LASAK.iD – Pada tahun 2025 lalu, film series dari judul 28 Days Later hadir kembali dengan produksi terbaru setelah 18 tahun. Selama kurun waktu tersebut, film lain yang bertemakan zombie cukup banyak dirilis ke publik. Mereka menawarkan beragam karakteristik baru, entah pada cerita, visualis maupun karakter termasuk zombie itu sendiri.
Alex Garland sebagai penulis asli dari film pertama di tahun 2002 tentu tak ingin terjebak pada tren yang sama. Ia coba hadir dengan stereotip baru yang tetap mempertahankan kekhasan dari dunia zombie yang telah ia bangun. Bagian yang mengikat dari film zombie tetap ada, tentang para manusia yang tak terinfeksi untuk bertahan hidup.
Menilik dari ceritanya secara utuh, Alex Garland mencoba dengan penyajian yang lebih intens. Tergambar secara gamblang melalui para karakter, seperti Spike, Dr. Ian Kelson bahkan Samson sosok pemimpin dari para zombie yang disebut dalam kelompok alpha. Tak ketinggalan sosok antagonis dari sisi manusia yang tak kalah psikopat dari para zombie, yaitu Sir Lord Jimmy Crystal.
Baca juga: Review: 28 Years Later, Evolusi Cerita Mengikuti Karakter Zombie Pada Filmnya
Menarik, saat Alex Garland kembali mengambil alih sebagai penulis, ia bisa melakukan pendekatan yang berbeda untuk filmnya yang menggambarkan dunia 28 tahun setelah infeksi pertama terjadi. Kali ini, dengan cerita yang lebih intens, Alex Garland mencoba melakukan pendekatan secara psikologis, baik pada karakter protagonis maupun antagonis.
Di film terbarunya, 28 Years Later: The Bone Temple yang hadir sebagai back-to-back dari filmnya di tahun 2025, hal tersebut semakin dipertegas. Stereotip baru yang dimaksudkan Alex Garland di antaranya membalikkan sisi kejam dan sadis antara manusia normal dengan zombie alpha meski berfokus pada satu sosok Samson dan the bone temple sesuai sub-judul menjadi latar penting dimulai dan akhir dari hal tersebut.
Di sini, tergambarkan dengan tegas, kelompok manusia normal bernama the Jimmys yang merupakan kelompok satanic yang dipimpin Sir Lord Jimmy Crystal. Trauma masa kecil Jimmy Crystal yang melihat kekejaman sang ayah yang merupakan pendeta saat terinfeksi memimpin para zombie untuk menyerang penduduk desa.
Trauma yang tertanam dalam pikiran bahwa satan telah merasuki sang ayah dan murka sehingga menyerang warga desa sebagai bagian dari derma atau pengorbanan, tanpa ia tahu bahwa sang ayah terinfeksi virus yang membuat kesadarannya sebagai manusia sudah hilang. Kerangka pikiran yang terbentuk kemudian menjadi alasannya bertindak yang sama.
Hal sebaliknya justru terjadi dengan Samson, sang predator alpha yang dikenal bertindak kejam dan sadis kepada manusia yang kebetulan berpapasan dengannya. Tak seperti kebanyakan zombie yang langsung menggigit, Samson justru melakukannya seperti pembunuh berdarah dingin yang lebih mirip psikopat.
Ajaibnya, seorang dokter bernama Dr. Ian Kelson mencoba berpikir sebagai akademisi. Dari sisinya, tindakan yang dilakukan para zombie dalam hal ini Samson karena pengaruh dari virus yang menghalangi atau mengaburkan memori yang sebenarnya. Dengan kata lain, ini merupakan penyakit yang sebenarnya bisa disembuhkan.
Eksperimen terus dilakukan Dr. Ian Kelson melalui pendekatan secara psikologi dengan berbicara dengan tone yang lembut dan menenangkan. Tak ketinggalan mencoba melalui beberapa jenis obat yang sesuai dengan kasus yang dialami oleh Samson. Hal yang ternyata berhasil dilakukannya dengan perlahan mengembalikan kesadaran dan ingatannya sebelum menjadi zombie.
Plot cerita yang dibawa para karakter seperti juga kebanyakan film memiliki pesan yang ingin disampaikan ke publik. Pesan langsung yang sebenarnya menjadi sindiran untuk keadaan manusia di dewasa ini. Beberapa hal di antaranya menyangkut sisi gelap manusia, manusia yang keras hatinya hanya butuh sentuhan dan kelembutan dan tentunya tentang aliran satanic itu sendiri.
