Review: KKN di Desa Penari, Tugas Yang Berujung Maut
Review

Review: KKN di Desa Penari, Tugas Yang Berujung Maut 

LASAK.iDPandemi covid-19 yang terjadi di 2 tahun kebelakang, tak ayal membuat banyak sektor industri di seluruh dunia mati suri. Tak terkecuali di Indonesia, seperti yang terjadi pada industri perfilman. Tak sedikit judul film yang harus menunda produksinya hingga menunda penayangannya di bioskop.

Ternyata beberapa judul film masih membuat penasaran penikmat tanah air hingga hari ini. Salah satunya hadir dari judul KKN di Desa Penari. Meski hadir dengan genre horor, film karya sutradara Awi Suryadi ini menjadi yang paling ditunggu untuk tayang.

Setelah mengalami penundaan 2 kali, MD Pictures dan Pichouse Films selaku rumah produksi umumkan tanggal resmi penayangan film KKN di Desa Penari. Peruntungan dicoba dengan menayangkan film tersebut di momen libur Lebaran atau tepatnya 30 April 2022.

Menilik dari judul, film ini memang mengadaptasi kisah viral di media sosial Twitter pada Juni 2019 silam. Akun anonim bernama SimpleMan sempat mengunggah kisah horor bahkan saat itu menjadi trending di Twitter Indonesia.

Dalam unggahan tersebut SimpleMan bercerita tentang sekelompok mahasiswa yang melakukan KKN atau Kuliah Kerja Nyata di sebuah lokasi yang membuat trauma tersendiri untuk para mahasiswa karena mengalami kejadian menyeramkan.

MD setelah mendapat hak cipta, dengan serius membawa kisah tersebut ke layar lebar. Skenario filmnya kemudian ditulis oleh Lele Laila dan Gerald Mamahit. MD melalui keduanya tak banyak melakukan perubahan dengan tetap pertahankan originalitas sense yang sebelumnya diciptakan SimpleMan dalam versi cerita tertulis.

Perubahan pun tidak terlalu signifikan dilakukan dari versi tulisan ke versi layar lebar. Hanya beberapa bagian disamarkan hingga ditiadakan, selain efisiensi waktu juga cerita. Beberapa hal masih menyangkut privasi mereka yang langsung mengalaminya.

Selain itu, KKN di Desa Penari termasuk film produksi Indonesia yang memiliki durasi yang cukup panjang yaitu lebih dari 2 jam. Tanpa mengaitkan dengan viralnya kisah ini sebelumnya, durasi sebuah film cukup menentukan minat penontonnya. Film bisa saja menjadi membosankan atau justru sebaliknya.

Untuk film yang dibintangi Tissa Biani (Nur), Adinda Thomas (Widya), Achmad Megantara (Bima), Aghniny Haque (Ayu), Calvin Jeremy (Anton) dan Fajar Nugraha (Wahyu) ini melakukannya dengan cukup baik. Meski dengan durasi yang cukup panjang, dukungan akting juga sinematografi pada filmnya cukup membuat penonton penasaran untuk melihat scene-to-scene filmnya.

MD yang sepertinya tidak ingin menghilangkan sense viralnya cerita aslinya, akhirnya membuat KKN di Desa Penari lebih kepada sebuah cerita horor yang diaplikasikan ke audio visual. Menjadi sebuah tontonan berbeda sebenarnya. Namun untuk penonton yang ingin mendapatkan sensasi jump scare khas film horor yang menakutkan juga mengagetkan menjadi kurang dirasakan.

Walau secara music scoring lebih dari cukup mewakili kengerian filmnya. Yang juga tidak boleh ketinggalan lokasi yang digunakan untuk proses syuting. Film horor Indonesia selalu menggunakan lokasi asli, seperti hutan hingga bangunan tua. Tanpa harus melakukannya di studio dengan teknik green screen.

Apa versi layar lebar dari KKN di Desa Penari memenuhi ekspektasi setiap orang yang menunggu film ini tayang di bioskop? Hal ini kembali kepada penilaian dari setiap penontonnya.

Komentarlah yang bijak

Related posts