Review: Top Gun: Maverick Kembalinya Pilot Ikonik
Review

Review: Top Gun: Maverick Kembalinya Pilot Ikonik 


LASAK.iD – Kalian penggemar aktor Tom Cruise? Atau menyukai film yang dibintangi sang aktor? Atau justru keduanya? Jika iya, kalian pasti dengan antusias menantikan momen film terbaru yang dibintangi sang aktor tayang di bioskop.

Sebelum melihat Tom Cruise kembali menjadi mata-mata, kita tonton dulu sang aktor dengan karakter ikonik lainnya yang seorang pilot pesawat tempur. Clue yang sudah sangat jelas, tentu dengan mudah mengingat jelas judul film satu ini.

Yap, Cruise bangkitkan kembali memori karakter Pete “Maverick” Mitchell, pilot pesawat tempur angkatan laut dari film sukses di tahun 1986 berjudul Top Gun. Film ini jawaban atas penantian kembalinya Maverick ke layar perak setelah 36 tahun lamanya. Dari penggemar film tersebut juga Cruise sebagai pemain.

Selain kembali pada perannya sebagai Maverick, Tom Cruise juga bergabung dalam jajaran produser. Itulah yang membuat film ini bukanlah sebuah reboot apalagi remake, namun benar-benar sebuah sekuel yang dipersiapkan oleh Tom Cruise sejak 2018 silam.

Kisah Lanjutan Maverick dan Goose

Pada cerita yang dibuat lebih kompleks, Top Gun: Maverick pun seperti kebanyakan sekuel, unsur baru tentu menjadi tajuk utama agar tidak terjebak dengan cerita sebelumnya. Namun juga tidak meninggalkan unsur lama untuk pembangkit memori sebagai unsur keterkaitan.

Itulah kenapa filmnya saat ini mengambil satu bagian dari cerita terdahulu yang mengena dengan karakter utamanya, Maverick yang kemudian dikembangkan menjadi cerita baru yang menarik, juga sekaligus menjadi benang merah filmnya.

Keterkaitan antara Maverick dengan rasa bersalahnya kepada Goose (Anthony Edwards), rekannya yang mati saat menjalankan misi. Kisahnya kemudian bersambung ketika Maverick dipanggil kembali oleh angkatan untuk menjadi instruktur. Memilih dan melatih pilot terbaik dari yang terbaik untuk sebuah misi rahasia nan berbahaya.

Saat itu, dia melihat nama dan wajah yang tidak asing Bradley Bradshaw (Miles Teller) dewasa atau dijuluki Rooster menjadi salah satu kandidat. Di sinilah konflik berkecambung, dua hal berbenturan di batin Maverick. Tetap bersikap profesional atau terbawa perasaan akan trauma, kesedihan dan rasa bersalah setiap melihat wajah Rooster.

Penyelesaian konflik batin Maverick terjawab lewat karakter Rooster. Untuk tahu jawabannya, nonton filmnya yang sedang tayang di bioskop.

Top Gun: Maverick Tawarkan 2 Sisi

Sebagai sekuel tentu akan banyak hal di upgrade penulis, baik itu alur cerita maupun pemain. Meski begitu, ada penulis yang total ingin menciptakan dunia baru dengan membuat sekuel-nya bisa berdiri sendiri. Ada juga penulis yang membuatnya masih berkesinambungan satu sama lain, sehingga harus menonton film terdahulu.

Top Gun: Maverick seperti berada di keduanya, satu sisi penonton terbawa alur cerita yang diciptakan penulis. Khususnya untuk penonton saat ini melihatnya sebagai sebuah dunia baru dari Top Gun. Tanpa embel-embel cerita film pertamanya di tahun 1986.

Di sisi lain, potongan-potongan dari filmnya di tahun 1986, secara tidak langsung membawa kesinambungan dengan film pertamanya. Akhirnya memunculkan rasa penasaran di penonton tentang Top Gun itu sendiri, keterkaitan karakter Maverick dengan Goose, Rooster juga Penny (Jennifer Connelly) dan hal-hal lainnya lagi.

Akhirnya mendorong mindset di penonton untuk juga menonton film terdahulu. Sekedar untuk menemukan jawaban atas rasa penasaran. Terlepas dari dua sisi tersebut, Top Gun: Maverick bisa menjadi pilihan tontonan dengan sajian yang menarik.

Wajah Lama

Sebuah sekuel rasanya kurang afdol jika tidak membuat penonton bersorak-sorai karena mengingat film sebelumnya. Suasana yang diciptakan film Top Gun: Maverick ketika wajah lama dari 36 tahun lalu, yaitu Iceman (Val Kilmer) dihadirkan di tengah film.

Sebagai informasi, Iceman merupakan saingan Maverick di Top Gun atau film pertamanya tahun 1986. Sebelum akhirnya bersahabat, keduanya sempat bersitegang untuk bersaing menjadi pilot terbaik. Kemunculan yang singkat hanya 1 scene namun mampu memecah keheningan di antara penonton. Semacam nostalgia yang tergambar dari pertemuan keduanya.

