ReviewCinemaFilm

Review: The Cat in the Hat, Adaptasi Bebas Dengan Sisipan Identitas Asli Dari Bukunya

45
×

Review: The Cat in the Hat, Adaptasi Bebas Dengan Sisipan Identitas Asli Dari Bukunya

Share this article

The Cat in the Hat menjadi produksi adaptasi bebas dari buku yang ditulis oleh Dr. Seuss.

LASAK.iD – Sepanjang tahun 2026 deretan film yang dirilis Warner Bros. lebih condong untuk klasifikasi usia 17 tahun ke atas atau untuk tontonan orang dewasa. Nyaris tidak ada judul yang memang diperuntukkan untuk penonton keluarga terutama anak-anak. Film yang dimaksud baru dirilis jelang akhir tahun dengan judul The Cat in the Hat.

Ini merupakan adaptasi bebas dari buku anak-anak dengan judul yang sama karya Dr. Seuss yang dirilis tahun 1957. Sekaligus adaptasi kedua dari buku yang sama setelah yang pertama pada 2003 silam. Setelah mengalami perjalanan panjang dalam prosesnya, Warner Bros. Pictures yang kemudian memiliki hak paten, akhirnya merilis filmnya pada November 2026.

The Cat in the Hat yang hadir sebagai adaptasi bebas dari bukunya memperluas cerita melalui pendekatan yang lebih relatable dengan emosi dan sudut pandang anak-anak di masa kini. Ini tentu dimaksudkan untuk memudahkan anak-anak untuk mencerna, memahami, bahkan mungkin mendiskusikan kepada orang tua untuk pesan dari ceritanya dengan baik.

Baca juga: Review: The Intern, Adaptasi Yang Kental Dengan Gaya Drama Klasik Negeri Ginseng

Perluasan cerita terletak pada sisi karakter The Cat in the Hat, jika pada bukunya kehadirannya terjadi secara spontan dengan tujuan menghibur dua karakter anak di kala bosan saat hujan. Sedangkan, cerita filmnya di 2026 yang ditulis Erica Rivinoja dan Alessandro Carloni sedikit dibelokkan sebagai sosok agen dari I.I.I.I. atau Institute for the Institution of Imagination and Inspiration, LLC.

Kehadiran The Cat in the Hat di rumah kakak-beradik, Gabby dan Sebastian karena sebuah perintah dari pemimpinnya bernama Mr. Hoogeboom. Meski plot twist-nya kehadiran The Cat in the Hat di rumah tersebut merupakan takdir yang saling terhubung dengan masa lalu yang berakar dari Sang Ibu yang bernama Carmen.

Perluasan cerita pada konfliknya pun dimunculkan secara personal pada setiap karakter. Pada titik ini, penulis pun mencoba membuatnya lebih kompleks melalui pergolakan batin. Pada karakter anak terutama Gabby, ditampilkan amarah seorang anak kepada orang tua. Di mana, mimpi dan kebahagiaannya seolah direnggut darinya karena kepindahan mereka ke kota lain. Keputusan yang mengubah hubungan di antara mereka menjadi sedikit renggang dan dingin.

Konflik pun berlaku untuk pusat dari garis ceritanya, yaitu The Cat in the Hat. Ia bersama dengan antropomorfik lainnya memiliki tugas menghibur anak-anak di bawah kendali bernama I.I.I.I. atau Institute for the Institution of Imagination and Inspiration, LLC.

The Cat in the Hat yang dikenal menciptakan keonaran telah berada di batas ambang dari penilaian. Untuk memperbaiki keonaran yang ditimbulkannya dan terhindar dari pemecatan, The Cat in the Hat harus menyelesaikan sebuah kasus dengan baik dan anak-anak kembali pada hakikatnya, yaitu bahagia.

Mr. Hoogeboom sebenarnya inginkan The Cat in the Hat tetap dipecat dengan cara memberikan kasus yang masuk dalam klasifikasi sulit. Bahkan dengan sengaja menyarankan The Cat in the Hat menggunakan alat bantu dari bagian terlarang. Tempat menyimpan benda kuno yang lama disimpan dan dilarang penggunaannya, yaitu Go Backer. Sebuah gawai atau peranti kuat yang memiliki kemampuan ajaib untuk memutar balik waktu (time travel).

The Cat in the Hat dengan pribadinya yang santai dan cuek menerima begitu saja tugas dari Mr. Hoogeboom. Ia menganggap semua tugas selalu memiliki jalan keluar dan penyelesaian. Termasuk kasus seorang remaja perempuan bernama Gabby dan adik laki-lakinya bernama Sebastian.

Keduanya dihadapkan dilema karena harus menyesuaikan diri kembali dengan lingkungan, sekolah, dan teman baru. Hal ini menjadi kesedihan mendalam untuk keduanya terutama Gabby yang seolah kehilangan mimpi dan kebahagiaannya.

