ReviewFilm

Review: The Bride!, Film Gothic Romance Yang Menggabungkan Realitas dan Fiksi Novel

294
×

Review: The Bride!, Film Gothic Romance Yang Menggabungkan Realitas dan Fiksi Novel

Share this article

The Bride! merupakan film karya penulis dan sutradara Maggie Gyllenhaal yang mengadaptasi langsung film inspirasi dari film Bride of Frankenstein tahun 1935, yang didasarkan pada novel Frankenstein karya Mary Shelley tahun 1818.

LASAK.iD – Perusahaan film Warner Bros. Pictures beberapa waktu lalu telah merilis sebuah film drama romantis dengan membawa gaya klasik berjudul Wuthering Heights. Sebuah karya bebas dari sutradara dan penulis Emerald Fennell berdasarkan novel best seller dengan judul yang sama dari penulis Emily Brontë yang dirilis sekitar tahun 1847.

Tak puas hanya merilis satu judul film, Warner Bros. kembali dengan drama romantis terbarunya berjudul The Bride!. Bedanya, film kali ini lebih condong pada genre gothic romance. Secara harfiah merupakan film gotik dengan daya tarik feminin atau pendekatan cerita yang penegasan persepsi, interpretasi, dan pengalaman hidup perempuan.

Pada penjelasan lain, film gothic romance yang mengacu pada era 1940-an sering kali mengandung “Motif Janggut Biru“. Kiasan tentang sebuah ruang yang menjadi metafora untuk pengalaman terpendam sang pahlawan wanita, dan membuka ruangan tersebut merupakan momen katarsis dalam film.

Interpretasi yang diaplikasikan Maggie Gyllenhaal sebagai penulis dan sutradara dalam film terbaru dari Warner Bros. berjudul The Bride!. Pada ceritanya, Maggie Gyllenhaal mengambil inspirasi langsung dari film The Bride of Frankenstein tahun 1935, yang didasarkan pada novel Frankenstein karya Mary Shelley tahun 1818.

Baca juga: Review: Wuthering Heights, Adaptasi Bebas Yang Berikan Wajah Baru Dari Romantisme Gaya Klasik

Meski begitu, secara eksekusi yang dilakukan Maggie justru hadir seperti karya bebas. Ia hanya mengambil inti sari yang memang wajib ada, misalnya pada karakter Frankenstein yang secara looks dan visual selalu ditandai memiliki luka jahitan yang memberikan kesan sebagai monster karena proses pembuatannya.

Sedangkan visualisasi dan karakteristik lainnya dibuat dengan mengikuti perkembangan film secara teknologi maupun selera dari penikmat film. Terlihat pada karakter Ida “The Bride” yang tidak dibuat kaku seperti dalam film The Bride of Frankenstein (1935). Karakternya secara naluriah tetap sejatinya manusia sebelum dihidupkan kembali seorang ilmuwan bernama Dr. Cornelia Euphronious.

Film kali ini dikatakan sebagai karya bebas melihat penulis membuat konsep penceritaan yang cukup berbeda, terutama pada karakter utama wanitanya, Ida “The Bride”. Penulis menggunakan konsep intrusive thoughts atau pikiran yang mengganggu/tak terkendali melalui sosok yang ada dalam pikirannya.

Menariknya, sosok tersebut yang bisa dikatakan menjadi sisi kelam karakter Ida “The Bride”, justru dihadirkan penulis Maggie Gyllenhaal melalui sosok penulis cerita asli dari Frankenstein, yaitu Mary Shelley. Jika menilik secara seksama dengan memperhatikan karakternya sepanjang film, Maggie Gyllenhaal ingin menjaga konsep bawaan yang dibentuk penulis Mary Shelley dalam novelnya.

Tak sepenuhnya dilakukan tetapi hal ini pun mengingatkan kembali pada penikmat film bahwa karakter Frankenstein yang banyak dibuat film maker dunia untuk disisipkan dalam cerita yang dibuat, mulai dari tema umum, animas, hingga tema vampire atau dracula sejatinya dimiliki oleh Mary Shelley sebagai penciptanya.

Maggie Gyllenhaal menjadikan The Bride! sebagai karya bebas yang seakan untuknya menyesuaikan pada sebuah masa. The Bride! sendiri berlatarkan pada era 1930-an. Informasi dan sejarah yang tercatata pada era 1930-an, menjadi era Depresi Besar yang mengubah peranan wanita secara sosial-ekonomi.

