LASAK.iD – Film bertema apokaliptik (kiamat) memiliki ragam turunan dalam cerita dengan benang merahnya masing-masing. Ada yang mengangkat kehancuran karena zombie, bencana nuklir, krisis sumber daya, alam bahkan luar angkasa yang merujuk pada meteor, komet dan jenis bintang lainnya di angkasa luar.
Satu di antara tema atau genre menarik karena menggabungkan ilmu pengetahuan secara harfiah dengan cerita fiksi sebagai benang merah sekaligus bagian dari sisi entertainment. Belakangan, rumah produksi cukup sering mengangkat tema ini pada apokaliptik karena zombie.
Tak sedikit pula yang mengambil tema dari banyaknya pemberitaan, buku hingga karya ilmiah mengenai teori apokaliptik yang berhubungan dengan alam semesta terutama kehancuran akibat meteor, asteroid atau komet. Deretan judul film yang cukup melekat dengan tema tersebut, seperti Armageddon (1998), Deep Impact (1998), Moonfall (2022), The Wandering Earth (2019) hingga Greenland (2020).
Kebanyakan dari judul tersebut hadir sebagai film sekali produksi atau bukan menjadi proyek waralaba. Sejauh ini, Greenland yang memiliki kelanjutan ceritanya. Meski berselang hampir 5 tahun setelah film pertamanya, kehadiran dari film kedua yang berjudul Greenland 2: Migration menjadi penyegaran film tema apokaliptik yang belakangan lebih pada fiksi seperti zombie dan alien.
Hadir sebagai sekuel, Greenland 2: Migration melanjutkan kehidupan umat manusia di Bumi setelah kejadian komet antarbintang yang dijuluki sebagai Clarke menghantam Bumi. Hantaman keras yang mampu menghancurkan semua kehidupan dalam jangkauan yang sangat luas.
Kondisi yang memaksa semua negara mengungsikan sebagian besar penduduknya termasuk keluarga John Garrity ke dalam bungker bernama Greenland. Hidup hampir selama 5 tahun di dalam bungker tetap memiliki risiko yang juga tidak kecil, terutama pemenuhan kebutuhan harian untuk ribuan atau bahkan jutaan orang.
Segala upaya dilakukan dengan melakukan penelitian dan mencari solusi dengan keluar dari bungker, namun tidak banyak hal ditemukan. Justru ancaman nyata terbentang di lokasi bungker Greenland, berupa lahar yang siap menerjang setiap waktu, badai radiasi hingga fenomena seismik alami berupa gempa tektonik karena pergeseran lempeng di dalam Bumi.
Hal yang ditakutkan pun terjadi, fenomena seismik menguncang bahkan mengubur lebih dalam bunker Greenland karena gempa tektonik yang cukup besar. Kejadian yang memaksa semua orang menjadi jalan keluar dan alternatif kehidupan dengan menggunakan sekoci keselamatan dengan menyebrangi lautan hingga samudera.
John Garrity bersama istri dan anaknya berhasil selamat menaiki sekoci bersama beberapa petinggi Greenland dan penduduk lainnya. Mereka berhasil mencapai eropa tepatnya di London, United Kingdom. Semuanya tetap tidak berjalan baik karena penduduk di eropa jauh lebih mencekam. Perang antar warga maupun dengan aparat terjadi hampir di seluruh bagian benua.
Tujuan John Garrity dan orang lainnya yang turut selamat dari Greenland cukup jelas. Mereka ingin membuktikan teori dari salah satu petinggi yang merupakan ilmuwan dan sahabat bernama Dr. Casey. Ia berpendapat bahwa kawah dan keadaan sekitar kawah yang disebabkan Clarke justru menjadi peluang besar penduduk Bumi untuk memulai kehidupan baru.
Hal ini bukan tanpa dasar, secara science material yang dibawa oleh benda angkasa luar memiliki senyawa yang justru memberikan nutrisi baik untuk tanah di Bumi. Keyakinan yang terus dipegang oleh keluarga Garrity dan mereka yang memiliki harapan besar. Mencapai lokasi dari kawah bukan hal mudah untuk mereka.