Ada sesuatu yang mungkin menarik perhatian penikmat film tentang karakter Dr. Ian Kelson yang diperankan aktor Ralph Fiennes. Sang aktor cukup ikonik untuk perannya sebagai penyihir jahat bernama Lord Voldemort dalam franchise Harry Potter. Selama memerankan ada gesture dan mimik yang menjadi khas dari karakternya tersebut.
Seolah tidak bisa lepas dari diri Ralph Fiennes meski sudah lebih dari se-dekade, gesture yang sama ternyata terlihat kembali dalam salah satu adegan pada bagian akhir cerita filmnya. Saat Dr. Ian Kelson berpura-pura menjadi Nick Tua atau Ayah dari pemimpin the Jimmys melalui adegan menari dengan kostum yang seolah menggambarkan dirinya satan yang dimaksudkan kelompok tersebut. Gesture dan mimik yang memang ikonik yang sepertinya sulit lepas dari sang aktor.
Menilik kembali keseluruhan cerita, 28 Years Later: The Bone Temple memiliki vibes yang sedikit lebih kalem dan lebih memiliki warna dibandingkan dengan filmnya di tahun lalu. Bukan juga, film zombie yang kehilangan esensinya, karena 28 Years Later: The Bone Temple masih menampilkan kegaduhan, kengerian dan kesadisan dari sosok mayat hidup tersebut.
Penikmat film masih merasakan sisi ketegangan dan rasa deg-degan terutama dari sosok zombie alpha bernama Samson. Hanya saja, intensitas ketegangannya sedikit diturunkan dibandingkan film sebelumnya. Bahkan di film kali ini ada beberapa adegan yang membuat tersenyum penikmat film, yang kembali melibatkan karakter zombie alpha yang sadis bernama Samson.
Hal ini sepertinya merujuk dari filmnya yang merupakan back-to-back dari film sebelumnya. Dibandingkan hadir sebagai produksi sekuel yang kebanyakan ingin lebih dari film sebelumnya, penulis untuk film 28 Years Later: The Bone Temple lebih memilih untuk menjadikan film kali ini sebagai sebuah conclusion atau kesimpulan.
Ini berkaitan dengan karakternya itu sendiri, tentang nasib Spike, anak laki-laki polos yang terjebak dalam kelompok satanic the Jimmys. Lalu karakter dari pemimpin kelompol satanic the Jimmys itu sendiri yang hanya diberikan beberapa potongan adegan di film sebelumnya. Tentunya dua karakter yang menjadi bagian utama dari film kali ini, Dr. Ian Kelson dan Samson.
Bukan juga sebuah kesimpulan yang menjadi akhir karena seperti juga film zombie lainnya, selalu ada petunjuk kecil atau bahkan petunjuk besar dan nyata bahwa film series dari judul tersebut tidak pernah memiliki ending yang paten. Selalu menyimpan misteri akan potensi dari keberlanjutan cerita.
Untuk film 28 Years Later: The Bone Temple potensi tersebut sangatlah besar. Ini berkaitan dengan bagian ending yang seakan hadir sebagai post-credit scene. Sesuatu yang familiar untuk penikmat film sebagai petunjuk bahwa sebuah film akan memiliki cerita yang berlanjut.
Yap, pada produksi keempat dari dunia zombie dari 28 Days Later, sosok karakter yang menjadi ikon akhirnya kembali muncul. Meski hanya satu dengan satu adegan saja sudah cukup membuat yakin filmnya akan kembali diproduksi. Entah nantinya akan seperti apa plot cerita yang dibangun dan sub-judul yang akan disematkan. Sosok ini tak lain dan tak bukan bernama Jim yang diperankan aktor Cillian Murphy.
Production company: DNA Films, Columbia Pictures, Decibel Films
Distributor: Sony Pictures Releasing
Cast: Alfie Williams (Spike), Ralph Fiennes (Dr. Ian Kelson), Jack O’Connell (Sir Jimmy Crystal), Erin Kellyman (Jimmy Ink), Chi Lewis-Parry (Samson), Emma Laird (Jimmima), Louis Ashbourne Serkis (Tom), Maura Bird (Jimmy Jones), Ghazi Al Ruffai (Jimmy Snake), Sam Locke (Jimmy Fox), Cillian Murphy (Jim), etc
Director: Nia DaCosta
Screenplay: Alex Garland
Producers: Danny Boyle, Alex Garland, Andrew Macdonald, Peter Rice, Bernie Bellew
Duration: 1 hours 49 minutes







Start earning passive income—join our affiliate network today!