LASAK.iD – Industri hiburan Thailand yang berfokus pada produk film dan sejenisnya selalu memiliki nilai dan rasa untuk menciptakan ketertarikan yang besar di banyak orang. Tak hanya publik di negaranya sendiri tetapi hampir menjangkau banyak negara di dunia, mulai dari asia, eropa, bahkan amerika (terutama bagian selatan).
Indonesia menjadi salah satu negara yang masif sebagai penikmat produksi Thailand, mulai dari film hingga series. Selain daya tarik bahasanya yang dinilai unik secara pengucapannya. Hal menyangkut cerita, seperti plot, alur, tema, hingga konsep yang ditawarkan film maker Thailand jarang ditemui dalam produksi di tanah air.
Bahkan dalam genre yang sama seperti drama, pendekatan yang dilakukan penulis Thailand memiliki kekhasan yang membuat film atau series memiliki daya tarik yang kuat. Salah satunya bisa dilihat dalam film drama berjudul Gohan. Sebuah film yang mengajak penikmat film mengikuti perjalanan dari seekor anjing putih dari ras Samoyed selama 3 fase kehidupannya.
Di mulai dari masa kecil sang anjing yang harus menjalani kehidupan di jalan. Suatu hari yang memang menjadi takdirnya, anjing putih lucu tersebut bertemu dengan seorang kakek Jepang yang kebetulan bekerja untuk perusahaan asal negaranya yang ada di Thailand. Ikatan yang semakin mendalam membuat sang kakek yang diketahui bernama Hiro memutuskan mengadopsinya.
Kakek Hiro memberikan nama Gohan yang artinya nasi putih karena sesuai dengan warna identik dari anjing tersebut. Meski sempat ingin memberikannya kepada orang lain untuk dirawat karena Kakek Hiro harus kembali ke Jepang. Ternyata, ikatan kuat yang terjalin di antara keduanya sulit diputus, membuat sang kakek memutuskan menetap dan kembali hidup bersama Gohan.
Keduanya menjalani hidup bahagia selama beberapa tahun hingga Gohan tumbuh menjadi anjing dewasa. Sayang, covid yang sempat melanda dunia termasuk Thailand membuat Kakek Hiro kehilangan nyawa. Rasa kehilangan terlihat dari sorot mata, ekspresi, dan gonggongan Gohan.
Keadaan yang dimanfaatkan segelintir orang untuk mendapat simpati dari publik, seperti yang dilakukan Goong. Diketahui Goong memiliki penampungan anjing yang berjalan tidak semestinya mencoba menculik dan memanfaatkan keadaan Gohan untuk mencari donasi mengatasnamakan kepedulian.
Goong dibantu seorang pekerjanya bernama Namcha yang berasal dari Vietnam. Namcha ada rasa keterpaksaan melakukan hal tersebut, namun apa daya jika mengingat surat izin bekerja di Thailand ternyata masih ditahan oleh Goong. Seiring berjalannya waktu dan melihat yang dilakukan bosnya, Namcha bertaruh banyak hal dengan membebaskan para anjing termasuk Gohan.
Lagi-lagi, ikatan terjalin walau dalam waktu yang relatif singkat, yang kali ini dengan penjaga dan pengasuhnya, Namcha. Hal ini yang membuat satu sama lain tidak ingin berpisah, meski Namcha sudah meminta Gohan untuk melarikan diri. Selama pelarian Namcha dan Gohan harus menjalani kehidupan yang tanpa arah.
Merasa punya ikatan baru, Gohan pun lebih memilih untuk dipanggil dengan nama barunya Brownie yang diberikan oleh Namcha. Meski begitu, bahaya masih belum lepas dari keduanya. Namcha kembali mengambil keputusan berani dengan melaporkan Goong kepada pihak berwajib dengan risiko ia pun akan dideportasi dari Thailand.