Tak hanya tantangan dan bahaya karena berbagai fenomena alam dan fragmen komet yang masih mungkin terjadi, tetapi juga para penduduk Bumi yang ternyata berubah menjadi pemberontak hanya demi secuil makanan dan minuman yang memang sangat langka. Betul saja, satu per satu kenalan mereka mati karena serangan dari pemberontak.
John Garrity dan keluarga kecilnya sempat merasa putus asa tentang tujuannya, namun secercah harapan datang dari seorang pria asal Prancis bernama Denis Laurent yang memiliki kenalan di lingkup militer untuk bisa membantu John Garrity dan keluarga mencapai kawah.
Pertemuan yang juga menjadi harapan untuk Denis Laurent memberikan kehidupan yang layak untuk keluarganya terutama sang putri, Camille. Perjuangan berat yang pada akhirnya memberikan kehidupan yang baru setelah rangkaian peristiwa yang memilukan. Sayangnya, kebahagiaan yang tidak bisa dirasakan sepenuhnya oleh John.
Selain penyakit yang disebabkan radiasi yang didapatkannya selama melakukan pekerjaan diluar bungker, John harus kehilangan nyawa lebih awal karena luka tembakan saat mencoba melumpuhkan para pemberontak yang ingin membajak bus yang mereka tumpangi untuk mencapai kawah.
Pengorbanan mahal yang tentu akan dimanfaatkan dengan baik oleh Allison, Nathan serta Camille dengan bersiap dengan kehidupan baru di kawah. Dengan segala sumber daya yang dibutuhkan umat manusia selama kurang lebih 5 tahun pasca peristiwa jatuhnya komet antarbintang yang dijuluki Clarke.
Review
Film dengan tema apokaliptik hampir selalu memiliki pola dan alur yang hampir serupa. Di mulai dengan penggambaran kehidupan Bumi yang baik-baik saja, konflik pasca terjadinya fenomena hingga penyelesaian dengan menantang keadaan untuk mencari kehidupan yang lebih baik.
Pola yang sebenarnya terus berulang sejak film dengan tema atau genre apokaliptik muncul pertama kali sekitar tahun 1916. Pembeda yang jelas didapatkan pada penulis yang membangun plot cerita, bukan cerita biasa dan seadanya tetapi ada sisi yang memang menggugah sisi dari penikmat film ketika menonton.
Hal yang tentu harus didukung dari apa yang dilakukan sutradara dalam merepresentasikannya cerita tulisan ke dalam adegan, tak hanya visual yang menarik tetapi sajian akting dari para aktornya. Greenland memang tidak 100 persen memberikan kepuasaan penikmat film untuk film bertemakan apokaliptik.
Terlebih untuk film kedua, fokus cerita masih pada sisi manusia dengan lebih spesifik tentang bertahan hidup. Visualisasi kerusakan akibat Clarke masih ditampilkan sebagai penguat sisi lain cerita untuk tetap menyentuh rasa iba dan empati di penikmat film. Ini yang mungkin menjadi alasan cerita kali ini dari penulis Chris Sparling bersama Mitchell LaFortune lebih besar pada sentuhan yang lebih manusiawi.
Sajian dengan sentuhan yang manusiawi di film Greenland memang bukan hal baru maupun pertama kalinya. Namun, menilik banyak film dari rilisan sebelumnya, film dengan tema serupa seringnya menonjolkan sisi karakter utama untuk diarahkan menjadi big hero atau pahlawan besar.
Kedua sisi tetap berjalan beriringan tetapi sisi kepahlawanan biasanya sedikit lebih menonjol. Menilik lebih dalam, sisi manusiawi yang tetap dipertahankan kadang tertangkap di penikmat film menjadi bagian dari karakter untuk menjaganya tetap terlihat waras dan masuk akal.
