ReviewCinemaFilm

Review: Goat, Film Animasi Antropomorfik Yang Relate Untuk Semua Usia

635
×

Review: Goat, Film Animasi Antropomorfik Yang Relate Untuk Semua Usia

Share this article

GOAT menjadi debut manis untuk pebasket NBA Stephen Curry di industri film hollywood sebagai produser dan aktor pengisi suara.

LASAK.iD – Deretan pemain NBA yang masih aktif maupun yang sudah pensiun seperti Kareem Abdul-Jabbar, Michael Jordan, Shaquille O’Neal, LeBron James, hingga Draymond Green pemain dari klub NBA Golden State Warrior sempat mencicipi industri hiburan dengan keterlibatannya pada produksi film. Sebagian besar nama tersebut berperan sebagai dirinya sendiri dengan tema filmnya pun berhubungan langsung dengan olahraga bola basket.

Terbaru, muncul satu nama pebasket NBA lainnya yang juga terjun ke industri film, yaitu Stephen Curry, rekan Draymond Green di klub NBA Golden State Warrior. Berbeda dengan pebasket lainnya, pemain yang bernama asli Wardell Stephen Curry II terlibat dalam film animasi antropomorfik berjudul Goat sebagai salah satu pengisi suara untuk karakter Lenny Williamson (jerapah).

Untuk film pertamanya, pebasket yang akrab disapa Steph Curry ini juga terlibat di balik layar sebagai produser bersama empat nama besar produser film lainnya. Keterlibatan Steph Curry dan pebasket lainnya dalam produksi film sebenarnya masih berkesinambungan dengan profesinya sebagai seorang atlit bola basket.

Ini karena industri olahraga sebenarnya dunia yang bersinggungan langsung dengan industri hiburan. Banyak hal yang berkaitan dengan olahraga terutama ketika para atlit berada di arenanya untuk menunjukkan kemampuan sebenarnya mereka sedang berlakon layaknya aktor untuk menghibur para penggemar. Hanya arenanya saja yang berbeda.

Yang bisa disorot dari film Goat cukup banyak, mulai dari konsep karakter yang diusung kedua penulisnya, Aaron Buchsbaum dan Teddy Riley. Dibandingkan dengan bentuk orang asli, keduanya justru lebih memilih konsep antropomorfik. Bukan sebuah konsep baru, namun dengan anak-anak sebagai target market, tentu ada nilai tambah tersendiri.

Pemilihan hewan atau binatang yang menjadi representatif karakter pun dekat dengan lingkungan anak-anak. Terkecuali beberapa hewan buas, yang dikenal anak-anak melalui buku bacaan, tayangan di televisi, platform digital, atau kunjungan ke tempat-tempat seperti kebun binatang.

Sebut saja, karakter-karakter yang tergabung dalam tim Thorns, seperti Jett Fillmore yang menjadi representatif dari black panther. Ada juga Modo Olachenko yang merupakan komodo dragon atau naga komodo, Olivia Burke (ostrich atau burung unta), Archie Everhardt (black rhinoceros atau badak hitam), dan Lenny Williamson (giraffe atau jerapah). Dan banyak lagi hewan atau binatang yang terlihat dalam filmnya.

Pemilihan hewan sebagai karakter pun tidak asal tunjuk, karena dari karakteristik yang diperlihatkan dalam filmnya memiliki nilai psikologis. Misalnya, pada dua karakternya, Will Harris yang adalah kambing boer. Diketahui di keadaan alam aslinya di Afrika Selatan, kambing boer bisa bertahan dengan lingkungan yang dipenuhi rumput berduri.

Kambing boer mampu bertahan dengan lingkungan yang keras dan mampu menyesuaikan diri. Karakteristik ini yang coba disisipkan pada karakter Will yang digambarkan sebagai kambing boer. Terlebih goat dalam dunia olahraga merupakan julukan untuk atlit luar biasa, salah satunya memiliki pengaruh kuat terhadap orang banyak terutama teman satu tim. Pemilihan yang pas untuk karakter utama filmnya.

Begitu pun dengan Jett Fillmore yang mengambil inspirasi dari black panther. Meski termasuk hewan buas, black panther termasuk kucing yang cantik dan mematikan. Keegoisan pada filmnya pun mengambil kehidupan dari black panther yang cukup individual di alam liar. Bukan bagian dari hewan buas berkelompok.

Termasuk karakter yang berseberangan dengan Will dan Jett atau karakter antagonis dari cerita filmnya. Digambarkan melalui representatif hewan kuda bernama Mane Attraction. Dikenal memiliki kecepatan dan kelincahannya yang dikenal sebagai hewan dengan refleks super cepat. Salah satu hewan peliharaan yang dijaga dan didandani dengan cantik juga rapi. Itulah kenapa di filmnya ada adegan Mane menata rambutnya di salon.