Kisah keduanya di masa lalu di tempat yang sama yaitu Top Gun kembali diulang penulis. Kali ini tergambar dari karakter-karakter baru, terutama antara karakter Bradley “Rooster” Bradshaw dengan Jake “Hangman” Seresin (Glen Powell).

Bumbu Cinta

Meski sebuah film aksi, nuansa romansa sepertinya menjadi wajib hadir di hampir setiap genre film. Tak hanya bagian dari skenario tetapi romansa yang dihadirkan mampu mengendurkan otot atau sekedar mencairkan suasana setelah aksi menegangkan di genre tertentu.

Pada film Top Gun, karakter Pete “Maverick” Mitchell sebagai pilot dari angkatan laut memiliki pesona sebagai pria berseragam. Pesona yang mampu memikat instruktur wanita dari Top Gun bernama Charlie dari filmnya di 1986 yang saat itu diperankan Kelly McGillis.

Untuk yang terbaru Top Gun: Maverick seakan mengulang cinta dengan orang yang dikenal Maverick, dengan jatuh cinta lagi dengan Penny (Jennifer Connelly). Pemilik bar di Pulau Utara yang ternyata memiliki sebuah romansa di masa lalu dengan Maverick.

Ini menjadi cinta baru yang membuat Maverick mampu melewati pergejolakan batin karena bayang-bayang sahabatnya Goose dan memiliki tempat untuk kembali pulang ke rumah.

Next Level

Jika diibaratkan sebuah video game, filmnya saat ini menjadi level berikutnya dari Top Gun. Ehren Kruger, Eric Warren Singer dan Christopher McQuarrie yang menjadi penulis sekuel-nya mengikuti perubahan waktu yang berjalan selama 36 tahun.

Satu per satu terlihat perubahan atau berada di level berbeda. Satu di antaranya alur cerita yang ditawarkan jauh lebih kompleks dibandingkan film pertamanya. Tentang berbagai rasa yang ditampilkan Maverick sebagai karakter utama dan karakter pendukung lainnya. Keberhasilan yang mampu menciptakan dinamika rasa yang turun naik di penonton.

Seperti pada game perang, akan ada momen ketika seorang player mendapatkan upgrade kekuatan. Ini juga yang tergambar pada Top Gun: Maverick,  ketika Maverick ditantang sampai titik maksimalnya untuk melatih pilot terbaik dari yang terbaik untuk menjalankan misi rahasia dengan level yang lebih berbahaya.

Juga digambarkan dengan teknologi yang digunakan, terutama jenis pesawat tempur yang digunakan untuk menjalankan misi. Tentu menjadi next level dari misi terakhir dari seorang Maverick.

Sensasi Seperti Bermain Video Games

Top Gun: Maverick sejak awal melanjutkan kisah Maverick di masa kini yang masih berkaitan dengan pilot. Tentu hal mengendarai pesawat tempur menjadi tajuk utamanya. Apalagi Maverick kali ini menjadi instruktur Top Gun untuk mengajarkan pilot muda untuk sebuah misi.

Selain next level yang berada dalam filmnya, next level pada sisi produksi pun terlihat, khususnya pada sisi sinematografi. Sutradara Joseph Kosinski membuat setiap angle pada setiap scene pesawat tempur membawa sensasi seperti bermain video game.

Dengan menempatkan angle yang tepat seakan penonton yang menjadi pilot. Untuk merasakan sensasi terbang memutar, rasa deg-degan ketika terjadi aksi kejar-kejaran dan baku tembak dengan pesawat tempur musuh.

Tentu menjadi sensasi juga pengalaman tersendiri untuk penonton saat menyaksikan Tom Cruise di sekuel, Top Gun: Maverick.

Production company: Skydance, Jerry Bruckheimer Films, Don Simpson/ Jerry Bruckheimer Production
Distributor: Paramount Pictures
Cast: Tom Cruise (Pete “Maverick” Mitchell), Miles Teller (Bradley “Rooster” Bradshaw), Jennifer Connelly (Penny), Jon Hamm (Beau “Cyclone” Simpson), Glen Powell (Jake “Hangman” Seresin), Lewis Pullman (Robert “Bob” Floyd), Charles Parnell (Solomon “Warlock” Bates), Bashir Salahuddin (Bernie “Hondo” Coleman), Monica Barbaro (Natasha “Phoenix” Trace), Jay Ellis (Reuben “Payback” Fitch), Danny Ramirez (Mickey “Fanboy” Garcia), Greg Tarzan Davis (Javy “Coyote” Machado), Ed Harris (Chester “Hammer” Cain), Val Kilmer (Tom “Iceman” Kazansky), etc
Director: Joseph Kosinski
Screenplay: Ehren Kruger, Eric Warren Singer, Christopher McQuarrie
Producers: Jason Blum, Akiva GoldsmanJerry Bruckheimer, Tom Cruise, Christopher McQuarrie, David Ellison
Duration: 2 hours 11 minutes

Komentarlah yang bijak

Related posts