Review: Nagih Janji Cinta, Saat Jodoh Terhalang Bibit Bebet Bobot
Review

Review: Nagih Janji Cinta, Saat Jodoh Terhalang Bibit Bebet Bobot 

LASAK.iD – PIM Pictures menjadi satu di antara banyaknya rumah produksi yang di setiap karya filmnya melibatkan budaya suatu daerah. Medan atau dikenal dengan budaya Batak, Jawa Barat dengan budaya Sunda, Jawa Tengah yang dekat dengan lingkungan keraton sampai budaya timur Indonesia menjadi yang cukup populer untuk diangkat ke layar lebar.

Karya yang cukup dikenal dari PIM Pictures di antara penikmat film salah satunya berjudul Pariban: Idola Dari Tanah Jawa. Dirilis 2019 lalu, film tersebut jelas sekali mengangkat tema budaya Batak, salah satu wilayah di Sumatera.

Setelahnya, berbagai judul film hingga series yang benang merah cerita dibangun dengan melibatkan unsur budaya. Terbaru di tahun 2022 datang dengan judul Nagih Janji Cinta. Film dari sutradara Rizki Balki ini masih mengusung genre drama romance.

Ditulis oleh QueenB dan Endik Koeswoyo, keduanya membawa tradisi atau budaya turun temurun dari keluarga ningrat di daratan Jawa tepatnya di Jawa Tengah, yaitu Solo. Di mana tradisi yang paling umum diketahui tentang ketatnya pemilihan pasangan hidup bagi keluarga keturunan ningrat.

Hal-hal menyangkut bibit (garis keturunan), bebet (status sosial ekonomi) dan bobot (kepribadian dan pendidikan) selalu menjadi bab awal yang paling ditekankan sebelum menikah dengan anggota keluarga ningrat.

Rizki Balki sebagai sutradara menginterpretasikan hal tersebut dari skenario ke audio visual, yang ia lakukan dengan baik yang membuat cerita filmnya lebih ringan. Bukan menjadikannya tema cerita yang berat yang memang mengadaptasi sebuah budaya. Bumbu drama dan sentuhan komedi dihadirkan sebagai penyeimbang.

Komedi dalam filmnya pun lebih kepada dark jokes yang dilakukan karakter untuk menyindir seseorang atau sebuah brand. Atau komedi yang dilontarkan karakter yang sebenarnya untuk menertawakan dirinya sendiri.

Nagih Janji Cinta secara keseluruhan seperti representatif lain dari ftv (film televisi) yang dibuat lebih apik secara sinematografi. Sebagai film cerita cukup nyaman untuk dinikmati, hanya saja dalam membangun grafik ambience untuk membuat kejutan dalam filmnya dirasakan cukup lama.

Pada akhirnya timbul rasa sedikit bosan, karena kejutan baru terjadi jelang filmnya berakhir atau part penyelesaian dengan hadirnya plot twist yang tidak diduga sejak awal film. Menarik ketika plot twist ini justru dihantarkan melalui karakter pendukung yang dengan atau tidak sengaja mirip dengan Presiden Indonesia.  Peran yang dimainkan Muhammad Syafarudin sebagai Jokodin atau Bapak Tua.

Di mana Bapak Tua yang sempat muncul di pertengahan film ketika konflik mulai terbangun dari karakter utama Bagas Mahardika (Irzan Faiq). Adegan yang memperlihatkan keduanya duduk di salah satu sudut jalan sambil menikmati jajan khas Solo.

Saat itu digambarkan proposal kerja milik Bagas baru saja ditolak oleh rumah sakit karena alasan yang tidak jelas. Bagas yang tiba-tiba duduk disamping Bapak Tua menunjukkan wajah sedihnya sambil memegang proposal miliknya.

Penolakan kerja yang juga berimbas kepada penolakan keluarga kekasihnya, Ajeng Larasati (Marsha Aruan). Sebelumnya, Bagas telah berjanji untuk memenuhi bebet yang menjadi syarat mutlak untuk bisa menikahi kekasihnya Ajeng yang adalah keturunan ningrat.

Adegan yang membuat penonton percaya bahwa Bapak Tua hanya sebagai cameo dan bagian dari komedi filmnya. Nyatanya karakter Bapak Tua inilah yang menjadi plot twist filmnya. Di mana Bapak Tua adalah pimpinan dari rumah sakit yang menolak proposal milik Bagas. Kebetulannya juga kenalan bisnis dari R. M. Cokrodiningrat (Sujiwo Tejo), ayah dari Ajeng.

Terbongkar bahwa semua itu cara licik dari Satrio (Ady Sky), sosok dokter yang ingin dijodohkan oleh R. M. Cokrodiningrat dengan anaknya Ajeng Larasati. Bapak Tua yang semula dianggap sebagai cameo ternyata memiliki peran penting sebagai penyelamat Bagas untuk memenuhi syarat bebet ke orang tua Ajeng.

Plot twist yang mungkin membuat filmnya terselamatkan dari drama romance yang seperti biasa. Sayangnya juga unsur kejutan yang menarik perhatian hanya di bagian akhir filmnya. Untuk bagian perkenalan dan membangun konflik cukup terbantu dengan adanya karakter Slamet (Erick Estrada) yang menghadirkan tawa di penonton.

Cukup menarik juga dengan beberapa istilah yang biasa digunakan oleh masyarakat Jawa dijelaskan pula secara tulisan di scene ketika karakter R. M. Cokrodiningrat mengatakan dialog tersebut. Dengan kata lain tidak sekedar pengucapan secara dialog saja.

Untuk lainnya, sutradara dan penulis bermain detail secara latar untuk memperlihatkan dengan jelas lokasi dan suasana yang menggambarkan sekali Kota Solo.

Termasuk dalam membentuk karakter untuk terlihat seperti orang Jawa. Utamanya pada karakter Bagas yang datang dari keluarga petani yang sederhana. Tentu wajah hingga pakaian memiliki tampilan lebih ‘ndeso’ dari ruang lingkup sekitar Ajeng yang berasal dari kalangan ningrat.

Pada kesempatan special screening untuk film Nagih Janji Cinta, Irzan Faiq pemeran Bagas mengaku harus membuat kulitnya terlihat hitam dengan jerawat di wajah.

Cerita filmnya pun dikatakan Agustinus Sitorus sebagai produser, mencoba mengambil sudut pandang seimbang antara maskulin dan feminim. Itulah alasan film Nagih Janji Cinta menghadirkan penulis perempuan, yaitu QueenB.

Komentarlah yang bijak

Related posts