LASAK.iD – Aktris Anne Jacqueline Hathaway atau lebih dikenal dengan nama panggung Anne Hathaway kembali ke layar lebar untuk judul Mother Mary. Film yang menggabungkan musikal, drama, psikologi, dan ketegangan ternyata menjadi salah satu film yang paling menantang untuknya.
Kali ini, Anne Hathaway tak sekedar berakting tetapi harus menjadi dirinya yang kosong untuk masuk ke dalam karakter Mother Mary secara utuh, sesuai dengan yang diinginkan David Lowery sebagai penulis sekaligus sutradara. Sang aktris kembali bermain untuk film yang memiliki unsur musikal.
Genre yang pernah mengantarkannya mendapatkan piala oscar sebagai yang terbaik. Tak hanya dalam hal akting yang mampu memainkan berbagai karakter, kemampuan sang aktris dalam bernyanyi pun cukup mumpuni. Kini, melalui film Mother Mary, Anne Hathaway kembali membuktikkan aktingnya yang mampu memerankan berbagai karakter.
Baca juga: Review: The Smashing Machine, Potret Rapuhnya Seorang Pejuang Dalam Bayangan Kebesarannya
Film yang membawa penikmat film ke dalam dunia yang kompleks dari Mother Mary, seorang penyanyi besar yang kembali ke dunia nyanyi setelah mengalami krisis kepribadian dan artistiknya dalam musik. Mother Mary menandai kembalinya dalam dunia musik dengan melakukan tur dunia.
Namun, kostum yang dipersiapkan menjelang pertunjukan pertamanya tidak memperlihatkan sisi dirinya yang sebenarnya. Untuk itu, Mother Mary meminta seorang perancang kostum terkenal dunia bernama Sam Anselm, yang tak lain sahabat dekatnya dari masa lalu sebelum sukses sebagai bintang pop dunia.
Sam Anselm yang mengenal karakter dari sahabatnya tersebut tentu mampu memuaskan hasrat dari Mother Mary. Sayang, kembalinya Sam Anselm ke dalam kehidupan Mother Mary justru membawa sesuatu yang tak terduga. Mother Mary justru mendapat konfrontasi kekerasan pada tingkat mistis dan psikologis, dengan kaburnya kekuatan dan identitas antara persona publik dan pribadi.
Visi Sinematik yang Megah dan Ambisius
Mother Mary adalah sebuah pengalaman sinematik yang terasa megah, berkilau, dan mendalam secara bersamaan. Sutradara David Lowery berhasil menciptakan sebuah karya yang sulit untuk didefinisikan secara sederhana, namun mampu menyihir penonton selama dua jam penuh melalui visual yang luar biasa.
Film ini bukan sekadar tontonan biasa, ini adalah sebuah visi ambisius yang menuntut untuk disaksikan di layar besar dengan tata suara yang mumpuni, membawa penonton masuk ke dalam dunia pop yang penuh dengan dinamika emosional yang intens.
Dualitas Performa Anne Hathaway dan Michaela Coel
Kekuatan utama film ini terletak pada duet maut antara Anne Hathaway dan Michaela Coel. Hathaway tampil memukau sebagai bintang pop, lengkap dengan kostum bodysuit yang ikonik, sementara Coel membuktikan dirinya sebagai aktor kelas atas yang mampu mengimbangi aura “Hollywood royalty” dari Hathaway.
Hubungan keduanya menjadi poros utama cerita, menampilkan dinamika antara dua seniman yang terjebak dalam sejarah panjang berisi rasa sakit, dendam yang terjustifikasi, dan keterikatan emosional yang sulit diputuskan.
Estetika Visual dan Eksplorasi Genre yang Berani
Secara visual, film ini merupakan magnum opus bagi sinematografer Andrew Droz Palermo. Estetikanya bergerak dinamis, dimulai dengan paruh pertama yang terasa intim layaknya sebuah pertunjukan teater, sebelum akhirnya bertransformasi menjadi sesuatu yang jauh lebih abstrak dan supranatural.
