong pada pengusiran setan (eksorsisme). Sedangkan, kepercayaan (mitologi, klenik), biasanya jauh lebih kompleks dengan mengarah pada suatu kebudayaan di sebuah wilayah atau masyarakat secara turun temurun yang biasanya dilakukan melalui ritual.

Sebuah tema menarik yang kemudian di dunia modern dimanfaatkan para kreator dalam hal ini pembuat film untuk mengadaptasinya menjadi tema utama dari cerita. Industri film dunia terutama yang hadir dari industri film amerika atau hollywood, tema besar ini sering kali digunakan ketika mengusung genre supranatural horror.

Baca juga: Review: They Will Kill You, Hadir Sebagai Film Berdarah Yang Berbalut Komedi Gelap

Untuk tema besar yang cenderung pada kepercayaan, negara Meksiko dan Mesir hampir selalu menjadi pilihan untuk diadaptasi. Mesir misalnya, publik dunia tanpa mempelajari sepenuhnya tentang negara yang telah berusia lebih dari 5000 tahun tersebut, secara garis besar mengetahui perkembangan peradaban yang terjadi selama beribu tahun, melalui catatan yang mudah untuk diakses.

Terutama yang terjadi di masa Mesir Kuno, di mana kepercayaan masih sangat kental dipegang penduduknya saat itu sebelum akhirnya mulai masuk Agama seperti Kristen dan Islam. Kepercayaan dari penduduk Mesir Kuno pada entitas-entitas jahat atau makhluk supranatural yang sering digambarkan mirip dengan konsep iblis atau setan dalam budaya modern, namun dengan nuansa yang lebih kompleks.

Materi yang kemudian diadaptasi pembuat film modern. Saking banyaknya yang bisa dieksplor, pembuat film terutama penulis cerita mencoba memadukan ide satu dengan yang lainnya, seperti yang dilakukan Lee Cronin dalam karya terbarunya yang berjudul Lee Cronin’s The Mummy.

Lee Cronin memadukan kepercayaan Mesir Kuno antara kepercayaan akan sihir, entitas-entitas jahat atau makhluk supranatural, dengan tradisi mumi. Dibandingkan menelusuri peninggalan secara harfiah dari peradaban Mesir Kuno dengan menggali situs, Lee Cronin menggambarkan hal-hal tersebut masih hidup di dunia modern melalui keturunannya meski sudah berjalan beribu-ribu tahun.

Ia juga menggambarkan dengan perubahan zaman yang signifikan, hal kuno pun mengalami modernisasi. Lee Cronin’s The Mummy mengacu pada sebuah kepercayaan dari suatu kaum yang diwakili keluarga tentang entitas jahat atau makhluk supranatural yang harus tersegel meski sudah berganti zaman.

Sayangnya, entitas jahat atau makhluk supranatural tersebut membutuhkan wadah agar tidak sembarang masuk ke tubuh seseorang dan membuat kekacauan besar. Zaman yang berubah dengan semakin minimnya keturunan yang harus melanjutkan tradisi, seseorang yang dipilih untuk menjadi wadah pun tak harus dari garis keturunan tetapi orang lain.

Tak segan The Magician yang merupakan anggota keluarga yang diberikan tanggung jawab sampai melakukan tindak kriminal dengan menculik orang lain bahkan anak-anak. Menurutnya, dibandingkan dengan orang dewasa, anak-anak memiliki tubuh yang lebih fresh dan memiliki jangka waktu yang lebih lama.

Untuk itulah, The Magician menculik seorang anak perempuan bernama Katie Cannon yang telah dipilihnya untuk melakukan tradisi tersebut. Katie Cannon merupakan anak perempuan dari pasangan Charlie dan Larissa Cannon yang kebetulan tinggal di Mesir karena sebuah pekerjaan.

Keduanya sudah dititik pasrah tentang nasib Katie yang telah menghilang selama 8 tahun. Hingga suatu hari saat keluarga Cannon melakukan perjalanan untuk berlibur, Charlie dan Larissa mendapatkan kabar jika putri mereka telah ditemukan dalam keadaan hidup. Fakta mengejutkannya, Katie ditemukan dalam sebuah peti besar yang ditemukan dari sisa-sisa kecelakaan pesawat di sebuah daerah di Mesir.

