Piknik Kopi di Gunung Puntang, Mengenal Kopi di Rumahnya
News

Piknik Kopi di Gunung Puntang, Mengenal Kopi di Rumahnya 

LASAK.ID – Pertengahan Januari yang lalu, tim Lasak.id mengikuti kegiatan Piknik Kopi Kedai Jatam. Piknik Kopi adalah kegiatan yang dikenalkan komunitas Kedai Jatam untuk mengajak para pencinta kopi lebih memahami kopi di “rumahnya”, yaitu hutan.

Piknik Kopi Kedai Jatam di Gunung Puntang mengajak peserta mengenal kopi di "rumahnya" (dok. Sarah/ Tim Lasak)
Piknik Kopi Kedai Jatam di Gunung Puntang mengajak peserta mengenal kopi di “rumahnya” (dok. Sarah/ Tim Lasak)

Tujuan Piknik Kopi kali ini adalah Gunung Puntang, Bandung Selatan Propinsi Jawa Barat. Meski nama Gunung Puntang tak sepopuler Gayo atau Toraja sebagai penghasil kopi, namun  pada perhelatan Specialty Coffee Association of America (SCAA) pertengahan April 2016 di Atlanta, Georgia, Amerika Serikat, nama Gunung Puntang disebut sebagai yang terbaik.

Lewat waktu makan siang, rombongan yang terdiri dari pegiat dan para penikmat kopi tersebut tiba di Paguyuban Tani Sunda Hejo yang dinaungi Koperasi Klasik Bean.  Kang Radi, salah satu pengurus Klasik Bean menyambut rombongan dengan minuman selamat datang, apalagi kalau bukan kopi khas Klasik Bean yang beraroma menggoda.

Kopi selalu menjadi topik menarik untuk dibahas. Berteman panganan lokal sebagai cemilan, peserta serius menyimak penuturan tim Klasik Bean mengenai kopi yang sejatinya bukan tanaman perkebunan. Ternyata kopi bukanlah tanaman perkebunan. Lalu bagaimana kita sangat akrab dengan istilah perkebunan kopi?

“Kopi pada hakikatnya adalah varietas hutan non kayu yang tumbuh di hutan bersama dengan berbagai tanaman lainnya. Kopi menyerap material dari berbagai tanaman yang ada di sekelilingnya, pada saat itulah kopi mempunyai ruh dan cita rasanya. Sayangnya, saat ini kopi malah ditanam sebagai tanaman perkebunan dan disemprot pestisida, jadi hilang hilangcita rasanya,” jelas Megan, salah satu pegiat kopi Klasik Bean.

Karena itu, di Gunung Puntang, Klasik Bean menggalakan upaya mengembalikan kopi ke rumahnya, yaitu hutan, melalui konsep agrofest. Agroforest mengajarkan petani bahwa kopi adalah produk yang alami. Secara alamiah, kopi hidup di hutan dan dinaungi oleh pohon pelindung karena kopi Arabica hanya membutuhkan sinar matahari sebanyak 40%. Untuk pohon pelindungpun tidak bisa hanya 1 jenis saja, namun harus ada 16 jenis. Dengan demikian, tanaman akan saling mengisi dan mengurangi tingkat longsor.

Kopi Arabika (dok. Sarah/ Tim Lasak)
Kopi Arabika (dok. Sarah/ Tim Lasak)

Menerapkan konsep agroforest terhadap kopi dengan kata lain memperbaiki “rumah kopi” atau hutan sehingga menghasilkan kopi organik (tanpa pestisida) dengan kualitas baik. Tak hanya menghasilkan varietas kopi unggulan, paguyuban ini juga mengedepankan konsep membangun ekonomi masyarakat dengan bertanam kopi tanpa merusak hutan dan mengganggu kelestarian alam.

Puas menyerap banyak informasi, Piknik Kopi berlanjut menjelajahi pepohonan kopi di hutan Gunung Puntang. Di ketinggian 1.500 mdpl tersebut, terhampar pohon pohon kopi yang hidup diantara pepohonan hutan lainnya. Jika bukan karena buahnya yang bulat dan mulai ranum seperti cherry, maka tak akan disadari bahwa kita sedang berada di tengah-tengah perkebunan kopi.

Dipandu Radin dan Megan, peserta diajak ikut membersihkan batang yang tumbuh di ketiak, atau lekukan pada batang yang masih produktif, serta memetik cherry, atau buah kopi yang sudah merah. Meski hawa pegunungan dingin dan berkabut, namun bercengkrama dengan aktivitas di kebun kopi cukup membuat badan hangat dan berkeringat. Plus udara yang segar jauh dari polusi, membuat paru-paru dapat bernafas lebih segar.

Mengenal cita rasa kopi dari berbagai wilayah nusantara (dok. Sarah/ Tim Lasak)
Sesi cupping guna mengenal cita rasa kopi dari berbagai wilayah nusantara (dok. Sarah/ Tim Lasak)

Menutup kegiatan Piknik Kopi, peserta di ajak menyaksikan pengolahan cherry menjadi kopi siap minum, serta sesi cupping atau mencicipi berbagai jenis kopi. Oh ya, mencicipi kopi itu nggak bisa sembarangan juga lho, ada tata caranya. Bahkan cara memegang sendok dan bagaimana menyeruputnya pun pakai teknik, agar ke-otentik-annya dapat di rasai.

Bicara kopi tidak akan pernah ada habisnya. Piknik Kopi di Gunung Puntang mengajarkan bahwa kopi bukan sekedar untuk dinikmati, namun juga untuk dimaknai.

(Tim Lasak/ Maulana/Sarah/Andini)

Komentarlah yang bijak

Related posts