Food/ Health

Kampanye 10 Jari Langkah Bantu Wanita Deteksi Dini Kanker Ovarium

37
×

Kampanye 10 Jari Langkah Bantu Wanita Deteksi Dini Kanker Ovarium

Share this article

LASAK.iD – Permasalahan kesehatan memang tidak ada habisnya untuk dibahas hingga mendapat perhatian khusus. Tidak ada secara khusus, baik itu gender atau umur karena siapa saja bisa mengalami masalah kesehatan.

Jika ingin mengkerucutkannya sesuai gender, tentu terbagi pada kasus kesehatan pada pria dan wanita. Masalah kesehatan tertentu bisa dialami pria juga wanita. Namun, beberapa kasus memang hanya terjadi pada satu gender saja.

Kali ini berfokus pada sisi wanita, beberapa jenis kanker tengah menjadi perhatian karena angka kasus yang terus meningkat. Tak hanya menyerang pada usia lanjut (menopause) tetapi terjadi juga di usia muda. Belum selesai kekhawatiran masyarakat, terlebih kaum hawa akan jumlah kasus kanker serviks.

Kini kekhawatiran bertambah ketika jumlah kasus dari kanker ovarium, yang hanya terjadi pada kaum hawa menunjukan angka kasus yang signifikan. Berdasarkan Global Burden of Cancer Study (Globocan), kasus di Indonesia menyentuh angka 14.896 kasus, dengan 26 kasus kematian wanita setiap harinya.

Angka yang berpotensi terus bertambah melihat gejala pada kanker ovarium berbeda dengan jenis kanker lain seperti serviks. Diungkapkan Dr. dr. Brahmana Askandar, SpOG(K), K-Onk selaku Ketua HOGI, pada kanker serviks perubahan sel serviks dari normal sampai menjadi kanker sangat jelas dan berlangsung dalam waktu yang lama. Sedangkan kanker ovarium perubahan sel dari normal hingga menjadi kanker tidaklah jelas. Perubahan sel setiap individu pun memakan waktu bervariasi, mulai dari 6 bulan atau mungkin 1 tahun. Inilah alasan kanker ovarium disebut sebagai silent killer.

Sebagai dokter dengan pasien kasus kanker ovarium, Dr. dr. Brahmana Askandar, SpOG(K), K-Onk mengatakan 80 persen pasiennya merupakan mereka dengan stadium lanjut atau terminal. Dan hanya sebagian kecil yang di diagnosa pada stadium dini.

Resiko tertinggi pada mereka (wanita) yang berusia lanjut dan belum pernah hamil. Alasannya karena proses ovulasi atau indung telur yang terus terekspose atau bekerja menghasilkan telur setiap bulannya. Tidak ada waktu jeda untuk beristirahat, padahal hal tersebut sangat dibutuhkan untuk mengurangi resiko berkembangnya sel kanker ovarium. Itulah kenapa pada wanita yang banyak anak memiliki resiko yang rendah untuk mengidap kanker ovarium. Proses ovulasi yang sebelumnya terjadi setiap bulan terhenti sementara pada masa kehamilan 9 bulan.

Kenyataan yang harus diterima dan hadapi masyarakat sekarang ini. Dari sinilah tercetusnya Kampanye 10 Jari yang diinisiasi oleh AstraZeneca Indonesia yang bekerjasama dengan Cancer Information and Support Center (CISC) dan Himpunan Onkologi Ginekologi Indonesia (HOGI).

Kampanye yang diluncurkan pada Mei 2021 lalu, untuk mengedukasi dan membantu lebih banyak masyarakat Indonesia dalam mengenali risiko dan gejala kanker ovarium. Tahun ini, Shahnaz Haque, seorang selebriti dan penyintas kanker ovarium, diresmikan sebagai Duta Peduli Kanker Ovarium.

Kampanye ini salah satu cara untuk mengedukasi masyarakat tentang enam faktor risiko dan empat tanda kanker ovarium. Diwakili angka “10” yang tercantum dalam Kampanye 10 Jari. Enam faktor risiko tersebut adalah: (1) memiliki riwayat kista endometrium; (2) memiliki riwayat keluarga dengan kanker ovarium dan/atau kanker payudara; (3) mutasi genetik (misalnya BRCA); (4) paritas rendah; (5) gaya hidup yang buruk; (6) dan pertambahan usia. Sedangkan empat tanda kanker ovarium adalah: (1) kembung; (2) nafsu makan berkurang; (3) sering buang air kecil; (4) dan nyeri panggul atau perut.

Aryanthi Baramuli Putri, Ketua Umum Cancer Information and Support Center (CISC) mengatakan, “Melihat begitu banyak perempuan yang meninggal akibat kanker ovarium, saya percaya bahwa penting sekali bagi semua pemangku kepentingan untuk berkolaborasi secara berkesinambungan dalam upaya promotif, diagnosis, kuratif, rehabilitatif dan paliatif untuk pencegahan penanggulangan kanker yang lebih baik.”

Tak hanya itu, sebagai komunitas kanker yang sudah ada sejak 2003 di Indonesia, kami juga telah melihat bagaimana para penyintas kanker ovarium dapat bersatu, dan mendukung satu sama lain untuk saling menguatkan dalam melawan penyakit ini. Dengan adanya Kampanye 10 Jari ini, semoga ada lebih banyak lagi perempuan di Indonesia yang melakukan deteksi dini dan mengetahui faktor risiko kanker ovarium“, tambahnya.

Sejak Mei 2021 lalu, Kampanye 10 Jari telah melakukan berbagai kegiatan edukasi kanker ovarium dan mencapai lebih dari 20.000 masyarakat Indonesia melalui sesi edukasi awam secara online dengan praktisi kesehatan dan kelompok pasien di media sosial. Kampanye 10 Jari bertujuan untuk membantu perempuan melakukan deteksi dini dan memberdayakan penyintas kanker ovarium untuk menghadapi penyakit tersebut dengan pengobatan yang tepat.