ReviewCinemaFilm

Review: Mercy, Saat Intuisi dan Sentuhan Asli Manusia Mengalahkan Kecerdasan Teknologi

207
×

Review: Mercy, Saat Intuisi dan Sentuhan Asli Manusia Mengalahkan Kecerdasan Teknologi

Share this article

LASAK.iD – Industri film seperti sebuah kanvas besar yang menjadi ruang bebas untuk para pelaku di dalamnya yang sering disebut sebagai film-maker untuk bisa berkarya. Sebuah ruang bebas yang memungkinkan berbagai konteks dalam keseharian seorang individu atau publik dunia secara sosial untuk dihadirkan sebagai ide besar penulis untuk dijadikan sebuah cerita yang menarik.

Belakangan tema teknologi yang mengacu pada kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) cukup sering dihadirkan sebagai tema besar pada cerita. Film-maker menghadirkannya dalam beragam genre dengan menyesuaikan kebutuhan sekaligus mencoba tampil dengan konsep yang beda.

Film yang pernah dirilis sebelumnya, konsep kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) cukup sering mengkaitkannya dengan tema robot yang populernya mengusung genre science-fiction action-thriller. Rumah produksi seperti Sony Pictures tercatat beberapa kali memproduksi film dengan tema kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Baca juga: Review: 28 Years Later: The Bone Temple, Plot Cerita Tak Terduga Dengan Ending Yang Dinantikan

Sebut saja, film dengan judul Afraid (2024), The Mitchells vs. The Machines (2021), dan Chappie (2015). Di awal tahun 2025, Sony Pictures kembali merilis film dengan tema serupa dengan judul Mercy. Film yang dibintangi Chris Pratt dan Rebecca Ferguson meski membawa vibes yang cukup serupa namun di sisi lain mencoba hadir dengan energi baru.

Selain pada robot, umumnya tema ini cukup dikaitkan pula dengan lingkup penegak hukum, yang tak lain adalah polisi. Marco van Belle sebagai penulis kembali menjadikan penegak hukum sebagai protagonis utama untuk film Mercy. Namun, seperti dikatakan sebelumnya, Marco mencoba membawa energi baru, yang kali ini berbagi sudut pandang cerita yang menitikberatkan pada hakim dan pengadilan.

Marco van Belle menciptakan sebuah gambaran besar ketika AI dipergunakan sebagai bagian dari hakim dalam pengadilan bernama Mercy. Sentuhan manusia tetap ada dengan tetap menampilkan sosok manusia dibalik sistem komputerisasi dari kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), yang diwakili seorang hakim bernama Maddox yang diperankan aktris Rebecca Ferguson.

Menilik dari trailer yang dirilis, ada dua rasa berbeda yang tertangkap di penikmat film. Di satu sisi, potongan adegan membangun spekulasi bahwa filmnya akan sama dengan film yang menjadikan para penegak hukum sebagai karakter utama protagonis. Di sisi lainnya, gambaran pengadilan yang berbeda dengan melibatkan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk berdampingan dengan sang pengadil.

Setelah menonton filmnya, pernyataan tersebut cukup masuk akal, cerita yang kaitannya dengan polisi masih tersajikan cukup umum, seperti pengejaran dan penangkapan penjahat. Bahkan gambaran tentang 1, 2, atau lebih personil polisi yang selalu berdiri di sisi gelap dari ceritanya menjadi bumbu wajib dari cerita.

Baca juga: Review: Anaconda, Datang Tanpa Ekspektasi Tinggi, Pulang dengan Senyum sebagai Hiburan Ringan yang Efektif

Gamblangnya, gambaran dari sajian terkait karakter polisi baik individu maupun secara keseluruhan kesatuan masih cukup umum seperti kebanyakan film dengan tema serupa. Begitu pun dengan benang merah tentang protagonis (Chris Raven) yang bersinggungan dengan antagonis (Rob Nelson), yang ternyata secara konflik pun cukup umum dan tidak memberikan kesan kuat yang kompleks. Plot umum yang menggambarkan orang jahat yang lahir dari orang baik yang tersakiti.

Untuk membuat ceritanya memiliki daya tarik, Marco van Belle memberikan kejutan melalui unsur seperti plot twist. Meski dihadirkan pada bagian akhir dari cerita, cukup untuk memberikan kejutan ke penikmat film. Marco pun mencoba membagi plot twist dalam skala yang beragam, dari yang menjadi gong besarnya maupun dengan intensitas yang lebih kecil sebagai pemantik.

