Kesenian 8 Negara Dalam Satu Panggung JIFF 2019
Art

Kesenian 8 Negara Dalam Satu Panggung JIFF 2019 

LASAK.iD – Indonesia merupakan Negara yang memiliki keragaman suku, budaya, agama dan kearifan lokal yang harus dipertahankan dan dilestarikan. Tiap daerah di Indonesia memiliki kesenian (tarian, musik) berbeda yang telah ada secara turun temurun dan menjadi ciri khas suatu daerah tersebut (provinsi). Oleh karena itu, diperlukan wadah yang tepat agar kesenian tradisional tiap daerah tersebut tetap lestari.

Melalui Jakarta International Folklore Festival 2019 (JIFF 2019), Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta berharap kegiatan ini menjadi ajang bertemunya para seniman tradisional dari berbagai daerah bahkan Negara. Folklore sendiri bermakna sebuah kesenian tradisional yang telah ada sejak masa lampau dan masih dikenal hingga saat ini. Pengertiannya begitu luas namun bermakna keindahan pada sebuah karya seni yang menjadi ciri khas suatu daerah.

Bertempat di Lapangan Banteng Jakarta, JIFF dilaksanakan tanggal 13 – 15 September 2019 lalu. JIFF menampilkan kesenian berupa tarian dan musik dari 8 Negara yaitu Indonesia, Brunei Darussalam, Kamboja, Malaysia, Singapore, Korea Selatan, Ukraina dan Vietnam. JIFF mengangkat tema “Friendship through the Spirit of Unity” dimana melalui acara ini dapat menebarkan semangat saling pengertian dan perdamaian dunia melalui seni dan budaya.

Selain pertunjukan seni di Lapangan Banteng, JIFF juga menyelenggarakan workshop warisan kebudayaan dunia pada tanggal 14 September 2019 di RedTop Hotel, Jakarta Pusat. Workshop mengenai seni tradisi dunia yang menghadirkan pembicara dari praktisi seni international diantaranya, workshop “Sign Language is a Dance with Word.” oleh Jasmine Okubo (Kitapoleng/Bali), Odissi Dance Technique oleh January Low (Malaysia), Korean Folklore Dance oleh Seoul Metropolitan Dance Theatre, dan panel discussion oleh Sekar Kinanti (Jogja), Abib Igal (Kalimantan Selatan), dan Maria Darmaningsih (Festival Director JIFF 2019).

JIFF pernah diselenggarakan pada tahun 2013 lalu dan kembali diselenggarakan tahun ini dengan target pengunjung lebih luas dan mengajak anak generasi Y untuk lebih mencintai budaya bangsa sendiri.

Menurut Kepada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta bahwa melalui kegiatan ini diharapkan banyak masyarakat yang tahu dan tertarik akan kesenian tradisional Indonesia. Akan banyak penari dari Negara lain yang juga akan menampilkan tarian dan musik khas Negara masing-masing. Selain itu, JIFF 2019 ini bisa menjadi sarana hiburan edukatif bagi masyarakat yang hadir dengan menyaksikan tarian dari berbagai provinsi dan Negara.

Pertunjukan JIFF dibagi menjadi 2 panggung yaitu artspace dan mainstage. Panggung utama yang disetting megah di tengah-tengah air mancur menjadi pertunjukan ini sangat menarik dan berkesan. Dimainkan di bawah sinar bulan yang menyinari kota Jakarta pada Sabtu, 14 September 2019, panggung JIFF dipenuhi ribuan pengunjung. Mereka sangat antusias menyaksikan tarian dari berbagai daerah dan Negara yang tampil. Salah satunya mereka menantikan tarian dari Korea Selatan.

Indonesia menampilkan tarian Sekar Gadung Idek (Banyumas), Tari Sang Candra Kirana (Jogja), Borneo Floklore (Kalimantan Barat), Talago Dewi dan Giri Mayang (Sumatera Barat), Tari Ronggeng Mojang Bandung (Jawa Barat), Tikkuk Kukkos (Sumatera Selatan), Remo Bolet Kreasi Jawa (Jawa Timur) dan Tari Gantar Mencukuq (Kalimatan Timur).

Sementara dari Vietnam yaitu Soul of Vietnam, Korea Janggu Dance (Korea Selatan), Coconut Dance (Cambodia), dan Ukrainian Fantasy (Ukraina).

Melalui JIFF 2019, Maria Darmaningsih sebagai Festival Director JIFF 2019 berharap acara ini dapat menjadi medium untuk pertukaran informasi, budaya, dan persahabatan lintas Negara maupun daerah. Selain itu, tentunya sebagai ajang melestarikan kesenian tradisional Indonesia agar tidak hilang dimakan waktu.

(Andini)

Komentarlah yang bijak

Related posts