Ini Akhir Kisah Lin cs Di Episode Final Bad Genius The Series
Movie

Ini Akhir Kisah Lin cs Di Episode Final Bad Genius The Series 

LASAK.iD – Bagaimana nasib akhir dari Lin, Bank, Grace juga Pat di dua episode terakhir dari Bad Genius The Series? Sebelumnya banyak keraguan yang terlihat dari wajah Lin, Grace dan Pat ketika Bank yang memimpin rencana terbaru. Aksi untuk mencuri kertas ujian GATT-SATT dari Percetakan Sekuriti Noporn yang di manageri Paman Jek.

Akankah keempatnya berhasil atau justru menemui kegagalan kembali? Sebelum menonton, baca sinopsis untuk episode 11 dan 12 sebagai episode terakhirnya.

Episode 11

Bank tetap bersikeras melanjutkan aksi meski tahu ketiga temannya memperlihatkan raut kekhawatiran di wajah mereka. Rasa khawatir yang sudah ada sejak awal. Bahkan sebenarnya tak menemukan keselarasan satu sama lainnya. Berbeda dengan sebelumnya dengan Lin sebagai otak dari semua rencana.

Lin yang memiliki insting dan intuisi lebih peka dari yang lain sejak awal sudah membaca situasi yang tidak beres. Hanya dengan melihat gerak-gerik yang ditunjukan oleh Bank. Situasi Lin yang sudah mengiyakan membuatnya harus ikut serta dalam aksi yang lebih beresiko ini.

Intuisi yang dirasakan benar saja terjadi. Persiapan yang berdasarkan emosi dan amarah dari Bank membuat segalanya kacau. Hal yang tak terpikir oleh Bank maupun lainnya membuyarkan rencana yang sebenarnya sudah sangat sempurna.

Bermula ketika Fluke secara tiba-tiba diminta Paman Jek menggantikan pos kosong yang ditinggalkan rekan kerjanya yang cuti. Saat itulah Fluke harus kehilangan kesempatan mengambil telepon genggam yang disembunyikan di salah satu kotak makan.

Kepanikan mulai melanda Fluke, begitu juga dengan Lin cs yang menunggu sinyal selanjutnya. Tak bisa menemukan telepon genggam yang dimaksud Fluke tetap melajutkan rencana sesuai dengan urutan. Meski sedikit terlambat, sinyal yang menandakan aksi tetap berlanjut dengan membuat konsleting yang akhirnya membuat listrik padam.

Lagi, rencana semula Fluke yang akan menghubungi teknisi listrik justru dilakukan sendiri oleh Paman Jek. Fluke semakin keringat dingin, sedangkan di sisi lain Pat sudah memasuki area pabrik. Kunci memang berhasil dicuri dan telepon genggam pun berhasil didapatkan Pat setelah mencari ditumpukan sampah sisa makanan.

Tanpa sengaja Pat mendengar pembicaraan Paman Jek dengan kliennya, yang mengatakan bahwa Percetakan Sekuriti Noporn memiliki sistem keamanan baru. Melalui alat yang baru Paman Jek membuat sinyal telepon akan hilang selama proses percetakan berjalan. Lagi dan lagi Pat dibuat panik hari itu.

Tik tok tik tok, waktu terus berjalan namun tidak ada sinyal baik dari Fluke maupun Pat. Menyadari semua tidak berjalan sesuai rencana. Bank memutuskan untuk bertindak, dengan berpura-pura menjadi rekan Pat sebagai teknisi listrik. Benar saja, semua rencana yang dibuat tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan.

Meminta untuk memberinya waktu, Bank memutuskan untuk menjalankan plan B. Dan memutuskan mengerjakan langsung soal ujian di ruang penghancur kertas dan mengingat jawabannya dan mencatatnya setelah berhasil keluar.

Saat itu bisa saja penyamaran dan aksi gila mereka terbongkar. Jika Lin yang dengan tenang berpura-pura sebagai karyawan percetakan dan mengatakan bahwa listrik sudah kembali menyala. Belum berhasil meyakinkan, teknisi listrik yang asli mencoba mengecek dengan menghubungi Paman Jek. Untungnya telepon tersebut belum sempat diangkat oleh Paman Jek. Mereka pun pergi kembali.

Bank yang berhasil masuk kedalam pabrik kembali menjalankan plan B. Menggunakan alasan ke tiolet dan memanfaatkan waktu proses percetakan selama 1 jam. Bank mengerjakan dibawah tekanan dan waktu yang terus berjalan. Ketidakhadiran Bank ternyata disadari oleh Paman Jek, yang langsung menanyakan kepada Pat dan rekannya. Dengan wajah gugup, tegang dan berkeringat, Pat mengatakan bahwa rekannya sedang berada di toilet.

Mulai curiga, Paman Jek mengeceknya secara langsung. Lama tak kunjung muncul, Paman Jek menyadari bahwa tidak ada orang lain lagi di dalam toilet setelah orang terakhir yang berpapasan dengannya. Kecurigaan semakin besar, Paman Jek segera berlari dan bertanya dengan nada marah kepada Pat.