Di sisi lain, Namcha pun harus melepas Brownie untuk jauh dari Bangkok dengan cara meninggalkan dalam kereta. Ia tetap berdoa untuk Brownie bsa bertemu dengan orang baik yang akan merawatnya penuh kasih sayang. Brownie akhirnya sampai di sebuah daerah yang menjadi ujung perjalanan dari kereta.
Brownie yang merasa asing dengan orang dan daerah tersebut memutuskan untuk tetap berada di sekitar stasiun kereta berharap sahabatnya Namcha akan muncul. Kenyataan yang tidak dipahami Brownie bahwa hal itu tak akan pernah terjadi. Brownie yang selalu berada di stasiun sebenarnya cukup mendapat perhatian dari pengguna kereta dan orang yang tinggal disekitaran.
Di antaranya, datang dari pasangan muda-mudi bernama Pelé dan Jaidee. Keduanya merupakan mahasiswa dari kampus yang berada tak jauh dari stasiun. Kegiatan dari Pelé, Jaidee, dan teman-temannya pun sering dilakukan di sekitar stasiun yang membuat mereka akan selalu bertemu dengan Brownie.
Hal tersebut berjalan cukup lama, di mulai sejak Brownie berusia remaja dan kini memasuki usia senja. Brownie bahkan menjadi saksi kisah kebersamaan dan perpisahan dari Pelé dan Jaidee sebagai kekasih maupun sebagai mahasiswa. Brownie bahkan telah menjadi bagian dari para mahasiswa untuk setiap momennya, bahkan diberikan nama baru sebagai Hima.
Setiap harinya Hima tidak kekurangan perhatian dan makanan, namun pola dan tempatnya tinggal tidak menjadi jaminan keadaannya akan baik-baik saja. Benar saja, Brownie dinyatakan memiliki masalah kesehatan yang serius dan dipastikan hanya memiliki waktu selama 3 bulan.
Pelé dan Jaidee yang merasa kasihan jika harus meninggalkan Hima di stasiun, memutuskan untuk merawatnya bersama. Keduanya pun memutuskan kembali di atap yang sama. Untuk Pelé, momen ini dimanfaatkan untuk memperbaiki hubungannnya dengan Jaidee yang sempat merenggang.
Hal tersebut ternyata tidak seindah bayangan Pelé, meski selama kebersamaan mereka merawat Hima, rasa sayang di masa lalu kembali muncul dalam hati Jaidee. Perasaan yang tidak mungkin dilanjutkan Jaidee karena ia telah memiliki kekasih dan ingin melanjutkan kehidupan yang baru. Pada akhirnya hanya Pelé yang melanjutkan merawat Hima dan merayakan sisa waktunya setiap bulan.
Ternyata, persahabatan di antara keduanya mengubah satu sama lain menjadi sesuatu yang baik. Pelé yang sempat terlunta-lunta karena tidak memiliki masa depan kembali menemukan gairah untuk maju ke depan. Keajaiban hubungan yang tulus akhirnya membuat Hima memiliki waktu yang lebih lama untuk menikmati kebersamaannya dengan Pelé hingga setahun lamanya.
Proses Hima/Brownie/Gohan dalam menjalani beberapa fase kehidupan dengan orang yang berbeda memberikan rasa kebahagiaan yang juga berbeda. Di mulai dari fase kehidupan bersama mendiang Kakek Hiro sebagai Gohan kecil, lalu fase kehidupan bersama Namcha sebagai Brownie dewasa, kemudian fase kehidupan bersama Pelé dan Jaidee sebagai Hima tua.
Review
Studio film GDH 559 pada 2024 lalu melalui film How to Make Millions Before Grandma Dies sukses menyentuh perasaan penikmat film. Melalui kisah yang menggambarkan sebuah hubungan mendalam antara nenek yang mengidap kanker stadium lanjut dengan cucu laki-lakinya.
