ReviewCinemaFilm

Review: Clayface, Sisi Lain Cerita Dari Gotham City Penanda Konflik Besar Dunia Sinematik DCU

77
×

Review: Clayface, Sisi Lain Cerita Dari Gotham City Penanda Konflik Besar Dunia Sinematik DCU

Share this article

Clayface versi sutradara James Watkins membawa latar belakang berbeda dari komik DC tentang monster lumpur.

LASAK.iD – Adaptasi multimedia dari DC Comics terbagi dalam beberapa era. Penikmat film global dan penggemar dari universe DC Comics mengenalnya dengan Era DC Extended Universe (DCEU), Film Mandiri (DC Elseworlds), dan Era Baru DC Universe (DCU) di bawah kepemimpinan dari James Gunn dan Peter Safran.

James Gunn dan Peter Safran memulai Era Baru DC Universe (DCU) pada 2022 yang ditandai dengan perilisan serial animasi berjudul Creature Commandos. Untuk film bioskop, kedua petinggi baru dari DC Studios melakukannya lewat dua film yang menjadi bagian dari universe Superman, yaitu Superman (2025) dan Supergirl (2026).

Era Baru DC Universe (DCU) besutan James Gunn dan Peter Safran kembali melanjutkan legacy-nya dengan merilis film terbaru berjudul Clayface. Film yang dikatakan sutradara James Watkins, Clayface hadir sebagai wajah baru dari Gotham City dalam wajah DCU utama. Sedangkan James Gunn sendiri mengatakan film Clayface berlatar waktu sebelum kejadian di film Superman (2025).

Baca juga: Review: Digger, Kejutan Dalam Balutan Konsep Teater-Dalam-Film

James Gunn juga menegaskan Clayface menjadi film DCU pertama yang dirilis tidak berurutan secara kronologis (non-chronological order). Hal ini mungkin akan menimbulkan sedikit kebingungan untuk penikmat film dan penggemar mengurutkan kronolis cerita yang diciptakan James Gunn dan Peter Safran untuk DC Universe (DCU).

James Gunn dan Peter Safran seolah ingin membuat setiap karya menjadi bahan perbincangan dan diskusi di kalangan penggemar dan penikmat film. Ini berkaitan dengan garis lurus secara kronologis cerita dari DC Universe (DCU) yang diciptakan James Gunn dan Peter Safran.

Selain itu, Clayface yang menjadi bagian dari DC Universe (DCU) dihadirkan dengan dengan pembaharuan secara alur cerita, namun penulis Mike Flanagan dan Hossein Amini tidak juga menghilangkan marwah dari aslinya. Keduanya mengambil beberapa referensi yang kemudian dijahit menjadi cerita yang penggemar dan penikmat film tonton di Oktober 2026.

Mike Flanagan dan Hossein Amini mengubah latar belakang karakter Matt Hagen dalam komik yang semula seorang pencari harta karun menjadi seorang aktor terkenal. Ini berdasarkan serial legendaris Batman: The Animated Series (1992), di mana tim penulis saat itu menggabungkan karakter Matt Hagen dengan latar belakang profesi aktor milik Basil Karlo (Clayface pertama di komik tahun 1940).

Saat itu, tujuannya untuk membuat dramatisasi cerita dan karakter lebih terasa di penikmat film dan penggemar. Masuk akal karena hal tersebut cukup berhasil untuk produksi terbaru dari Clayface di tahun 2026. Seorang aktor memang dituntut harus selalu tampil dengan wajah sempurna dan rupawan untuk dipuja publik. Keadaannya akan berbanding terbalik ketika wajah seorang aktor terlihat rusak atau cacat.

Gambaran yang relatable atau dekat dengan kehidupan nyata, baik dari sudut pandang seorang aktor maupun sudut pandang yang dinilai oleh publik. Pendekatan cerita yang tidak terkesan dibuat-buat, termasuk pendekatan pada karakter antagonis, seperti Markos Szabo. Mafia dengan kekuasaannya bisa mengendalikan seisi kota mulai dari pemerintah bahkan warganya.