Baca juga: Aksi Lin, Bank, Grace Dan Pat Makin Bikin Gregetan Di Episode 9 Dan 10

Hari penting yaitu mencetak soal ujian negara, Paman Jek menyadari ruangan yang mungkin untuk mencuri soal adalah ruang penghancur kertas. Kotak yang berada di ruang kendali yang digunakan untuk menyimpan kunci penting tak luput dari perhatian. Menyadari kunci ruangan tersebut hilang Paman Jek berlari ke lokasi untuk mengecek.

Ruangan tersebut ternyata terkunci rapat dari luar. Tetap waspada Paman Jek tetap mencurigai ada sesuatu yang tidak beres hari itu. Kemudian mulai menanyakan satu per satu karyawan yang bertugas di ruang kendali. Fluke yang mengetahui hal tersebut mulai panik dan resah.

Tahu kepanikan dari Fluke, rekan kerja lainnya secara spontan meminta kunci yang dipegang oleh Fluke. Tanpa berpikir panjang dan tak ingin ketahuan, Fluke begitu saja menyerahkan kunci tersebut. Masih curiga, Paman Jek segera kembali ke kantor dan mengambil kunci cadangannya. Lalu mengajak klien untuk bersama-sama membuka ruang penghancur kertas. Ini memang menjadi peraturan dari Percetakan Sekuriti Noporn.

Saat membuka pintu Paman Jek yang curiga justru mendapati ruangan hanya berisi tumpukan kertas yang sudah dihancurkan. Padahal sebelumnya Pat masih berada di dalam ruangan tersebut. Secara kebetulan orang yang sama yang meminta kunci ruangan tersebut kepada Fluke muncul. Dia memang mendapat tugas untuk mengangkut kertas yang dihancurkan hari itu. Paman Jek tentu memarahinya bahwa hal tersebut menyalahi aturan pabrik.

Kembali ke ruang kendali, Paman Jek sudah mendapati Bank bersama rekannya yang lain. Kecurigaan tak lepas dari Paman Jek yang kemudian mengantarkan ketiga teknisi listrik yang tak lain Bank, Pat dan satu rekan lainnya ke pintu keluar. Untuk membuktikan sesuatu.

Bank lolos dari pemeriksaan, tiba waktunya untuk Pat. Detektor logam ternyata berbunyi ketika memeriksa Pat. Saat itu dirinya menyadari, bahwa dirinya masih menyimpan telepon genggam di tas pinggangnya. Pat sadar lupa untuk membuangnya kedalam lubang yang ada di toilet.

Pat kembali dibuat panik dan terlihat keringat mulai mengucur di wajahnya. Anehnya saat tas tersebut di periksa yang dikeluarkan oleh petugas justru sebuah obeng. Bukan telepon genggam yang sebenarnya ada didalamnya.

Pat yang merasa ada keanehan mulai melihat Bank dengan penuh rasa heran. Bank yang sadar hal tersebut hanya cuek berdiri santai. Keduanya lalu kembali ke dalam mobil. Segera Bank meminta kertas dan pulpen untuk mencatat jawaban. Pat kembali manatap Bank dengan penuh keheranan. Ternyata itu disadari oleh Lin.

Keheranan Pat semakin menjadi ketika Bank memintanya untuk menjalankan mobil dengan nada marah. Sekembalinya ke pabrik kosong yang menjadi markas mereka. Grace dengan segera mencetak kartu identitas yang berisi kode jawaban karena mereka terlambat 30 menit dari jadwal.

Pat yang tak tahan menanyakan hubungannya dengan petugas keamanan percetakan Paman Jek. Karena Pat menyadari bahwa petugas keamanan tersebut sadar bahwa Pat menyembunyikan telepon genggam di tas. Terus mendapat tekanan Bank pun mengakui memiliki plan B yang dirancangnya tanpa sepengetahuan yang lainnya.

Ditengah perdebatan Bank dengan Lin dan Pat, tiba-tiba Grace menghentikan proses cetak karena mendapati jawaban berlebih. Bank pun segera mengkoreksi jawabannya dan memalingkan wajah untuk menghindari kontak mata dengan Lin, Pat ataupun Grace.

Semakin membuat curiga, Lin lalu meminta Bank mengatakan 10 jawaban terakhir dari soal. Tidak memberikan jawaban yang tepat, Bank kembali mendapat tekanan. Bank kembali membuat alasan dengan berdalih tidak memiliki waktu untuk mengingat.

Lanjut yuk untuk bagian ending-nya!

Episode 12 (Final)

Saat jawaban yang diberikan Bank tak sesuai, Lin dengan segera menghubungi Kak Music. Belum sempat melakukannya, Lin sudah dihentikan oleh Bank. Perdebatan hebat antara Bank dengan Lin dan Pat pun terjadi. Bank merasa marah dengan keadaan termasuk terhadap Lin. Apapun yang terjadi Lin masih bisa melanjutkan kuliahnya di luar negeri. Berbeda dengan Bank yang kehilangan kesempatan tersebut. Uang yang didapatkan dari berbuat kecurangan bisa menggantikan masa depannya yang hilang.