Hal menarik lainnya dari film Mercy, bagaimana penulis dan sutradara membangun grafik emosional dan ketegangan melalui konflik ceritanya perlahan naik atau berkembang secara terstruktur. Trik yang tepat jika melihat sajian atau visualisasi dari cerita yang fokus besarnya hanya menampilkan dua karakter utama, Detektif Chris Raven dengan Hakim Maddox.

Peningkatan grafik ini ditunjang dengan visualisasi dari kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang juga ditonjolkan dan sejalan dengan akting dari kedua aktornya, Chris Pratt dan Rebecca Ferguson yang tampil apik. Kedua elemen yang berjalan baik dalam menyajikan tontonan yang mampu membuat penikmat film sedikit menegakkan duduknya.

Perpaduan yang ditampilkan secara presisi dengan bermain pada proses editing menjadi daya tarik tersendiri. Seolah melihat gambaran dunia nyata yang dipindahkan ke dalam dunia imajinasi sebuah film. Gaya visualisasi ketika kedua karakter menggunakan optimalisasi dari kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) membawa sensasi untuk penikmat film turut larut dalam sajian cerita, seakan-akan menjadi bagian dari detektif yang sedang menyelesaikan sebuah kasus besar.

Sekaligus memberikan sensasi dramatisasi pada karakter Chris Brave dari tekanan waktu 90 menit yang dimilikinya untuk membuktikan diri tidak bersalah dari persidangan yang dibangunnya bernama Mercy. Mimik dan gesture menjadi bagian yang semakin memperkuat sisi dramatisasi tersebut.

Kembali pada tema yang diangkat dalam film Mercy tentang kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang seakan menjadi sindiran dengan kondisi dunia saat ini. Diketahui belakangan publik dunia sedang dihebohkan dengan teknologi bernama kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang disinyalir memantau setiap aktivitas penggunanya, baik di perangkat komputer atau telepon genggam.

Ini diperlihatkan dengan jelas pada adegan yang menggambarkan Chris Brave mendapatkan keleluasaan untuk mengakses berbagai data tanpa ada batas melalui teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Ditambah hampir sepanjang film, para karakter minim bahkan tidak ada yang mengatakan Mercy merupakan program pemerintah tetapi lebih mengarah pada satu individu atau satu perusahaan besar yang mendominasi.

Tema dan konsep film Mercy ternyata sedikit mengingatkan pada sebuah film dari tahun 2002 berjudul Minority Report. Film yang dibintangi aktor Tom Cruise memiliki kemiripan, ketika karakter utamanya Kapten John Anderton dituduh melakukan kejahatan berat. Dengan teknologi canggih yang ada, dirinya menjadi kebenaran dan bukti melalui bantuan teknologi.

Kemiripan yang bukan untuk dibandingkan tetapi menyimpulkan secara tidak langsung bahwa film Mercy yang dirilis pada tahun 2026 ini menjadi versi upgrade dari banyak aspek filmnya yang lebih modern dan kekinian. Sebuah perubahan yang menyesuaikan perubahan zaman dan teknologi.

Production company: Metro-Goldwyn-Mayer Studios, Atlas Entertainment, Bazelevs Company
Distributor: Sony Pictures Releasing
Cast: Chris Pratt (Det. Chris Raven), Rebecca Ferguson (Judge Maddox), Annabelle Wallis (Nicole Raven), Kylie Rogers (Britt Raven), Kali Reis (Jacqueline “Jaq” Diallo), Chris Sullivan (Rob Nelson), Kenneth Choi (Ray Vale), Rafi Gavron (Holt Charles), Jeff Pierre (Patrick Burke), Tom Rezvan (Governor), etc
Director: Timur Bekmambetov
Screenwriter: Marco van Belle
Producers: Charles Roven, Robert Amidon, Timur Bekmambetov, Majd Nassif
Duration1 hours 40 minutes

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

3 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
webdesign freelancer

wow your article is simply a masterpiece, i like that, keep it up and will be checking for new update. do you post often? you can check the biggest webdesign freelancer in platform in germany called https://webdesignfreelancerfrankfurt.de/ Thank you for your wonderful post

seo freelancer
2 days ago

i enjoy reading your articles, it is simply amazing, you are doing great work, do you post often? i will be checking you out again for your next post. you can check out webdesignagenturnürnberg.de the best webdesign agency in nuremberg Germany

3
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x