Perluasan konflik tersebut dengan berfokus pada setiap karakter memberikan dinamika cerita yang lebih menarik dan beragam. Meski seringnya film animasi hadir dengan konflik yang memiliki kemiripan yang signifikan, seperti hubungan dalam keluarga, sosial, atau persahabatan. Bahkan gambaran keluarga dengan orang tua tunggal (terutama Ibu) selalu menjadi pilihan utama.

Hal ini ternyata memiliki penjelasan yang logis dan masuk akal secara psikologis dan sosiologis. Secara naluriah, sosok Ibu lebih mampu menyampaikan emosi mendalam untuk mengena di penikmat film. Ditambah memori kolektif dari penikmat film bahwa pengasuhan dan sentuhan lebih sering didapati dari sosok Ibu. Masih banyak penjabaran yang dijadikan acuan secara psikologis dan sosiologis terkait sosok Ibu menjadi pilihan.

Kesamaan premis secara generalnya juga terletak pada plot twist karakter yang menjadi penghubung ceritanya secara utuh. Di film The Cat in The Hat tergambarkan bahwasannya karakter The Cat in The Hat di masa lalu pun pernah menjadi agen yang ditugaskan menyelesaikan masalah yang dialami Carmen, yang tak lain Ibu dari kakak-beradik, Gabby dan Sebastian. Sebuah garis cerita yang cukup sering digunakan oleh penulis.

Meski begitu, untuk film The Cat in The Hat tidak dibentuk sebagai sajian untuk membuat penikmat film terbawa emosional berlebih hingga akhirnya menangis tersedu. Penikmat film dibuat pada titik terenyuh tetapi sangat mengena. Pendekatan emosional yang disajikan diambang cukup bukan berlebihan, tetapi bisa menjadi bahan pertanyaan anak-anak untuk orang tuanya.

Dari sisi pembeda yang selalu bisa dirasakan dan terlihat pada pengembangan logline atau treatment yang menjadi dasar cerita utuh. Untuk The Cat in The Hat pengembangan yang menyangkut logline atau treatment cerita menampilkan sesuatu yang menarik. Dunia imajinasi yang terjadi seperti dunia sihir yang diinginkan oleh anak-anak. Terutama pada kotak milik Sebastian, yang diperlihatkan segala macam barang yang didominasi mainan hidup dan mengenal baik pemiliknya.

Termasuk imajinasi yang tak terbayangkan tetapi cukup masuk akal, di antaranya pakaian dalam yang seolah digambarkan sebagai ikan Pari Manta. Imajinasi yang lebih mungkin diciptakan oleh seorang dengan pengalaman masa anak-anak yang beragam, yang kemudian dituangkan ketika dirinya menjadi dewasa melalui produksi film.

Perluasan dan pengembangan cerita memang mengalami penyesuaian waktu, namun ada bagian dari produksi yang tetap dipertahankan sebagai identitas asli dari bukunya yang diciptakan Dr. Seuss. Hal ini ditegaskan tim produksi dari Warner Bros. Pictures Animation dan Dr. Seuss Enterprises melalui gaya gambar asli Dr. Seuss sebagai acuan desain filmnya.

Begitu pun dengan karakter The Cat in The Hat dengan karakteristiknya sebagai agen pengacau atau agen keonaran, termasuk dengan topi dengan magic-nya yang bisa mengeluarkan banyak barang. Karakter yang juga turut dipertahankan, yaitu Thing digambarkan sebagai makhluk berambut merah dengan baju biru khasnya.

Keautentikan yang juga tergambarkan dengan jelas pada 2 menit filmnya. Tim produksi mempertahankan adegan seperti bukunya, yaitu cuaca yang hujan, hari membosankan di dalam rumah, anak-anak yang duduk termenung, sampai akhirnya terdengar suara aneh dari sisi tembok yang menandakan kedatangan Kucing Bertopi merah putih dengan dasi merahnya.

Production company: Warner Bros. Pictures Animation, Dr. Seuss Enterprises, A Stern Talking To
Distributor: Warner Bros. Pictures
Voice Cast: Bill Hader (The Cat in the Hat), Matt Berry (Waffles), Quinta Brunson (Sherri), Xochitl Gomez (Gabby), Giancarlo Esposito (Mr. Hoogeboom), America Ferrera (Carmen), Tiago Martinez (Sebastian), Bowen Yang (Gary), Paula Pell (Patty), Tituss Burgess (the Psychic Narwhal), etc
Director: Erica Rivinoja, Alessandro Carloni
Screenplay: Erica Rivinoja, Alessandro Carloni
Producers: Daniela Mazzucato, Jared Stern
Duration: 1 hours 47 minutes

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x