Pemahaman Masih Sedikit, A2KPI Ingin Buat Kanker Jadi Isu Publik
National

Pemahaman Masih Sedikit, A2KPI Ingin Buat Kanker Jadi Isu Publik 

LASAK.iD – Kesehatan masih menjadi hal sepela bagi masyarakat di Indonesia. Banyak yang masih menganggap sakit itu bagi mereka yang sudah mendapatkan perawatan di rumah sakit. Selama masih bisa diobati dengan ramuan tradisional, mereka hanya mengatakan sebagai faktor kelelahan. Kesehatan belum menjadi isu publik yang harus ditanggapi dengan serius.

Faktanya hampir setiap tahun angka kematian masyarakat Indonesia tinggi salah satunya karena masalah kesehatan. Saat ini yang menjadi perhatian lebih melihat dari data dari Kementerian Kesehatan adalah penyakit tidak menular seperti jantung, gagal ginjal kronik, leukimia hingga kanker yang justru memiliki resiko angka kematian tinggi.

Penyakit tidak menular satu ini memang memiliki gejala yang tidak terlihat secara langsung seperti halnya cacar. Karena sel mereka berkembang secara perlahan di dalam tubuh manusia. Terkadang masalah makin serius terlihat setelah sel kanker tersebut berada dalam tahap stadium lanjut, yang sudah memerlukan penanganan serius.

Mirisnya lagi di Indonesia penderita kanker tertinggi justru pada kaum wanita dengan penderita kanker payudara dan kenker serviks yang terbanyak. Terlebih penderita yang saat ini ada juga cukup didominasi oleh kaum muda. Dimana masih dalam usia produktif namun sudah harus berjuang melawan penyakit yang paling beresiko tinggi akan kematian.

Keterkaitan pola hidup yang tidak sehat, baik kurangnya berolahraga maupun asupan makanan setiap hari menjadi faktor utamanya. Walau sejatinya sel kanker memang telah dimiliki setiap orang sejak lahir. Hanya saja seiring bertambahnya usia sel kanker tersebut berkembang menjadi sel kanker ganas atau sel kanker jinak.

Sejak biaya penderita kanker di covering langsung oleh BPJS Kesehatan, sedikit banyak hal tersebut meringkan penderita kanker. Hanya saja belum semua penderita kanker mendapatkan pengobatan yang terjamin secara 100 persen. Salah satunya yang selalu dikeluhkan para surviver kanker adalah keberadaan dokter dan ketersediaan obat.

Hal ini yang menjadi perhatian 8 organisasi penderita kanker yang memutuskan membentuk Asosiasi Advokasi Kanker Perempuan Indonesia atau A2KPI. A2KPI dibentuk untuk menegaskan perlunya keterlibatan sebuah organisasi dalam pembentukan kebijakan dalam hal perbaikan penanganan kanker perempuan. Pembentukan asosiasi ini menandai momentum perkembangan advokasi pasien di Indonesia.

Demi mencari solusi terbaik terkait hal tersebut A2KPI bersama Kementerian Kesehatan Republik Indonesia serta Gerakan Masyarakat Sehat (Germas) menggelar seminar hukum dan kesehatan terkait kanker dan perempuan. Acara seminar dengan tema Pentingnya Perlindungan Hak Pasien Kanker Perempuan atas Akses Pelayanan Kesehatan Berkualitas di Era JKN pada 8 November 2018 lalu ini diadakan di gedung Kementerian Kesehatan, Kuningan, Jakarta.

Seminar hukum dan kesehatan tersebut menghadirkan banyak pakar yang memang concern mengenai kanker dalam sebuah diskusi yang terbagi dalam menjadi dua sesi. Para pakar yang hadir tidak hanya dari lembaga pemerintahan, dalam hal ini Kementerian Kesehatan dan juga Kementerian Hukum dan HAM. Tetapi juga dari lembaga maupun organisasi kesehatan kanker bersama para survival kanker itu sendiri.

Untuk sesi pertama yang dipandu oleh Chandra Sugarda yang bertindak sebagai moderator. Pakar yang dihadirkan antara lain Prof.Dr. dr. Aru W. Sudoyo, SpPD-KHOM, Ketua Perhimpunan Onkologi Indonesia (POI), Ketua Yayasan Kanker Indonesia (YKI); Dr. Hj. Nurlina Subair, M.Si, Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Hak Azasi Manusia, Balitbang Hukum dan HAM, Kementerian Hukum dan HAM; Drs. Agusta Konsti Embly, S.H., Dip.DS., M.A, Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Hak Azasi Manusia, Balitbang Hukum dan HAM, Kementerian Hukum dan HAM serta Prof. Budi Hidayat, SKM, MPPM, Ph.D, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia.

Prof. dr. H. Abdul Kadir, PhD., Sp.THT-KL(K), MARS – Ketua Asosiasi Rumah Sakit Vertikal Indonesia (ARVI); Dra. Ardiyani, M.Si, Apt, Kepala Subdirektorat Seleksi Obat dan Alat Kesehatan; Tengku Djumala Sari, dr. MMRS, Kasubdit Pengelolaan Rujukan dan Pemantauan RS dan drg. Armansyah, MPPM, Kepala Bidang Kendali Mutu Dan Pengembangan Jaringan Pelayanan hadir sebagai pembicara untuk sesi kedua ini dipandu oleh Prastuti Soewondo, S.E., MPH., Ph.D, sebagai moderator.

Kedelapan pakar ini secara garis besar membahas hal yang hampir sama satu sama lain. Mengenai kekhawatiran mereka akan bertambahnya penderita kanker setiap tahunnya di Indonesia. Terlebih untuk para perempuan yang memang memiliki resiko lebih tinggi.

Mereka berharap kedepannya pihak terkait baik pemerintah maupun swasta bekerja sama untuk segera menghadirkan fasilitas kesehatan seperti rumah sakit yang mengkhususkan bagi penderita kanker. SDM dari segi dokter spesialis untuk penderita kanker juga semakin bertambah agar semua dapatkan penanganan yang cepat. Yang pastinya terkait dengan pelayanan bagi pasien pengguna BPJS Kesehatan, agar menemui solusi kedepannya.

BPJS yang merupakan bagian dari program JKN diketahui pada tahun 2017 mengeluarkan biaya untuk kesehatan mencapai angka 84.5 triliun rupiah. Untuk penyakit tidak menular dimana kanker termasuk didalamnya mengambil total biaya hingga 20 persen dari jumlah tersebut. Nilai ini tidak mengalami penurun justru terus bertambah setiap tahunnya.

Semoga dengan adanya orang-orang yang peduli dengan kesehatan dapat memberikan solusi terbaik kedepannya tidak hanya bagi penderita kanker tetapi juga bangsa Indonesia. Semoga masalah kanker ini bisa menjadi isu publik yang kemudian hari bisa menjadi pencegahan semakin banyaknya penderita kanker yang dimulai dari usia dini.

Komentarlah yang bijak

Related posts