ReviewCinemaFilm

Review: The Strangers: Chapter III, Conclusion Yang Berikan Kejutan Baru

40
×

Review: The Strangers: Chapter III, Conclusion Yang Berikan Kejutan Baru

Share this article

The Strangers Chapter III menjadi penutup dari rangkaian teror psikopat bertopeng yang memberikan drama dan ending yang menjadi tanda tanya.

LASAK.iDFilm series yang disiapkan menjadi lebih dari satu kali produksi, entah sebagai sekuel, trilogi atau mungkin tetralogi/ kuadrilogi kadang memiliki pola yang berulang meski membawa tema cerita yang berbeda. Terlihat dari bagaimana penulis membangun plot cerita pada setiap series filmnya.

Ini yang terlihat dalam banyak judul film series, salah satunya datang dari film series The Strangers yang diproduksi kembali dan hadir sebagai trilogi baru di bawah arahan sutradara Renny Harlin serta cerita yang ditulis ulang Alan R. Cohen bersama Alan Freedland. Kedua penulis menata ulang cerita dari film pertamanya di tahun 2008 dengan menghadirkan trilogi baru dari The Strangers sehingga tidak sepenuhnya dikatakan sebagai sebuah produksi remake.

Meski begitu, kedua penulis ternyata membawa flow pada cerita yang cukup seragam dengan banyak film series lainnya, baik itu dengan genre yang sama mystery-thriller atau genre lainnya. Gambaran apabila dijabarkan, seperti pada film pertama, konflik besar biasanya akan langsung tergambarkan secara gamblang. Detail dan penjelasan akan sebab-akibat belum sepenuhnya tersajikan. Hal ini untuk membentuk titik kepuasaan di penikmat film yang sekaligus membangun rasa penasaran untuk menantikan kelanjutan dari cerita.

Sensasi yang sama tetap dipertahankan, namun detail sebab-akibat mulai digambarkan lebih luas di produksi film kedua (2025). Di saat yang bersamaan, terlihat juga pengerucutan akan konflik yang dijabarkan di film pertama. Kedua hal tersebut berjalan berbarengan untuk menciptakan kompleksitas cerita.

Baca juga: Review: The Strangers Chapter II, Masih Hadirkan Rasa Ngeri Yang Sama

Pendetailan sebab-akibat pada film kedua biasanya disajikan melalui potongan-potongan adegan dari masa lalu (flashback), yang menjadi bagian dari plot twist filmnya. Untuk mempertahankan sisi menarik dan flow cerita yang dibangun sebelumnya. Meski hadir dengan beberapa plot twist, cerita yang lebih kompleks, serta tabir besar dari benang merah mulai terbuka, kepuasaan penikmat film untuk film kedua seringnya sedikit menurun.

Berkaitan dengan kepuasan penikmat film, berlaku juga untuk film ketiga atau keempat. Kepuasan yang akankah kembali seperti film pertama, stabil seperti film kedua, berkurang dari film kedua, atau dibuat secara roller coaster. Film ketiga atau keempat pun selalu hadir sebagai conclusion dari cerita dan konflik yang dibentuk film terdahulu.

Melalui potongan-potongan puzzle terakhir untuk melengkapi teka-teki sebelumnya yang belum terjawab, yang menjadi rasa penasaran untuk penikmat film. Selain itu, pada produksi terakhir, sisi drama semakin kental terasa. Berjalan beriringan dengan genre asli filmnya. Pada akhirnya terciptakan rasa beragam ketika menonton.

Kemiripan yang hampir dirasakan dalam film series garapan penulis Alan R. Cohen bersama Alan Freedland dan sutradara Renny Harlin. Namun, yang bisa di highlight dari produksi trilogi tersebut tentang konsistensi ketegangan dan kengerian dari aksi para pembunuh bertopeng dari film pertama sampai ketiga.

Baca juga: Review: The Strangers: Chapter I, Kota Kecil Misterius Penuh Kejutan

Untuk film ketiga yang hadir sebagai conclusion atau rangkuman/kesimpulan sedikit lebih berkurang secara intensitas, tetapi bukan secara kekejaman yang sudah diperlihatkan dari film pertama. Begitu pun drama yang terbangun yang menjadi bagian dari cerita kali ini lebih sedikit lama, yang juga menjadi alasan intensitas secara aksi berdarah sedikit berkurang.