Ini yang diperlihatkan dengan gamblang oleh karakter Ida “The Bride” yang memiliki dua kepribadian. Satu sisi sebagai Ida yang lebih kalem, lembut, bahkan mungkin seorang people pleaser. Sisi lainnya, yang dipengaruhi sosok “monster” dalam dirinya melalui bisikan-bisikan yang menjadikannya katarsis.

Baca juga: Review: One Battle After Another, Kisah Yang Relate Dengan Masa Kini

Ada juga bagian lain dalam filmnya yang menjelaskan adanya keterlibatan gangster dengan wanita pun sesuatu yang masuk akal dan sesuai dengan kehidupan di era tersebut. Bahkan tak sedikit wanita yang menjadi pemimpin yang berpengaruh, mulai dari dunia kriminal maupun kehidupan secara sosial.

Film The Bride! menggambarkan melalui karakter Myrna Mallow, yang semula hanya sebagai asisten kemudian bertugas sebagai seorang detektif wanita sebenarnya. Meski ada diskriminasi yang terlihat jelas antara pria dan wanita. Hal yang terjadi sebenarnya di era 1930-an tersebut. The Bride! sebagai sebuah karya yang sebenarnya film gotik.

Tak hanya dari sisi Ida “The Bride”, karakteristik dari karakter Frankenstein sendiri pun turut menyesuaikan. Ini tergambarkan melalui perjalanan Frankenstein bersama Ida “The Bride” yang mengunjungi beberapa negara bagian, seperti Chicago dan New York. Ini dilakukan untuk mendatangi bioskop yang menayangkan secara premier film dari Ronnie Reed, aktor favorit dari Frankenstein.

Di mana, bioskop menjadi hiburan di tengah kehidupan yang sulit di era 1930-an, selain musik jazz/swing dan gaya seni Art Deco yang ramping. Namun, Maggie memasukkan fakta tersebut secara bias pada karakter Frankenstein. Ini dilakukan untuk mempertajam sisi manusiawi yang digambarkan memiliki rasa kesepian, kagum, bahkan gairah secara seksual.

Maggie Gyllenhaal mencoba untuk menyeimbangkan dunia dua yang berbeda dalam karyanya di The Bride!. Dunia yang dimaksudkan pada dunia realitas dan fiksi dari novel-nya. Sederhananya, penikmat film masih melihat karakteristik asli dari Frankenstein yang sejati sebuah monster ciptaan yang disandingkan melalui realitas yang benar terjadi pada 1930-an melalui karakter Ida.

Chemistry keduanya cukup kuat dalam membangun dan mempertahankan citra sebenarnya dari Frankenstein yang publik dunia sudah ketahui. Termasuk dalam hal sebagai pasangan meski tidak secara langsung terjalin tetapi melalui proses untuk menjadi cinta sejati dan cinta sehidup-semati.

Itu yang bisa tertangkap di penikmat film, tak hanya tentang Frankenstein yang mencari pasangan semata tetapi menciptakan kisah cinta tersendiri dari keduanya. Kisah romeo dan juliet namun dalam versi karakter yang lebih dark dan sarkasme. Di mana, kedua karakternya banyak melontarkan sindiran tajam.

Production company: First Love Films, In the Current Company
Distributor: Warner Bros. Pictures
Cast: Jessie Buckley (Ida “The Bride”/Mary Shelley), Christian Bale (Frankenstein), Peter Sarsgaard (Detective Jake Wiles), Annette Bening (Dr. Cornelia Euphronious), Jake Gyllenhaal (Ronnie Reed), Penélope Cruz (Myrna Mallow), John Magaro (Clyde), Matthew Maher (James), Jeannie Berlin (Greta), Zlatko Burić (Lupino), Louis Cancelmi (Officer Goodman), Julianne Hough (Jinx), etc
Director: Maggie Gyllenhaal
Screenplay: Maggie Gyllenhaal
Producers: Maggie Gyllenhaal, Emma Tillinger Koskoff, Talia Kleinhendler, Osnat Handelsman-Keren
Duration: 2 hours 6 minutes

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

3 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
WEBSITE LONTE
9 days ago

Website HARAM, PORNHUB MAKAN BABI HARAM SCAM

Text Explain
2 days ago

This article is very informative.

3
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x