Melihat dari sisi konsep pengadeganan cerita, Clayface memiliki peringatan keras untuk penikmat film bahkan penggemar yang tidak menyukai adegan berdarah. Terlebih sutradara James Watkins melakukannya dengan tempo melambat atau dikenal dengan teknik gore splatter slow-motion. Teknik yang memperlihatkan setiap detail cipratan darah secara ekstrem.

Teknik berbeda untuk adegan berdarah yang bisa dilakukan dalam film bertemakan assassin (pembunuh bayaran). Adegan berdarah yang lebih to-the-point dan cepat. Dua teknik berbeda yang sama-sama membuat kaget penikmat film tetapi berbeda untuk tubuh merespon. Film Clayface lebih membuat tubuh merasakan lebih merinding dan lemas dengan tempo yang mungkin juga lebih lama.

Selain itu, teknik gore splatter slow-motion untuk sebagian penikmat film ingatan dari setiap adegan berdarah dalam filmnya akan bertahan dan diingat untuk jangka waktu yang lebih lama. Jika mengaitkan dengan James Gunn dan Peter Safran sebagai petinggi baru DC Studios, mungkin menjadi stempel lainnya untuk menandai era baru sebagai DC Universe (DCU).

Menilik dari dunia sinematik yang dibangun sejak era DC Extended Universe (DCEU) sampai DC Universe (DCU) ada beberapa hal yang dipertahankan dalam memilih pemain. Namun, sentuhan gaya khas James Gunn dan Peter Safran jelas terasa. Di mana, ada sesuatu dalam diri pemain itu sendiri yang mewakili karakter yang dimainkan. Sesuatu yang berhubungan dengan cerita yang juga dibuat lebih humanis yang dekat dengan penikmat film dan penggemar.

Baca juga: Review: Practical Magic: The Book of Magic, Film Sekuel Yang Masih Pertahankan Drama Klasik

Itu yang dilakukan sutradara James Watkins bersama Lucy Bevan (casting director) untuk memilih Tom Rhys Harries dan Naomi Ackie. James Watkins mengatakan ada sisi dari Tom Rhys Harries yang selaras dengan karakter Matt Hegen. Meski butuh waktu yang panjang untuk menemukan aktor yang cocok untuk memerankan karakter Matt Hagen dan pilihan jatuh pada Tom Rhys Harries. Di sisi lain wajah dari sang aktor membawa kekhasan dari dunia sinematik dari DC Comics yang sudah terbentuk lama.

“Saya sebelumnya tidak mengenal Tom, tetapi ia memiliki kualitas khas yang dimiliki oleh aktor-aktor terbaik. Anda bisa melihat ke dalam jiwa mereka melalui tatapan matanya. Ada sisi kerentanan dalam dirinya, semacam luka batin yang mampu ia akses, sesuatu yang menurut saya sangat selaras dengan karakter Matt, yakni kemampuannya untuk beralih antara sisi kelam dan sisi yang mengundang simpati“, jelas James Watkins.

Untuk penunjukan Naomi Ackie sebagai Caitlyn Corr ternyata sudah terpikirkan oleh James Watkins sejak terpilihnya Tom Rhys Harries sebagai Matt Hagen. Ini tidak lepas dari kekaguman James Watkins pada akting Naomi Ackie di setiap peran yang dimainkan. Meski sempat muncul kekhawatiran tentang chemistry dan kecocokan keduanya berada dalam satu frame untuk banyak pihak. Keduanya cukup berhasil memberikan chemistry yang baik, yang bisa sampai ke penikmat film.

Production company: DC Studios, 6th & Idaho, Troll Court Entertainment, The Safran Company
Distributor: Warner Bros. Pictures
Cast: Tom Rhys Harries (Matt Hagen/ Clayface), Naomi Ackie (Caitlyn Corr), Max Minghella (John Borrelli), Joshua James (Corey Bowery), David Dencik (Markos Szabo), Eddie Marsan (Frank Fitzgerald), Nancy Carroll (Hildie Love), Joana Ribeiro (Mia Torrez), Jake Curran (Patches), Corey Johnson (Cadillac Sal), Will Coban (Bones), etc
Director: James Watkins
Screenplay: Mike Flanagan, Hossein Amini
Producers: Matt Reevesm, Lynn Harris, James Gunn, Peter Safran
Duration: 1 hours, 48 minutes

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

1 Comment
Oldest
Newest Most Voted
1
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x