Kisah sederhana yang menggambarkan kepingan kecil dari kehidupan sebuah keluarga di Thailand. Sajiannya pun dibuat sederhana dengan kesan kuat sebagai gambaran real time, bukan sebuah flow yang dibuat dengan dramatisasi dan kompleksitas yang berat. Konsep yang terbukti jitu untuk menghadirkan cerita yang ditangkap secara mendalam oleh penikmat film.
Studio film GDH 559 melakukannya kembali di tahun 2026 dengan filmnya berjudul Gohan melalui penulis yang sama, yaitu Thodsapon Thiptinnakorn. Thodsapon Thiptinnakorn menciptakan rasa yang sama untuk vibes dan ambience filmnya tetapi dilakukan berbeda dalam pendekatannya pada konsep dan tema.
Kali ini, Thodsapon Thiptinnakorn menciptakan emosi cerita dari sudut pandang seekor anjing Samoyed melalui tiga fase perjalanan kehidupan serta hubungannya dengan manusia. Menilik secara utuh cerita, emosi yang tertangkap ternyata tidak sepenuhnya hadir dari karakter anjing, yang dimulai dari fase Gohan, Brownie, hingga Hima.
Sisi problematika dari deretan karakter manusianya pun cukup menghadirkan rasa yang mendalam. Penulis Thodsapon Thiptinnakorn membuat dua sisi karakter yang berbeda ini memiliki porsinya tersendiri, mungkin bisa dikatakan cukup imbang. Thodsapon Thiptinnakorn punya intuisi kapan membuat penikmat film menjadi emosional di karakter anjing dan kapan di karakter manusia.
Diperkuat dengan chemistry yang terbangun antar karakter, mengingat anjing Samoyed yang dihadirkan menyesuaikan setiap fase kehidupan. Bahkan rasa yang sama cukup terjaga dengan baik meski anjing yang dihadirkan berbeda-beda. Hal ini yang mungkin berpotensi menjadi plot hole justru tersamarkan dengan baik.
Terkait plot filmnya mencoba se-real time mungkin dengan kehidupan nyata ini yang membuatnya sedikit lambat dari biasanya film bergenre drama. Ada momen konektivitas antar adegan yang ditunggu-tunggu tetapi ada ada pula yang terjadi sebaliknya karena munculnya rasa hambar yang sedikit membuat rasa kantuk.
Begitu pun dengan emosi yang terbangun dari cerita filmnya. Kesan mendalam untuk membuat penikmat film terenyuh memang dirasakan tetapi tidak sepenuhnya membuat air mata keluar atau lebih kepada momen berkaca-kaca. Hal ini sepertinya masih besar kaitannya dengan cerita yang dibuat dengan se-real time dengan kehidupan nyata bukan sebuah drama yang penuh dramatisasi dan kompleksitas yang berat.
Film Gohan bisa disimpulkan menjadi film yang memberikan kesan ganda untuk banyak penikmat film. Film dengan cerita sederhana tetapi di saat bersamaan ada kesan ceritanya memiliki kompleksitas yang kuat. Ada juga perasaan bahwa filmnya menawarkan cerita sederhana dengan kompleksitas yang juga terbilang ringan.
Production company: BASK
Distributor: GDH 559
Cast: Kitachima Yasushi (Hiro), Poe Mamhe Thar (Namcha), Jinjett Wattanasin (Pelé), Tontawan Tantivejakul (Jaidee), Chartchai Chinsri (Paitoon), Nopphand Boonyai (Goong), Gohan: Hima (Hima), Meechok/Lucky (Brownie), Kori (Gohan), Jarinporn Joonkiat (Meaow), Ryota Omi (Sawada), etc
Director: Chayanop Boonprakob, Nattawut Poonpiriya, Atta Hemwadee
Screenplay: Thodsapon Thiptinnakorn, Sopana Chaowiwatkul
Producers: Vanridee Pongsittisak, Baz Poonpiriya
Duration: 2 hours 21 minutes