Sedangkan, Chris Sparling dan Mitchell LaFortune di film Greenland menggambarkannya secara terbalik melalui karakter John dan keluarganya. Sehingga sisi manusiawi untuk lebih menggugah rasa iba dan empati jauh lebih dirasakan penikmat film. Itulah alasan ekspresi yang ditunjukkan penonton sedikit berbeda ketika menonton film Greenland.
Tak hanya pada karakter tetapi pada alur dan konflik yang terbangun dari film keduanya, Greenland 2: Migration. Fokus besar dari konflik bertahan hidup tidak terpusat pada satu hal karena Clarke, tetapi dari sisi manusia lainnya yang ingin bertahan hidup. Sehingga konflik semakin melebar tetapi mencoba lebih kompleks.
Berawal dari bertahan di dalam bungker menjadi bertahan hidup di dunia luar dengan tetap mencari solusi terbarukan untuk kehidupan baru. Untuk itu, semua karakter seakan hadir sebagai antagonis dengan menjadi penjahat, perampok dan pemberontak demi secuil makanan dan minuman.
Tak heran, perubahan alur dan plot ceritanya ini membuat penikmat film tidak memiliki jeda panjang untuk mengistirahatkan mata. Sisi drama yang menjadi momen cooling down pada cerita yang memiliki durasi yang sedikit lebih panjang hanya di beberapa bagian cerita. Selebihnya, adegan bertahan hidup keluarga Garrity dan Camille dari manusia lainnya melalui adegan baku tembak.
Saking tidak banyaknya jeda, mungkin kata-kata seperti “belum selesai ternyata” keluar dari sebagian penikmat film. Hal ini pun menjadi masuk akal mengingat genre pendamping dari filmnya, adalah adventure-survival-disaster.
Untuk sisi tampilan secara sinematografi, baik itu dari warna, visual maupun special effect filmnya sebenarnya cukup template, seperti kebanyakan film dengan tema apokaliptik. Pada warna filmnya sendiri, ada beberapa warna yang terlihat digunakan untuk menandakan emosi yang terjadi pada adegan-adegan tertentu.
Momen hangat dan haru, filmnya terlihat menggunakan warna yang lebih kalem dan lembut. Ada juga warna yang sedikit lebih gelap untuk menggambarkan suasana yang tegang bahkan sedikit mencekam.
Singkatnya, film sekuel dari Greenland dengan judul Greenland 2: Migration masih cukup template dengan kebanyakan film dengan tema, konsep dan genre yang serupa. Sisi humanity (manusiawi) yang lebih ditonjolkan penulis menjadi poin besar dan kekuatan dari film sekuel-nya.
Untuk pecinta film dengan tema apokaliptik yang berfokus pada science (ilmu pengetahuan), film ini cukup menjadi hiburan karena di kehidupan nyata, teori kehancuran dunia (Bumi) memang jelas adanya. Meski di film sekuel-nya, adegan dan dialog yang mempertegas pada hal tersebut hanya sedikit di awal, tengah, dan akhir cerita. Seperti dijelaskan sebelumnya, kali ini lebih menonjolkan sisi bertahan hidup kedua kalinya ketika berada di luar bungker.
Production company: STX Films, Anton, Thunder Road Films, G-BASE Film Production
Distributor: Lionsgate
Cast: Gerard Butler (John Garrity), Morena Baccarin (Allison Garrity), Roman Griffin Davis (Nathan Garrity), Amber Rose Revah (Dr. Casey Amina), Gordon Alexander (Lieutenant Blake), Peter Polycarpou (Dr. Haugen), William Abadie (Denis Laurent), Tommie Earl Jenkins (General Sharpe), Trond Fausa Aurvåg (Adam Shaw), Rachael Evelyn (Kerri Holt), Sidsel Siem Koch (Pia), Alex Lanipekun (Riley Watson), Nathan Wiley (Major Green), etc
Director: Ric Roman Waugh
Screenwriter: Mitchell LaFortune, Chris Sparling
Producers: Basil Iwanyk, Erica Lee, Sébastien Raybaud, John Zois, Gerard Butler, Alan Siegel, Ric Roman Waugh, Brendon Boyea
Duration: 1 hours 38 minutes