Saat ditemukan, Katie dalam keadaan yang tidak biasa karena tubuhnya yang mengering karena kekurangan cairan akut. Selain itu, emosional yang ditunjukkan pun tidak seperti kebanyakan orang normal. Meski begitu, Charlie dan Larissa merasa bahagia karena putri berhasil ditemukan dengan selamat.

Namun, yang tidak diketahui Charlie dan Larissa tentang kondisi Katie saat pertama kali ditemukan. Katie saat itu tertutup banyak helai kain yang bertuliskan simbol-simbol tertentu dari masa kuno. Simbol yang di kemudian hari diketahui sebagai segel untuk menahan suatu entitas yang merupakan iblis yang bisa memecah hubungan dalam sebuah keluarga.

Selain itu, Katie yang masih anak-anak tidak mungkin bertahan selama itu di dalam peti tanpa makan dan minum. Sesuatu yang tentunya tidak masuk akal. Benar saja, Katie yang kemudian diketahui telah menjadi wadah dari suatu entitas jahat mulai memberikan teror kepada keluarga Cannon.

Katie mulai memanupulasi setiap orang dalam ruma tersebut tanpa terkecuali Sebastián dan Maud yang masih anak-anak. Entitas dalam tubuh Katie yang sudah terkurung selama ribuan tahun memanfaatkan untuk terbebas selamanya. Namun, kejahatan tetap harus dikurung untuk menciptakan dunia yang aman.

Charlie lalu memanfaatkan informasi yang didapatkan dari sebuah rekaman video yang dibawa oleh Detektif Dalia Zaki. Rekaman yang tak hanya sekedar video tetapi informasi penting tentang apa dan bagaimana menghentikan entitas jahat tersebut. Detektif Dalia Zaki mendapatinya ketika mendatangi sebuah rumah yang diketahui dihuni oleh Layla Khalil. Keluarga dari The Magician yang diketahui otak dari penculikan dan ritual yang mengerikan.

Informasi jelas yang kemudian membuat Charlie dengan berani dan seakan menebus rasa bersalahnya selama 8 tahun ini dengan memindahkan entitas tersebut ke tubuhnya. Hal itu yang kemudian membuat Katie kembali menjadi manusia dan remaja normal seutuhnya.

Larissa yang ingin keluarganya kembali utuh meski harus kehilangan sang ibu, mencoba membalikkan keadaan dengan membalas The Magician dengan cara yang sama. Diketahui The Magician berhasil selamat meski mendapat luka cukup parah karena satu tembakan yang dilakukan Detective Dalia Zaki ketika mencoba mencari tahu tentang yang terjadi. The Magician diketahui mendekam di sebuah penjara khusus dengan tangan dan kaki yang terikat rantai besi.

Memanfaatkan keleluasaan Detective Dalia Zaki sebagai penegak hukum membuat rencana Larissa berjalan mudah dan sesuai rencana. Terlebih cukup mudah untuk membuat The Magician tertidur karena kebetulannya Larissa merupakan seorang tenaga medis. Hal ini mencegah The Magician membaca mantra untuk melawan balik.

Review

Lee Cronin’s The Mummy memang secara garis besar mengambil inspirasi dari mitologi atau kepercayaan dari Mesir Kuno tentang entitas jahat atau makhluk supranatural dan juga mumi. Jika menonton filmnya secara keseluruhan, hal tersebut hadir sebagai pengantar atau percabangan dari konflik besar dari ceritanya itu sendiri.

Tepatnya, sebagai pemantik awal yang kemudian membuat penikmat film lebih fokus pada teror yang dihadirkan sepanjang film. Di mana, Lee Cronin sebagai penulis sekaligus sutradara membuat penikmat film merasa deg-degan bahkan was-was tentang momen jump scare yang diberikan.

Dibandingkan memberikannya di bagian tertentu dari cerita, Lee Cronin ingin memberikan pengalaman adrenalin dan ketegangan yang penuh sepanjang film ke penikmatnya. Menarik ketika jump scare yang dihadirkan bukan sekedar adegan yang dilakukan pemainnya saja tetapi didukung dengan ambience dan scoring yang dibangun secara bersamaan.  

