The Kid Who Would Be King Bangkitkan Legenda Arthur Melalui Sosok Remaja Modern
Film

The Kid Who Would Be King Bangkitkan Legenda Arthur Melalui Sosok Remaja Modern 

205h Century FOX (dok/ https://www.youtube.com/watch?v=DJ-n6BW2cDs&feature=youtu.be)

LASAK.ID – Rumah produksi asal Amerika, 20th Century Fox sudah mengambil ancang-ancang untuk kembali masuk peta persaingan film dunia di tahun 2019 mendatang. Sebagai awal untuk mengalihkan pandangan penonton ke mereka, film dengan genre petualangan fantasi yang menyajikan sinematografi dan efek visual epik jadi pilihan.

Film berjudul The Kids Who Would Be King secara resmi merilis trailer di kanal YouTube 20th Century Fox Indonesia mulai Rabu (17/10/2018) lalu. Trailer berdurasi kurang lebih 2 menit 25 detik tersebut benar-benar menampilkan potongan adegan yang membuat siapa saja penasaran seperti apa film ini di tahun 2019 mendatang.

Untuk filmnya kali ini Century Fox berfokus pada anak remaja sebagai peran protagonis atau peran utama. Melihat trailer tersebut, sutradara Joe Cornish mengajak penonton flash back ke zaman kerajaan yang dipimpin oleh Raja Arthur yang hidup di awal abad  ke-5 hingga awal abad ke-6. Bukan dengan set kembali ke zaman kerajaan di Inggris melainkan bangkitnya pasukan King Arthur seperti zombie.

Alexander Elliot

Hal ini dimulai sejak remaja laki-laki bernama Alexander Elliot mencoba menyelamatkan Bedders dari gangguan anak lainnya, Lance dan Kaye di sekolahnya, Dungate. Dianggap sok pahlawan, Alex mulai menjadi sasaran baru bagi mereka berdua. Hingga pada suatu malam Alex harus berlari dari kejaran Lance dan Kaye yang memaksanya masuk ke dalam reruntuhan gedung tua Inggris. Saat itu Alex melihat sebuah Excalibur “Pedang di Batu”. Merasa penasaran dan tidak berpikir panjang, Alex mencabut pedang tersebut.

Alex membawa pedang tersebut ke rumah dan mencoba mencari tahu dengan bantuan dari  sahabatnya, Bedders. Saat itu mereka menemukan sebuah tulisan yang terukir pada gagang pedang. Penasaran keduanya mencoba mengartikan tulisan “Gladius arturi filius tintageli” dengan bantuan google, yang ternyata memiliki arti “The sword of Arthur, the son of Tintagel”. Merasa Arthur hanya sebuah legenda berabad-abad lalu, mereka menganggapnya sebuah lelucon saja.

Seperti sebuah alarm peringatan, hal-hal aneh mulai bermunculan dalam kehidupan Alex. Salah satunya adalah Merlin seorang legenda penyihir ulung yang hidup pada masa Arthur. Untuk menyesuaikan, Merlin datang ke dunia saat ini dengan wujud anak remaja laki-laki dengan tingkahnya yang lucu, bijaksana tetapi juga tetap luar biasa.

Namun di film The Kid Who Would Be King, sosok Merlin tidak hanya dimunculkan dengan karakter seorang remaja namun juga dengan karakter yang lebih tua. Selain itu, Merlin juga digambarkan sebagai seorang shapeshifter yang memiliki kemampuan merubah diri menjadi berbagai macam hewan. Kemunculannya sudah pasti memiliki tujuan, yang sudah pasti untuk memperingatkan Alex akan bahaya besar yang mengancam dunianya saat ini.

Bahaya besar yang pastinya terjadi setelah pedang tersebut tercabut adalah bangkitnya Morgana, yang tidak lain saudara tiri dari Arthur dan seorang penyihir dengan ilmu hitam. Bangkitnya Morgana mengingatkan legenda tentangnya yang memiliki hasrat untuk menguasai seluruh tanah Inggris dan dunia di masa lalu. Dengan ilmu hitamnya, Morgana bisa membangkitkan kembali prajuritnya yang terkubur berabad-abad lamanya di dalam tanah. Wujud yang lebih seram dengan lava di seluruh tubuh, bangkitnya prajurit Morgana untuk menguasai Excilabur dan tanah Inggris yang tidak pernah Morgana rasakan di masa lampau.

Saat mengetahui bahaya apa yang dihadapi, Alex merasa tidak akan sanggup menghadapinya terlebih dirinya yang baru berumur 12 tahun. Namun dukungan dari orang terdekatnya, Alex melanjutkan perjuangan itu dengan bantuan dari Merlin, kepala sekolah serta dua remaja yang sebelumnya sempat mengincarnya, Lance dan Kaye.

Layaknya pejuang di masa terdahulu, keempat ksatria ini mengulang kembali akan memori Arthur dan koleganya dalam menyusun rencana di sebuah meja bundar. Melihat kenyataan mereka tidak akan menang dengan kekuatan seadanya, akhirnya membentuk pasukan dari semua siswa sekolah mereka, Dungate untuk melawan tentara ksatria zombie milik Morgana.

Pastinya penasaran dengan film terbaru dari 20th Century Fox yang di sutradarai Joe Cornish yang mengangkat cerita abad pertengahan dan dipadukan dengan abad modern saat ini? Namun penonton musti sedikit bersabar karena film petualangan fantasi The Kid Who Would Be King baru akan mampir di bioskop tanah air pada Februari tahun 2019 mendatang. (Sarah)

Komentarlah yang bijak

Related posts