Untuk itu selama 3 bulan Bank merencanakan aksi untuk mencuri soal ujian GATT-SATT. Termasuk memberikan informasi kecurangannya melalui media sosial terkait ujian STIC. Inilah yang pada akhirnya membuat nilai ujian STIC dibatalkan untuk Thailand. Ini sengaja dilakukan oleh Bank agar Lin, Grace dan Pat bisa membantunya untuk mendapatkan lebih banyak keuntungan besar, melalui ujian GATT-SATT.

Pat yang sudah pasti bisa berkuliah di Boston bersama Grace, tentu marah besar mengetahui kebenaran itu. Kemarahan yang membuat Pat nyaris memukul Bank, namun tak jadi dilakukannya. Rasa dendam menjadi alasan lainnya dari Bank melakukan aksinya kali ini. Tak hanya terhadap temannya Lin, Pat dan Grace tetapi juga anak-anak kaya yang memiliki segalanya.

Ketiganya menjadi alasan dibalik berubahnya Bank seperti sekarang. Ditambah saat mengetahui orang yang bertanggung jawab atas rusaknya pinatu miliknya adalah Pat. Ini dilakukan untuk memancing Bank bisa ikut dalam aksi mereka di Australia.

Memanfaatkan rasa bersalah dan kondisi tidak akurnya Pat dengan Ayahnya, Bank dengan leluasa menekan Pat untuk melanjutkan aksi. Sedangkan Grace yang sudah terlanjur bucin dengan Pat hanya mengikuti keputusan yang diambil oleh kekasihnya itu.

Berbeda dengan Lin, sejak kembali dari Australia dirinya banyak menyadari kesalahan yang dibuat. Kembali rasa bersalah yang menghantui menjadi alasan Lin menerima tawaran untuk berbuat kecurangan untuk ujian GATT-SATT. Ini sekaligus menjadi aksinya yang terakhir sebelum melanjutkan sekolahnya di Australia.

Dengan perasaan sedih, Lin melangkah meninggalkan teman-temannya. Sedangkan Bank, Pat dan Grace tetap melanjutkan aksi hingga selesai. Langkah berani juga dilakukan Lin dengan air mata yang mengalir dirinya mengakui semua kesalahan kepada Ayahnya. Bahkan meminta kepada Ayahnya untuk menemaninya melaporkan hal itu. Tentu dilakukan untuk melepas beban atas rasa bersalahnya dan ingin membuat teman-temannya sadar.

Pagi harinya, Lin yang ditemani Ayahnya mendatangi Badan Ujian. Tak lama setelahnya pihak berwajib mulai mengintrogerasi Grace dan menangkap kurirnya. Bank yang menjadi otaknya kali ini ditangkap di rumahnya dan membuat Ibunya sedih dan terpukul. Setelah menjalani sidang, Bank dinyatakan bersalah dan harus menjalani masa percobaan selama 1 tahun di Lapas Remaja. Bahkan satu per satu orang yang terlibat termasuk karyawan percetakan tak lepas dari jeratan hukum.

Setelah kejadian ini Pat dan Grace harus rela saling berpisah. Tak ingin terungkap lebih jauh ke publik, Ayahnya mengirim Pat sekolah di Amerika demi membantu Grace dari masalah hukum yang sedang mereka hadapi. Sedihnya lagi Grace yang harus menjauhi Lin atas permintaan orang tuanya. Grace sendiri sebenarnya tak menaruh benci kepada Lin walau sudah melaporkan semua ke polisi.

Kejadian ini juga membuat Ayah Lin kehilangan pekerjaannya sebagai guru. Namun hubungan keduanya kembali membaik dan mulai terbuka dengan perasaan satu sama lainnya. Lin yang telah menyelesaikan masa skorsing-nya pun kembali ke sekolah untuk mengikuti ujian kelulusan.

Saat kembali ke sekolah Lin dibuat tergiur dengan tawaran dari kepala sekolah. Untuk mengikuti salah satu ujian beasiswa tersulit dan eksklusif yang menurut kepala sekolah hanya Lin yang paling berpotensi besar berhasil. Tak ingin berbuat curang lagi, Lin dengan tegas menolak tawaran tersebut. Berjalan dengan percaya diri meninggalkan kepala sekolah.

Kecurangan dalam ujian telah menjadi viral di Thailand. Membuat Lin sadar bahwa mata rantai hal tersebut haruslah di putus. Lin yang sangat tahu celah dan cara untuk membuat itu berjalan memiliki caranya sendiri. Tak ingin membuat dirinya membenci atau dibenci. Sekaligus membantu teman-temannya menebus kesalahan, Lin mengajak ketiga temannya untuk melakukan rencana tersebut.

Dimulai dengan mengirim pesan kepada Grace dan Pat. Untuk Bank secara khusus Lin mengunjunginya di Lapas Remaja. Hanya dengan isyarat senyuman keduanya bisa saling mengerti. Mulai hari itu semua hal baik dilakukan mereka masing-masing.

Komentarlah yang bijak

Related posts