Food/ Health

Yaici Ungkap Sudah Menjangkau 10 Ribu Masyarakat Terkait Literasi Gizi

76
×

Yaici Ungkap Sudah Menjangkau 10 Ribu Masyarakat Terkait Literasi Gizi

Share this article

LASAK.iD – Kesehatan menjadi satu dari banyak problematika di negeri ini yang belum total 100 persen teratasi dengan baik. Dari gizi buruk, kesehatan berkaitan dengan mental hingga penyakit menular dan tidak menular. Perhatian dari masing-masing tersebut pun berbeda.

Namun, sejak beberapa tahun belakang terkait dengan gizi buruk menjadi perhatian khusus di sebagian masyarakat yang tergabung dalam organisasi non pemerintah atau yang dikenal dengan Lembaga swadaya masyarakat (LSM).

Seperti yang dilakukan oleh Yaici bersama dengan Muslimat NU, Aisyiyah dan Kopmas dalam memerangi gizi buruk yang berakibat pada tumbuh kembang bayi, balita hingga anak. Dengan banyaknya temuan kasus stunting dan obesitas.

Temuan yang mengarah atau disebabkan pada konsumsi gula berlebih yang salah satunya terdapat pada produk olahan, yaitu SKM. Banyak faktor yang menyebabkan keluarga di Indonesia memberikan SKM kepada anak.

Misalnya kemiskinan yang akhirnya berpengaruh pada daya beli masyarakat, kurangnya literasi gizi di masyarakat dan juga pendidikan. Faktor yang banyak ditemukan pada masyarakat pada kelompok menengah ke bawah.

Kemiskinan

Kemiskinan karena pendapatan yang minim cukup berpengaruh pada daya beli. Pada akhirnya asupan dengan harga murah dan terjangkau menjadi solusi terbaik untuk keluarga termasuk didalamnya adalah anak-anak. Di mana nilai gizi yang terkandung jauh dari standar kesehatan atau justru pada titik membahayakan jika di konsumsi terus-menerus.

Diungkapkan Yuli Supriati selaku Ketua Bidang Advokasi Yaici, dari beberapa temuan yang dilakukan Yaici dan Kopmas di beberapa wilayah di Bekasi waktu lalu, masyarakat di sana banyak yang belum mengetahui bahwa SKM bukanlah susu melainkan gula.

Mindset yang sudah terbentuk sejak lama membuat mereka masih menganggap SKM adalah susu dengan harga terjangkau. Dibandingkan susu bubuk yang jelas nilai gizi yang diperuntukan untuk anak-anak.

Literasi Gizi

Terkait literasi gizi di masyarakat sebenarnya sudah dilakukan oleh pemerintah maupun non-pemerintah. Dikatakan Ketua Yaici, Arif Hidayat pada Kamis (16/12), ada setidaknya 10 ribu masyarakat mendapatkan informasi literasi gizi. Angka yang didapatkan dari daerah-daerah yang Yaici dan organisasi lainnya kunjungi untuk berikan pengetahuan.

Angka sangat kecil jika melihat jumlah penduduk Indonesia yang mencapai lebih dari 272 juta jiwa berdasarkan data Administrasi Kependudukan (Adminduk) per Juni 2021.

Pendidikan

Seperti dikatakan Ketua Himpaudi Pusat, Prof. Dr. Ir. Hj. Netti Herawati, M.Si., pendidikan memiliki keterikatan kuat dengan kesehatan. Di mana pendidikan sebuah negara tercapai dengan baik ditentukan dengan tingkat kesehatan yang baik pula. Begitu juga sebaliknya dengan pendidikan yang baik bisa memberikan literasi gizi.

Makanan memiliki peranan penting didalamnya, karena menentukan kualitas otak dan tubuh seseorang di masa depan. Terkait ini yang disayangkan Himpaudi adalah kurangnya peranan dunia bisnis dan industri dalam sosialisasi terkait literasi gizi.

Upaya terus dilakukan, seperti juga ditegaskan oleh Yuli Supriati bahwasanya kesehatan menjadi tanggung jawab negara sebagai yang tertinggi. Bukan hanya membebankan pada satu sisi, baik itu pemerintah atau kepada masyarakat itu sendiri.