Drama yang dimaksudkan pun bukan sajian yang melankolis tetapi drama yang tetap menjaga konsistensi ketegangan dan kengerian yang menyesuaikan genre filmnya. Selian itu, meski trilogi baru ini menghadirkan pembaharuan secara cerita ternyata sentuhan tentang realitas yang terjadi cukup kuat diberikan pada cerita.

Satu di antaranya tergambarkan pada karakter Maya, kesan lembut dan lemah sangat tergambarkan dengan jelas dikemunculannya pertama kali. Kemudian keadaan yang intens berlangsung terus-menerus pada akhirnya mengubah cara pandangnya dalam menghadapi para pembunuh bertopeng.

Dibandingkan melawan, Maya justru menjadi seperti mereka untuk bertahan hidup. Itulah alasan dia dengan berani dan tidak segan untuk melakukan yang juga mereka lakukan, yaitu membunuh. Namun, hal itu pun berlaku untuk mereka yang menjadi bagian dari para psikopat bertopeng. Hal yang terlihat pada filmnya yang ketiga.

Ini gambaran nyata tentang sisi bertahan hidup dari setiap individu, tentang tidak menyerah tetapi menyesuaikan keadaan untuk bertahan hidup. Ditambah, cerita filmnya sendiri berakar dari kejadian yang banyak terjadi di banyak daerah di amerika. Di mana, banyak orang secara random melakukan penculikan dan penghilangan nyawa orang lainnya, yang banyak dijuluki sebagai serial killer. Jumlah korban pun tidak sedikit tetapi cukup banyak untuk menjadi isu dan perbincangan warga amerika.

Ada hal menarik juga untuk produksi film series. Ini pun yang terlihat dalam film series dengan judul The Strangers. Meski sejak awal ditekankan oleh rumah produksi hanya memiliki cerita hingga chapter ketiga, namun adegan-adegan tertentu atau lebih spesifik di bagian akhir mengindikasikan filmnya berpotensi memiliki kelanjutan cerita. Meski tanpa kehadiran dari post-credit scene yang selalu menjadi tolak ukurnya.

Film series The Stangers karya penulis Alan R. Cohen dan Alan Freedland pun dalam membaginya menjadi produksi trilogi mengambil konsep yang tidak biasanya. Film series umumnya saat berpindah dari satu film ke film lainnya memiliki penggambaran seperti film yang berbeda padahal secara benang merah tetap sama. Biasanya ini dipengaruhi dengan pendekatan kreatif, perkembangan cerita, dan faktor produksi.

Sedangkan, The Strangers digambarkan seperti pemenggalan cerita pada sebuah karya novel. Sehingga satu rasa yang sama terjadi secara linier tanpa terputus. Bahkan kesan filmnya yang diproduksi langsung dengan durasi yang panjang. Pemenggalan setiap bagiannya terjadi ketika jadwal perilisan ditentukan.

Terlihat dari kontinuitas yang dilakukan pada filmnya, baik adegan, lokasi, hingga wardrobe yang digunakan karakternya terutama Maya. Ini cukup membantu untuk penikmat film mengingat dengan cepat adegan-adegan dari film sebelumnya untuk menemukan kesinambungan. Ini mungkin yang menjadi alasan filmnya dirilis dalam waktu yang tidak terlampau jauh.

Production company: Lionsgate Films, Fifth Element Productions
Distributor: Lionsgate Films
Cast: Madelaine Petsch (Maya), Gabriel Basso (Gregory), Ema Horvath (Shelly), Ella Bruccoleri (Jasmine), Rachel Shenton (Debbie), Richard Brake (Sheriff Rotter), Olivia Kreutzova (Dollface Double), Matus Lajcak (Scarecrow Double), George Young (Howard), Pedro Leandro (Deputy Walters), Miles Yekinni (Marcus), etc
Director: Renny Harlin
Screenplay: Alan R. Cohen, Alan Freedland
Producers: Courtney Solomon, Mark Canton, Christopher Milburn, Gary Raskin, Alastair Birlingham, Charlie Dombek
Duration: 1 hours 38 minutes

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

1 Comment
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
film drama
1 day ago

Nonton Dramabox Terbaik Gratis Hari ini di sini

1
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x