Pada keseluruhan cerita, film Goat masih membawa konsep yang memiliki kemiripan dengan banyak produksi lainnya dalam plot cerita. Menempatkan karakter utama sebagai sosok dengan kemampuan tetapi terpinggirkan karena beberapa atau bahkan hanya karena satu alasan. Dibuat jatuh lalu bangkit bahkan menjadi sosok pahlawan dan berpengaruh.

Ini yang terlihat pada plot cerita dengan karakternya Will. Begitu pun dengan konsep cerita yang menggambarkan sebuah tim, akan ada satu karakter yang memiliki perubahan karakter dari antagonis di awal kemudian menjadi protagonis seiring berjalannya cerita.

Mungkin penulis menyadari bahwa plot cerita tersebut yang paling ringan dan masuk akal untuk bisa diterima market anak-anak. Dipilihnya  Sekaligus membuat fokus anak-anak pada film dipilihlah konsep animasi antropomorfik. Terlepas dari itu, penyajian filmnya yang dibuat menyenangkan menjadikan filmnya bisa dinikmati sejak awal hingga akhir.

Apalagi perusahaan film Sony Pictures memiliki ciri khasnya tersendiri dalam produksinya untuk film animasi. Di mana gerakan dari setiap karakter seperti ada kesan patah-patah walau tidak sepenuhnya dikatakan sebagai stop-motion, karena Sony sendiri lebih cenderung pada teknik CG 3D yang dipadupadankan dengan visual unik 2D. Seolah visual filmnya menjadi gabungan dari teknik-teknik tersebut.

Keunikan dari filmnya yang tidak memberikan kesan yang realistis seperti visual asli justru menjadi hal yang menarik. Begitu pun dengan pembawaan karakter yang seakan menggambarkan dua karakteristik warga Amerika yang terdiri dari orang asli berkulit putih dan warga keturunan yang berkulit gelap (no rasis ya).

Keduanya baik di kehidupan nyata maupun yang selalu digambarkan dalam film memiliki perbedaan yang cukup terlihat, di antaranya gaya berbicara terutama dalam penekanan intonasi kata-kata tertentu. Sehingga penonton masih merasakan kentalnya dua warga asli Amerika yang masih tergambarkan.

Goat yang merupakan animasi antropomorfik tetap mempertahankan sifat alami yang ikonik dari hewan atau binatang yang digambarkan. Misalnya, karakter Will sebagai seekor kambing maupun Jett sebagai black panther yang masih keluarga dari kucing atau kucing besar. Hal itu justru menjadi bagian dari sisi komedi cerita filmnya. Adegan tak terduga dan ditempatkan pula pada adegan yang tidak terduga.

Sisi menarik dari filmnya pun terlihat jelas pada visual filmnya, terutama arena pertandingan yang disebutkan sebagai roarball. Ada arena es, ada arena hutan, ada arena berapi, dan beberapa visual lainnya. Selain membuat perbedaan yang signifikan dengan film animasi antropomorfik lain. Konsep visual sepertinya pun gambaran tentang para karakternya yang merupakan hewan atau binatang di alam.

Sebuah packaging yang menarik, meski sisi haru dari konflik yang dibangun tidak 100 persen membuat terenyuh, tetapi penyampaian cerita dengan segala macam dukungan secara visual dan lainnya membuat filmnya jadi salah satu rekomendasi untuk ditonton bersama keluarga.

Disebutkan film semua umur, namun target market sebenarnya adalah anak-anak, tetapi apa yang disajikan pun terasa pas dan cukup untuk remaja, dewasa, maupun orang lanjut usia. Jadi, bisa datang ke bioskop akhir pekan untuk seru-seruan dengan Will si kambing boer, Jett si macan kumbang, Modo si naga komodo, Olivia si burung unta, Archie si badak hitam, dan Lenny si leher panjang a.k.a jerapah.

Production company: Columbia Pictures, Sony Pictures Releasing
Distributor: Sony Pictures Releasing
Cast: Caleb McLaughlin (Will Harris), Gabrielle Union (Jett Fillmore), Aaron Pierre (Mane Attraction), Nicola Coughlan (Olivia Burke), David Harbour (Archie Everhardt), Nick Kroll (Modo Olachenko), Stephen Curry (Lenny Williamson), Jenifer Lewis (Florence “Flo” Everson), Patton Oswalt (Dennis Cooper), Jelly Roll Mitchell (Grizz), Jennifer Hudson (Louise Harris), Sherry Cola (Hannah), Eduardo Franco (Daryl), Andrew Santino (Chuck), Bobby Lee (Rusty), etc
Director: Tyree Dillihay
Screenplay: Aaron Buchsbaum, Teddy Riley
Producers: Michelle Raimo Kouyate, Erick Peyton, Stephen Curry, Adam Rosenberg, Rodney Rothman
Duration: 1 hours 40 minutes

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

3 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
3
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x