Baca juga: Review: The Bride!, Film Gothic Romance Yang Menggabungkan Realitas dan Fiksi Novel

Bahkan adrenalin dan ketegangan yang menjadi bagian dari jump scare filmnya tidak semata-mata dilakukan melalui adegan besar, tetapi adegan kecil yang hanya memperlihatkan mimik dan gesture sederhana para pemain. Misalnya, adegan yang sekedar berjalan atau menaiki tangga.

Lee Cronin minim sekali dalam memberikan jeda dari filmnya terutama setelah memasuki bagian dari pembangunan konflik. Bahkan sejak awal film yang menjadi perkenalan dari cerita filmnya. Meski begitu, Lee Cronin menjaga konsistensi tersebut untuk membuatnya tidak berlebihan, sehingga yang sampai ke penikmat film masih masuk akal.

Hanya saja, perubahan intesitas dari ketegangan penuh ke conclucion atau penyelesaian konflik ada momen yang tertangkap yang diturunkan secara langsung bukan dimainkan secara dinamika. Ada sisi keterkejutan karena rasa yang dibangun sebelumnya sudah terbentuk baik. Perubahan ini yang membuat keterkejutan yang sedikit tertangkap terlalu terburu-buru untuk membuat ceritanya selesai.

Selain itu, Lee Cronin’s The Mummy yang ditulis dan disutradarai Lee Cronin ternyata masih membawa konsep khas dari Jawes Wan yang terlibat sebagai produser. Menengok kembali film-film seperti universe dari The Conjuring, Insidious, dan banyak film lainnya yang diproduksi oleh James Wan memiliki kekhasan yang bisa ditebak oleh penikmat film.

Terutama bagaimana ambience yang dibangun pada jump scare filmnya. Dibandingkan melakukannya secara gamblang atau terkesan spontan, James Wan justru membangunnya dengan dinamika yang intensitas dinaikkan secara perlahan sehingga mendapatkan ketakutan yang gong.

Selain itu, satu khas yang sepertinya tidak boleh tertinggal pada film supranatural horror dari James Wan, tentang bagaimana suatu entitas selalu mencari wadah atau inang sebagai tempat untuk membuatnya tetap ada. Perpindahannya pun selalu digambarkan melalui mulut dengan bentuk seperti cairan hitam pekat. Lee Cronin’s The Mummy jadi kombinasi gaya penyutradaraan dari dua nama besar Lee Cronin dan James Wan.

Secara ceritanya sendiri terutama pada tema dan konsep sebenarnya cukup familiar untuk penikmat film. Tak sedikit pembuat film yang mengusung tema serupa, baik terkait sisi horornya itu sendiri atau juga dengan perpaduannya pada kepercayaan dari Mesir Kuno tentang entitas jahat dan mumi.

Meski Lee Cronin mencoba memodernisasikan dengan memperlihatkan mumi yang terbungkus bukan sekedar dari helaian kain biasa tetapi sebuah mantra segel yang kuat. Begitu pun tema lain yang menyertainya, tidak selalu terpatri dengan dunia ilmuwan, sejarawan, atau arkeolog tetapi lebih sisi yang lebih menyentuh, yaitu keluarga.

Sehingga sisi drama yang dirasakan dihantarkan melalui konflik keluarga dan lebih terasa relate dengan setiap penikmat film, tentang kasih sayang, keluarga yang saling peduli, melindungi, tidak menyerah, dan saling percaya. Rasa yang kemudian ditangkap bukan sebuah ketegangan semata tetapi dari rasa empati di dalamnya.

Production company: New Line Cinema, Atomic Monster, Blumhouse Productions, Wicked/Good
Distributor: Warner Bros. Pictures
Cast: Jack Reynor (Charlie Cannon), Laia Costa (Larissa Santiago-Cannon), May Calamawy (Detective Dalia Zaki), Natalie Grace (Katie Cannon), Emily Mitchell (Young Katie), Verónica Falcón (Carmen Santiago), May Elghety (Layla Khalil), Shylo Molina (Sebastián Cannon), Billie Roy (Maud Cannon), Hayat Kamille (The Magician), etc
Director: Lee Cronin
Screenplay: Lee Cronin
Producers: James Wan, Jason Blum, John Keville
Duration: 2 hours 13 minutes

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

1 Comment
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Danny4542
Danny4542
2 hours ago
1
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x