Lowery menggunakan visual-nya untuk memanifestasikan perasaan bersalah, pengkhianatan, dan pengampunan ke dalam gambar-gambar yang mencolok dan indah, meskipun terkadang ia membiarkan narasi tersebut tenggelam dalam ambiguitas yang menantang.
Autentisitas Musik Pop dan Soundtrack Ikonik
Dari sisi musikal, Mother Mary benar-benar memahami “tugasnya.” Kolaborasi antara Charli XCX, Jack Antonoff, dan FKA Twigs menghasilkan soundtrack yang autentik dan luar biasa. Adegan konser pop dalam film ini bahkan layak disejajarkan dengan adegan konser terbaik dalam sejarah film, seperti dalam Popstar: Never Stop Never Stopping.
Salah satu lagu unggulannya, “Holy Spirit” memiliki potensi besar menjadi song of the summer berkat penampilan Hathaway yang sangat meyakinkan dalam membawakannya, lengkap dengan nuansa vokal yang terasa sangat nyata.
Eksplorasi Tema tentang Ketenaran dan Jati Diri
Di balik gemerlap lampu panggung, film ini mengeksplorasi tema-tema yang sangat padat, mulai dari harga sebuah ketenaran hingga batas antara persona publik dan jati diri yang terhidden. Ini adalah studi tentang hubungan kreatif yang kompleks, di mana ego dan dedikasi saling berbenturan.
Baca juga: Review: Materialists, Saat Kenyamanan Orang Lama Kalahkan Pria Unicorn
Lowery menunjukkan apresiasi yang jujur terhadap musik pop sebagai sebuah bentuk seni, kerajinan, dan fenomena, tanpa ada rasa ironi atau ejekan, yang membuat perspektif film ini terasa sangat segar dan tulus.
Narasi Eksperimental yang Menantang Penonton
Namun, harus diakui bahwa film ini tidak ditujukan untuk semua orang karena sifatnya yang eksperimental dan padat secara tematik. Struktur ceritanya yang sering kali berpindah genre mungkin akan membingungkan sebagian penonton.
Meskipun ada beberapa penampilan pendukung yang terasa kurang menonjol dibandingkan dua pemeran utamanya, fokus film ini tetap terjaga pada emosi inti yang ingin disampaikan oleh Lowery, yaitu tentang bagaimana keputusan masa lalu terus menghantui hubungan manusia di masa kini.
Konklusi Emosional dan Polarisasi Akhir Cerita
Reaksi penonton saat kredit bergulir menunjukkan betapa polarisasinya film ini, ada yang merasa bingung, namun ada pula yang tersentuh hingga meneteskan air mata.
Akhir cerita yang provokatif mungkin akan meninggalkan banyak pertanyaan bagi sebagian orang, tetapi bagi mereka yang mampu menangkap esensi persahabatan dan rasa sakit di dalamnya, Mother Mary adalah sebuah mahakarya emosional.
Pada akhirnya, ini adalah film tentang dua manusia yang mencoba menavigasi luka mereka di bawah sorotan lampu dunia yang tak pernah redup.
Production company: Homebird Productions, augenschein Filmproduktion
Distributor: A24
Cast: Anne Hathaway (Mother Mary), Michaela Coel (Sam Anselm), Hunter Schafer (Hilda), FKA Twigs (Imogen), Atheena Frizzell (Emily), Kaia Gerber (Nikki), Jessica Brown Findlay (Tessa), Isaura Barbé-Brown (Kyla), Alba Baptista (Miel Contrera), Sian Clifford (Jade), etc
Director: David Lowery
Screenplay: David Lowery
Producers: Toby Halbrooks, Jeanie Igoe, James M. Johnston, David Lowery, Jonas Katzenstein, Maximilian Leo, Jonathan Saubach
Duration: 1 hours 52 minutes







https://shorturl.fm/TL5Qa