NationalNews

Polemik Susu Kental Manis, Pemerintah Masih Diam, Perempuan dan Anak Semakin Terancam

130
×

Polemik Susu Kental Manis, Pemerintah Masih Diam, Perempuan dan Anak Semakin Terancam

Share this article

Susu Kental Manis – Sudah setahun sejak susu kental manis menjadi kegelisahan publik. Sebab, kandungan gulanya terbilang tinggi namun masyarakat masih terbiasa menjadikannya minuman rutin sehari-hari. Sayangnya, hingga hari ini belum terlihat langkah nyata pemerintah, baik Kementerian Kesehatan maupun BPOM. Kementerian Kesehatan, dalam beberapa kesempatan berbicara ke media, membenarkan bahwa susu kental manis bukan untuk dijadikan minuman sehari hari, apalagi dianggap sebagai pengganti susu.

Namun selanjutnya, tak terlihat upaya nyata untuk mengatasi persoalan. Susu kental manis tetap menjadi susu yang praktis dan ekonomis bagi masyarakat dan anak anak. BPOM pun terlihat seperti tidak ada masalah apa-apa. Lembaga ini berlindung di balik ketentuan label pada kemasan susu kental manis, yang menyebutkan bahwa produk ini tidak boleh diberikan untuk anak dibawah 1 tahun. Jika kemudian masih dikonsumsi masyarakat dan menjadi minuman pengganti ASI, maka itu adalah kesalahan masyarakat yang tidak membaca label dengan teliti.

Masyarakat sendiri saat ditanya mengenai susu kental manis memberikan jawaban yang beragam. Ada ibu dengan 5 anak yang menyuguhkan segelas susu kental manis untuk keluarganya setiap pagi. Lalu,  remaja perempuan yang membeli 4 kaleng susu kental manis dalam sebulan untuk tambahan gizi ayahnya yang sedang sakit. Ada nenek yang bangga dengan cucunya yang masih balita namun fisiknya sudah sebesar anak umur 7 tahun karena rajin minum susu kental manis. Ibu, anak perempuan dan perempuan lanjut usia tersebut berusaha memberikan yang terbaik untuk keluarga. Sayangnya, mereka tidak tahu bahawa apa yang mereka lakukan tersebut salah.

Problema

Perempuan menjadi tulang punggung keluarga. Pada saat mereka berhasil mewujudkan anak-anak yang sehat dan keluarga yang harmonis, maka sebagian dari mereka mendapat pujian, namun tak sedikit pula pujian tersebut menjadi milik laki-laki sang kepala keluarga. Padahal, bila para laki-laki ini ditanya kenapa mereka mengkonsumsi susu kental manis setiap pagi, jawabannya pasti karena itu yang disuguhi oleh sang istri. Ada berapa banyak laki-laki yang peduli dengan asupan yang mereka makan di rumah, bagaimana nilai gizinya, aman atau tidak untuk anak-anak? Ada, tapi sedikit, tidak semua kepala keluarga dapat berlaku demikian.

Namun saat kesehatan anak-anak terganggu karena pola makan yang salah, kesalahan tersebut jelas langsung dituduhkan kepada sang istri, ibu dan perempuan dalam keluarga. Begitulah gambaran posisi perempuan di masyarakat kita saat ini, selalu terancam diskriminasi dan tersudutkan.

Persoalan Susu Kental Manis

Persoalan susu kental manis contohnya. Mereka (perempuan) menyuguhkan untuk keluarga dengan asumsi susu kental manis bergizi dan baik untuk keluarga, sebagaimana yang disebutkan dalam iklan di televisi. Seandainya mereka tahu tingginya kandungan gulanya dan apa bahayanya jika dikonsumsi secara rutin, tentu mereka tidak akan memberikan pilihan ini untuk keluarga. Masih banyak pilihan lain yang dapat diberikan untuk keluarga.

Kurang edukasi dan informasi adalah masalah yang dihadapi perempuan saat ini. Hal ini memang bertentangan dengan kenyataan semakin tingginya lalu lintas informasi di masyarakat, baik melalui media sosial, aplikasi percakapan dan televisi. Informasi tentang bahaya susu kental manis dan nutrisi yang baik untuk keluarga sudah banyak bergulir. Lewat media massa, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) sendiri sudah melarang penggunaan susu kental manis untuk anak. Melalui media sosial, gerakan mengurangi asupan gula pun sudah banyak dikampanyekan. Tapi coba tanyakan, tetangga kiri kanan atau masyarakat lingkungan sekitar, berapa banyak masyarakat yang mengkonsumsi susu kental manis sebagai pengganti susu?

Maka timbul pertanyaan, semakin mudahnya akses informasi, tapi masih banyak perempuan yang belum teredukasi. Apa sebab? Apakah memang informasi tentang nutrisi keluarga ini tak menarik bagi masyarakat? Pilihan media yang tidak tepat? Kesadaran masyarakat untuk hidup sehat yang belum ada ataukah gempuran iklan dan promosi penjualan?

Yang pasti, agar edukasi ini tepat sasaran, seluruh elemen masyarakat yang terlibat, para masyarakat peduli kesehatan dan perempuan, kader posyandu, dokter puskesmas dan dokter anak, institusi pemerintah dan pengambil kebijakan, serta kesadaran dari produsen sendiri agar mau mempromosikan produk dengan cara yang benar, sesuai fungsi dan penggunaan produk itu sendiri.

 

Pemerintah Belum Hadir

Persoalan susu kental manis memang kelihatan sepele. Tapi jika pemerintah mau berhitung, betapa besar kerugian yang ditimbulkan akibat pembiaran masalah ini. Bertahun-tahun, pada mindset masyarakat sudah tertanam bahwa susu kental manis adalah susu. Belum lagi promosi yang sangat gencar oleh produsen, anjuran konsumsi dua gelas sehari yang tertera pada kemasan untuk mencukupi gizi keluarga. Pemerintah membiarkan masyarakat menimbun gula sejak dini, bahkan anak anak. Dan ini bertentangan dengan aturan yang dibuat Kemenkes sendiri, pembatasan gula garam lemak.

Sampai kapan pemerintah akan diam? Kenyataannya, sudah jatuh korban. Ancaman diabetes dan obesitas bahkan gizi buruk di sejumlah kota. Januari lalu, seorang balita asal Konawe, kendari meninggal akibat gizi buruk yang dipicu oleh konsumsi susu kental manis. Apakah kita harus menunggu balita balita lainnya menjadi korban?

Pihak produsen pun masih belum tergerak . Setidaknya, tunjukan kepedulian terhadap generasi masa depan bangsa. Sampaikan kepada masyarakat bagaimana seharusnya susu kental manis digunakan, zat-zat apa saja yang terkandung di dalam produk dan bagaimana implikasi bila penggunaan produk tidak tepat. Berjualan adalah kegiatan utama produsen. Namun menjual produk kepada target pasar yang salah jelas tidak bisa dibenarkan. Disini, pengawasan pemerintah dibutuhkan.

Selamat hari perempuan internasional. Menjadi teredukasi juga adalah hak kaum perempuan agar dimasa mendatang tak ada lagi ancaman diskriminasi terhadap perempuan di masyarakat.

Baca juga tentang : Waspada Paparan Iklan Pada Anak

 

 

 

Yuli Supriati

Ketua bidang Kesehatan, Perempuan dan Anak DPN Repdem

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x